Sunday, January 09, 2011

Hati-Hati Perhatian

Saya sedang duduk di ruang tunggu B1 Bandara Soekarno Hatta, menunggu penerbangan lanjutan ke Padang. Bersama penumpang yang mau ke Padang, di ruangan ini ada juga penumpang yang mau ke Medan.

Duduk di depan saya, pasangan yang saya duga suami istri. Dua-duanya etnis China. Nantinya saya akan mengetahui tujuan mereka adalah ke Medan.

Yang cowok memakai T-shirt hitam polos dilapis jaket capuchone abu-abu, celana jins, dan sandal jepit. Sesekali si cowok mengetik-ngetik sesuatu di Blackberry, lalu kembali bermain game di Samsung Galaxy Tab yang dibawanya. Menggerakkan gadget itu ke kanan kiri.

Si perempuan mengenakan loose T-shirt ungu, celana jins, dan sepatu boots yang membungkus bagian bawah jinsnya. Tasnya, handbag sporty puma.

Sekali waktu saya mendengar si perempuan bicara dengan tempo cepat. Lewat telepon, dia mengabari seorang kerabat. "Nanti pokoknya bilangin aja, begitu sampai bandara, langsung ke Asahan (daerah dingin dekat Medan) nggak usah pake kemana-kemana lagi. Pokoknya bilangin gitu yah." Ujung bibir si cici sempat mengeras sedikit ketika menyebut "Nggak usah kemana-kemana lagi."

Lalu, dia menutup telepon dan mengobrol dengan suaminya dengan nada agak berbisik, "Berarti nanti kalau aku extend, tiketnya nggak bisa dicancel?"

"Nggak bisa," jawab si suami santai, seperti memahami arah pembicaraan si istri.

Si istri merangkulkan tangannya ke pundak si suami, "Nggak pa-pa yah?"

Si suami menoleh, lalu sambil agak tertawa menjawab, "Halaaahh... Kalo gini aja. Kalo lagi marah... Hhhheehhh." Lalu, mereka tersenyum-senyum.

*

Saya orangnya bisa sampai seperti itu kalau memperhatikan orang. Bahkan kadang bisa lebih detail lagi.

Menurut beberapa (kebanyakan) teman, sifat ini nggak baik. Sifat saya yang suka memperhatikan gerak-gerik orang, cara bicaranya, cara berpakaiannya, cara jalannya, kadang bisa memancing reaksi yang tidak saya inginkan.

Bisa membuat orang itu merasa kesal, atau misalnya ketika saya terlalu memperhatikan cara orang meminta sumbangan, saya dikira berniat nyumbang :p. Padahal belum tentu.

Mungkin, penyakit saya ini karena saya sering terinspirasi untuk menulis hanya dengan memperhatikan mereka. Dengan memperhatikan orang lain, lalu menuliskannya dalam kalimat-kalimat, mungkin orang yang membaca tulisan saya bisa mulai berpersepsi dan berimajinasi mengenai tokoh di tulisan itu.

Misalnya tulisan tentang pasangan yang hendak ke Medan tadi. Anda sekarang boleh berpersepsi tentang bagaimana sifat si suami dan bagaimana si istri.

Menurut saya, kegiatan "observasi" semacam ini menyenangkan sekali :D. Jadi kalau Anda ketemu saya dan saya melihat Anda dari ujung kaki ke ujung rambut, lalu memperhatikan cara Anda berbicara, lalu tersenyum-senyum sendiri, berarti saya sedang melakukan hobi observasi. Semoga tidak sakit hati :D



@azizhasibuan BlogBooster-The most productive way for mobile blogging. BlogBooster is a multi-service blog editor for iPhone, Android, WebOs and your desktop

Wednesday, January 05, 2011

Cit Cit Tweet


Tadi malam, saya baru sampai di rumah sekitar pukul 2 pagi, lalu packing hingga pukul 3, kemudian baru tidur. Mata saya sudah harus dibuka lagi saat jarum jam bersiap-siap bergerak dari angka 5. Ini karena saya harus sudah ke bandara pada pukul 6 pagi.

Saya kurang tidur. Saya mau mengeluhkan ini di twitter.

*

Beberapa bulan lalu, salah seorang teman ngaku ke saya, "Ziz. Kemaren-kemaren tuh gue sempet hampir unfollow lo di twitter."

"Oh ya? Kenapa?"

"Twitter lo isinya udah kayak orang-orang yang akhirnya gue unfollow. Kayak gak ada semangat idupnya. Tapi kagak jadi. Gue pikir, pasti nih anak lagi kecapekan aja."

Saya ketawa.

*
Saya punya seorang teman lain lagi yang entah dengan latar belakang apa, setting-an text yg muncul di twitternya sering bernada negatif.

Saat orang bersimpati ketika Gus Dur meninggal, dia justru seolah bersyukur dengan menuliskan respon-respon negatif. Ketika orang bersimpati dengan kematian Michael Jackson, dia menampilkan tweet yang isinya kurang lebih "Sekarang aja inget MJ, dulu waktu hidup dihina-hina." Dan yang paling baru, waktu semua orang men-support timnas sepak bola Indonesia, dia dengan nuansa menghina menyebut Indonesia sebagai tim yang beruntung saja dan nasionalisme orang-orang itu palsu.

Membaca status-status itu, walau tidak ditujukan ke saya, sering membuat kesal. Sampai akhirnya saya cepat-cepat men-scrool handphone setiap melihat teman saya ini melakukan update status.

*

Sepertinya ini kehebatan twitter. Dalam batasan 140 karakter, dia bisa menyemburkan api atau menyiramkan air.

Pagi tadi, saya membaca update status dari Udjo Project Pop
@udjudj: Alhamdulillah, new morning, bismilah

Rasanya saya ikut bersemangat lagi membacanya.

Lalu, kalau ternyata hanya dengan menulis update status di twitter kita bisa mengajak orang untuk lebih bersemangat, lebih berani, lebih happy, kenapa harus menebarkan energi negatif?

*

Saya men-delete status keluhan tentang butuh tidur yang belum jadi saya post, kemudian mengetik ini:

To Juanda. Bismillah. Semoga semua lancar hari ini

Anda punya hak memilih sikap yang mana, dan orang lain punya hak menentukan sikap akan menyukai tweet Anda atau menganggap tweet-tweet Anda tidak berguna, lalu meng-unfollow. Jadi, jangan kesal kalau di-unfollow.

:)

Ditulis sambil menunggu boarding

@azizhasibuan

Ilustrasi diambil dari rmhowe.comBlogBooster-The most productive way for mobile blogging. BlogBooster is a multi-service blog editor for iPhone, Android, WebOs and your desktop