Wednesday, December 28, 2011

Beachie

Cloudy Day

Holding Hands
With Papa
Thousand Windows
Run, Baby Girl...


Photography: @azizhasibuan
Potato Head, Bali

More photography works, click here

Saturday, December 24, 2011

Wish List



Wish List

Suara mesin mobil yang terjebak macet berpadu dengan alunan suara choir menyanyikan lagu-lagu Natal. Seolah menyambut dan mengantar pulang pengunjung dengan nada-nada menenangkan  yang mereka nyanyikan di pelataran depan mal.

Wajah-wajah bahagia tampak keluar masuk pusat perbelanjaan itu. Menenteng tas-tas kertas dan plastik berisikan barang-barang dan bahan makanan persiapan Natal. Seorang anak kecil dengan bando tanduk rusa menyala-nyala tertawa girang, duduk di atas pundak ayahnya yang tak kalah bahagia.

Malam kudus… Sunyi senyap
Dunia terlelap.
Hanya dua berjaga terus
Ayah Bunda mesra dan kudus
Anak tidur tenang..
Anak tidur tenang..

BAM!

Suara berdebam menghentikan nyanyian paduan suara. Alarm mobil yang kencang dan mengintimidasi membuat orang kocar-kacir.

Tak lama, sekelompok pengunjung mal berkumpul di depan mobil yang mengeluarkan alarm kencang itu.

*

Sejak saya mulai bisa menulis, setiap seminggu sebelum Natal, Oma selalu memberikan selembar kertas. Lalu beliau meminta saya menulis apa saja yang saya mau. Apa saja.

Wish List. Demikian yang tertera di bagian atas kertas-kertas itu.

Tahun pertama saya mendapatkannya, saya mengisi kertas tadi dengan 12 kado Natal yang saya mau.

Namun lama kelamaan saya mulai berhitung… Boneka, sepeda lipat, alat makeup milik Victoria Beckham, high quality jeans yang harus tidak dicuci enam bulan, parfum, tas, telepon genggam yang punya papan ketik dan layar sentuh. Semua sudah saya dapat bahkan sebelum saya minta. Bahkan sudah saya dapat tanpa perlu menunggu Natal. Lalu, apa esensi hadiah Natal? Lalu, mengapa harus terus membuat wish list?

Tahun demi tahun, list itu semakin tipis. Hingga tinggal satu. Satu yang tidak pernah keluar dari daftar kado Natal idaman saya, yang hanya bisa saya tulis di hati, dan… belum pernah saya dapatkan.

*

“Sudah tiga tahun kamu nggak bikin wish list lho. Tahun ini kamu ingin apa?”

Pertanyaan yang sama yang dilontarkan Oma tahun lalu. Dengan cara yang sama, sambil menyisir rambut saya.

”Saya kan nggak perlu nunggu Natal, Oma. Setiap hari juga sudah dapat semuanya. Oma nggak capek yah jadi Sinterklas seumur hidup?”

”Ha ha ha. Yakin sudah dapat semua? Oma rasa ada yang kamu belum dapat selama ini.”

Saya terdiam. Jantung saya berdegup kencang. Akankah harapan saya selama ini akan beliau kabulkan. Akankah yang sudah belasan tahun saya nantikan akan datang di Natal kali ini.

Keras, saya berusaha supaya suara yang keluar dari tenggorokan ini tak bergetar. ”Apa itu, Oma?”

Oma menghentikan kegiatan basa-basinya menyisir rambut saya. Dia mengambil sebuah kotak kecil dari lemari dan memberikannya kepada saya.

”Umur kamu sudah tujuh belas tahun. Sudah bisa bikin SIM.”

Kunci mobil di dalam kotak itu sama sekali tak membuat saya bahagia. Sama sekali. Dan walaupun dengan susah payah saya menyunggingkan senyum, lalu memeluk Oma, dia tetap melihat rona wajah saya yang kecewa.

”Kamu kelihatan nggak senang lho. Bukan ini mobil yang kamu mau?”

Saya terdiam. Mempertimbangkan antara harus memberikan sayatan pedih yang jujur, atau belaian hangat yang dusta. Tujuh belas tahun saya menunggu, saya tak ingin melewatkan setiap Natal dengan dusta yang sama. Kebahagian yang semu, palsu.

”Saya ingin bisa tahu dimana ayah dan ibu, Oma.”

Oma melepaskan pelukan saya dengan satu gerakan layaknya orang terkejut. Wajahnya murka. ”Oma sudah bilang. Ini nggak akan pernah lagi jadi topik pembicaraan kita. Nggak akan pernah lagi, Natalie”

”Nat cuma mau ketemu mereka Oma. Nat capek terus-terusan bertanya. Kenapa semua disembunyikan? Kenapa bahkan Nat nggak  boleh tahu nama mereka? Kenapa Oma begitu marah ke anak Oma sendiri? Kenapa mereka pergi meninggalkan rumah ini? Kenapa tidak ada satu orang pun di keluarga kita yang berani menyebut nama mereka? Kenapa? Kenapa? Kenapa?”

“Kalau begitu hentikan masalahmu. Hentikan bertanya. Mereka pergi meninggalkan kita. Anggap mereka sudah mati. Kamu harus terima. Oma pikir, kamu sudah bisa menghadapi realita. Hadapi, Natalie.”

”Realitanya Nat punya ayah dan ibu yang Oma sembunyikan. Oma yang nggak bisa menerima realita. Oma lari dari realita.”

Plak.

Telapak tangan Oma yang keriput mendarat di pipi saya. Panas hingga mencairkan air mata. ”Kamu nggak tahu apa yang kamu bicarakan, Natalie.”

”Iya. Nat nggak tau. Nat nggak pernah tau. Karena Oma menyembunyikan itu! Karena Oma lari dari kenyataan.”

Saya berlari ke luar rumah, menghentikan taksi bobrok yang melintas, dan pergi.

*

Hari semakin pekat. Sudah berjam-jam saya duduk di parkiran pusat perbelanjaan ini. Sendiri. Dari bawah sana terdengar suara paduan suara menyanyikan lagu-lagu Natal yang menenangkan hati. Hati orang yang sedang hangat dan penuh kasih sayang.

Kenangan demi kenangan melintas di otak saya. Kenangan akan Natal demi Natal, yang semakin saya dewasa, semakin hambar rasanya. Natal yang penuh dengan senyum palsu karena saya harus melewatinya tanpa ayah ibu.

Sebuah surat kabar menghentikan mata saya. Berita utama koran itu dicetak dengan huruf kapital berwarna merah: LAGI, BUNUH DIRI DI MAL

Saya hanya ingin damai, Oma…

...

Malam kudus… Sunyi senyap;
Dunia terlelap.
Hanya dua berjaga terus
Ayah Bunda mesra dan kudus
Anak tidur tenang..
Anak tidur tenang..

BAM!

Suara berdebam menghentikan nyanyian paduan suara. Alarm mobil yang kencang dan mengintimidasi membuat orang kocar-kacir.

Tak lama, sekelompok pengunjung mal berkumpul di depan mobil yang mengeluarkan alarm kencang itu.

Seorang gadis terkapar di atas mobil. Dia baru terbang bebas, mengejar damai…

***


Jakarta, 24 Desember 2011

Picture: GettyImages

More short stories, click here

Tuesday, November 15, 2011

Kids are Kids

Lovely Girls
Merah Putih
Hormat Bendera

Three Komodo Musketeers 
Julia

Above are picture of kids who live in Komodo Village, a village behind the popular Komodo Island that is nominated as one of world's new seven wonders of nature. Most of their parents are fisherman, living in destitution. 


Photos: @azizhasibuan


Click picture to enlarge





Sunday, November 13, 2011

A Sailing Trip

Giri Laba

Melabuh Senja

Dua Naga
Labuan Bajo Harbor

Wild Life

Trees

Living Legend


Photos: @azizhasibuan
Indonesian Traveler trip with Indra Patriasandi 

Click picture to enlarge



Saturday, October 29, 2011

Hentikan Tanyaku



Hentikan Tanyaku

Aku ingin berhenti bertanya
Mengapa dalam kerap tarikan napas
Terlintas aromamu
Aroma yang pasti menemaniku
Di jam pulang kerja
Di sepanjang akhir minggu

Aku ingin berhenti bertanya
Mengapa ketika angin meniup rambut
Dia turut menghembuskan bayang jemarimu
Yang dulu kerap membelai kepalaku
Mengusapkan cinta
Membius dunia

Sungguh kuingin berhenti bertanya
Mengapa setiap hangat mentari sore datang
Di setiap hangat matahari tenggelam
Yang kurasakan adalah hangat dekapmu
Dekap yang kurasa terakhir kali
Saat kau menyudahi
Dekap yang kurindu

Mengapa kau menukik pergi

Aku ingin berhenti bertanya
Tapi jawabnya belum sedia
Dan, ah aku terus bertanya




Jakarta, 29 Oktober 2011

Naskah dan Foto



Foto diambil dalam hangat mentari sore di Dago Atas, Bandung




Sunday, October 09, 2011

Tugas Matahari





Tugas Matahari

Merah meminang Kuning, menyeduh jingga, senja. Menghangatkan hati yang sedang rindu. Kita berbaring di atas handuk biru, di atas pasir putih Pulau Macan. Empat botol bir murah tergeletak, menambah hangat sore itu. Kamu minum satu, aku minum tiga. Kita tertawa-tawa bercerita tentang masa-masa itu. Masa-masa yang membekukan rindu, hingga kita bertemu di sini, mencairkannnya kembali.

”Kamu masih inget nggak, waktu kamu ngasih aku cokelat dan bilang suka sama aku?” tanyamu dalam satu titik.

Pita suaraku seperti distop bicara, dan hanya bisa mengeluarkan suara, “Hehemm..” Mengiyakan.

“We were so young…” katamu sambil senyum “… Dan kehilangan arah.”

Kita berdua masih menatap langit yang sedang ingin mengucapkan salam perpisahan ke matahari. Aku tentu ingat saat itu. Dan sampai sekarang, aku masih kehilangan arah…

Tanganku masih dingin sisa memegang botol bir, sampai tanganmu mendarat di sana, mengirimkan kehangatan. Mencairkan sisa-sisa rindu.

”Kenapa kamu tiba-tiba ngajak aku ke sini, Ran?”

”Kenapa harus tanya kenapa?” Ini memang cara andalanmu kalau mendapat smash. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

Aku tertawa… kering, karena tidak tahu dimana bagian yang lucu, namun tetap tertawa. ”Lima tahun kita cuma ber-hi-hi lewat chat. Itu pun nggak sampai sepuluh kali. And suddenly you invited me… Kayaknya wajar kalau aku nanya kenapa.”

”Kangen aja.”

Selesai. Tamat riwayatku. Sekarang, rindu itu telah  tuntas mencair, mengalir ke pot-pot memori, menyuburkan bunga-bunga yang sudah lima tahun menjadi zombie. Membuat mereka bergoyang-goyang riang, merasa hidup kembali.

“Udah dijawab kok diem?” tanyamu.
“Memangnya harus ngomong apa lagi?”
“Hahahaha. Kamu udah pinter sekarang. Menjawab pertanyaan pakai pertanyaan.”

Kita tertawa. Kali ini agak berlebihan. Entah karena memang lucu, entah karena bir -yang padahal kamu hanya minum satu dan aku tiga. Atau karena kita terlalu menikmati senja…

Kamu kemudian meminggirkan botol-botol yang seolah menjadi batas jarak, merapatkan diri. Kepalamu bersandar di pundakku. Aroma rambut itu masih sama seperti dulu. ”Kamu setia yah…” kataku

“Maksudnya?”
“Setia sama shampoo. Dari dulu sampai sekarang masih sama…”
Kamu tertawa, lalu memberikan pertanyaan menyentak… “Kamu masih ingat?”
Aku tak menjawab dengan suara. Aku menjawab dengan telapak tangan yang kuusapkan di rambutmu. Tentu saja, Rani… 

Sore ini seperti sesi tanya jawab panjang, yang untungnya menyenangkan. Pertanyaan lima tahun yang terpendam seolah bangun dari kubur dan berharap ingin diungkap satu-satu.

“Sudah lima tahun ini, aku belum pernah dengar kamu pacaran sama cewek lain,” katamu yang tentu mengandung makna bertanya, kenapa?

”Oh… kamu nyari tahu juga tentang aku.” Kini giliranmu bersemu tersipu. Semu yang bertahun-tahun lalu menjinakkanku. ”Iya. Nggak ada yang doyan. Siapa coba yang mau sama pengangguran sulit komitmen kayak aku.”

“Aku mau.” Entah kita sedang berbincang, entah kita sedang bermain catur, yang setiap kali salah satu memakan bidak lawan, maka lawan akan tersipu malu.

”Kamu pernah mau…” kataku membenarkan pilihan katamu. Suaraku menekankan di kata pernah. Kamu bergerak sedikit, memiringkan tubuh dan menyeberangkan tangan ke badanku. Orang memahami ini sebagai… berpelukan.

”Mungkin kamu terlalu banyak  memilih. Kadang perlu untuk memberikan waktu yang lebih panjang ke orang lain. Jangan baru kenal sedikit, lalu ada sifatnya yang kurang pas, kamu tinggalin. Kadang, sifat-sifat nggak menyenangkan itu keluar karena dia ingin terlihat baik. Begitu waktu sudah berjalan, semakin dia terlihat aslinya, semakinlah kita tahu bahwa ketika utuh, dialah orang yang tepat.”

”Mungkin…” jawab bibirku. Bukan Rani, karena aku belum bisa melupakanmu… Jawab hatiku. ”Kalau kamu? Memangnya sudah berapa kali mencoba memberi kesempatan dan berhasil?”

Kamu terdiam, memindahkan tanganmu di dadaku, membuat garis-garis abstrak dengan jari telunjuk. ”Lima tahun, Pras... Aku nggak ingat berapa kali nyoba. Tapi yang berhasil sih cuma satu. Itu pun barusan bubar,” …. “Yah, at least, usahaku pernah ada hasilnya kan… Daripada menutup diri.”

“Iya,” jawabku singkat. Entah bagian mana yang ingin aku iya-kan.

”Kamu masih belum ada yang ngalahin. Misterius. Jalan sama kamu itu kayak mendaki gunung. Banyak tantangan. Seru. Dan nggak pernah tahu apa yang bakal kita lihat di perjalanan ke puncak…”

Wajah bunga-bunga zombie itu tak pucat lagi. Mereka sudah berdansa ke kanan kiri. Tetesan rindu membuat mereka hidup kembali. Sialan!

“… Tapi aku nggak selamanya ingin mendaki gunung, Pras. Aku ingin tinggal di pinggir pantai. Menetapkan hati.”

“Maaf, Ran… Dulu aku belum siap. Banyak yang harus dipikirkan. Mana mungkin aku bisa bikin kamu senang kalau hanya mengandalkan hasil dari jadi fotografer asal-asalan.”

”I know… Tapi lucunya, sampai lima tahun setelah kita pisah, aku juga masih belum menetapkan hati…”

Matahari sudah semakin bersembunyi di ujung garis laut. Aku kadang heran, mengapa matahari dan langit butuh waktu begitu lama untuk mengucapkan kata perpisahan. Untungnya, perpisahan mereka tampak begitu indah.

Kamu berdiri, mengulurkan tangan, mengajakku bangkit. Matahari semakin turun. Tangan kita masih terkait. Tubuh kita merapat. Lalu dua bibir itu bertemu kembali, setelah sekitar lima tahun terpisah...

“Kamu tahu nggak apa tugas matahari sore ini?” tanyamu. Aku menggeleng. Tanpa menjawab, kamu menarikku ke pondokan tempat kita tinggal…

Ia menunaikan tugasnya sore itu. Menghangatkan rindu yang lama membeku…
        
***

Jakarta, 09-10-11
Ditulis oleh @azizhasibuan



Foto adalah salah satu pondokan di Pulau Macan, tempat yang ingin saya kunjungi :)

Monday, September 26, 2011

Obrolan Pantry: Bensin



Bensin

Suasana sedang sepi karena hari sudah menjelang malam ketika dua newbie di kantor itu menyelinap ke dalam pantry. Mencuri waktu di tengah mengejar deadline pembuatan proposal event.
Salah satu dari mereka mulai melarutkan cokelat bubuk dengan air hangat, sementara yang lain masih mencari-cari kopi di laci.
“Ah dapet. Minahasa. Lumayan juga nih gratisan.”
”Mental anak kos lo.”
”Bukan, man. Ini mental bisnis. Usaha kecil, untung besar. Pemikiran gue ini juga yang gue kasih tau ke HR waktu interview dulu dan lo liat sendiri, sekarang gue diterima di sini.”
”Ah, lo lulus karena tes English lo bagus. Dan itu karena nyontek gue.”
“Sssttt… Kalo sampe ada yang denger…” Si Kopi menunjukkan gerakan seolah akan memukul si Cokelat, lalu tertawa. “Tapi, gue yakin, gue diterima karena jawaban-jawaban gue yang tegas di interview.”
            “Kasih gue contoh. Apa yang lo maksud jawaban tegas.” Si cokelat mulai menikmati isi cangkirnya.
            ”Nih. Waktu gue ditanyain, apa hal yang paling gue benci, gue jawab, orang yang ngeremehin orang lain. Gue memang paling benci tuh, man.  Menurut gue, pandangan atau senyum ngeremehin itu bara api. Ngajak perang. Gue pasti nggak akan ngelupain orang yang gituin gue.” Si Kopi merapikan bungkus Minahasa-yang-entah-punya-siapa dan mengembalikannya ke laci pantry.
            ”Jadi, kalau ada orang yang ngeremehin lo, lo bakal marah?”
            ”Iya lah. Lo nggak?”
            ”Pandangan ngeremehin itu bensin. Bisa lo pake buat bikin bara api, atau lo pake untuk nganter lo ke tujuan. Lo yang pilih.”
            Si Kopi menyesap cangkirnya perlahan. Berpikir.
            ”Lo bijak juga.”
            “… Tapi ngelihat keterbatasan otak lo, kayaknya sih nggak salah kalo ada yang ngeremehin lo.”
            Si Kopi tersedak.
           
Keduanya meninggalkan pantry, kembali ke meja, melewati seorang senior yang melihat mereka dengan pandangan bego-banget-sih-lo-bikin-proposal-aja-nggak-jadi-jadi.







Saturday, September 24, 2011

The Twelve Apostles

Just The Two of Us
Hiding
After the Rain
Lone Apostle
London Bridge is Falling Down


The Twelve Apostles is a collection of limestone stacks off the shore of the Port Campbell National Park, by the Great Ocean Road in Victoria, Australia.


Wednesday, September 21, 2011

Tiga Belas

Tiga Belas

Di meja ini, ada dua cangkir
Satu hangat mengepul, satu hampa
Aku tengah meramu hati
Menantimu datang sesuai janji

Tanggal tiga belas, pukul tiga belas
Begitu katamu lewat penyeranta

Lalu di sinilah aku berada
Setiap tiga belas hadir
Di meja dekat jendela dengan dua cangkir
Satu hangat mengepul, satu hampa

Pesanmu tak menyebut bulan, Shinta...



Sunday, September 18, 2011

Saat 50 Tahun Nanti...


Vodz minus si kurcaci Broto :D (Tulisan drama by Kresna)
Saat 50 Tahun Nanti

Saat masih bekerja di Surabaya, saya punya sekelompok sahabat. Kami hampir selalu menghabiskan weekend bersama. Ah, tidak cuma weekend, bahkan kadang makan siang, dinner, supper, atau sarapan pagi, atau kadang seharian, atau… banyak lah.

Dan bukan cuma senang-senang. Kadang kami juga sering saling menggosipkan di belakang, dengan awalan “Tapi kamu jangan bilang-bilang yang lain ya…” :p Kadang saling berantem diam-diam, kadang ada yang menuduh ini begini dan begitu. Tapi, at the end of the day, kami selalu baikan lagi. Tertawa-tertawa lagi, menertawai tingkah laku kami yang drama setengah mati.

Lalu, suatu hari, dengan kecanggihan Blackberry Messenger, yang pasti juga dimanfaatkan hampir semua penggunanya, kami membuat Group. Namanya, Vodkerz. Silakan mengucap “He? Vodkerz?” tapi jangan tanya “Kenapa?” karena bukan itu yang sedang saya ingin bahas di sini.

Yang saya ingin bahas di sini adalah bahwa kami sekarang sudah agak sulit berkumpul lengkap lagi. Lima orang memang masih di Surabaya (satu akan segera pindah ke Jakarta), dua ekor lagi memilih menikah satu sama lain dan tinggal di Bali, dua orang lagi di Jakarta (dan jarang ketemu), satu ekor dipinang orang dan diboyong ke Sydney, satu lagi mencari jati diri ke Seattle :p.

New Year 2010

Betapa waktu begitu cepat berputar dan kami tiba-tiba sudah bukan anak kuliahan lagi, bahwa sudah ada yang mulai memikirkan ”Suamiku enaknya dimasakin apa yah besok pagi?” atau "Gila. Cukur rambut aja harus bayar USD 40."

Tapi, kami masih saling ngobrol lewat group (dan bahkan masih ngambek-ngambekan. Hahahaha). Lalu, kemarin saya tanya ke sahabat-sahabat saya itu, tentang satu topik:
Kalau (insya Allah) usia udah 50 tahun, kamu pengen hidup seperti apa?

Jawaban mereka sebenarnya biasa-biasa :p, begini obrolan kami (dengan bahasa yang saya olah supaya lebih mudah dimengerti) …

Nysa: Aku pengen udah pernah jalan ke Eropa, punya usaha sendiri yang bantuin suami, punya lima (LIMA!) anak yang sayang dan ngelindungin aku.

Kemal: Aku mau jadi dokter andal, pintar, cekatan, ikhlas, terkenal, dan lebih iklas menolong sesama (yang terakhir paling PENTING!)… Punya rumah sendiri dan bisa gantian menghidupi bapak, ibu, dan Anisha (saudara Kemal), dan belikan mereka rumah (lagi?)

Broto: I have nothing in mind. Bingung mikir tadi. I guess jadi konsultan aviasi.

Vitha: Aku pengen bisa jalan-jalan ke luar negeri tanpa mikir. Ada konser di UK, cus… (gila, 50 tahun dan masih mikir konser, nenek-nenek Grunge!) Ke airport bawa koper, milih random destination, beli tiket, berangkat. Dan seputaran Indonesia juga nggak apa.

Lingga (sekaligus menanggapi istrinya, Nysa): Keliling Endonesia, keliling dunia, mengumpulkan foto-foto di tiap kota, negara. Hunting foto sambil bersepeda (-_-“) Ke Eropa juga, you (Nysa) and me. Sambil ngelihat paus yang berenang di pool kita (Paus adalah Doni, salah satu teman kami yang gedenya kayak bayi Paus lahir prematur)

Iphie: Jadi orang bahagia. Ngerjain apa aja, gonta-ganti dan nggak pernah permanen sesuka hati. Nggak perlu bingung karena udah tinggal menadah duit yang dihasilkan semasa muda. Keliling dunia kemana aja. Punya anak tiga, suami masih sama (Ouw). Bisa ngurusi keluarga Jagalan (Jagalan – tempat tinggal keluarga Iphie di Surabaya)

Irene: Traveling. Punya perusahaan gede, rumah gede yang isinya lengkap sampai nggak perlu keluar rumah lagi. Membahagiakan keluarga dan membantu orang lain.

Dari semua itu, ada satu mimpi rame-rame yang saya sortir dan memang sengaja dimasukkan  di bagian akhir:
Bahwa kita mau waktu usia 50an nanti, kita ketemu lagi, ngumpul di satu tempat. Lalu, sambil mengenang mimpi kami ini… :)


Iftar at Tante Yun's


***

Nanti, kalau sampai usia 50 tahun, saya yakin, tulisan ini akan seru untuk dibaca lagi. Bahwa siapa tahu mimpi-mimpi kami masih jauh belum tergapai, atau malah sudah kesampaian saat usia baru 30an, atau arah rel kereta hidup mengantar kami ke jalan yang sama sekali berbeda. Tidak apa. Mimpi tidak pernah salah.

