Sunday, August 21, 2011

Meneguk Pilihan



20 Mei 2011.


Tanggal itu tidak akan pernah saya lupakan sampai kapan pun. Di tanggal itu, saya meninggalkan kota yang oksigen-nya saya hirup selama kurang lebih 21 tahun. Tanggal di mana saya untuk pertama kalinya menangis di airport. Tanggal saat drama menguap dimana-mana: di farewell lunch, di gedung biru, di sepanjang jalan menuju Juanda, di ruang tunggu A2, juga di saat pesawat murah yang saya tumpangi lepas landas. Meninggalkan Surabaya.


Saya terbang ke Jakarta dengan berbagai kekhawatiran. Iya, berbagai. Khawatir akan stres karena kena macet. Khawatir tidak bisa bersaing dengan keganasan ibu kota. Khawatir tidak tahan berdesakan di busway. Khawatir ini, khawatir itu. Kepala saya ditumpangi batu bata kekhawatiran.


Lalu, boom! Kemarin adalah 20 Agustus 2011. Dan saya masih di sini, hidup dan senang. Iya, sekali-sekali saya kena macet. Tapi ternyata aktivitas mobil seperti, ngobrol dengan teman tentang teman lain (:p) atau membaca update di twitter yang aneh-aneh atau melempar-lemparkan burung-burung pemarah di handphone, cukup bisa membantu saya melupakan momen mengarungi jalanan Sudirman.


Iya, saya harus bersaing dengan keganasan ibu kota yang orangnya hobi sekali desak-desakan. Tapi ternyata, ketika saya memilih membiarkan orang berebutan dan sabar sedikit dalam antrean, saya tetap dapat tempat. Nanti, saya tinggal geleng-geleng sedikit melihat hobi mereka rebutan tempat.

Mungkin saya beruntung, sehingga batu bata itu rontok satu-satu.


*


Barusan saja saya keluar dengan dua orang teman. Kami baru menonton Kung Fu Panda. Sambil memakan bubur Kwang Tung yang enaknya gila-gilaan, dalam rangka membahas Kung Fu Panda, salah seorang teman saya bilang, ”Aku dulu sempat mikir, gimana ya biar bisa nggak sedih. Terus, aku sadar, sedih itu ada ya karena dilarut-larutkan. Sejak saat itu sampai sekarang, aku udah nggak pernah nangis gara-gara masalah.”


Saya kemudian melihat cangkir di depan saya. Membayangkan hidup sebagai air hangat di dalamnya. Lalu, kita melarutkan berbagai rasa. Manis. Asam. Pahit. Hidup pun menjadi ramuan yang kita larutkan sendiri…


Kekhawatiran, kebahagiaan, rasa kesal, kesabaran, dan berbagai rasa lain. Anda mau meneguk yang mana?




@azizhasibuan



Foto dari hasil googling

No comments: