Tugas
Matahari
Merah
meminang Kuning, menyeduh jingga, senja. Menghangatkan hati yang sedang rindu.
Kita berbaring di atas handuk biru, di atas pasir putih Pulau Macan. Empat
botol bir murah tergeletak, menambah hangat sore itu. Kamu minum satu, aku
minum tiga. Kita tertawa-tawa bercerita tentang masa-masa itu. Masa-masa yang
membekukan rindu, hingga kita bertemu di sini, mencairkannnya kembali.
”Kamu
masih inget nggak, waktu kamu ngasih aku cokelat dan bilang suka sama aku?”
tanyamu dalam satu titik.
Pita
suaraku seperti distop bicara, dan hanya bisa mengeluarkan suara, “Hehemm..” Mengiyakan.
“We were
so young…” katamu sambil senyum “… Dan kehilangan arah.”
Kita
berdua masih menatap langit yang sedang ingin mengucapkan salam perpisahan ke
matahari. Aku tentu ingat saat itu. Dan
sampai sekarang, aku masih kehilangan arah…
Tanganku
masih dingin sisa memegang botol bir, sampai tanganmu mendarat di sana,
mengirimkan kehangatan. Mencairkan sisa-sisa rindu.
”Kenapa
kamu tiba-tiba ngajak aku ke sini, Ran?”
”Kenapa
harus tanya kenapa?” Ini memang cara andalanmu kalau mendapat smash. Menjawab
pertanyaan dengan pertanyaan.
Aku
tertawa… kering, karena tidak tahu dimana bagian yang lucu, namun tetap tertawa.
”Lima tahun kita cuma ber-hi-hi lewat chat. Itu pun nggak sampai sepuluh kali.
And suddenly you invited me… Kayaknya wajar kalau aku nanya kenapa.”
”Kangen
aja.”
Selesai.
Tamat riwayatku. Sekarang, rindu itu telah tuntas mencair, mengalir ke pot-pot memori, menyuburkan
bunga-bunga yang sudah lima tahun menjadi zombie. Membuat mereka
bergoyang-goyang riang, merasa hidup kembali.
“Udah
dijawab kok diem?” tanyamu.
“Memangnya
harus ngomong apa lagi?”
“Hahahaha.
Kamu udah pinter sekarang. Menjawab pertanyaan pakai pertanyaan.”
Kita
tertawa. Kali ini agak berlebihan. Entah karena memang lucu, entah karena bir -yang
padahal kamu hanya minum satu dan aku tiga. Atau karena kita terlalu menikmati
senja…
Kamu
kemudian meminggirkan botol-botol yang seolah menjadi batas jarak, merapatkan
diri. Kepalamu bersandar di pundakku. Aroma rambut itu masih sama seperti dulu.
”Kamu setia yah…” kataku
“Maksudnya?”
“Setia
sama shampoo. Dari dulu sampai sekarang masih sama…”
Kamu
tertawa, lalu memberikan pertanyaan menyentak… “Kamu masih ingat?”
Aku tak
menjawab dengan suara. Aku menjawab dengan telapak tangan yang kuusapkan di
rambutmu. Tentu saja, Rani…
Sore ini
seperti sesi tanya jawab panjang, yang untungnya menyenangkan. Pertanyaan lima
tahun yang terpendam seolah bangun dari kubur dan berharap ingin diungkap satu-satu.
“Sudah
lima tahun ini, aku belum pernah dengar kamu pacaran sama cewek lain,” katamu
yang tentu mengandung makna bertanya, kenapa?
”Oh… kamu
nyari tahu juga tentang aku.” Kini giliranmu bersemu tersipu. Semu yang
bertahun-tahun lalu menjinakkanku. ”Iya. Nggak ada yang doyan. Siapa coba yang
mau sama pengangguran sulit komitmen kayak aku.”
“Aku mau.”
Entah kita sedang berbincang, entah kita sedang bermain catur, yang setiap kali
salah satu memakan bidak lawan, maka lawan akan tersipu malu.
”Kamu pernah
mau…” kataku membenarkan pilihan katamu. Suaraku menekankan di kata pernah. Kamu
bergerak sedikit, memiringkan tubuh dan menyeberangkan tangan ke badanku. Orang
memahami ini sebagai… berpelukan.
”Mungkin
kamu terlalu banyak memilih. Kadang
perlu untuk memberikan waktu yang lebih panjang ke orang lain. Jangan baru
kenal sedikit, lalu ada sifatnya yang kurang pas, kamu tinggalin. Kadang,
sifat-sifat nggak menyenangkan itu keluar karena dia ingin terlihat baik.
Begitu waktu sudah berjalan, semakin dia terlihat aslinya, semakinlah kita tahu
bahwa ketika utuh, dialah orang yang tepat.”
”Mungkin…”
jawab bibirku. Bukan Rani, karena aku
belum bisa melupakanmu… Jawab hatiku. ”Kalau kamu? Memangnya sudah berapa
kali mencoba memberi kesempatan dan berhasil?”
Kamu
terdiam, memindahkan tanganmu di dadaku, membuat garis-garis abstrak dengan
jari telunjuk. ”Lima tahun, Pras... Aku nggak ingat berapa kali nyoba. Tapi
yang berhasil sih cuma satu. Itu pun barusan bubar,” …. “Yah, at least, usahaku
pernah ada hasilnya kan… Daripada menutup diri.”
“Iya,”
jawabku singkat. Entah bagian mana yang ingin aku iya-kan.
”Kamu
masih belum ada yang ngalahin. Misterius. Jalan sama kamu itu kayak mendaki
gunung. Banyak tantangan. Seru. Dan nggak pernah tahu apa yang bakal kita lihat
di perjalanan ke puncak…”
Wajah bunga-bunga
zombie itu tak pucat lagi. Mereka sudah berdansa ke kanan kiri. Tetesan rindu
membuat mereka hidup kembali. Sialan!
“… Tapi
aku nggak selamanya ingin mendaki gunung, Pras. Aku ingin tinggal di pinggir
pantai. Menetapkan hati.”
“Maaf, Ran…
Dulu aku belum siap. Banyak yang harus dipikirkan. Mana mungkin aku bisa bikin
kamu senang kalau hanya mengandalkan hasil dari jadi fotografer asal-asalan.”
”I know… Tapi
lucunya, sampai lima tahun setelah kita pisah, aku juga masih belum menetapkan
hati…”
Matahari
sudah semakin bersembunyi di ujung garis laut. Aku kadang heran, mengapa
matahari dan langit butuh waktu begitu lama untuk mengucapkan kata perpisahan.
Untungnya, perpisahan mereka tampak begitu indah.
Kamu
berdiri, mengulurkan tangan, mengajakku bangkit. Matahari semakin turun. Tangan
kita masih terkait. Tubuh kita merapat. Lalu dua bibir itu bertemu kembali,
setelah sekitar lima tahun terpisah...
“Kamu tahu
nggak apa tugas matahari sore ini?” tanyamu. Aku menggeleng. Tanpa menjawab, kamu
menarikku ke pondokan tempat kita tinggal…
Ia menunaikan tugasnya sore itu. Menghangatkan rindu
yang lama membeku…
***
Jakarta, 09-10-11
Ditulis oleh @azizhasibuan
Foto adalah salah satu pondokan di Pulau Macan, tempat yang ingin saya kunjungi :)

0 comments:
Post a Comment