Monday, November 05, 2012

Pengumuman: Pindah Rumah


Seperti halnya hidup (tsah), kadang kita perlu pindah rumah. Begitu juga untuk blog ini.


Saya sudah resmi pindah ke kontrakan baru di Wordpress.

Nama rumah baru saya itu adalah The Toilet Post (http://thetoiletpost.wordpress.com). Proses pindahan ini terinspirasi dari ide-ide yang suka keluar di toilet (dan kamar mandi). Sementara nama blog ini sengaja dimirip-miripkan dengan koran sebagai obat kangen seorang veteran jurnalis. :D

Dengan rumah yang baru, saya berharap bisa membuat post minimal satu kali setiap hari. Full dalam setahun. Aminnnn

Tapi, azizonblog belum akan saya off-kan sampai entah kapan (atau mungkin nggak akan pernah ditutup).

Nah, seperti layaknya orang yang punya rumah baru, saya mengundang teman-teman untuk housewarming di The Toilet Post. Kalau boleh, silakan juga mengklik tombol Flush di menu bagian kanan untuk mendapat notifikasi email setiap kali The Toilet Post terbit :p

Jangan lupa mampir yah!


@azizhasibuan




Wednesday, September 19, 2012

Tanya Jawab: Golput Itu Rugi

T: Bagaimana kabar Anda?
J: Agak kurang baik karena belum dengar kabar Foke kalah.

T: Anda tentu sudah mendengarkan hasil debat calon gubernur kan? Bagaimana pendapat Anda sekarang soal Foke?
J: Semakin mantap. Semakin mantap menyarankan supaya jangan memilih Foke. Kalau dia menganggap wakilnya si Nara saja lebih rendah dan orang boleh nggak sopan, bagaimana dia menganggap rakyat. Walaupun saya paham sih Nara memang layak dapat perilaku nggak sopan.

T: Memangnya kenapa Nara?
J: Nara itu diamgenic. Kalo diam dan senyum-senyum bego, kayak anak manis. Begitu ngomong.... selesai. Boneka boncu berubah jadi chucky.

T: Sekarang ini kan ada fenomena golput. Bagaimana menurut Anda?
J: Yah itu hak. Tapi, menurut saya sih rugi. Punya hak untuk membuat Foke nggak menang lagi, kok nggak dipakai. Saya sih terserah yah mau milih yang mana. Asal bukan gengnya Foke.

T: Tapi, kalau ikut memilih selain Foke, lalu si lawan menang, kemudian nggak becus, kan nggak bisa protes?
J: Siapa bilanggg... Kalau yang berikutnya nggak becus, ya protes aja. Maki-maki aja. Kalau dia nggak becus, kan salah yang kerja, bukan salah yang milih. Bisa sih, kesalahannya ada di si pemilih... kalau gubernurnya sudah punya track record buruk tapi dipilih lagi. Nah itu baru jangan protes.

T: Ah, nggak konsekuen...
J: Gini lho. Kita ini mau ikut milih atau nggak milih, Gubernur itu harus ada. Nggak mungkin provinsi ini tanpa bos kan? Jadi, ya pilih aja yang belum jelas bagus, daripada yang sudah jelas nggak bagus. Pilih selain Foke. Kalau masalah nanti kerjanya jelek, hak kita juga kok ngejelek-jelekin lagi.

T: Jawaban Anda subjektif sekali yah...
J: Yaiyalah. Kalah mau yang objektif, jangan cuma tanya saya. Bikin polling aja.

T: Kalau misalnya Foke menang lagi?
J: Hush. Jangan ngomong jorok.

Tanya jawab dengan diri sendiri part 2

Saturday, August 18, 2012

Tanya Jawab Kenapa Jangan Pilih Foke


T: Kenapa Anda terlihat cukup ngotot mengajak orang untuk jangan pilih Foke?
J: Karena saya ngeri membayangkan lima tahun ke depan masih dipimpin orang yang sama. Lima tahun lagi dan Jakarta tempat saya tinggal masih begitu-begitu saja. Atau malah lebih bikin males.

T: Ganti pemimpin kan belum tentu lebih baik?
J: Dalam kondisi ini, saya lebih memilih untuk mendukung yang belum tentu lebih baik, daripada memilih yang sudah pasti nggak baik.

T: Foke kan berpengalaman?
J: Saya setuju Foke berpengalaman memimpin Jakarta. Pengalaman lho ya… Experience itu kan ada bad experience, ada good experience. Nah, mungkin dia bisa share pengalamannya itu untuk gubernur selanjutnya, sebagai seorang mantan gubernur.

T: Anda kan bukan warga Jakarta, ngapain ikut campur masalah Pilkada DKI Jakarta?
J: Saya juga nggak tinggal di Amerika, tapi saya boleh dong nggak suka George W. Bush. Suka-suka saya dong.

