Saturday, February 12, 2011

Cerita Fiksi Ali


Cerita Fiksi Ali

Ali berlari kencang, lalu berbelok ke kanan memasuki jalanan yang masih berkerikil. Lampu-lampu yang setengah temaram menerangi langkah buru-burunya menuju rumah kayu di ujung gang. Di tangan anak berumur delapan tahun itu, tergenggam secarik kertas.

Dari dalam rumah kayu terdengar sayup-sayup suara orang mengaji. Ali melepas sandal jepitnya di teras. Lalu tergesa-gesa membuka pintu.

Dengan napas tersengal, Ali mengucapkan salam. ”Assalamualaikum.”

Ayahnya, Abdul Safawi membalas salam. Anak-anak yang sedang belajar mengaji berhenti sejenak, melihat Ali yang terlihat kebingungan dan terengah-engah.

Abdul menoleh ke murid-murid mengajinya, ”Kalian lanjutkan dulu. Setelah ini Bapak kembali.” Dia kemudian melangkah masuk ke kamar, menggiring putranya dengan langkah yang menenangkan. ”Ada apa, nak?”

Ali memberikan secarik kertas yang sejak tadi dia genggam. Tangannya masih gemetar. Sang ayah membacanya dengan seksama. Ali kemudian memeluk ayahnya, ”Apa salah kita, Pak?” Suaranya gemetar, pelukannya begitu erat.

Sang ibu, Musdalifah, yang tengah hamil empat bulan ikut masuk ke kamar. Melihat lembaran kertas pamflet yang dibawa Ali, lalu membacanya dalam hati…

Ayo Ganyang Mereka!

Mereka SESAT berkedok Islam!

Hancurkan. Musnahkan.

Setetes air mata mengalir dari mata wanita berjilbab itu. Dibukanya peci Ali, diusapnya kepala sang buah hati. Keluarga kecil itu berpelukan di dalam kamar termaram. Di dinding kamar terpajang kaligrafi Allah dan Muhammad.

Dari luar, masih terdengar suara anak-anak kecil mengaji.

*

Subuh belum lagi menyapa desa tempat Ali tinggal ketika dia dibangunkan oleh sang ibu. Bocah berkulit sawo matang itu terbangun dengan manghadap wajah sang ibu yang sudah segar, siap bepergian. Ali menegakkan punggungnya dan melihat beberapa koper sudah ditata rapi.

Di meja belajar, sudah ada sepaket pakaiannya. Musdalifah meminta anaknya untuk segera mandi. ”Sebentar lagi, pak De datang. Kamu segera mandi ya, Nak.”

Ali mengangguk. Ini bukan kali pertama dia harus pindah mendadak. Dari pembicaraan ayah dan ibunya sebelum tidur, Ali mendengar bahwa akan ada sweeping di kawasan tempat dia tinggal.

Usai sholat Subuh, saat sedang menautkan kancing di pakaiannya, Ali mendengar deru mobil L300 dari luar rumah. Orang yang disebut Musdalifah sebagai Pak De muncul dengan wajah senang.

”Alhamdulillah, kalian semua sehat.” Pak De berpelukan dengan Abdul. Lalu, keduanya bergegas memindahkan koper-koper ke dalam mobil.

Deru L300 kembali terdengar. Ali duduk di pinggir jendela, menatap rumah yang baru ditinggalinya tiga bulan. Satu kaca jendela di rumahnya sudah digantikan dengan kayu, pecah karena lemparan batu dari orang tak dikenal.

Mobil mulai menggelindingkan bannya. Ali masih menatap rumah itu… Bertanya dalam hati, kapan ini bisa berakhir…

*

”Pak De, apa salah kita?”

”Tidak ada, Nak.”

”Lalu, kenapa kita harus terus berlari seperti orang yang salah?”

”Nanti akan ada waktunya semua ini berakhir.”

”Kapan?”

”Saat mereka mengerti, bahwa kita adalah mereka.”

”Saya benci mereka.”

”Jangan, Nak. Mereka saudara kita.”

”Front itu saudara kita?”

”Semua saudara kita.”

”Saudara tidak melempari rumah saudaranya dengan batu. Saudara tidak mengancam.”

”Mereka hanya belum memahami.”

*

Langit sedang benderang. Matahari bersemangat memancarkan sinarnya.

Ali terbangun ketika mobil yang ditumpanginya berhenti di depan lahan sekian hektar yang dijajari oleh rumah-rumah petak.

”Di sinilah kita semua tinggal dalam kesederhanaan,” ujar Pak De.

Ali berlari ke arah satu rumah petak ketika dia melihat Odi, teman mengajinya di desa terdahulu. Mereka bersalaman, lalu bermain bersama. Odi mengajaknya berkeliling, mengenalkan Ali dengan anak-anak kecil lain. Ali begitu senang.

”Tampaknya semua akan berakhir di sini,” ucap Ali dalam hati. Matanya mengerjap bahagia.

*

”Pak De memangnya kita ini sesat ya? Murtad?”

”Kamu tahu rukun Islam, Nak?”

”Tahu, Pak De. Mengucap syahadat. Shalat wajib lima waktu. Zakat. Berpuasa Ramadhan. Menunaikan haji bila mampu.”

”Sudah kamu lakukan itu, Nak?”

”Insya Allah, tinggal haji yang belum, Pak De.”

”Kalau begitu, kamu muslim nak.. Islam…”

”Alhamdulillah…”

*

Abdul menerima sebuah telepon dari rekannya di sebuah kota. Ancaman semakin membesar di sana. Katanya, tanggal 5 atau 6 akan ada penyerbuan massal. Sebanyak mungkin warga akan dikerahkan, untuk mengusir sang rekan dan keluarga besar.

Mereka membutuhkan bantuan supaya tetap bisa mempertahankan aset. Kerabat yang tertinggal di kota itu terlalu sedikit bila harus bertahan dalam ancaman yang begitu besar.

Saat fajar belum berbenah, Abdul sudah berangkat ke kota, dengan sejumlah rekan lain. Mereka akan bertemu di kota, bersiap untuk mempertahankan apa yang mereka punya.

Abdul bertemu dengan kerabat-kerabat lain yang juga datang dari luar kota. Mereka mengajak berbincang pihak berwenang, menyatakan kekhawatiran atas ancaman.

Belum usai mereka berbincang, mulai terdengar teriakan orang mengucap takbir. ”Allahu Akbar.”

Abdul keluar dari rumah dengan dua kerabatnya yang lain. Ratusan orang sudah berkumpul, membawa kayu, parang, pisau, dan senjata lain. Mereka datang dengan penuh amarah. Terus meneriakkan takbir.

Teriakan-teriakan lain kemudian datang beruntun.

”Pergi kalian dari sini.”

”Murtad”

”Kafir”

Hati Abdul teriris. Dia mengucapkan takbir yang sama dengan yang diucapkan orang-orang itu. Dia mengucapkan syahadat yang sama dengan yang diucapkan orang-orang itu. Kini, dia dianggap hina.

Satu kelompok orang kemudian mulai maju. Meringsek ke arah mobil yang terparkir di depan rumah. Lalu dengan penuh amarah, menyulutkan api. Sejumlah rekan lain keluar dari rumah. Berusaha menghentikan.

Massa semakin beringas. Parang, pisau, kayu, mulai dihuuyung-huyungkan.

Abdul masih terkesima. Dia mengucapkan takbir yang sama.

Lalu, plakkk! Sebilah kayu memukul kepalanya. Abdul ambruk seketika. Dalam pandangan yang berbayang, dilihatnya di ujung sana seorang rekan juga ambruk. Abdul merasakan kepalanya basah. Darah.

Pukulan lain menghuyung. Plakkk! Entah apanya yang patah. Abdul tak bisa lagi merasa. Pukulan-pukulan lain terus datang bergantian. Tangannya bergetar. Dilihatnya kembali rekannya di ujung sana tengah berusaha mengangkat kepala. Pihak berwajib berusaha melerai, namun diabaikan. Dan, plak! Sabetan kayu lain memukul kepala rekannya hingga tak lagi bergerak.

Abdul mengucap takbir dengan lirih, ”Allahu Akbar.”

Orang-orang di sekitarnya mengucap takbir dengan kencang, penuh amarah. Dan, pukulan terus menghujani tubuhnya.

*

Sekumpulan orang berkumpul di balai. Satu orang pria menggunakan kemeja rapi, celana pantolan, dan sepatu yang disemir mengkilap. Di sekelilingnya, orang-orang itu berdiri sembari memegang amplop cokelat. Satu per satu mereka membuka amplop itu, lalu tersenyum.

Si pria berkemeja rapi mengangkat ponselnya. ”Sudah beres bos. Sudah saya kasih tambahan juga. Besok giliran Temanggung.”

*

Mata Ali masih nampak sembab. Dia sudah dengar kabar itu. Ibunya hanya mengunci diri di pondokan. Kini, Ali tengah memegang ponsel milik Pak De yang diambilnya diam-diam. Dibukanya menu video di ponsel itu. Dilihatnya satu video yang ada di urutan paling atas. Lalu, diputarnya…

Ali menutup matanya. Dia jatuh bersimpuh. Ponsel di genggamannya terlepas. Ali mengejang karena tangis. Memukul-mukulkan genggaman tangannya ke tanah. Berharap ini hanya fiksi.

*

”Pak De, kita ini sebenarnya sama kan dengan mereka?”

”Kalau sholat, kamu takbirnya mengucap apa?”

”Allahu Akbar.”

”Mereka juga.”




Cerita ini hanya fiksi…

Jakarta, 12 Februari 2011

@azizhasibuan