Thursday, July 07, 2011

Nonton Catatan Harian si Boy Cing!


Spoiler Alert!

Dalam semingguan terakhir, saya mendapat dua hiburan yang seru banget. Sabtu lalu, saya (akhirnya) nonton Musikal Laskar Pelangi. Lalu barusan, saya nonton film Catatan Harian si Boy. Dua-duanya seru.



Catatan Harian si Boy (berikutnya saya singkat jadi CHSB biar nggak capek ngetiknya) dibuka dengan scene yang akan diulang lagi, nanti, di dekat-dekat akhir film. Ini memang bukan ide baru. Tapi, menunjukkan bahwa si pembuat film mau mengajak penontonnya agak mikir tipis-tipis.

Lalu, barulah muncul tokoh yang sama sekali baru dari dunia mas Boy. Namanya, Satrio. Bad boy. Tipe yang berpotensi disukain banyak cewek, suka keluar-masuk penjara gara-gara balap boil liar, obsesif dengan persaingan, dan rajin sholat. Karakternya plek (baca: sama, bahasa Suroboyoan) sama si Mas Boy zaman 80-an dulu.

Ketika proses mau dibebaskan dari penjara, Satrio bertemu dengan Natasha, yang sedang melapor ke polisi karena mobil pacarnya baru dilarikan orang nggak dikenal. Lalu, singkat kata, Satrio berkenalan dengan Natasha. Di hari yang lain, gadis yang baru pulang dari London ini kemudian mulai curhat tentang ibunya yang sedang sakit dan keinginannya menemukan seseorang bernama Boy, dengan bantuan sebuah diary. Satrio muncul di sini sebagai teman baru yang ingin membantu menemukan si Boy.

Sampai di sini, Anda mungkin berpikir bahwa ceritanya klise. Iya. Apalagi kalau saya bilang, bahwa salah satu konflik di film ini adalah konflik perebutan cewek. Memang klise.

Tapi, film ini sangat-sangat-sangat-sangat kuat di skenario, pengambilan gambar, dan detail (udah kayak kritikus beneran nggak nih?) Dan begitu menonton the whole movie, Anda mungkin nggak akan peduli dengan ke-klise-annya lagi.

Skenario film ini kena dan lucu. Salah satunya, dialog tentang taik (iya TAIK, ini bukan tykpo) antara Satrio dan Andi. Itu dialog terfavorit saya. Andi adalah salah satu penyegar paling sukses di CHSB. Si Humble ini bahkan bisa bikin penonton ketawa hanya dengan diam melongo. Lalu, skenario seru lain juga muncul ketika si Natasha menjelaskan mengapa dia suka membuat desain pakaian.

Pengambilan gambar. Ada beberapa angle romantis yang lengket banget di otak, setelah nonton film ini. Pertama, waktu adegan si Natasha membetulkan rambut di balik pintu, sementara Satrio di sebelahnya menunggu. Kedua, ketika Satrio ngobrol dengan Nina di bawah mobil. Sejak ketika Nina menggeser tubuhnya ke bawah mobil, sampai si Nina memilih pergi, sepanjang adegan itu menarik. Menurut saya, itu scene paling romantis. Sayang, saya kesulitan mencari capture foto dari scene ini.

Detail. Nah, ini yang menunjukkan bahwa si pembuat film CHSB niat bikin film. Semuanya dipikirkan. Mulai dari kostum sampai milih tokoh-tokoh yang lewat sepintas lalu.

Mereka sengaja menggeletakkan sepatu Natasha di lantai, supaya penonton tahu bahwa si tokohnya pakai Christian Louboutin. Juga, pemilihan cast ayah Satrio yang mendekam di penjara, menurut saya, pemilihan tokohnya pas banget. Seperti ada sentilan untuk penonton Indonesia yang tahu cerita kehidupan nyata si pemeran.


At the end, film ini memang bukan seperti Laskar Pelangi atau Sang Pencerah atau "?" yang mau memberikan nilai moril kuat. Film sejenis ini, pasti masuk daftar coret Oscar, kalau di luar sana. CHSB memang hadir untuk menghibur. Kalau Anda sedang butuh hiburan murah meriah, nonton CHSB adalah rekomendasi besar.

Walau nggak terlalu penting, tapi, ada scene yang agak sulit diterima di film ini. Salah satu bagian lain di awal CHSB adalah adegan balapan mobil di kawasan Sudirman. Di sana, nggak ada mobil lain selain mobil Satrio, penantangnya, dan polisi. Dari sekian lama saya tinggal di Jakarta (jangan protes), ini mustahil. Lha wong begitu pulang, jalanannya muacet.. cet… cet… kayak begini:




@azizhasibuan

1 comment:

ronaldsilitonga said...

ekting satrio en natasha kurang menurutku. justru nina yang ok!! adegan paling lucu : "punguttt!!", hahaha..demikian mas ajis :p