T: (Terdiam)
J: Jangan ngambek lah. Gini lho, Jakarta ini kan ibu kota. Besar peluangnya kalo jadi contoh provinsi lain. Kalau Jakarta bisa memenangkan calon karena yang dipilih adalah tokoh bukan partai, nanti partai-partai itu mulai bisa mikir, supaya mencalonkan tokoh-tokoh yang memang bisa bawa perubahan. Ini pendapat pribadi yah… Di daerah sudah banyak lho yang sukses begini. Bu Risma di Surabaya, Jokowi di Solo.

T: Tapi, Foke kan dapat dukungan banyak partai di sini.
J: Nah, apalagi setelah dia dapat dukungan banyak partai. Makin saya pengen supaya orang nggak milih dia. Kalau Foke kalah di Pilkada Jakarta, berarti partai yang seabrek-abrek itu bisa sadar, bukan mereka yang ngatur negara ini. Tapi, suara rakyat. Kalau kita manut terus sama mereka, ya suara mereka yang ngatur negara ini. Kepentingan mereka.

T: Hm…. Tapi, cagub lain yang sudah kalah, juga banyak yang dukung Foke lho…
J: Nah, itu yang saya heran. Coba deh cek di youtube. Ini saya kasih link-nya. Ada wawancara dengan Bang Dayat (klik di sini) tentang monorail. Dia bilang, tiang-tiang monorail itu seperti monumen kegagalan. Lalu, coba cek iklan Alex Noordin (klik di sini). Jelas banget kan di iklannya itu, dia memojokkan siapa. Eh, yang sudah jelas gagal begitu, sekarang didukung. Lucu.

T: Anda sok idealis yah?
J: Bukan, saya ini nggak suka orang kumisan. Ini sifatnya lebih ke perasaan emosi kok.

T:  Kalau Foke menang lagi, gimana?
J: Yo wes. Mau gimana lagi. Tetap di Jakarta lah. Dapat duitnya di sini.

T: Terus, kapan Anda menikah?
J: Maaf, saya rasa lebih baik kalau kita berbincang sesuai dengan topik.

T: Ada pesan lagi?
J: Jangan pilih Foke.


Tanya jawab dengan diri sendiri.
Bagansiapiapi, 18 Augustus 2012

Monday, July 23, 2012

Hentikan “Industri Kasihan” di Jalanan



Peserta Jambore Sahabat Anak menuliskan mimpinya di selembar kain putih. Ada yang bermimpi bisa nonton di bioskop, ada yang bermimpi ingin jadi Pemadam Kebakaran

Sekitar dua minggu lalu, saya mendapat sebuah kesempatan langka untuk bisa bergabung di acara Jambore Sahabat Anak di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta. Sahabat Anak adalah organisasi nirlaba yang fokus untuk mengajak anak-anak marjinal (Anda mengenalnya dengan sebutan anak jalanan) bermain dan belajar.
Di Jambore Sahabat Anak, sekitar 1,000 orang anak jalanan plus 700-an volunteer berkumpul. Kami menginap di tenda sederhana, mengikuti berbagai permainan selama dua hari. Acara tersebut diadakan untuk memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh hari ini.
Dalam acara ini, saya menjadi salah satu kakak pendamping. Bertugas menemani adik-adik dampingan. Dengan kesempatan ini, saya jadi punya kesempatan untuk lebih dekat dengan adik-adik peserta. Ada satu adik favorit saya. Badannya kecil, tapi yang paling pede untuk memimpin. Kita sebut saja namanya Agus.
Pada suatu waktu, kelompok kami sedang berada di sebuah pos yang mengajak adik-adik untuk berpendapat dan bercerita. Salah satu pertanyaan di pos itu, “Siapa yang uang jajannya sehari Rp 50 ribu?”
Saya waktu itu merasa panitia agak gila, menanyakan uang jajan Rp 50 ribu kepada anak marjinal. Tapi yang mengagetkan, ada beberapa anak yang maju. Agus, salah satunya. Penasaran, di waktu yang tepat, saya tanyakan hal ini ke si kecil tersebut, “Kamu dapat uang Rp 50 ribu tiap hari dari mana? Bohong ya bilang jajannya segitu”
“Enak ajaaa… Beneran tau, Kak! Dapat duit itu ya dari nyapu kereta.”
“Lho, dibayar sama masinis keretanya?”
“Bukan, dibayar penumpang.”
Dia menganggap menyapu kereta adalah kerja dengan gaji dari penumpang. Dari Anda.
Salah seorang peserta menuliskan keinginanya untuk kembali sekolah.
 Lalu, apa hubungannya dengan "Industri Kasihan"?
Sekarang Anda bayangkan, kalau sehari saja Agus bisa mendapatkan uang Rp 50 ribu, maka dia bisa mendapatkan Rp 1,5 juta sebulan. Nilai yang setara dengan UMR di Jakarta! Lalu, di pikiran anak kecil yang sederhana, buat apa dia sekolah tinggi-tinggi kalau dengan hidup di jalanan bisa mendapat uang yang sama?
Belas kasihan Anda telah membangun Industri Kasihan. Karena Anda kasihan, kini mereka tetap bertahan di jalanan. Mencari uang. Maka, kalau Anda nggak mau mereka ada di jalanan, berhentilah kasihan. Jangan beri mereka uang.
Mungkin Anda bertanya dalam hati, “Yah nilai Rp 50 ribu kan belum tentu mereka dapat tiap hari.” Benar kalau mereka nggak selalu mendapatkan uang 50 ribu. Tapi ada juga yang mendapatkan lebih dari 100 ribu setiap hari.
Jadi, stop belas kasihan Anda di jalanan. Berhentilah memberi mereka uang.
Tapi, saya ingin membantu…
Dengan berhenti memberi anak jalanan uang, maka Anda sudah selangkah membantu untuk membuat mereka meninggalkan jalanan.
Sekarang coba bayangkan. Satu anak jalanan mendapat sekitar Rp 50 ribu sehari. Menurut data dari Dinas Sosial Jakarta yang saya dapat dari googling (semoga ini angka yang sesuai kenyataan), ada lebih dari 7,000 anak jalanan yang hidup di Jakarta. Mari hitung secara Matematika. Dengan Rp 50 ribu sehari untuk satu anak, setiap harinya ada sekitar Rp 350 juta uang yang beredar di jalanan Jakarta. Dalam sebulan, ada Rp 10,5 Milyar uang beredar di jalanan, berkat Industri Kasihan yang Anda bangun. Belum termasuk yang diberikan ke orang-orang yang nggak terhitung sebagai “anak”.
Dengan uang sebanyak itu, setiap bulan kita sudah bisa membangun sekolah-sekolah sederhana untuk anak jalanan. Membelikan buku, mainan, dan lain-lain. Maka, kalau Anda ingin membantu, sekarang kumpulkan recehan Anda setiap bulan, cari lembaga yang tepat, donasikan ke sana, bukan ke jalan. Lembaganya apa, tinggal Googling saja. Ada banyak pilihannya
Kalau Anda ingin membantu tapi nggak mau dalam bentuk uang, bisa juga lewat mengajar. Ajari mereka baca tulis, menghitung, berperilaku sopan, bermain, bermimpi. Ada banyak tempat yang bisa Anda datangi. Nggak harus komitmen datang setiap akhir pekan. Tinggal googling saja.
Salah seorang peserta yang cita-citanya jadi penyanyi
Jalanan Itu Keras, Jendral!
Saya sudah sering membayangkan bahwa hidup di jalan pastilah keras. Tapi, saya masih tetap kaget melihat betapa tempaan jalanan mempengaruhi pribadi mereka. Nggak gampang untuk mendekati mereka dan mengajak bercerita. Harus perlahan dan sabatr.
Dengan membiarkan anak-anak itu hidup di jalanan, maka mereka juga akan hidup dengan risiko-risiko kekerasan. Mulai dipukuli, bahkan diperkosa. Seorang teman saya yang juga pendamping bahkan menyebutkan, ada salah seorang adik dampingannya yang mengaku sering sembunyi di selokan hingga tertidur karena nggak berani masuk rumah. “Kalau nggak dapat duit banyak, bisa dimarahin bokap-nyokap.”
Jadi, simpan recehan Anda dan berhentilah mengembangkan Industri Kasihan
Selamat Hari Anak Nasional! :)

Saturday, July 21, 2012

Buku Pertama Saya: Perkenalan




Sudah lama saya ingin bisa punya buku hasil tulisan sendiri. Tapi, nggak pernah kesampaian karena nggak tahu mau nulis buku apa. Karena nggak tahu mau dikirim kemana. Karena bingung cover-nya gimana. Karena nggak percaya diri.

Lalu, suatu hari saya sedang browsing dan menemukan aplikasi seru ini: iBooks Author. Dengan aplikasi ini, kita bisa bikin e-book sendiri plus mendesainnya dengan cara supergampang. Bahkan, di buku itu bisa juga ditambahi statistik, ilustrasi 3D, video, slideshow, dan lain-lain.

Maka iseng-isenglah saya memasukkan cerpen-cerpen yang pernah saya bikin ke dalam aplikasi tersebut. Kemudian, saya tambahkan hasil foto yang pernah saya jepret sendiri ditambah editan sederhana supaya terlihat sebagai ilustrasi, dan lama-kelamaan jadilah sebuah e-book.

Senang juga akhirnya mimpi saya untuk menulis buku kesampaian. Walau dengan cara ala kadarnya dan dibikin sendiri tanpa bantuan desainer grafis yang jago layout.

Perkenalan berisi sembilan bab cerita fiksi pendek. Tujuh adalah cerita pendek dengan berbagai tema, lalu dua bab berisikan cerita lebih pendek lagi dengan setting di pantry kantor.

Nama "Perkenalan" diambil dari judul salah satu cerpen itu

E-book sederhana ini sekarang sudah bisa di-download secara GRATIS melalui BrutalUpload (tanpa perlu log in), 4shared (dengan log in), atau melalui iBook Store. Sayangnya, buku ini belum bisa tersedia di iBook Store dengan account Asia. Tapi, baru di US, serta sejumlah negara Eropa dan Australia.

Bentuk filenya adalah PDF sehingga dapat dibaca di berbagai device, PC, atau diprint.



Happy reading!

1 Ramadhan 1433 H
Aziz Hasibuan
(@azizhasibuan)







Saturday, May 26, 2012

Larang Bayi Nonton Film di Bioskop



Sekitar seminggu yang lalu, saya menonton The Avengers untuk kedua kalinya. Selain karena film ini keren, saya menonton untuk kali kedua karena sempat ketiduran sewaktu menonton di kesempatan pertama. Supaya tidak mahal-mahal banget, saya nonton untuk kali kedua di Planet Hollywood XXI Jakarta.
Tapi, bukan The Avengers yang ingin saya bahas di post kali ini. Melainkan, kebijakan 21 Cineplex dalam pemutaran film-filmnya.
Saat menonton The Avengers di Planet Hollywood XXI, saya sudah mencium aroma bahwa pemutaran film ini akan terganggu. Sebab, saat masuk, saya melihat ada orang tua yang membawa bayi menonton film ini
Betul saja, tidak berapa lama film dimulai, sudah ada tangisan bayi. Lalu, karena si bayi tidak mau berhenti menangis dan banyak penonton yang sudah memberi kode terganggu dengan ber-“sssttt.. stttt…”, maka si ibu keluar bioskop dengan langkah kaki tergesa-gesa, sambil menggumam kesal. Lalu, tidak lama kemudian, keluar ibu yang kedua.
Saya juga sering mendengar bahwa banyak orang tua yang mengajak anak-anaknya ke bioskop untuk menonton film-film yang tidak sesuai.


Tujuan dari blog post ini adalah supaya 21Cineplex atau Blitz Megaplex mulai berani menolak penonton film. Tempatkan penjaga di pintu masuk studio atau audi. Kalau ada yang bawa bayi untuk menonton film apapun, larang mereka. Kalau marah, kembalikan uangnya. Kalau ada yang membawa anak di bawah umur nonton film seperti The Raid, larang juga. Jangan sampai setelah nonton, lalu pembuat filmnya yang disalahkan. Padahal, rating film sudah jelas Restricted.
Lalu, kenapa 21Cineplex atau Blitz Megaplex perlu mengakomodir permintaan seperti ini?
Pertama, saya yakin kebanyakan bayi tidak bisa diam anteng dan merasa terhibur menonton film di ruang gelap. Yang seneng kan, cuma bapak-ibunya. Kedua, seorang bayi saja di dalam bioskop sudah bisa mengganggu seluruh penonton. Jadi, lebih baik menolak mereka membawa bayi daripada mengganggu penonton lain. Ketiga, setelah berpikir lama, rasanya saya belum menemukan alasan kenapa permintaan seperti ini (yang sudah dikeluhkan banyak orang) harus tidak dipenuhi.
Saya tidak tahu apakah aturan ini sebenarnya sudah ada atau tidak. Tapi yang saya tahu pasti, peraturan ini sering tidak diterapkan.
Mari terus menonton film di bioskop!

Ditulis oleh @azizhasibuan

Wednesday, May 09, 2012

Meniadakan atau Mentiadakan?

Ayuta, salah seorang teman saya di kantor, baru saja melempar satu pertanyaan.

"Meniadakan atau mentiadakan?" katanya sambil serius menerjemahkan sebuah dokumen.

Jawaban yang benar adalah meniadakan. Hal ini karena kata berimbuhan tersebut berasal dari kata tiada yang diimbuhi me-kan. Kata yang di awali huruf "t" akan luluh bila bertemu dengan imbuhan.

Karena itu pula, kata yang benar adalah menerjemahkan, bukan menterjemahkan. :)


@azizhasibuan

Friday, April 27, 2012

Cerita Sakit Jiwa Modus Anomali




Cerita Sakit Jiwa Modus Anomali


Pada tanggal yang diduga payday dan ternyata bukan (curhat), saya kemarin menonton Modus Anomali. Film ini sudah lama ditunggu oleh banyak orang. Hingar bingarnya sudah lama dihembuskan oleh geng Lifelike picture. Ketika film belum dibuat saja, Modus Anomali sudah mendapatkan Bucheon Award di Network of Asian Fantastic Film (NAFF).

Sebagai sebuah thriller, Joko Anwar sudah menebarkan teka-teki sejak menit pertama film. Caranya menghadirkan Rio Dewanto pertama kali di layar langsung bisa membuat penonton mengumpat “Anj****.” Lalu, menit demi menit berikutnya, bersiaplah dengan berbagai teka-teki yang tidak kunjung terbongkar.

