Saturday, February 11, 2012

Bulan Depan, Pastikan Nonton The Raid




Bulan Depan, Pastikan Nonton The Raid

Ketika menonton 50 First Dates, sempat terlintas di pikiran, saya akan sangat senang andai banyak filmmaker Indonesia membuat film seperti ini. Film drama yang ceritanya mudah tapi menarik.Tidak perlu lah muluk-muluk membuat film action dengan teknologi sulit, yang bisa menunjukkan adegan perkelahian hingga terlihat nyata. Pikir saya (yang tidak tahu teknologi dalam produksi film), masih jauhlah Indonesia menuju kesana. Bikin drama saja cukup.

Saya sangat menyepelekan.

November lalu, saya dapat rezeki bisa menonton The Raid (SerbuanMaut), film yang ditulis dan disutradari oleh Gareth Evans, pria yang juga menjadi “Panglima Perang” di balik layar Merantau. Di mata saya yang amatiran soal film, The Raid sangatlah wow. Sepanjang menonton, saya tidak berhenti memaki diri sendiri yang dulu pernah menyepelekan sineas Indonesia dalam membuat film action. Ini sungguhan.

The Raid menceritakan sekelompok pasukan SWAT yang datang menyerbu sebuah apartemen. Sudah menjadi rahasia umum bahwa apartemen ini merupakan tempat para kriminal ibu kota melarikan diri. Tak ada seorang pun yang berani menyentuh gedung suram itu.

Tim SWAT tadi datang dengan perintah menangkap gembong mafia pengelola apartemen, Tama (Ray Sahetapy). Mereka dengan mulus berhasil menyusup ke apartemen.

Pertanyaannya, sanggupkah 20 orang pasukan SWAT tadi meninggalkan apartemen tersebut hidup-hidup?



The Raid memberikan sebuah pencerahan bahwa karya sineas Indonesia untuk genre action sudah jauh terbang tinggi meninggalkan Brama Kumbara yang masih terbang dengan burung-raksasa-berbulu-kemoceng-nya. Dari segi cerita, The Raid menyuguhkan kisah yang kompleks dengan konflik yang dibangun sangat rapi. Nantinya, permasalahan ternyata bukan hanya dating dari penghuni apartemen, namun juga karena intrik tak terduga.

Ada banyak bagian favorit saya di film ini. Salah satu yang paling saya ingat adalah ketika Tama menyadari ada “tamu” menyapa kerajaannya. Lalu, dia membuat pengumuman dari pengeras suara, supaya seisi gedung memberikan “sambutan” kepada para tamu. Suara Ray Sahetapy di situ terasa sangat kelam mencekam. Jauh lebih kelam dari suara Adelle dalam lagu-lagu pengantar bunuh dirinya.

Yang juga membuat film ini tidak membosankan adalah sajian kematian yang variatif. Gareth atau siapapun yang menjadi “arsitek kematian” dalam film ini sangat kreatif mengantarkan sejumlah tokoh menjemput maut. Ada yang terjun bebas dari gedung bertingkat dan jatuh menabrak tangga darurat, lesakan peluru yang ditembakkan dari jarak 5 cm dari pelipis mata, atau pukulan palu di kepala. Dan, semuanya terlihat nyata.

Siap-siap saja untuk meringis ngilu sepanjang film.


Acting pemain-pemain di film ini juga menarik. Favorit saya, Ray Sahetapy. Suaranya yang dingin, sentuhan halusnya sebelum membunuh korban dan caranya mengontrol apartemen dari kamera-kamera CCTV, semua punya andil besar memberikan tone hitam di film ini. Ketika selesai menonton film itu dan melihat Om Ray (yang juga hadir) tersenyum-senyum di bioskop, saya khawatir dia sedang memegang palu.

Pemain-pemain lain yang mayoritas adalah pemain silat tersebut tidak hanya jagoan mengikuti koreografi yang wow. Cara berdialog plus body language anak buah Tama juga sangat intimidatif.

Tidak heran bahwa film ini menjadi bahan pembicaraan di Hollywood serta mendapat kesempatan diputar di Toronto International Film Festival, Sitges International Fantastic Film Festival dan Busan International Film Festival. Juga, standing ovation dari seluruh penonton di Auditorium 1 BlitzMegaplex Jakarta, kala itu.

Bulan depan, film ini akan ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia. Saya sudah berpikir sekitar satu jam untuk mencari alasan tidak menonton The Raid. Dan, hasilnya tidak ada.

Bahkan ketika saingannya adalah Adele yang sedang membuat konser di Gelora Bung Karno, dengan konsep penampilan Madonna di Superbowl, saya lebih memilih nonton The Raid.


The Raid (SerbuanMaut)

Sutradara & Penulis: Gareth Evans
Aktor: Iko Uwais, Ananda George, Ray Sahetapy, Dony Alamsyah
Durasi: 1 jam 42 menit
Genre: Action
Rilis Indonesia: Maret 2012


Ditulis oleh @azizhasibuan
Untuk membaca tulisan serupa, klik di sini

1 comment:

ronaldsilitonga said...

yang nempel di otak gw malah : "burung-raksasa-berbulu-kemoceng", huahahahahaha!!