Sunday, July 24, 2011

Obrolan Pantry: CMYK

Dia memegang gagang pintu pantry, lalu menghela napas, dan menggoyangkannya. Sayang, pintu yang dicat oranye itu tidak mengalirkan warna ceria ke hatinya. Tidak seperti iklan cat yang sedang sering diputar di TV.

Begitu pintu terbuka, seketika menyeruak aroma nikmat kopi Sumatra. Aroma kopi murni yang tidak dicampur creamer. Di depannya, seseorang sudah mengaduk-aduk cangkir.

Dia sudah tahu, rekan kerjanya yang sedang mengaduk kopi itu memang pasti ada di sana. Lalu, dia menarik satu kursi. Melemparkan tubuhnya ke kursi seolah sudah seminggu pantatnya tak berpijak. Seolah dengan begitu penat-penatnya akan melompat ke langit-langit pantry, menyublim bersama aroma kopi.

”Akhirnya, udah mau cerita?”

“Ha?”

“Iya. Aku udah pancing ke pantry berapa kali biar kamu bisa cerita, tapi nggak muncul-muncul. Baru sekarang.”

“Denger dari mana, aku lagi ada masalah?”

“Aku nggak pake kuping. Pake mata.”

“Ha?”

”Iya. Muka kamu. Kayak baju-bajuku kalau si Bibi mudik lebaran. Kusut.”

”Lagi galau nih.”

Teman kantornya itu merapat ke meja dan dalam sekali “hap” lompatan, tubuhnya nan mungil sudah duduk di atas meja pantry yang dibuat dari kayu jati kuat. Begitu si teman mungil itu duduk di atas meja, dimulailah cerita galaunya.

”Kerjaan.” Kata pertama ini langsung mengerucutkan asumsi-asumsi si teman tentang apa yang sedang dia pikirkan.

”Kenapa?”

”Pengen resign,” ujarnya. ”Aku lagi sering bandingin kantor kita ini sama kantor temen-temenku yang lain.”

”Gimana hasil perbandingannya?”

“Kacau. Kantor ini kalah.”

”Memang gimana cara bandinginnya.”

”Yah gampang lah. Orang lain libur Sabtu-Minggu. Kita libur cuma Minggu. Kadang, tanggal merah juga masuk. Yang lain kerja nine-to-five, kita kerja nine-to-nine. Yang lain bosnya senyam-senyum, bos kita suka merengut.”

“Menurutku, itu cara ngebandingin yang salah. Ngebandingin apapun. Kerja, calon pasangan, apapun harus pake konsep CMYK.”

”Ha?”

“Iya. Cyan Magenta Yellow Black. Kamu jangan bandingin Cyan dengan Black, Yellow dengan Magenta. Tapi bandingin CMYK sama CMYK. Misal kantor A, berapa kadar Cyan-nya, Magenta, Yellow, Black. Terus dia jadi warna apa. Lalu kantor B, berapa kadar Cyan-nya, Magenta, Y, K. Terus dia jadi warna apa. Nah, kalau kantor A warnanya jadi oranye dan kantor B warnanya hijau, sekarang kamu tinggal pilih, lebih suka warna oranya atau hijau.”

“Ha?”

”Kamu sekarang tuh, lagi membandingkan keburukan kantor A dengan kebaikan kantor B. Ya pasti kantor A kalah. Kan kamu bandinginnya buruk sama baik. Seharusnya, kamu bandinginnya adalah semua kebaikan dan keburukan kantor A, dibandingin semua keburukan dan kebaikan kantor B. Baru setelah semua muncul, kamu tentuin kamu lebih suka si kantor A atau kantor B.”

”Hmmm…”

”Sekarang, yang kamu lihat baik-baiknya aja di kantor B. Pernah tahu nggak kamu, kalau disana misalnya ternyata kesukaan si bos senyam-senyum sama tingginya dengan kesukaan dia nyolek-nyolek pegawai? Atau si bos suka senyam-senyum seperti halnya dia suka mecat orang?”

“Hmmm…”

”Kalau di kantor ini, kamu boleh datang telat kalau pulang kemalaman, which is kamu juga punya masalah bangun pagi dan semangat kerja malam. Nggak perlu pakai baju rapi. Bisa pakai sneakers-mu yang dua lemari itu. Sering ada training belajar design di luar negeri. Kantor lain? Belum tentu... Ya kan?”