Modus Anomali bercerita tentang keluarga yang berwisata dengan tinggal di sebuah rumah kayu di tengah hutan. Kebahagiaan tamasya ini tiba-tiba hilang ketika seorang tamu tak diundang datang ke rumah tersebut dan menghabisi anggota keluarganya dengan cara-cara yang… yah begitulah. John, yang diperankan Rio, mencoba membuka satu per satu rahasia pembunuhan itu demi bertemu dengan keluarganya yang mungkin masih hidup. Sebuah video yang direkam manual lewat handycam dan jam-jam ber-alarm yang bertebaran di hutan menjadi perajut cerita demi cerita.

Rio yang wajahnya mendominasi film ini berperan dengan memukau (saya bingung mau pakai bahasa apa selain memukau :p). Kita bahkan bisa menyadari peran yang sedang dia mainkan dari sorotan mata dan cara tersenyum. Modus Anomali juga jadi lebih segar karena banyaknya aktris-aktor baru yang ikut berperan. Membuat film ini justru semakin terasa lebih membaur dengan penonton. Membuat penonton bisa curiga dengan tetangga.

Selain itu, saya juga kagum dengan teknik pengambilan gambar di Modus Anomali. Saya memang tidak paham tentang teknik ini. Tapi, mengambil gambar seseorang yang berlari-lari di antara pepohonan dengan gerak yang cepat dan stabil, sepertinya bukan pekerjaan mudah.

Tapi, apakah Modus Anomali sebegitu bagusnya? Jujur saja, hingga tengah-tengah film, saya merasa capek menonton. Teka-teki yang diterbarkan Joko belum juga membentuk tatanan puzzle yang jelas. Namun, begitu sedikit demi sedikit cerita terbongkar, rasa capek menonton itu berubah jadi excited. Bahkan sampai tadi pagi, saya dan teman saya pun masih membahas tentang kemungkinan-kemungkinan cerita film ini. “Oh, ternyata dia begini karena begitu.”

Saya rasa harus orang yang “sakit” yang bisa membuat cerita sesakit jiwa ini :p

Ohya, seperti yang sudah banyak orang ketahui, film ini menggunakan dialog berbahasa Inggris. Saya tidak merasa bermasalah dengan bahasa Inggris itu. Yang saya agak bermasalah justru untuk subtitle-nya yang agak-agak bernuansa gaul dan dituliskan dengan cara mengucap, bukan bahasa tulis. Misalnya, memilih menggunakan kata “dalem” daripada “dalam.” Yah, mungkin usia saya yang menginjak seperembat abad sudah nggak bisa catch up dengan bahasa-bahasa seperti ini.

Dari kebanyakan film yang ceritanya dibuat oleh Joko Anwar, seingat saya, kebanyakan bernuansa kelam seperti di Kala, Fiksi, Pintu Terlarang, dan Modus Anomali. Rasanya layak ditunggu kalau dia membuat film yang bernuansa drama romantis, namun dengan durasi yang lebih lama daripada Janji Joni. Just wondering. (*)


Ditulis oleh @azizhasibuan

Saturday, February 11, 2012

Bulan Depan, Pastikan Nonton The Raid




Bulan Depan, Pastikan Nonton The Raid

Ketika menonton 50 First Dates, sempat terlintas di pikiran, saya akan sangat senang andai banyak filmmaker Indonesia membuat film seperti ini. Film drama yang ceritanya mudah tapi menarik.Tidak perlu lah muluk-muluk membuat film action dengan teknologi sulit, yang bisa menunjukkan adegan perkelahian hingga terlihat nyata. Pikir saya (yang tidak tahu teknologi dalam produksi film), masih jauhlah Indonesia menuju kesana. Bikin drama saja cukup.

Saya sangat menyepelekan.

November lalu, saya dapat rezeki bisa menonton The Raid (SerbuanMaut), film yang ditulis dan disutradari oleh Gareth Evans, pria yang juga menjadi “Panglima Perang” di balik layar Merantau. Di mata saya yang amatiran soal film, The Raid sangatlah wow. Sepanjang menonton, saya tidak berhenti memaki diri sendiri yang dulu pernah menyepelekan sineas Indonesia dalam membuat film action. Ini sungguhan.

The Raid menceritakan sekelompok pasukan SWAT yang datang menyerbu sebuah apartemen. Sudah menjadi rahasia umum bahwa apartemen ini merupakan tempat para kriminal ibu kota melarikan diri. Tak ada seorang pun yang berani menyentuh gedung suram itu.

Tim SWAT tadi datang dengan perintah menangkap gembong mafia pengelola apartemen, Tama (Ray Sahetapy). Mereka dengan mulus berhasil menyusup ke apartemen.

Pertanyaannya, sanggupkah 20 orang pasukan SWAT tadi meninggalkan apartemen tersebut hidup-hidup?



