Saturday, March 05, 2011

Target Kalah


Saya sedang duduk di courtside, menyaksikan pertandingan basket yang sedang seru di lapangan. Lalu, seorang ofisial dari salah satu tim peserta kompetisi itu datang menghampiri saya. Dia mengenakan setelan jas rapi, sesuai aturan kompetisi. Si ofisial kemudian meletakkan sikunya di sandaran kursi saya. Sambil dengan gaya berbisik dia bilang, ”Mau kita kalah berapa-berapa?”

Si ofisial ini datang untuk mendampingi timnya yang segera akan bertanding. Lawan mereka adalah tim raksasa yang diyakini punya peluang besar menjadi champion.

Mendapat pertanyaan itu, saya tertawa kering, menghargai niatnya untuk bercanda. Tapi, di dalam hati, saya bertanya, ”Kok bisa punya target kalah?”

Memang, kalau mau dihitung di atas kertas, tim si ofisial kemungkinan besar akan kalah. Tapi, kalau keyakinan mereka saja sudah tidak ada untuk saat ini, bagaimana mau bisa menang nanti-nanti.

Pertandingan timnya pun dimulai. Pemain-pemain yang ada di tim underdog itu keluar dari locker room dengan wajah tanpa semangat. Masuk lapangan dengan lari lemah. Wajah mereka seperti ingin segera mengakhiri pertandingan, yang bahkan belum mulai.

In the end, tim ini kalah sangat jauh, skornya terpaut lebih dari 60 poin!

Daripada melihat tim tadi, saya bahkan lebih suka melihat tim juru kunci bertanding. Walau tahu akan kalah, mereka berusaha dulu. Lalu (sepertinya) berharap dapat pelajaran untuk bisa lebih baik nanti-nanti.

Rasanya ini bukan hanya dalam pertandingan… Walau tahu akan kalah di awal, tapi yakin saja itu adalah bekal untuk menang.


*) Gambar hasil googling

No comments: