Monday, May 30, 2011

Pekong Besar

Gerbang Utama

Dalam Urut

Harap Kami

Sesaat Hentikan Roda

Untuk Leluhur

Kertas. Api. Abu. Doa.

Kembali ke Dunia



photos by @azizhasibuan

Bagan Siapi-api, Riau

Saturday, May 28, 2011

Merubah atau Mengubah?

Saatnya merubah Oh No! jadi Oh Now!

Begitu tulis salah seorang selebriti dalam update status di account twitter-nya. "Merubah" sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, juga dalam tulisan-tulisan santai. Namun, kata ini sebenernya tidak tepat.

Bila yang dimaksud adalah menjadikan sesuatu tidak seperti sebelumnya, maka seharusnya digunakan kata mengubah.

Sebab, kata dasar di sana adalah "ubah" dan bukan "rubah."

Lalu apa makna kata merubah? Maknanya adalah menjadi rubah. Rubah adalah nama hewan.

Imbuhan memang kadang agak membuat kita tersesat. Kita sering menggunakan kata merubah karena terbiasa menggunakan kata berubah. "Berubah" adalah tepat karena imbuhannya adalah ber-

:)


@azizhasibuan

Friday, May 27, 2011

Hore, Hari Ini Makan Tempe!

Ngobrol sama seniman yang bisa diajak ngobrol (karena kadang ada yang nggak bisa diajak ngobrol) adalah salah satu hal yang seru dilakukan. Terutama, kalau kita sedang butuh intermezo. Pemikiran seniman-seniman itu kadang suka kebalik sama apa yang ada di pikiran orang kebanyakan. Dan kadang banyak benarnya.

Di tempat saya bekerja dulu, saya sering ketemu dengan seniman desain grafis. Orangnya nyentrik-nyentrik. Salah satunya adalah Idan. Tipikal idealis. Selain itu, kalau dengar dia ngomong, topik biasa bisa jadi luar biasa karena semangatnya bercerita dan perspektifnya.

Suatu hari, saya ngobrol sama dia. Niatnya, iseng. Ketika itu, saya barusan lihat seorang bapak mengajak anaknya sarapan. Si anak punya nickname Jupe. ”Jupe, hari ini kita makan tempe aja ya,” kata si Bapak. Lalu, saya ceritakan hal ini ke Idan, dengan nuansa memberikan belas kasih.

Sebelum menanggapi obrolan saya itu, Idan kelihatan berpikir sebentar. Lalu, dia senyum (gayanya memang begitu sebelum mulai menanggapi sesuatu). Tahu dia mau memberi tanggapan, saya diam. Idan pun mulai bicara.

”Gue pikir orang-orang itu aneh yah. Kenapa mereka harus ngomong... ’Hari ini kita makan tempe aja ya.’ ... Kenapa mereka nggak bilang (di sini, Idan mengubah mimiknya yang datar jadi antusias dengan mata agak melotot)... ’Nak, tahu nggak. Hari ini kita makan enakk! Kita makaaaan tempeeee!’.... Kenapa ngomongnya nggak gitu!”

:)

Anda sarapan apa tadi pagi?


@azizhasibuan

Wednesday, May 25, 2011

mag nation; Press Your Esc Button


Ada saat-saat di mana kita ingin menekan tombol Esc dari kehidupan urban yang serbacepat dan melelahkan. mag nation adalah salah satu pintu kalau ingin kabur sementara dengan cara murah meriah.

Lokasinya ada di 88 Victoria St Melbourne. Dari salah satu pintu keluar Flinders Train Station, kita sudah langsung menghadap ke Elizabeth St. Lurus saja melewati dua blok. mag nation ada di sisi kanan jalan, di pertemuan antara Elizabeth St dan Collins St.



Lalu, apa itu mag nation?

Toko majalah. Di Victoria St, mag nation berada di bangunan tiga lantai. Semua bagian di tiga lantai itu, full diisi majalah dengan berbagai segmentasi. Dari yang mudah dicari seperti majalah lifestyle, fashion, travel, otomotif, sampai yang susah dicari macam fine art atau majalah desain langka. Dari situs resminya, mag nation menyebut mereka menyediakan sekitar 4.000 judul majalah. Sesuai dengan tagline-nya: more magazine that you've ever seen.


Istimewanya lagi, di sini, kita bisa mampir, duduk di sofa yang nyaman, dan membaca majalah apapun gratis! Kalau tertarik membawanya pulang, baru silakan melangkah ke cashier untuk membayar.

Suasana di dalamnya pun memang di-set supaya kita nyaman membaca. Sofa-sofa ditata dengan rapi. Penerangan dibuat pas, tak terlalu temaram, tak menyilaukan. Kadang dibantu juga dengan cahaya yang masuk dari jendela-jendela yang menghadap ke Victoria St. Lalu, musik jazz atau blues akan menjadi teman pengunjung membuka lembaran-lembaran majalah. Yang baru saya sadari setelah membuka situs resmi mereka, di toko ini juga tersedia wi-fi.



Di Melbourne, mag nation juga ada di Greville St Prahran. Lalu, bisa dijumpai di King St Sydney. Surga majalah ini juga buka cabang di New Zealand. Semua di Auckland: Queen St, Ponsoby Rd, dan Sylvia Park Shopping Centre. Kalau sedang berada di tempat-tempat tersebut, coba sedikit buang waktu untuk kabur ke sana.

Post dengan foto-foto ini saya buat sambil berharap siapa tahu ada orang gila yang ingin buka toko serupa di Indonesia :D Saya pasti mampir.

Silakan tekan tombol Esc Anda seperti yang sedang dilakukan pria ini.


Photos: @azizhasibuan

Tuesday, May 24, 2011

Adakah Keputusan yang Salah?


Steve Jobs adalah salah seorang yang banyak saya perhatikan ucapannya, cerita hidupnya, speech-nya. Dalam sebuah commencement untuk lulusan Stanford University pada 2005, pendiri Apple dan Pixar ini menceritakan tentang perjalanannya hingga sekarang banyak dikenal orang.

Salah satu poin yang selalu saya ingat dari commencement itu adalah poin Connecting the Dots.

Menurut dia, kita nggak akan pernah bisa menyambungkan titik-titik dalam hidup dengan melihat ke depan, tapi harus dengan melihat ke belakang ketika sudah ada di depan.
Hal yang buruk atau baik hari ini selalu akan punya dampak baik di depan nanti.

Steve Jobs nggak pernah lulus kuliah. Tapi, dia hanya mengambil kelas yang dia rasa perlu diambil. Salah satunya kelas Kaligrafi. Dari situlah dia belajar bagaimana membuat huruf-huruf yang indah, seperti yang ada di Macintosh, dan seperti yang kemudian dipakai oleh Windows.

Kalau dia nggak pernah mengambil kelas Kaligrafi, mungkin huruf-huruf aneh di Mac nggak akan pernah ada. Windows pun mungkin nggak akan beride untuk membuat huruf-huruf unik.

*

Saya baru saja mengundurkan diri dari pekerjaan yang sudah saya lakoni selama tujuh tahun. Sebuah keputusan yang sangat sangat sangat berat. Meninggalkan kantor saya, sama beratnya seperti ketika harus meninggalkan rumah dan berpisah dengan orang tua beberapa bulan lalu (karena keduanya pindah ke Riau).

Beberapa hari terakhir sebelum haris resign saya datang, setiap pagi-pagi sekali, saya selalu terbangun kemudian memikirkan ini dan itu, lalu huff.. iya, menangis. Untuk Anda yang kenal saya, menangis adalah momen langka.

Meninggalkan kantor ini bukan hanya berarti harus meninggalkan berbagai kesempatan gila yang ada di depan mata, tapi juga meninggalkan teman-teman kerja yang sudah seperti saudara.

Ketika saya mengabari beberapa teman di luar kantor, berikut ini beberapa pertanyaan yang saya dapat (plus jawaban saya):

- Pindah kemana?
Jakarta

- Maksudnya, kantor baru kamu dimana?
Belum ada.

- Serius? (Beberapa menggunakan kata Gila?!)
Iya. Serius dan mungkin gila. Tapi, sekali-sekali gila mungkin seru juga.

- Lalu, mau apa?
Rehat sebentar, lalu ngoyo cari kerja lagi.

- Serius?
Yah, nanya lagi! :p

- Ada masalah di kantor?
Nggak sama sekali. Saya nggak pernah berharap resign karena ada masalah. Justru resign itu harus ketika nggak ada masalah.

- Sudah dipikirkan matang-matang? Hati-hati salah mengambil keputusan.
Sudah

*

Pertanyaan (dan warning) terakhir di atas kemudian mengingatkan saya untuk membaca kembali teks commencement dari Steve Jobs.

Setelah itu, saya bertanya, adakah keputusan yang salah?

Saya nggak akan pernah tahu seperti apa masa depan. Dan saya yakin, nggak ada keputusan yang salah. Keputusan mungkin bisa terlihat salah bila kita memandangnya hari ini. Tapi, bisa justru terlihat sangat baik nanti-nanti.

Kalau suatu saat keputusan itu membuat hidup jadi lebih sulit, maka kejar terus supaya yang dimimpikan tercapai. Siapa tahu, mimpi itu datang lima tahun lagi. Kalau lima tahun belum datang, kejar terus, siapa tahu sepuluh tahun lagi. Kalau belum datang juga, jangan berhenti mengejar. Sampai sudah nggak bisa mimpi.

Nanti kalau sudah sampai di titik yang kita mimpikan, baru toleh ke belakang. Lihat betapa bahwa keputusan-keputusan yang pernah kita buat membuat kita bisa berdiri di titik ini. Bahkan, keputusan yang dinilai orang lain sebagai sebuah kegilaan.

Connecting the dots.

*

Steve Jobs juga pernah dipecat dari Apple, perusahaan yang dia bangun susah payah di garasi rumah. Dia sempat juga merasa depresi. Lima tahun setelah dipecat, dia membangun NeXT dan Pixar. Beberapa saat setelah itu, Apple membeli NeXT, dan Steve Jobs kembali ke Apple.

Tanpa dia pernah dipecat, mungkin sekarang nggak akan pernah ada ide melahirkan Pixar. Dan kita nggak akan pernah menonton Toy Story, The Cars, atau Up.

Lalu, masihkah kita berpikir ada keputusan yang salah?

@azizhasibuan


Baca teks commencement Steve Jobs di sini

Thursday, May 05, 2011

Zepur

Peniup Nada

Cucu Oma

Di Ujung Pintu


Peluh Cinta Bunda


Pecel Madiun


Photos by @azizhasibuan