The Raid memberikan sebuah pencerahan bahwa karya sineas Indonesia untuk genre action sudah jauh terbang tinggi meninggalkan Brama Kumbara yang masih terbang dengan burung-raksasa-berbulu-kemoceng-nya. Dari segi cerita, The Raid menyuguhkan kisah yang kompleks dengan konflik yang dibangun sangat rapi. Nantinya, permasalahan ternyata bukan hanya dating dari penghuni apartemen, namun juga karena intrik tak terduga.

Ada banyak bagian favorit saya di film ini. Salah satu yang paling saya ingat adalah ketika Tama menyadari ada “tamu” menyapa kerajaannya. Lalu, dia membuat pengumuman dari pengeras suara, supaya seisi gedung memberikan “sambutan” kepada para tamu. Suara Ray Sahetapy di situ terasa sangat kelam mencekam. Jauh lebih kelam dari suara Adelle dalam lagu-lagu pengantar bunuh dirinya.

Yang juga membuat film ini tidak membosankan adalah sajian kematian yang variatif. Gareth atau siapapun yang menjadi “arsitek kematian” dalam film ini sangat kreatif mengantarkan sejumlah tokoh menjemput maut. Ada yang terjun bebas dari gedung bertingkat dan jatuh menabrak tangga darurat, lesakan peluru yang ditembakkan dari jarak 5 cm dari pelipis mata, atau pukulan palu di kepala. Dan, semuanya terlihat nyata.

Siap-siap saja untuk meringis ngilu sepanjang film.


Acting pemain-pemain di film ini juga menarik. Favorit saya, Ray Sahetapy. Suaranya yang dingin, sentuhan halusnya sebelum membunuh korban dan caranya mengontrol apartemen dari kamera-kamera CCTV, semua punya andil besar memberikan tone hitam di film ini. Ketika selesai menonton film itu dan melihat Om Ray (yang juga hadir) tersenyum-senyum di bioskop, saya khawatir dia sedang memegang palu.

Pemain-pemain lain yang mayoritas adalah pemain silat tersebut tidak hanya jagoan mengikuti koreografi yang wow. Cara berdialog plus body language anak buah Tama juga sangat intimidatif.

Tidak heran bahwa film ini menjadi bahan pembicaraan di Hollywood serta mendapat kesempatan diputar di Toronto International Film Festival, Sitges International Fantastic Film Festival dan Busan International Film Festival. Juga, standing ovation dari seluruh penonton di Auditorium 1 BlitzMegaplex Jakarta, kala itu.

Bulan depan, film ini akan ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia. Saya sudah berpikir sekitar satu jam untuk mencari alasan tidak menonton The Raid. Dan, hasilnya tidak ada.

Bahkan ketika saingannya adalah Adele yang sedang membuat konser di Gelora Bung Karno, dengan konsep penampilan Madonna di Superbowl, saya lebih memilih nonton The Raid.


The Raid (SerbuanMaut)

Sutradara & Penulis: Gareth Evans
Aktor: Iko Uwais, Ananda George, Ray Sahetapy, Dony Alamsyah
Durasi: 1 jam 42 menit
Genre: Action
Rilis Indonesia: Maret 2012


Ditulis oleh @azizhasibuan
Untuk membaca tulisan serupa, klik di sini

Tuesday, February 07, 2012

Aktifitas atau Aktivitas?

Setiap pagi, timeline saya hampir selalu diisi dengan ucapan-ucapan penyemangat. Salah satu yang paling sering adalah: Selamat beraktifitas!


Hmmm… mana yah yang benar, aktifitas atau aktivitas?

Jawabannya adalah Aktivitas.

Mengapa demikian?

Sebab, bahasa Indonesia menyerap bahasa asing dalam bentuk yang berbeda untuk penyerapan kata dasar dan kata berimbuhan. Imbuhan dalam bahasa asing “–ity” diserap menjadi "–itas", seperti university yang menjadi univestitas dan reality yang menjadi realitas.

Ketika menyerap kata “active,” bahasa Indonesia menggunakan “aktif.” Namun, bila menyerap kata berimbuhan “activity,” yang diubah hanya imbuhannya saja, sehingga menjadi “aktivitas.”

Hal ini berlaku pula untuk “creativity” yang menjadi “kreativitas” bukan “kreatifitas”.



Mari kembali beraktivitas! :D

@azizhasibuan

Monday, February 06, 2012

Patah Hati pada Gatotkaca Jadi Raja



Patah Hati pada Gatotkaca Jadi Raja

Saya punya harapan besar ketika mendengar promo Gatotkaca Jadi Raja. Sebab, sebelumnya sudah mendengar bahwa Mirwan Suwarso sang sutradara sukses membuat pagelaran dengan judul Jabang Tetuko, kisah kelahiran sang putra Arimbi. Dalam tulisan ini, saya akan menjelaskan mengapa pada akhirnya saya patah hati.

