Friday, April 27, 2012

Cerita Sakit Jiwa Modus Anomali




Cerita Sakit Jiwa Modus Anomali


Pada tanggal yang diduga payday dan ternyata bukan (curhat), saya kemarin menonton Modus Anomali. Film ini sudah lama ditunggu oleh banyak orang. Hingar bingarnya sudah lama dihembuskan oleh geng Lifelike picture. Ketika film belum dibuat saja, Modus Anomali sudah mendapatkan Bucheon Award di Network of Asian Fantastic Film (NAFF).

Sebagai sebuah thriller, Joko Anwar sudah menebarkan teka-teki sejak menit pertama film. Caranya menghadirkan Rio Dewanto pertama kali di layar langsung bisa membuat penonton mengumpat “Anj****.” Lalu, menit demi menit berikutnya, bersiaplah dengan berbagai teka-teki yang tidak kunjung terbongkar.

Modus Anomali bercerita tentang keluarga yang berwisata dengan tinggal di sebuah rumah kayu di tengah hutan. Kebahagiaan tamasya ini tiba-tiba hilang ketika seorang tamu tak diundang datang ke rumah tersebut dan menghabisi anggota keluarganya dengan cara-cara yang… yah begitulah. John, yang diperankan Rio, mencoba membuka satu per satu rahasia pembunuhan itu demi bertemu dengan keluarganya yang mungkin masih hidup. Sebuah video yang direkam manual lewat handycam dan jam-jam ber-alarm yang bertebaran di hutan menjadi perajut cerita demi cerita.

Rio yang wajahnya mendominasi film ini berperan dengan memukau (saya bingung mau pakai bahasa apa selain memukau :p). Kita bahkan bisa menyadari peran yang sedang dia mainkan dari sorotan mata dan cara tersenyum. Modus Anomali juga jadi lebih segar karena banyaknya aktris-aktor baru yang ikut berperan. Membuat film ini justru semakin terasa lebih membaur dengan penonton. Membuat penonton bisa curiga dengan tetangga.

Selain itu, saya juga kagum dengan teknik pengambilan gambar di Modus Anomali. Saya memang tidak paham tentang teknik ini. Tapi, mengambil gambar seseorang yang berlari-lari di antara pepohonan dengan gerak yang cepat dan stabil, sepertinya bukan pekerjaan mudah.

Tapi, apakah Modus Anomali sebegitu bagusnya? Jujur saja, hingga tengah-tengah film, saya merasa capek menonton. Teka-teki yang diterbarkan Joko belum juga membentuk tatanan puzzle yang jelas. Namun, begitu sedikit demi sedikit cerita terbongkar, rasa capek menonton itu berubah jadi excited. Bahkan sampai tadi pagi, saya dan teman saya pun masih membahas tentang kemungkinan-kemungkinan cerita film ini. “Oh, ternyata dia begini karena begitu.”

Saya rasa harus orang yang “sakit” yang bisa membuat cerita sesakit jiwa ini :p

Ohya, seperti yang sudah banyak orang ketahui, film ini menggunakan dialog berbahasa Inggris. Saya tidak merasa bermasalah dengan bahasa Inggris itu. Yang saya agak bermasalah justru untuk subtitle-nya yang agak-agak bernuansa gaul dan dituliskan dengan cara mengucap, bukan bahasa tulis. Misalnya, memilih menggunakan kata “dalem” daripada “dalam.” Yah, mungkin usia saya yang menginjak seperembat abad sudah nggak bisa catch up dengan bahasa-bahasa seperti ini.

Dari kebanyakan film yang ceritanya dibuat oleh Joko Anwar, seingat saya, kebanyakan bernuansa kelam seperti di Kala, Fiksi, Pintu Terlarang, dan Modus Anomali. Rasanya layak ditunggu kalau dia membuat film yang bernuansa drama romantis, namun dengan durasi yang lebih lama daripada Janji Joni. Just wondering. (*)


Ditulis oleh @azizhasibuan

No comments: