Saturday, December 24, 2011

Wish List



Wish List

Suara mesin mobil yang terjebak macet berpadu dengan alunan suara choir menyanyikan lagu-lagu Natal. Seolah menyambut dan mengantar pulang pengunjung dengan nada-nada menenangkan  yang mereka nyanyikan di pelataran depan mal.

Wajah-wajah bahagia tampak keluar masuk pusat perbelanjaan itu. Menenteng tas-tas kertas dan plastik berisikan barang-barang dan bahan makanan persiapan Natal. Seorang anak kecil dengan bando tanduk rusa menyala-nyala tertawa girang, duduk di atas pundak ayahnya yang tak kalah bahagia.

Malam kudus… Sunyi senyap
Dunia terlelap.
Hanya dua berjaga terus
Ayah Bunda mesra dan kudus
Anak tidur tenang..
Anak tidur tenang..

BAM!

Suara berdebam menghentikan nyanyian paduan suara. Alarm mobil yang kencang dan mengintimidasi membuat orang kocar-kacir.

Tak lama, sekelompok pengunjung mal berkumpul di depan mobil yang mengeluarkan alarm kencang itu.

*

Sejak saya mulai bisa menulis, setiap seminggu sebelum Natal, Oma selalu memberikan selembar kertas. Lalu beliau meminta saya menulis apa saja yang saya mau. Apa saja.

Wish List. Demikian yang tertera di bagian atas kertas-kertas itu.

Tahun pertama saya mendapatkannya, saya mengisi kertas tadi dengan 12 kado Natal yang saya mau.

Namun lama kelamaan saya mulai berhitung… Boneka, sepeda lipat, alat makeup milik Victoria Beckham, high quality jeans yang harus tidak dicuci enam bulan, parfum, tas, telepon genggam yang punya papan ketik dan layar sentuh. Semua sudah saya dapat bahkan sebelum saya minta. Bahkan sudah saya dapat tanpa perlu menunggu Natal. Lalu, apa esensi hadiah Natal? Lalu, mengapa harus terus membuat wish list?

Tahun demi tahun, list itu semakin tipis. Hingga tinggal satu. Satu yang tidak pernah keluar dari daftar kado Natal idaman saya, yang hanya bisa saya tulis di hati, dan… belum pernah saya dapatkan.

*

“Sudah tiga tahun kamu nggak bikin wish list lho. Tahun ini kamu ingin apa?”

Pertanyaan yang sama yang dilontarkan Oma tahun lalu. Dengan cara yang sama, sambil menyisir rambut saya.

”Saya kan nggak perlu nunggu Natal, Oma. Setiap hari juga sudah dapat semuanya. Oma nggak capek yah jadi Sinterklas seumur hidup?”

”Ha ha ha. Yakin sudah dapat semua? Oma rasa ada yang kamu belum dapat selama ini.”

Saya terdiam. Jantung saya berdegup kencang. Akankah harapan saya selama ini akan beliau kabulkan. Akankah yang sudah belasan tahun saya nantikan akan datang di Natal kali ini.

Keras, saya berusaha supaya suara yang keluar dari tenggorokan ini tak bergetar. ”Apa itu, Oma?”

Oma menghentikan kegiatan basa-basinya menyisir rambut saya. Dia mengambil sebuah kotak kecil dari lemari dan memberikannya kepada saya.

”Umur kamu sudah tujuh belas tahun. Sudah bisa bikin SIM.”

Kunci mobil di dalam kotak itu sama sekali tak membuat saya bahagia. Sama sekali. Dan walaupun dengan susah payah saya menyunggingkan senyum, lalu memeluk Oma, dia tetap melihat rona wajah saya yang kecewa.

”Kamu kelihatan nggak senang lho. Bukan ini mobil yang kamu mau?”

Saya terdiam. Mempertimbangkan antara harus memberikan sayatan pedih yang jujur, atau belaian hangat yang dusta. Tujuh belas tahun saya menunggu, saya tak ingin melewatkan setiap Natal dengan dusta yang sama. Kebahagian yang semu, palsu.

”Saya ingin bisa tahu dimana ayah dan ibu, Oma.”

Oma melepaskan pelukan saya dengan satu gerakan layaknya orang terkejut. Wajahnya murka. ”Oma sudah bilang. Ini nggak akan pernah lagi jadi topik pembicaraan kita. Nggak akan pernah lagi, Natalie”

”Nat cuma mau ketemu mereka Oma. Nat capek terus-terusan bertanya. Kenapa semua disembunyikan? Kenapa bahkan Nat nggak  boleh tahu nama mereka? Kenapa Oma begitu marah ke anak Oma sendiri? Kenapa mereka pergi meninggalkan rumah ini? Kenapa tidak ada satu orang pun di keluarga kita yang berani menyebut nama mereka? Kenapa? Kenapa? Kenapa?”

“Kalau begitu hentikan masalahmu. Hentikan bertanya. Mereka pergi meninggalkan kita. Anggap mereka sudah mati. Kamu harus terima. Oma pikir, kamu sudah bisa menghadapi realita. Hadapi, Natalie.”

”Realitanya Nat punya ayah dan ibu yang Oma sembunyikan. Oma yang nggak bisa menerima realita. Oma lari dari realita.”

Plak.

Telapak tangan Oma yang keriput mendarat di pipi saya. Panas hingga mencairkan air mata. ”Kamu nggak tahu apa yang kamu bicarakan, Natalie.”

”Iya. Nat nggak tau. Nat nggak pernah tau. Karena Oma menyembunyikan itu! Karena Oma lari dari kenyataan.”

Saya berlari ke luar rumah, menghentikan taksi bobrok yang melintas, dan pergi.

*

Hari semakin pekat. Sudah berjam-jam saya duduk di parkiran pusat perbelanjaan ini. Sendiri. Dari bawah sana terdengar suara paduan suara menyanyikan lagu-lagu Natal yang menenangkan hati. Hati orang yang sedang hangat dan penuh kasih sayang.

Kenangan demi kenangan melintas di otak saya. Kenangan akan Natal demi Natal, yang semakin saya dewasa, semakin hambar rasanya. Natal yang penuh dengan senyum palsu karena saya harus melewatinya tanpa ayah ibu.

Sebuah surat kabar menghentikan mata saya. Berita utama koran itu dicetak dengan huruf kapital berwarna merah: LAGI, BUNUH DIRI DI MAL

Saya hanya ingin damai, Oma…

...

Malam kudus… Sunyi senyap;
Dunia terlelap.
Hanya dua berjaga terus
Ayah Bunda mesra dan kudus
Anak tidur tenang..
Anak tidur tenang..

BAM!

Suara berdebam menghentikan nyanyian paduan suara. Alarm mobil yang kencang dan mengintimidasi membuat orang kocar-kacir.

Tak lama, sekelompok pengunjung mal berkumpul di depan mobil yang mengeluarkan alarm kencang itu.

Seorang gadis terkapar di atas mobil. Dia baru terbang bebas, mengejar damai…

***


Jakarta, 24 Desember 2011

Picture: GettyImages

More short stories, click here

4 comments:

diansuling said...

I like it... keep it going Beib...

Aziz Hasibuan said...

Thanks, Dear :)

reza007 said...

nice one (y)

Abu Faiz Rozan said...

hebat...kayak pernah ngrayain natal aja hehehe....teruskan dan berimajinasi ya....:D