Gatotkaca Jadi Raja adalah (meminjam bahasa Kompas) sebuah pagelaran drama sinema. Ia menggabungkan Wayang Orang, Wayang Kulit, musik rock dan juga permainan video di layar lebar. Sayangnya, menurut saya, berbagai elemen tadi dijahit tambal sulam yang kurang terlihat rapi.

Kehadiran Tora Sudiro di pagelaran ini juga hampir tidak membawa poin, kecuali popularitas. Saya seperti melihat akting kakak kelas di SMA yang bermain drama sekolah saat malam perpisahan. Ditambah lagi, dia diminta untuk menyanyi, dengan suara yang pas-pasan, yang (herannya) membuat penonton tepuk tangan. Mas Tora juga perlu belajar aksen bahasa Jawa lagi. Misalnya, dia mengucapkan kata “sing”, sebagai mana kata itu ditulis, walau common practice-nya dibaca “seng.” Saya sebelumnya adalah fans Tora untuk Arisan dan Quickie Express. Tapi, tidak di sini.

Aktor yang memerankan diri sebagai Kreshna juga sangat mengkhawatirkan. Dia berulang kali salah mengucapkan dialog, dan di telinga saya itu sangat mengganggu.

Dalam hal peran, credit harus diberikan kepada pemain-pemain dari grup Wayang Orang Baratha. Cara bicara mereka Njawani. Gerak tubuhnya pun sangat wayang orang. Tokoh favorit saya, Semar. Cara tertawanya dan gerak tangannya yang mengisyaratkan “tidak” sangatlah bergaya Semar.

Di luar itu, perpindahan properti untuk menggambarkan setting lokasi beberapa kali tidak sedap dipandang. Ada dua  kegagalan yang paling saya ingat. Pertama, tali untuk membuat pemainnya seolah terbang. Berulang kali, tali ini dipindahkan dari sisi kanan panggung ke sisi kiri panggung, atau sebaliknya, dengan tali menjuntai, sementara di panggung sedang berjalan sebuah scene.

Yang kedua, ketika memindahkan sebuah pohon. Menurut saya, ada baiknya, orang yang mengangkat pohon (atau properti apapun) itu tidak sekadar jadi kru pengangkat, sehingga dia diizinkan tidak menyatu dengan setting cerita. Ada baiknya, si orang ini mengenakan kostum prajurit (atau apalah) di masa Gatotkaca, dan berakting seolah melakukan sesuatu sembari membawa pohon properti. Jadi, kesannya pun menyatu dengan pagelaran. Kalau saya tidak salah ingat, kru yang mengangkat pohon itu mengenakan kaus dan jins, kacamata, plus ID Card yang menggantung di leher.

Namun demikian, bukan berarti pagelaran serupa Gatotkaca Jadi Raja harus ditinggalkan. Pagelaran ini tetap menyimpan sejumlah sisi menarik. Scene favorit saya adalah ketika Titi DJ sebagai Arimbi menceritakan kisah suaminya Bimasena sembari bernyanyi. Yang membuat menarik adalah koreografi sejumlah penari yang tampil dengan siluet-siluet cantik. Ke-diva-an Titi DJ di sini pun sangat membantu.

Permainan musik Aksan Sjuman di pertunjukan ini juga memberi warna yang menarik. Saya membayangkan bahwa suatu waktu dia akan menciptakan sebuah drama musikal dengan lagu-lagu Rock, seperti Rock of Ages.

Untuk  kesungguhannya membawa wayang ke dunia yang lebih komersil, saya mengucapkan terima kasih kepada Mirwan Suwarso. Saya yakin menciptakan Gatotkaca Jadi Raja dan Jabang Tetuko menjadi tontonan yang banyak disaksikan orang bukanlah pekerjaan mudah.

Demikianlah kisah patah hati saya kepada Gatotkaca Jadi Raja. Namun, seperti kisah-kisah patah hati yang lain, saya cukup keras kepala untuk menonton acara serupa lagi, dengan harapan terdapat improvisasi sehingga cinta itu tumbuh kembali…  (Asal tiketnya nggak overprice. #eh)

Judul: Gatotkaca Jadi Raja
Durasi: +/- 60 menit
Produksi: MSP Entertainment
Sutradara: Mirwan Suwarso
Pemain: Tora Sudiro, Titi DJ, Aqi Alexa, Grup Wayang Orang Baratha
Dalang: Ki Dhalang Sambowo
Music Scoring: Aksan Sjuman



