Monday, March 28, 2011

Snap from the Cab

Selamat Pagi, Surya


Metal!


Kind Kind of Busy...


Pak Kusir


Awas Benjut


Berangkat Sekolah



Seluruh foto di atas saya ambil dari atas taksi
:)

Saturday, March 19, 2011

Perkenalan


Perkenalan

Sebuah toko di mall membuat Rio berhenti. Properti di window toko itu berbeda dari lainnya. Ada hiasan patung Budha, dupa yang dipasang di meja kayu, mangkuk besi beberapa ukuran, juga sejumlah gelang chakra yang dipajang rapi. Memancing pemuda dengan T-shirt bergambar Rolling Stones dan jins belel itu tertarik masuk ke dalamnya.

Dupa aromaterapi menebarkan aroma Jasmine di seluruh ruangan toko kecil itu. Suara musik menenangkan seperti di kelas Yoga ditiup perlahan oleh sound system yang tersembunyi di balik lemari kayu.

Rio bergerak menyibak perlahan selambu manik-manik yang ada di pintu, lalu terdengar bunyi gemerincing dari hiasan pintu. Hiasan yang sengaja dipasang si pemilik toko untuk mengingatkan bahwa ada tamu datang.

Seorang gadis yang sedang menata beberapa gelang chakra membalikkan badan. Lalu, dengan lembut mengucapkan, ”Hi. Selamat datang…” Senyumnya tipis dengan raut yang tulus.

Bagi Rio, momen saat si gadis mengucapkan selamat datang dengan nada yang halus membuat ruangan itu ter-capture seperti sebuah foto. Berhenti dua detik. Klik. Lalu berjalan lagi.

”Hi… mmm… Mau lihat-lihat saja. Di sini ada gelang Chakra?” kata Rio basa-basi.

”Mostly, memang itu yang kami jual. Sudah pernah punya sebelumnya?”

Rio menggeleng, lalu bertanya. ”Yang bagus di tangan saya warna apa ya?”

Gadis itu tertawa. ”Gelang chakra sebenarnya bukan aksesori. Ini dibuat dari batuan alam. Ada banyak jenis batunya, ada banyak warnanya. Semua punya khasiat sendiri-sendiri. Tergantung apa yang kamu butuhkan.

Setiap batuan yang murni dibuat alam selalu memancarkan energi-energi khusus. Penyeimbang energi-energi negatif yang ada di sekitar kita. Di ruangan, di tubuh.”

”Nama saya Rio,” kata Rio menghentikan penjelasan gadis itu.

”Saya Nila.” Mereka tidak berjabat tangan.

”Kalau masalah saya di jodoh, ada nggak gelang yang cocok?”

”Hahahaha. Kita bukan dukun.” Nila kemudian melangkah ke rak yang ada di samping tatakan CD. ”Tapi, mungkin ini bisa membantu.” Nila mengambil sebuah gelang berwarna biru muda dengan tekstur bening, sehingga tali yang menyambungkan setiap batu bisa terlihat dari luar.

”Ini Aquamarine. Baik untuk menyeimbangkan aura supaya lebih lancar komunikasi. Membantu lebih gampang berekspresi. Juga menambah kesetiaan dan perhatian ke orang lain.” Nila menjelaskan.

Rio memasang gelang yang disarankan Nila ke tangannya. ”Gimana, aura bagus saya udah keluar? Udah kelihatan kalau saya setia?”

Nila kembali tertawa. ”Ini bukan gelang dari Doraemon. Harus dipakai terus dan kamu harus percaya bahwa ini bisa membangkitkan aura positif. Nanti dia akan membantu,” kata Ria. ”Mau yang itu?”

Rio mengangguk.

Nila mengambil sebuah mangkuk besi dan meminta Rio meletakkan gelang tersebut di dalam mangkuk. Sementara tangan kirinya memegang mangkuk, tangan kanan Nila memegang semacam stick kayu kecil, sepanjang spidol. Gadis itu kemudian menempelkan kayu ke bibir mangkuk besi dan memutar-mutarkannya.

Dengan ajaib, muncul suara seperti dengungan yang menenangkan. Semakin lama suaranya semakin besar. Gelang chakra di dalamnya pun bergetar-getar.

Rio melongo. Matanya seperti baru melihat Deddy Corbuzier pertama kali membengkokkan sendok dengan ayunan tangan. Rio baru kembali memijak bumi ketika Nila memintanya mengambil gelang chakra tersebut dan memakainya.

”Ini namanya Singing Bowl. Dibuat dari tujuh jenis metal. Saya tadi barusan membersihkan energi-energi lain yang melekat di gelang chakra kamu, karena gelang itu sudah pernah dicoba orang,” jelas Nila. ”Mau coba Singing Bowl?”

Rio menerima Singing Bowl dan kayu itu. ”Jangan sampai jatuh ya. Sekali jatuh, mangkuk ini nggak akan mau bernyanyi lagi,” ingat Nila.

Lalu Rio membuat gerakan-gerakan memutar seperti yang dilakukan Nila. Namun, tidak ada suara yang keluar.

”Alasnya jangan digenggam, telapak tanganmu harus dibuka. Lalu, memutarnya sedikit ditekan, dan pikiranmu harus fokus ke sana. Jangan memikirkan yang lain. Kalau kamu lakukan sepenuh hati, baru dia bisa bernyanyi.”

Diikutinya saran gadis itu. Rio melepaskan kekagumannya dan fokus kepada putaran tangan di mangkuk tersebut. Perlahan, muncul suara dengungan. Rio mendengarkan suara mangkuk itu bagai bayi yang mendengar ibunya bersenandung.

*

”Kunyuk! Ngapain sih? Lama banget. Ini filmnya mau main!” suara Ardi, teman Rio, tiba-tiba memecahkan konsentrasinya. Hampir saja Singing Bowl itu terjatuh, bila Nila tak sigap memegang. Ardi kemudian pergi keluar toko.

Nila mengembalikan Singing Bowl ke tempat ia tadi dipajang. Rio mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan tiga lembar uang lima puluh ribuan.

”Terima kasih yah. Saya belajar hal keren hari ini,” kata Rio ketika Nila memberikan uang kembalian.

”Ini kartu nama saya. Kalau ada yang ingin ditanyakan tentang gelang chakra, kabari saja.”

Rio membaca kartu nama itu: Nila Setitik

”Ini nama kamu?”

”Iya. Makanya hati-hati. Karena sayalah, rusak susu sebelanga.”

Rio tertawa. ”Sampai ketemu lagi.”

Rio masih sempat melihat Nila yang duduk di kursi cashier dan menatap balik ke arahnya, sambil menyunggingkan senyum damai yang sama.

***

Jakarta, 18 Maret

Ditulis oleh @azizhasibuan

Saturday, March 05, 2011

Gambar Pertama (Mungkin Terakhir)


Ada dua bakat orang yang selalu bikin saya iri. Pertama bakat musik, kedua bakat gambar. Dua-duanya saya gak jago. Tapi, kadang suka memaksakan diri. Baik memaksa diri nyanyi, atau maksa diri nggambar.

Yang di atas ini salah satu contoh setelah saya memaksa diri. Dan ini adalah gambar pertama saya, yang saya upload ke blog ini. Iya, dan mungkin terakhir.

Selamat menikmati (sambil tersiksa)

:D

@azizhasibuan

Target Kalah


Saya sedang duduk di courtside, menyaksikan pertandingan basket yang sedang seru di lapangan. Lalu, seorang ofisial dari salah satu tim peserta kompetisi itu datang menghampiri saya. Dia mengenakan setelan jas rapi, sesuai aturan kompetisi. Si ofisial kemudian meletakkan sikunya di sandaran kursi saya. Sambil dengan gaya berbisik dia bilang, ”Mau kita kalah berapa-berapa?”

Si ofisial ini datang untuk mendampingi timnya yang segera akan bertanding. Lawan mereka adalah tim raksasa yang diyakini punya peluang besar menjadi champion.

Mendapat pertanyaan itu, saya tertawa kering, menghargai niatnya untuk bercanda. Tapi, di dalam hati, saya bertanya, ”Kok bisa punya target kalah?”

Memang, kalau mau dihitung di atas kertas, tim si ofisial kemungkinan besar akan kalah. Tapi, kalau keyakinan mereka saja sudah tidak ada untuk saat ini, bagaimana mau bisa menang nanti-nanti.

Pertandingan timnya pun dimulai. Pemain-pemain yang ada di tim underdog itu keluar dari locker room dengan wajah tanpa semangat. Masuk lapangan dengan lari lemah. Wajah mereka seperti ingin segera mengakhiri pertandingan, yang bahkan belum mulai.

In the end, tim ini kalah sangat jauh, skornya terpaut lebih dari 60 poin!

Daripada melihat tim tadi, saya bahkan lebih suka melihat tim juru kunci bertanding. Walau tahu akan kalah, mereka berusaha dulu. Lalu (sepertinya) berharap dapat pelajaran untuk bisa lebih baik nanti-nanti.

Rasanya ini bukan hanya dalam pertandingan… Walau tahu akan kalah di awal, tapi yakin saja itu adalah bekal untuk menang.


*) Gambar hasil googling