Saturday, October 29, 2011

Hentikan Tanyaku



Hentikan Tanyaku

Aku ingin berhenti bertanya
Mengapa dalam kerap tarikan napas
Terlintas aromamu
Aroma yang pasti menemaniku
Di jam pulang kerja
Di sepanjang akhir minggu

Aku ingin berhenti bertanya
Mengapa ketika angin meniup rambut
Dia turut menghembuskan bayang jemarimu
Yang dulu kerap membelai kepalaku
Mengusapkan cinta
Membius dunia

Sungguh kuingin berhenti bertanya
Mengapa setiap hangat mentari sore datang
Di setiap hangat matahari tenggelam
Yang kurasakan adalah hangat dekapmu
Dekap yang kurasa terakhir kali
Saat kau menyudahi
Dekap yang kurindu

Mengapa kau menukik pergi

Aku ingin berhenti bertanya
Tapi jawabnya belum sedia
Dan, ah aku terus bertanya




Jakarta, 29 Oktober 2011

Naskah dan Foto



Foto diambil dalam hangat mentari sore di Dago Atas, Bandung




Sunday, October 09, 2011

Tugas Matahari





Tugas Matahari

Merah meminang Kuning, menyeduh jingga, senja. Menghangatkan hati yang sedang rindu. Kita berbaring di atas handuk biru, di atas pasir putih Pulau Macan. Empat botol bir murah tergeletak, menambah hangat sore itu. Kamu minum satu, aku minum tiga. Kita tertawa-tawa bercerita tentang masa-masa itu. Masa-masa yang membekukan rindu, hingga kita bertemu di sini, mencairkannnya kembali.

”Kamu masih inget nggak, waktu kamu ngasih aku cokelat dan bilang suka sama aku?” tanyamu dalam satu titik.

Pita suaraku seperti distop bicara, dan hanya bisa mengeluarkan suara, “Hehemm..” Mengiyakan.

“We were so young…” katamu sambil senyum “… Dan kehilangan arah.”

Kita berdua masih menatap langit yang sedang ingin mengucapkan salam perpisahan ke matahari. Aku tentu ingat saat itu. Dan sampai sekarang, aku masih kehilangan arah…

Tanganku masih dingin sisa memegang botol bir, sampai tanganmu mendarat di sana, mengirimkan kehangatan. Mencairkan sisa-sisa rindu.

”Kenapa kamu tiba-tiba ngajak aku ke sini, Ran?”

”Kenapa harus tanya kenapa?” Ini memang cara andalanmu kalau mendapat smash. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

Aku tertawa… kering, karena tidak tahu dimana bagian yang lucu, namun tetap tertawa. ”Lima tahun kita cuma ber-hi-hi lewat chat. Itu pun nggak sampai sepuluh kali. And suddenly you invited me… Kayaknya wajar kalau aku nanya kenapa.”

”Kangen aja.”

Selesai. Tamat riwayatku. Sekarang, rindu itu telah  tuntas mencair, mengalir ke pot-pot memori, menyuburkan bunga-bunga yang sudah lima tahun menjadi zombie. Membuat mereka bergoyang-goyang riang, merasa hidup kembali.

“Udah dijawab kok diem?” tanyamu.
“Memangnya harus ngomong apa lagi?”
“Hahahaha. Kamu udah pinter sekarang. Menjawab pertanyaan pakai pertanyaan.”

Kita tertawa. Kali ini agak berlebihan. Entah karena memang lucu, entah karena bir -yang padahal kamu hanya minum satu dan aku tiga. Atau karena kita terlalu menikmati senja…

Kamu kemudian meminggirkan botol-botol yang seolah menjadi batas jarak, merapatkan diri. Kepalamu bersandar di pundakku. Aroma rambut itu masih sama seperti dulu. ”Kamu setia yah…” kataku

“Maksudnya?”
“Setia sama shampoo. Dari dulu sampai sekarang masih sama…”
Kamu tertawa, lalu memberikan pertanyaan menyentak… “Kamu masih ingat?”
Aku tak menjawab dengan suara. Aku menjawab dengan telapak tangan yang kuusapkan di rambutmu. Tentu saja, Rani… 

Sore ini seperti sesi tanya jawab panjang, yang untungnya menyenangkan. Pertanyaan lima tahun yang terpendam seolah bangun dari kubur dan berharap ingin diungkap satu-satu.