”Ha?”

”Ha he ha he.”

Si teman melompat “hap” sekali lagi untuk turun dari meja, membiarkan dia diam merenung di dalam pantry, sampai tertidur.



@azizhasibuan


illustration: grafikhaus

Saturday, July 16, 2011

Burung Gereja, Angin, dan Mentari


Burung Gereja, Angin, dan Mentari

Bila kumulai tulisan ini
Dengan cerita kicau burung gereja
Akankah kau merasakan damai?
Ataukah kau akan menggodaku, bertopeng pujangga

Bila kemudian di tulisan ini
Aku bercerita tentang sepoi angin lembut
Yang akan mengajak dedaunan kering berdansa
Akankah kau merasakan sejuk itu?
Ataukah kau akan mengira kata-kataku syahdu terlalu

Bila aku bercerita di sini
Tentang mentari yang meneroboskan sinarnya malu-malu
Dari balik pohon di atas tebing nan tinggi
Akankah kau merasakan hangat di dadamu?
Ataukah kau akan menggeraikan tawa dan mengataiku,
"Hey, Pemuda! Bangunlah dari mimpi!"

Bila kuakhiri tulisan ini..
Dalam sebuah malam sunyi
Tahukah kau, hati tak terengkuh?
Aku merindu




Depok, 16 Juli 2011
@azizhasibuan



Foto adalah pohon di atas tebing, yang saya potret asal-asalan di kawasan 12 Apostles, Victoria, Australia

Tuesday, July 12, 2011

Bagan Siapi-api

I was Famous

Pajak (Market)

Chinese Noodles

Morning

Going Home


Bagan Siapi-api is a small town in the province of Riau, Sumatera. It is the capital of Rokan Hilir regency. Bagan is able to reached from Pekanbaru by 6 hours driving. Or, 3 hours travel time by ferry from Port Dickson, Malaysia. The major ethnic population are from Melayu and Chinese.

It is a nice town to live in, where you can't find any BCA withdrawal machine or even traffic light. In the 80's, Bagan Siapi-Api was the biggest fish producing town in Indonesia, and the second highest producer of fish in the world, after Norway.

Bagan Siapi-api is the town that I call home now :)




Photography @azizhasibuan

Friday, July 08, 2011

Senja Mengertilah


Senja Mengertilah

Wahai Senja,
Tahukah kau di bawah sana, Tanah sedang berduka
Sudah lama Langit tak berbagi air padanya
Tanah kering, menderita

Senja,
Tahukah kau bahwa di atas sini, Langit menyimpan banyak air mata
Yang bisa saja ia hibahkan pada Tanah
bila ia menangis, berduka
Namun, Langit sudah lama bahagia

Lalu Senja,
Sudahkah kau mendengar cerita
bahwa di bawah sana jiwa-jiwa sedang menari
Mereka berputar-putar melafalkan mantra
Mereka ingin air
Mereka berdoa...
Mereka mau Langit berdurja

Wahai Senja,
Tahukah kau bila malam nanti Tanah akan bahagia
Tahukah kau mengapa?

Saat kau pergi nanti, Senja, hati Langit akan kubuat luka
Saat kau pergi nanti, Senja, ia akan menangis penuh duka

Senja mengertilah...
Tak baik bila Langit terus bahagia
Roda harus diputar
Langit perlu beduka
Tanah perlu bersuka
Mengertilah...

Senja,
Namaku Petir



Jakarta, 7-7-2011
Ditulis dan dipotret oleh @azizhasibuan





Foto adalah Museum Tionghoa di Bagan Siapi-api, Riau saat senja...

Thursday, July 07, 2011

Mengapa Harus Nonton Musikal Laskar Pelangi


Mungkin agak telat kalau saya menuliskan tentang Musikal Laskar Pelangi sekarang. Tapi, saya ngerasa salah kalau nggak menulisnya sebagai bentuk betapa saya ngefans sama tontonan ini plus orang-orang di balik dan di depan layarnya.

Seperti judul pertunjukan ini, dan seperti yang sudah dengan mudah bisa Anda dapat infonya dari googling, Musikal Laskar Pelangiadalah bentuk lain dari kisah di novel Laskar Pelangi buatan Andrea Hirata. Kisah novel ini juga sempat difilmkan oleh Miles Production. Miles jugalah yang kemudian mewujudukan Laskar Pelangi versi musikal.

Ceritanya kurang lebih sama. Tentang seorang guru bernama Muslimah dan 10 orang murid-muridnya yang berjuang keras untuk bisa terus sekolah di kampong Gantong Belitong

Lalu, kalau ceritanya sama kenapa harus nonton versi musikalnya?

Karena versi musikalnya diungkapkan dengan cara yang jauuuhhh berbeda. Lirik-lirik lagunya dibuat sangat cantik, mengikuti alur cerita. Lalu dipadukan dengan aransemen Erwin Gutawa yang gila-gilaan, hampir tidak ada lagu yang saya tidak suka.

Dari semua lagu, ada dua terfavorit. Pertama, Sahabat Alam yang mengajak belajar tentang banyak pengetahuan umum. Kedua, Jari-Jari Cantik yang menceritakan bagaimana si Ikal ketika melihat jemari cantik Aling.

Semua lagu dinyanyikan dengan luar biasa oleh penyanyi-penyanyi yang luar biasa. Saya nggak membayangkan betapa sulitnya mengumpulkan puluhan (atau ratusan?) orang yang bisa nyanyi dan bisa acting dan bisa mengikuti koreografi dengan luwes, secara bersamaan. Dan, ini bukan kualitas suara lomba karaoke antar RT. Melainkan suara yang bahkan kadang saking bagusnya nggak bisa kita dengarkan sering-sering di TV.


Saya juga semakin ngefans dengan Dimas Djay karena karyanya di musikal ini. Tata cahayanya membuat drama ini semakin drama. Tata panggungnya juga terlihat complicated. Sebelum menonton Laskar Pelangi, saya juga sempat menonton karya Dimas Djay yang lain, Matahati. Dua-duanya luar biasa di tata panggung, artistik, dan juga lighting. Detik per detiknya begitu diperhatikan. Untung saja, ketika saya menonton, hampir tidak ada yang meleset. Bagaimana musikal ini menunjukkan saat hujan datang, ketika pelangi muncul, siluet murid-murid berbaris, itu indah sekali.

Serunya lagi, walaupun Laskar Pelangi the Musical punya cerita yang ringan, teman-teman pembuat pertunjukan ini juga menyisipkan unsur-unsur seni tingkat dewa yang lebih berat. Anda akan bisa menyaksikan sisipan penari-penari kontemporer beraksi di tengah-tengah koreografi kocak para pemain utama. Saya juga suka penggambaran kesedihan di Belitong ketika pak Harfan meninggal. Cantik banget. Bagian ketika para kuli bekerja dengan koreografer dan nyanyian tanpa lirik (saya nggak tahu istilahnya). Bagian itu jadi jeda yang menarik.


Laskar Pelangi seperti sajian yang komplit. Anda akan dibawa prihatin, berbunga-bunga romantis, sedih , sampai tertawa terbahak sepanjang menonton pertunjukan.

Kalau ada yang perlu dikritik sedikit adalah voice over sebelum pertunjukan dimulai. Suaranya agak kurang pas untuk muncul sebelum pertunjukan yang menomorsatukan suara. Plus, audio di Taman Ismail Marzuki kadang kurang enak dan kurang jelas. (Iya sih… saya nontonnya dari kelas 1 nun jauh di atas :p)

Terus terang, saya nggak banyak punya referensi menonton pertunjukan sejenis. Laskar Pelangi memang baru pertunjukan drama musikal kedua yang saya tonton. Sebelumnya, saya sempat menonton Rock of Ages, pertunjukan musikal yang pernah dapat pujian dari New York Times. Menurut saya, si penulis New York Times itu mungkin perlu menonton Musikal Laskar Pelangi supaya tahu bahwa Indonesia punya karya yang nggak kalah keren. Bahkan, lebih keren!

Ohya, untuk yang belum sempat nonton, silakan ke Taman Ismail Marzuki sebelum 11 Juli. Musikal Laskar Pelangi putaran kedua sedang tampil di sana. Pesan tiketnya, setahu saya ada di beberapa cabang toko buku ak sa ra. Saya beli di ak sa ra Plaza Indonesia :)


Foto-foto di atas diunduh dari google. Tidak jelas apakah diambil dari Musikal Laskar Pelangi putaran pertama atau kedua, tapi sama bagusnya. Tulisan ini juga ditulis asal-asalan tanpa research dalam. Mohon maklum :)

@azizhasibuan

Nonton Catatan Harian si Boy Cing!


Spoiler Alert!

Dalam semingguan terakhir, saya mendapat dua hiburan yang seru banget. Sabtu lalu, saya (akhirnya) nonton Musikal Laskar Pelangi. Lalu barusan, saya nonton film Catatan Harian si Boy. Dua-duanya seru.



Catatan Harian si Boy (berikutnya saya singkat jadi CHSB biar nggak capek ngetiknya) dibuka dengan scene yang akan diulang lagi, nanti, di dekat-dekat akhir film. Ini memang bukan ide baru. Tapi, menunjukkan bahwa si pembuat film mau mengajak penontonnya agak mikir tipis-tipis.

Lalu, barulah muncul tokoh yang sama sekali baru dari dunia mas Boy. Namanya, Satrio. Bad boy. Tipe yang berpotensi disukain banyak cewek, suka keluar-masuk penjara gara-gara balap boil liar, obsesif dengan persaingan, dan rajin sholat. Karakternya plek (baca: sama, bahasa Suroboyoan) sama si Mas Boy zaman 80-an dulu.

Ketika proses mau dibebaskan dari penjara, Satrio bertemu dengan Natasha, yang sedang melapor ke polisi karena mobil pacarnya baru dilarikan orang nggak dikenal. Lalu, singkat kata, Satrio berkenalan dengan Natasha. Di hari yang lain, gadis yang baru pulang dari London ini kemudian mulai curhat tentang ibunya yang sedang sakit dan keinginannya menemukan seseorang bernama Boy, dengan bantuan sebuah diary. Satrio muncul di sini sebagai teman baru yang ingin membantu menemukan si Boy.

Sampai di sini, Anda mungkin berpikir bahwa ceritanya klise. Iya. Apalagi kalau saya bilang, bahwa salah satu konflik di film ini adalah konflik perebutan cewek. Memang klise.

Tapi, film ini sangat-sangat-sangat-sangat kuat di skenario, pengambilan gambar, dan detail (udah kayak kritikus beneran nggak nih?) Dan begitu menonton the whole movie, Anda mungkin nggak akan peduli dengan ke-klise-annya lagi.

Skenario film ini kena dan lucu. Salah satunya, dialog tentang taik (iya TAIK, ini bukan tykpo) antara Satrio dan Andi. Itu dialog terfavorit saya. Andi adalah salah satu penyegar paling sukses di CHSB. Si Humble ini bahkan bisa bikin penonton ketawa hanya dengan diam melongo. Lalu, skenario seru lain juga muncul ketika si Natasha menjelaskan mengapa dia suka membuat desain pakaian.

Pengambilan gambar. Ada beberapa angle romantis yang lengket banget di otak, setelah nonton film ini. Pertama, waktu adegan si Natasha membetulkan rambut di balik pintu, sementara Satrio di sebelahnya menunggu. Kedua, ketika Satrio ngobrol dengan Nina di bawah mobil. Sejak ketika Nina menggeser tubuhnya ke bawah mobil, sampai si Nina memilih pergi, sepanjang adegan itu menarik. Menurut saya, itu scene paling romantis. Sayang, saya kesulitan mencari capture foto dari scene ini.

Detail. Nah, ini yang menunjukkan bahwa si pembuat film CHSB niat bikin film. Semuanya dipikirkan. Mulai dari kostum sampai milih tokoh-tokoh yang lewat sepintas lalu.

Mereka sengaja menggeletakkan sepatu Natasha di lantai, supaya penonton tahu bahwa si tokohnya pakai Christian Louboutin. Juga, pemilihan cast ayah Satrio yang mendekam di penjara, menurut saya, pemilihan tokohnya pas banget. Seperti ada sentilan untuk penonton Indonesia yang tahu cerita kehidupan nyata si pemeran.


At the end, film ini memang bukan seperti Laskar Pelangi atau Sang Pencerah atau "?" yang mau memberikan nilai moril kuat. Film sejenis ini, pasti masuk daftar coret Oscar, kalau di luar sana. CHSB memang hadir untuk menghibur. Kalau Anda sedang butuh hiburan murah meriah, nonton CHSB adalah rekomendasi besar.

Walau nggak terlalu penting, tapi, ada scene yang agak sulit diterima di film ini. Salah satu bagian lain di awal CHSB adalah adegan balapan mobil di kawasan Sudirman. Di sana, nggak ada mobil lain selain mobil Satrio, penantangnya, dan polisi. Dari sekian lama saya tinggal di Jakarta (jangan protes), ini mustahil. Lha wong begitu pulang, jalanannya muacet.. cet… cet… kayak begini:




@azizhasibuan

Sunday, July 03, 2011

Am I Cute?


Beach Dog


Burung Gereja


Don't Call Me a Koala Bear



You Want Some?


Hello!


Colors


photos by @azizhasibuan

Friday, July 01, 2011

Obrolan Pantry: Bukan Layang-Layang


Obrolan Pantry: Bukan Layang-Layang


Hari ini, pilihannya jatuh kepada rok lipit-lipit di atas lutut berwarna jingga yang dipadukan dengan blus putih tulang berbahan ringan.


Perempuan itu menikmati ritual paginya di dalam pantry kantor. Bergumul dengan empat helai roti tawar yang baru dipanggang. Empat botol selai berbeda rasa berjejer di meja pantry. Strawberry, Srikaya, Kacang, dan Nanas. Dua helai roti yang sudah diisi strawberry dan kacang sudah merebahkan diri di piring dengan posisi dilipat.


Teman si perempuan itu datang ketika dia mengoleskan roti ketiga dengan selai srikaya.


"Nggak bener nih. Masak aku denger kabar tentang kamu justru dari orang lain."

"Jangankan kamu. Ibu bapakku juga nggak tahu 24 jam aktivitasku ngapain aja."

"Yah, tapi kalau tentang laki-laki itu. Harusnya kamu share dong."


Perempuan itu beralih ke roti terakhir. Tangannya mulai mengoleskan selai nanas.


"Aku udah pernah bilang ke kamu. Kalau belum jelas, jangan kasih semuanya."

"Siapa juga yang ngasih semuanya."

"Perhatianmu berlebihan."

"Aku bukan jagoan tarik ulur. Aku cuma jujur."


Keduanya diam sampai selai nanas selesai dioleskan. Mereka kemudian berpindah ke meja makan kecil di ujung pantry. Si teman mengambil roti, tanpa dia tahu apa isinya (Sstt.. Isinya kacang!). Si teman memegangnya, namun urung memakan karena ingin memulai pembicaraan lagi.


Sementara si perempuan itu mulai mengunyah roti berisi strawberry.


"Aku nggak paham sama konsep berkorbanmu untuk orang yang belum jelas."

"Kamu salah. Salah kalau ada orang merasa harus berkorban karena cinta. Cinta itu nggak butuh berkorban, tapi butuh rasa tulus. Beri yang kamu mau beri. Jangan memikirkan dia akan memberikan hal yang sama…

Kalau suatu saat kamu merasa sedang berkorban, itu berarti sudah waktunya kamu berhenti jatuh cinta."


"Lalu, selama ini?"

"Aku udah bilang kan. Aku cuma jujur. Yah, aku begini ini. Kalau bilang ya artinya ya. Kalau nggak artinya nggak. Kalau bilang A artinya A. Kalau bilang B artinya B."

"Pantes kamu nggak punya punya pasangan. Laki-laki itu harus ditarik ulur."

"Nggak apa. Daripada punya pasangan dengan cara harus nggak jujur, main tarik ulur."


Si teman mulai gemas. Lalu menggigit roti tawarmya...


...

....

.....


"Njing." Si teman membuang rotinya.

"Kenapa lagi?"

"Ini isinya apa?"

"Kacang"

"Sialan. Aku alergi kacang."


*




@azizhasibuan