Monday, February 06, 2012

Patah Hati pada Gatotkaca Jadi Raja



Patah Hati pada Gatotkaca Jadi Raja

Saya punya harapan besar ketika mendengar promo Gatotkaca Jadi Raja. Sebab, sebelumnya sudah mendengar bahwa Mirwan Suwarso sang sutradara sukses membuat pagelaran dengan judul Jabang Tetuko, kisah kelahiran sang putra Arimbi. Dalam tulisan ini, saya akan menjelaskan mengapa pada akhirnya saya patah hati.

Gatotkaca Jadi Raja adalah (meminjam bahasa Kompas) sebuah pagelaran drama sinema. Ia menggabungkan Wayang Orang, Wayang Kulit, musik rock dan juga permainan video di layar lebar. Sayangnya, menurut saya, berbagai elemen tadi dijahit tambal sulam yang kurang terlihat rapi.

Kehadiran Tora Sudiro di pagelaran ini juga hampir tidak membawa poin, kecuali popularitas. Saya seperti melihat akting kakak kelas di SMA yang bermain drama sekolah saat malam perpisahan. Ditambah lagi, dia diminta untuk menyanyi, dengan suara yang pas-pasan, yang (herannya) membuat penonton tepuk tangan. Mas Tora juga perlu belajar aksen bahasa Jawa lagi. Misalnya, dia mengucapkan kata “sing”, sebagai mana kata itu ditulis, walau common practice-nya dibaca “seng.” Saya sebelumnya adalah fans Tora untuk Arisan dan Quickie Express. Tapi, tidak di sini.

Aktor yang memerankan diri sebagai Kreshna juga sangat mengkhawatirkan. Dia berulang kali salah mengucapkan dialog, dan di telinga saya itu sangat mengganggu.

Dalam hal peran, credit harus diberikan kepada pemain-pemain dari grup Wayang Orang Baratha. Cara bicara mereka Njawani. Gerak tubuhnya pun sangat wayang orang. Tokoh favorit saya, Semar. Cara tertawanya dan gerak tangannya yang mengisyaratkan “tidak” sangatlah bergaya Semar.

Di luar itu, perpindahan properti untuk menggambarkan setting lokasi beberapa kali tidak sedap dipandang. Ada dua  kegagalan yang paling saya ingat. Pertama, tali untuk membuat pemainnya seolah terbang. Berulang kali, tali ini dipindahkan dari sisi kanan panggung ke sisi kiri panggung, atau sebaliknya, dengan tali menjuntai, sementara di panggung sedang berjalan sebuah scene.

Yang kedua, ketika memindahkan sebuah pohon. Menurut saya, ada baiknya, orang yang mengangkat pohon (atau properti apapun) itu tidak sekadar jadi kru pengangkat, sehingga dia diizinkan tidak menyatu dengan setting cerita. Ada baiknya, si orang ini mengenakan kostum prajurit (atau apalah) di masa Gatotkaca, dan berakting seolah melakukan sesuatu sembari membawa pohon properti. Jadi, kesannya pun menyatu dengan pagelaran. Kalau saya tidak salah ingat, kru yang mengangkat pohon itu mengenakan kaus dan jins, kacamata, plus ID Card yang menggantung di leher.

Namun demikian, bukan berarti pagelaran serupa Gatotkaca Jadi Raja harus ditinggalkan. Pagelaran ini tetap menyimpan sejumlah sisi menarik. Scene favorit saya adalah ketika Titi DJ sebagai Arimbi menceritakan kisah suaminya Bimasena sembari bernyanyi. Yang membuat menarik adalah koreografi sejumlah penari yang tampil dengan siluet-siluet cantik. Ke-diva-an Titi DJ di sini pun sangat membantu.

Permainan musik Aksan Sjuman di pertunjukan ini juga memberi warna yang menarik. Saya membayangkan bahwa suatu waktu dia akan menciptakan sebuah drama musikal dengan lagu-lagu Rock, seperti Rock of Ages.

Untuk  kesungguhannya membawa wayang ke dunia yang lebih komersil, saya mengucapkan terima kasih kepada Mirwan Suwarso. Saya yakin menciptakan Gatotkaca Jadi Raja dan Jabang Tetuko menjadi tontonan yang banyak disaksikan orang bukanlah pekerjaan mudah.

Demikianlah kisah patah hati saya kepada Gatotkaca Jadi Raja. Namun, seperti kisah-kisah patah hati yang lain, saya cukup keras kepala untuk menonton acara serupa lagi, dengan harapan terdapat improvisasi sehingga cinta itu tumbuh kembali…  (Asal tiketnya nggak overprice. #eh)

Judul: Gatotkaca Jadi Raja
Durasi: +/- 60 menit
Produksi: MSP Entertainment
Sutradara: Mirwan Suwarso
Pemain: Tora Sudiro, Titi DJ, Aqi Alexa, Grup Wayang Orang Baratha
Dalang: Ki Dhalang Sambowo
Music Scoring: Aksan Sjuman



Ditulis oleh @azizhasibuan
Foto: Kompas.com


Silakan membaca tulisan serupa di sini

No comments: