Thursday, July 07, 2011

Mengapa Harus Nonton Musikal Laskar Pelangi


Mungkin agak telat kalau saya menuliskan tentang Musikal Laskar Pelangi sekarang. Tapi, saya ngerasa salah kalau nggak menulisnya sebagai bentuk betapa saya ngefans sama tontonan ini plus orang-orang di balik dan di depan layarnya.

Seperti judul pertunjukan ini, dan seperti yang sudah dengan mudah bisa Anda dapat infonya dari googling, Musikal Laskar Pelangiadalah bentuk lain dari kisah di novel Laskar Pelangi buatan Andrea Hirata. Kisah novel ini juga sempat difilmkan oleh Miles Production. Miles jugalah yang kemudian mewujudukan Laskar Pelangi versi musikal.

Ceritanya kurang lebih sama. Tentang seorang guru bernama Muslimah dan 10 orang murid-muridnya yang berjuang keras untuk bisa terus sekolah di kampong Gantong Belitong

Lalu, kalau ceritanya sama kenapa harus nonton versi musikalnya?

Karena versi musikalnya diungkapkan dengan cara yang jauuuhhh berbeda. Lirik-lirik lagunya dibuat sangat cantik, mengikuti alur cerita. Lalu dipadukan dengan aransemen Erwin Gutawa yang gila-gilaan, hampir tidak ada lagu yang saya tidak suka.

Dari semua lagu, ada dua terfavorit. Pertama, Sahabat Alam yang mengajak belajar tentang banyak pengetahuan umum. Kedua, Jari-Jari Cantik yang menceritakan bagaimana si Ikal ketika melihat jemari cantik Aling.

Semua lagu dinyanyikan dengan luar biasa oleh penyanyi-penyanyi yang luar biasa. Saya nggak membayangkan betapa sulitnya mengumpulkan puluhan (atau ratusan?) orang yang bisa nyanyi dan bisa acting dan bisa mengikuti koreografi dengan luwes, secara bersamaan. Dan, ini bukan kualitas suara lomba karaoke antar RT. Melainkan suara yang bahkan kadang saking bagusnya nggak bisa kita dengarkan sering-sering di TV.


Saya juga semakin ngefans dengan Dimas Djay karena karyanya di musikal ini. Tata cahayanya membuat drama ini semakin drama. Tata panggungnya juga terlihat complicated. Sebelum menonton Laskar Pelangi, saya juga sempat menonton karya Dimas Djay yang lain, Matahati. Dua-duanya luar biasa di tata panggung, artistik, dan juga lighting. Detik per detiknya begitu diperhatikan. Untung saja, ketika saya menonton, hampir tidak ada yang meleset. Bagaimana musikal ini menunjukkan saat hujan datang, ketika pelangi muncul, siluet murid-murid berbaris, itu indah sekali.

Serunya lagi, walaupun Laskar Pelangi the Musical punya cerita yang ringan, teman-teman pembuat pertunjukan ini juga menyisipkan unsur-unsur seni tingkat dewa yang lebih berat. Anda akan bisa menyaksikan sisipan penari-penari kontemporer beraksi di tengah-tengah koreografi kocak para pemain utama. Saya juga suka penggambaran kesedihan di Belitong ketika pak Harfan meninggal. Cantik banget. Bagian ketika para kuli bekerja dengan koreografer dan nyanyian tanpa lirik (saya nggak tahu istilahnya). Bagian itu jadi jeda yang menarik.


Laskar Pelangi seperti sajian yang komplit. Anda akan dibawa prihatin, berbunga-bunga romantis, sedih , sampai tertawa terbahak sepanjang menonton pertunjukan.

Kalau ada yang perlu dikritik sedikit adalah voice over sebelum pertunjukan dimulai. Suaranya agak kurang pas untuk muncul sebelum pertunjukan yang menomorsatukan suara. Plus, audio di Taman Ismail Marzuki kadang kurang enak dan kurang jelas. (Iya sih… saya nontonnya dari kelas 1 nun jauh di atas :p)

Terus terang, saya nggak banyak punya referensi menonton pertunjukan sejenis. Laskar Pelangi memang baru pertunjukan drama musikal kedua yang saya tonton. Sebelumnya, saya sempat menonton Rock of Ages, pertunjukan musikal yang pernah dapat pujian dari New York Times. Menurut saya, si penulis New York Times itu mungkin perlu menonton Musikal Laskar Pelangi supaya tahu bahwa Indonesia punya karya yang nggak kalah keren. Bahkan, lebih keren!

Ohya, untuk yang belum sempat nonton, silakan ke Taman Ismail Marzuki sebelum 11 Juli. Musikal Laskar Pelangi putaran kedua sedang tampil di sana. Pesan tiketnya, setahu saya ada di beberapa cabang toko buku ak sa ra. Saya beli di ak sa ra Plaza Indonesia :)


Foto-foto di atas diunduh dari google. Tidak jelas apakah diambil dari Musikal Laskar Pelangi putaran pertama atau kedua, tapi sama bagusnya. Tulisan ini juga ditulis asal-asalan tanpa research dalam. Mohon maklum :)

@azizhasibuan

No comments: