Friday, January 20, 2012

Phobia



Phobia
Air Conditioner sentral dari gedung sedang mati karena hari sudah larut. Dua pria duduk di pantry kantor demi mendapatkan udara segar. Di pantry mungil itu, ada sebuah mesin aircon yang dipasang dengan inisiatif kantor. TV di ruang itu sedang bercerita tentang Mark Harmon dan kasus pembunuhannya.
Begini perawakan kedua pria yang duduk itu: Yang satu berbadan tambun dan pendek, berkulit gelap, dengan rambut yang menipis karena gen. Yang satu lagi, berbadan tinggi dan proporsional, kulit terang, dan rambut baik-baik saja.
Begini gambaran lebih mudahnya: Bila si tambun tidak punya pacar, cewek-cewek akan merespons dengan, “Oh…” (bernada maklum) Bila si tinggi tidak punya pacar, cewek-cewek akan merespons, “Serius?” Begitu pula, sebaliknya.
Keduanya duduk menikmati bir yang mereka beli dari kedai 24 jam.
”Lo pernah denger tentang Glossophobia?” si tambun tiba-tiba menyeletuk begitu jeda iklan
“Ha?”
“Iya. Ketakutan buat ngomong di depan umum.”
“Oh.”
“Pernah denger nggak, di dunia, Glossophobia itu lebih banyak jumlahnya daripada Necrophobia.”
“Bisa nggak lo ngomongnya pakai bahasa manusia?”
“Jadi, ketakutan orang untuk public speaking itu ngalahin ketakutan orang sama mati.”
Mark Harmon sudah kembali beraksi. Dia sedang memeriksa dua mayat politikus yang mati dibunuh sebelum kampanye.
“Kalau gue sih nggak takut dua-duanya.”
“Lo takut apa?”
“Jadi tua.”
Si tambun bergerak menarik kursinya mendekat ke meja. “Kenapa?”
“Yah, lo bayangin aja. Suatu hari lo di atas tempat tidur, sama selingkuhan lo yang umurnya setengah lo, dan si Joni nggak bisa bangun. Kiamat, man!”
Si tambun tertawa.
“Gue suka bingung sama orang yang takut tua.”
“Kenapa?”
“Yah, tua itu kan pasti. Hadapin aja.”
“Sekarang lo bisa bilang gitu. Nanti begitu lo ngerasain, baru tau rasanya.”
“Emang lo udah ngerasain?”
“Belum.”
“Nah!”
Si Idaman Cewek-Cewek menenggak lagi botol birnya. Tampaknya terlalu bersemangat, sampai bir itu mengalir tumpah dari bibirnya. Mark Harmon entah sedang apa.
“Gini, man. Lo mau diving. Lo tau kan di sana nggak bisa napas. Jadi lo bawa tabung oksigen. Lo pake baju selam supaya anget. Semua itu bikin lo bisa menikmati apa yang ada di bawah laut.”
Dia kembali menenggak botol bir dengan terlalu bersemangat.
“Kalau lo tau lo bakal tua. Nggak bisa konak lagi. Yah lo siapin aja cara nikmatin hidup yang lain. Lo yakinin aja dari sekarang bahwa hidup tua itu juga bisa bahagia. No point lo takut sama hal yang udah pasti. Santaiii.”
“Kadang omongan lo bisa didengerin juga.”
“Bukan man. Gue dari kecil udah jelek. Dari kecil, waktu nyokap-nyokap temen gue dapat tanggapan ‘Ih… lucu yah anaknya…’, nyokap gue dapat tanggapannya, ‘Ih.. sehat yah anaknya…’ Sekarang, di umur 27, gue udah nggak takut lagi kalau ada orang yang nggak tertarik sama gue secara fisik. Udah lewat masanya, man.”
Keduanya lalu tertawa-tawa.
“Beda sama lo. Lo tinggal acting malu-malu dan lo bisa dapat cewek apapun yang lo mau. Sekarang, lo sadar bahwa nggak selamanya bisa begitu. Makanya lo takut tua.”
Si gembul santai bicara. Temannya tertawa. Getir.
“Terus kalau takut tua namanya apa?”
“Gerontophobia”
“Gila. Lo tahu dari mana sih bahasa-basaha aneh beginian?”
“My girl friend. Google.”
“Oh, Man… Get a life!”
Keduanya tertawa-tawa, mengetukkan kedua botol bir, meminumnya dan kembali menonton Mark Harmon  beraksi. (*)

 Jakarta, 20 January 2012

For More Obrolan Pantry, click here

Sunday, January 15, 2012

Tentukan






Tentukan

Sudah terlambat
Mata pisau telah mengukir kayu
Rempah telah menjadi bumbu
Air laut telah menguap
Terlambat sudah

Kini garis itu sudah tergambar
Melingkar
Membangun batas. Duniamu. Duniaku
Seperti pagar yang digariskan Laksmana mengelilingi Shinta
Layaknya garam di seputar tenda
Menghindarkan Rahwana, mengusir bisa

Napasmu. Napasku
Dan kita hanya saling mencuri tatap
Terpisah oleh tabung kaca
Tanpa tegur, tanpa bisik suara

Roda telah menggelinding
Kau yang memutus diri, pergi
Sudah terlambat
Terlambat sudah


Kecuali…




Jakarta, 15 Januari 2012
Picture: Getty Images

More poem, click here