Thursday, August 25, 2011

Flower Petals



(click picture to enlarge)



Photo and Design:
@azizhasibuan

Monday, August 22, 2011

The Romantic Yarra

Melody



Forever



Let's Talk


Above the River


River View




Photos: @azizhasibuan

Sunday, August 21, 2011

Meneguk Pilihan



20 Mei 2011.


Tanggal itu tidak akan pernah saya lupakan sampai kapan pun. Di tanggal itu, saya meninggalkan kota yang oksigen-nya saya hirup selama kurang lebih 21 tahun. Tanggal di mana saya untuk pertama kalinya menangis di airport. Tanggal saat drama menguap dimana-mana: di farewell lunch, di gedung biru, di sepanjang jalan menuju Juanda, di ruang tunggu A2, juga di saat pesawat murah yang saya tumpangi lepas landas. Meninggalkan Surabaya.


Saya terbang ke Jakarta dengan berbagai kekhawatiran. Iya, berbagai. Khawatir akan stres karena kena macet. Khawatir tidak bisa bersaing dengan keganasan ibu kota. Khawatir tidak tahan berdesakan di busway. Khawatir ini, khawatir itu. Kepala saya ditumpangi batu bata kekhawatiran.


Lalu, boom! Kemarin adalah 20 Agustus 2011. Dan saya masih di sini, hidup dan senang. Iya, sekali-sekali saya kena macet. Tapi ternyata aktivitas mobil seperti, ngobrol dengan teman tentang teman lain (:p) atau membaca update di twitter yang aneh-aneh atau melempar-lemparkan burung-burung pemarah di handphone, cukup bisa membantu saya melupakan momen mengarungi jalanan Sudirman.


Iya, saya harus bersaing dengan keganasan ibu kota yang orangnya hobi sekali desak-desakan. Tapi ternyata, ketika saya memilih membiarkan orang berebutan dan sabar sedikit dalam antrean, saya tetap dapat tempat. Nanti, saya tinggal geleng-geleng sedikit melihat hobi mereka rebutan tempat.

Mungkin saya beruntung, sehingga batu bata itu rontok satu-satu.


*


Barusan saja saya keluar dengan dua orang teman. Kami baru menonton Kung Fu Panda. Sambil memakan bubur Kwang Tung yang enaknya gila-gilaan, dalam rangka membahas Kung Fu Panda, salah seorang teman saya bilang, ”Aku dulu sempat mikir, gimana ya biar bisa nggak sedih. Terus, aku sadar, sedih itu ada ya karena dilarut-larutkan. Sejak saat itu sampai sekarang, aku udah nggak pernah nangis gara-gara masalah.”


Saya kemudian melihat cangkir di depan saya. Membayangkan hidup sebagai air hangat di dalamnya. Lalu, kita melarutkan berbagai rasa. Manis. Asam. Pahit. Hidup pun menjadi ramuan yang kita larutkan sendiri…


Kekhawatiran, kebahagiaan, rasa kesal, kesabaran, dan berbagai rasa lain. Anda mau meneguk yang mana?




@azizhasibuan



Foto dari hasil googling

Saturday, August 20, 2011

Mel-Brown

Wheels

Violin

Violet

Music

Bird on Top

Day Dreaming



photos: @azizhasibuan

Birds


*click picture to enlarge



Photo and design:

Wednesday, August 17, 2011

Choco Choco


Bola-Bola Merah

Three Level

Inside the Glass

Almond

Try Me

Flowers




Photos: @azizhasibuan with fixed lense
Chocolate: Dapur Cokelat






Tuesday, August 16, 2011

Random Batavia

Alun-Alun Indonesia

The Carpenter

Bajaj

Berburu Iba

Menteng



Photos by @azizhasibuan

Monday, August 15, 2011

Rambut Baru

Jumat lalu saya ke barber shop di dekat kos-kosan, niatnya mau potong rambut dan cukuran seperti biasa. Lalu, zing, tiba-tiba di otak saya tebersit keinginan untuk memplontos rambut

dan jadilah begini



*Posting-an ini memang nggak penting dan iya, saya mulai botak --"


@azizhasibuan





Friday, August 12, 2011

Selalu Ada Alasan


Kalau dulu pernah membaca posting-an blog saya tentang Cara Senang-Senang, mungkin masih ingat betapa unik (kalau pengen melembutkan kata aneh)-nya seorang teman saya yang bernama Mahesa alias Xapi.

Untuk mengingatkan kembali, tanpa bermaksud mengulang, Xapi ketika itu bercerita kepada saya, bahwa dia sedang bahagia. Di tengah jadwal kerja, yang frekuensinya sudah mendekati frekuensi bernapas, Xapi berhasil makan di warung di pinggir sungai dekat sebuah kampus di Surabaya.

Dia happy, hanya dengan makan nasi cumi di warung pinggir jalan, yang entah menyuci piringnya pakai sabun atau cuma disiram air, yang entah cuminya masih segar atau tidak, yang entah si ibu yang jualan cuci tangan atau tidak ketika berjualan.

Lalu, hari ini, ingatan tentang cerita si Xapi terputar kembali di benak saya. Dia bisa begitu girangnya bercerita ke saya (Xapi sungguhan girang!) karena bisa makan nasi cumi di warung pinggir sungai, sementara orang yang lain bisa bercerita ke saya dengan nada berbeda 180 derajat, ketika dia punya kesempatan makan di warung serupa. Bahwa merasa makan di warung seperti itu adalah pengalaman apes dan masuk daftar ”Nggak Akan Pernah Gue Ulang Lagi.”

..

...


Mengapa saya cerita ini?

Seorang teman saya baru saja mengalami sebuah peristiwa. Peristiwa sangat sangat berat, yang bahkan kalau cerita itu mampir lewat mimpi, kita pengen cepat-cepat bangun. Yang… kalau kita ngobrol tentang hal itu, semua pasti akan bilang, “Gue nggak bisa bayangin…”

Bos dan (kalau boleh saya sebut) mentor saya dulu pernah bilang: Setiap orang pasti memiliki masa jatuh. Masa jatuh ini akan mengubah hidup orang. Menjadi semakin hancur atau semakin baik. (Menjadi bangkit dan lebih bahagia, atau terus terpuruk dan merana)

Kepada teman yang saya sayangi itu :)... saya ingin bilang:

Kita pasti akan selalu punya alasan untuk bahagia. Dan, alasan itu tak perlu dibuat sulit. Bisa sesederhana ketika ayah memberikan kecupan di dahi, bisa sesederhana telentang di atas loteng rumah sambil melihat bintang, bisa sesederhana makan di warung pinggir sungai. Semudah itu. Sesederhana itu.


Ayo senang-senang!

:)


@azizhasibuan


Gambar adalah lukisan Natasha Villone