“Sudah lima tahun ini, aku belum pernah dengar kamu pacaran sama cewek lain,” katamu yang tentu mengandung makna bertanya, kenapa?

”Oh… kamu nyari tahu juga tentang aku.” Kini giliranmu bersemu tersipu. Semu yang bertahun-tahun lalu menjinakkanku. ”Iya. Nggak ada yang doyan. Siapa coba yang mau sama pengangguran sulit komitmen kayak aku.”

“Aku mau.” Entah kita sedang berbincang, entah kita sedang bermain catur, yang setiap kali salah satu memakan bidak lawan, maka lawan akan tersipu malu.

”Kamu pernah mau…” kataku membenarkan pilihan katamu. Suaraku menekankan di kata pernah. Kamu bergerak sedikit, memiringkan tubuh dan menyeberangkan tangan ke badanku. Orang memahami ini sebagai… berpelukan.

”Mungkin kamu terlalu banyak  memilih. Kadang perlu untuk memberikan waktu yang lebih panjang ke orang lain. Jangan baru kenal sedikit, lalu ada sifatnya yang kurang pas, kamu tinggalin. Kadang, sifat-sifat nggak menyenangkan itu keluar karena dia ingin terlihat baik. Begitu waktu sudah berjalan, semakin dia terlihat aslinya, semakinlah kita tahu bahwa ketika utuh, dialah orang yang tepat.”

”Mungkin…” jawab bibirku. Bukan Rani, karena aku belum bisa melupakanmu… Jawab hatiku. ”Kalau kamu? Memangnya sudah berapa kali mencoba memberi kesempatan dan berhasil?”

Kamu terdiam, memindahkan tanganmu di dadaku, membuat garis-garis abstrak dengan jari telunjuk. ”Lima tahun, Pras... Aku nggak ingat berapa kali nyoba. Tapi yang berhasil sih cuma satu. Itu pun barusan bubar,” …. “Yah, at least, usahaku pernah ada hasilnya kan… Daripada menutup diri.”

“Iya,” jawabku singkat. Entah bagian mana yang ingin aku iya-kan.

”Kamu masih belum ada yang ngalahin. Misterius. Jalan sama kamu itu kayak mendaki gunung. Banyak tantangan. Seru. Dan nggak pernah tahu apa yang bakal kita lihat di perjalanan ke puncak…”

Wajah bunga-bunga zombie itu tak pucat lagi. Mereka sudah berdansa ke kanan kiri. Tetesan rindu membuat mereka hidup kembali. Sialan!

“… Tapi aku nggak selamanya ingin mendaki gunung, Pras. Aku ingin tinggal di pinggir pantai. Menetapkan hati.”

“Maaf, Ran… Dulu aku belum siap. Banyak yang harus dipikirkan. Mana mungkin aku bisa bikin kamu senang kalau hanya mengandalkan hasil dari jadi fotografer asal-asalan.”

”I know… Tapi lucunya, sampai lima tahun setelah kita pisah, aku juga masih belum menetapkan hati…”

Matahari sudah semakin bersembunyi di ujung garis laut. Aku kadang heran, mengapa matahari dan langit butuh waktu begitu lama untuk mengucapkan kata perpisahan. Untungnya, perpisahan mereka tampak begitu indah.

Kamu berdiri, mengulurkan tangan, mengajakku bangkit. Matahari semakin turun. Tangan kita masih terkait. Tubuh kita merapat. Lalu dua bibir itu bertemu kembali, setelah sekitar lima tahun terpisah...

“Kamu tahu nggak apa tugas matahari sore ini?” tanyamu. Aku menggeleng. Tanpa menjawab, kamu menarikku ke pondokan tempat kita tinggal…

Ia menunaikan tugasnya sore itu. Menghangatkan rindu yang lama membeku…
        
***

Jakarta, 09-10-11
Ditulis oleh @azizhasibuan



Foto adalah salah satu pondokan di Pulau Macan, tempat yang ingin saya kunjungi :)