Saturday, May 26, 2012

Larang Bayi Nonton Film di Bioskop



Sekitar seminggu yang lalu, saya menonton The Avengers untuk kedua kalinya. Selain karena film ini keren, saya menonton untuk kali kedua karena sempat ketiduran sewaktu menonton di kesempatan pertama. Supaya tidak mahal-mahal banget, saya nonton untuk kali kedua di Planet Hollywood XXI Jakarta.
Tapi, bukan The Avengers yang ingin saya bahas di post kali ini. Melainkan, kebijakan 21 Cineplex dalam pemutaran film-filmnya.
Saat menonton The Avengers di Planet Hollywood XXI, saya sudah mencium aroma bahwa pemutaran film ini akan terganggu. Sebab, saat masuk, saya melihat ada orang tua yang membawa bayi menonton film ini
Betul saja, tidak berapa lama film dimulai, sudah ada tangisan bayi. Lalu, karena si bayi tidak mau berhenti menangis dan banyak penonton yang sudah memberi kode terganggu dengan ber-“sssttt.. stttt…”, maka si ibu keluar bioskop dengan langkah kaki tergesa-gesa, sambil menggumam kesal. Lalu, tidak lama kemudian, keluar ibu yang kedua.
Saya juga sering mendengar bahwa banyak orang tua yang mengajak anak-anaknya ke bioskop untuk menonton film-film yang tidak sesuai.


Tujuan dari blog post ini adalah supaya 21Cineplex atau Blitz Megaplex mulai berani menolak penonton film. Tempatkan penjaga di pintu masuk studio atau audi. Kalau ada yang bawa bayi untuk menonton film apapun, larang mereka. Kalau marah, kembalikan uangnya. Kalau ada yang membawa anak di bawah umur nonton film seperti The Raid, larang juga. Jangan sampai setelah nonton, lalu pembuat filmnya yang disalahkan. Padahal, rating film sudah jelas Restricted.
Lalu, kenapa 21Cineplex atau Blitz Megaplex perlu mengakomodir permintaan seperti ini?
Pertama, saya yakin kebanyakan bayi tidak bisa diam anteng dan merasa terhibur menonton film di ruang gelap. Yang seneng kan, cuma bapak-ibunya. Kedua, seorang bayi saja di dalam bioskop sudah bisa mengganggu seluruh penonton. Jadi, lebih baik menolak mereka membawa bayi daripada mengganggu penonton lain. Ketiga, setelah berpikir lama, rasanya saya belum menemukan alasan kenapa permintaan seperti ini (yang sudah dikeluhkan banyak orang) harus tidak dipenuhi.
Saya tidak tahu apakah aturan ini sebenarnya sudah ada atau tidak. Tapi yang saya tahu pasti, peraturan ini sering tidak diterapkan.
Mari terus menonton film di bioskop!

Ditulis oleh @azizhasibuan

Wednesday, May 09, 2012

Meniadakan atau Mentiadakan?

Ayuta, salah seorang teman saya di kantor, baru saja melempar satu pertanyaan.

"Meniadakan atau mentiadakan?" katanya sambil serius menerjemahkan sebuah dokumen.

Jawaban yang benar adalah meniadakan. Hal ini karena kata berimbuhan tersebut berasal dari kata tiada yang diimbuhi me-kan. Kata yang di awali huruf "t" akan luluh bila bertemu dengan imbuhan.

Karena itu pula, kata yang benar adalah menerjemahkan, bukan menterjemahkan. :)


@azizhasibuan