Ditulis oleh @azizhasibuan
Foto: Kompas.com


Silakan membaca tulisan serupa di sini

Friday, January 20, 2012

Phobia



Phobia
Air Conditioner sentral dari gedung sedang mati karena hari sudah larut. Dua pria duduk di pantry kantor demi mendapatkan udara segar. Di pantry mungil itu, ada sebuah mesin aircon yang dipasang dengan inisiatif kantor. TV di ruang itu sedang bercerita tentang Mark Harmon dan kasus pembunuhannya.
Begini perawakan kedua pria yang duduk itu: Yang satu berbadan tambun dan pendek, berkulit gelap, dengan rambut yang menipis karena gen. Yang satu lagi, berbadan tinggi dan proporsional, kulit terang, dan rambut baik-baik saja.
Begini gambaran lebih mudahnya: Bila si tambun tidak punya pacar, cewek-cewek akan merespons dengan, “Oh…” (bernada maklum) Bila si tinggi tidak punya pacar, cewek-cewek akan merespons, “Serius?” Begitu pula, sebaliknya.
Keduanya duduk menikmati bir yang mereka beli dari kedai 24 jam.
”Lo pernah denger tentang Glossophobia?” si tambun tiba-tiba menyeletuk begitu jeda iklan
“Ha?”
“Iya. Ketakutan buat ngomong di depan umum.”
“Oh.”
“Pernah denger nggak, di dunia, Glossophobia itu lebih banyak jumlahnya daripada Necrophobia.”
“Bisa nggak lo ngomongnya pakai bahasa manusia?”
“Jadi, ketakutan orang untuk public speaking itu ngalahin ketakutan orang sama mati.”
Mark Harmon sudah kembali beraksi. Dia sedang memeriksa dua mayat politikus yang mati dibunuh sebelum kampanye.
“Kalau gue sih nggak takut dua-duanya.”
“Lo takut apa?”
“Jadi tua.”
Si tambun bergerak menarik kursinya mendekat ke meja. “Kenapa?”
“Yah, lo bayangin aja. Suatu hari lo di atas tempat tidur, sama selingkuhan lo yang umurnya setengah lo, dan si Joni nggak bisa bangun. Kiamat, man!”
Si tambun tertawa.
“Gue suka bingung sama orang yang takut tua.”
“Kenapa?”
“Yah, tua itu kan pasti. Hadapin aja.”
“Sekarang lo bisa bilang gitu. Nanti begitu lo ngerasain, baru tau rasanya.”
“Emang lo udah ngerasain?”
“Belum.”
“Nah!”
Si Idaman Cewek-Cewek menenggak lagi botol birnya. Tampaknya terlalu bersemangat, sampai bir itu mengalir tumpah dari bibirnya. Mark Harmon entah sedang apa.
“Gini, man. Lo mau diving. Lo tau kan di sana nggak bisa napas. Jadi lo bawa tabung oksigen. Lo pake baju selam supaya anget. Semua itu bikin lo bisa menikmati apa yang ada di bawah laut.”
Dia kembali menenggak botol bir dengan terlalu bersemangat.
“Kalau lo tau lo bakal tua. Nggak bisa konak lagi. Yah lo siapin aja cara nikmatin hidup yang lain. Lo yakinin aja dari sekarang bahwa hidup tua itu juga bisa bahagia. No point lo takut sama hal yang udah pasti. Santaiii.”
“Kadang omongan lo bisa didengerin juga.”
“Bukan man. Gue dari kecil udah jelek. Dari kecil, waktu nyokap-nyokap temen gue dapat tanggapan ‘Ih… lucu yah anaknya…’, nyokap gue dapat tanggapannya, ‘Ih.. sehat yah anaknya…’ Sekarang, di umur 27, gue udah nggak takut lagi kalau ada orang yang nggak tertarik sama gue secara fisik. Udah lewat masanya, man.”
Keduanya lalu tertawa-tawa.
“Beda sama lo. Lo tinggal acting malu-malu dan lo bisa dapat cewek apapun yang lo mau. Sekarang, lo sadar bahwa nggak selamanya bisa begitu. Makanya lo takut tua.”
Si gembul santai bicara. Temannya tertawa. Getir.
“Terus kalau takut tua namanya apa?”
“Gerontophobia”
“Gila. Lo tahu dari mana sih bahasa-basaha aneh beginian?”
“My girl friend. Google.”
“Oh, Man… Get a life!”
Keduanya tertawa-tawa, mengetukkan kedua botol bir, meminumnya dan kembali menonton Mark Harmon  beraksi. (*)

 Jakarta, 20 January 2012

For More Obrolan Pantry, click here

Sunday, January 15, 2012

Tentukan






Tentukan

Sudah terlambat
Mata pisau telah mengukir kayu
Rempah telah menjadi bumbu
Air laut telah menguap
Terlambat sudah

Kini garis itu sudah tergambar
Melingkar
Membangun batas. Duniamu. Duniaku
Seperti pagar yang digariskan Laksmana mengelilingi Shinta
Layaknya garam di seputar tenda
Menghindarkan Rahwana, mengusir bisa

Napasmu. Napasku
Dan kita hanya saling mencuri tatap
Terpisah oleh tabung kaca
Tanpa tegur, tanpa bisik suara

Roda telah menggelinding
Kau yang memutus diri, pergi
Sudah terlambat
Terlambat sudah


Kecuali…




Jakarta, 15 Januari 2012
Picture: Getty Images

More poem, click here