Saya juga sempat menanyakan pertanyaan tentang 50 tahun ini lewat twitter, salah seorang klien saya, Mbak Deffy Hardjono, menjawab begini:
Have 10houses to rent out & doing full time charity works. Amin!

Bermain-main dengan mimpi seru juga yah..

Yuk!


Saturday, September 17, 2011

Seusai Malam

Angin dari pendingin ruangan
meniupkan aroma pewangimu
Menyeberang dari ranjang
Menuju sofa di sudut kamar

Aroma manis itu berbaur dengan pahit kopi
Yang sedang kuaduk, sambil duduk

Selimut yang memelukmu semalaman
(Tentunya selain aku)
Bergerak lembut
Tanda mentari berhasil membangunkanmu

Dalam hitungan lima
Aku akan melihat parasmu
Lima empat tiga dua satu
Lalu kau berlalu
Ke bilik air berkemas diri

Aku masih di situ
Di sofa di sudut kamar
Sendiri
Mengamatimu

Lima empat tiga dua satu
Lalu kau menyapa
Membuka amplop jingga
Memastikan jumlah angka

Kopi selalu pahit
Bila tanpa gula
Bila hanya air dan bubuk
Aku masih di sofa itu terduduk


Kau menggerakkan lima jari
Tanda segera pergi
Lalu, menuju pintu

Kau bahkan belum memberitahu namamu


Wednesday, September 14, 2011

Hard Work v Luck




Hard work beats talent when talent doesn’t work hard

Quote tersebut dengan mudah bisa di-google. Nggak jelas siapa pemiliknya. Tapi makna quote ini banyak dipercaya orang sampai sekarang. Kalau kerja keras, apa yang kita mau bisa dicapai. Kalau kerja keras…

Saya pun beberapa tahun terakhir tumbuh dalam lingkungan yang menjadikan kerja keras seperti dewa. Harus dipuja, harus dipercaya. Tidak kerja keras berarti menyeleweng dari kitab suci.

Setiap orang (mungkin) punya batas. Namun dengan kerja keras, kita bisa meng-extend batas itu lebih jauh lagi. Push. Push. Push. Hari ini cuma bisa merangkak, besok bisa jalan. Hari ini bisa jalan, besok bisa lari. Hari ini bisa lari, besok bisa… (apa yang lebih dari lari? Itu lah pokoknya.)

Tapi, konsep kerja keras ini suatu hari memukul saya di satu titik.

Seorang teman bilang ke saya. ”Menurut gue, orang yang merasa sukses adalah karena kerja keras, berarti sombong.”

Saya diam mendengarnya. Teman saya itu selalu jagoan memulai topik dengan kalimat mematikan. Saya curiga dia konsultan komunikasi politik. Lalu, dengan mimik yang sudah pasti aneh, teman saya paham bahwa saya menunggu lanjutan pancingannya.

”Menurut gue, orang sukses itu karena keberuntungan. Bukan karena kerja keras. Kalau lo bilang sukses karena kerja keras, berarti lo lupa bahwa ada orang lain di sekitar lo yang secara nggak sengaja lo temui, dan bawa lo jadi sukses. Berarti lo lupa bahwa banyak momen-momen di hidup lo yang nggak sengaja terjadi, tapi ternyata ngebawa lo di titik sukses.

Menurut lo sukses karena apa? Keberuntungan!”

Saya makin curiga dia konsultan komunikasi politik.


Bagaimana menurut Anda?





*) Kutipan teman saya itu tidak dituliskan dengan persis kata per katanya. Namun demikianlah pemaknaannya.

Sunday, September 11, 2011

Selamat Pagi




Selamat Pagi

Aroma Edelweiss yang kugenggam
Kuda-kuda sewaan berjalan pelan
Matahari yang baru terbit
Hamparan pasir berdebu
Kau menutup sebagian wajah dengan syal biru
Namun kutahu dari dalam mata itu,
Ada bahagia pada rona bibirmu

Dua pasang kaus kaki
Dua pasang sepatu lari
Punyaku biru
Kau merah jambu
Hari itu sepi polusi
Kau berlari penuh semangat
Aku terseok di belakang
Lalu, kita menertawai
Sampai klakson bus membuat kita menepi

Bunyi minyak berjumpa telur dalam penggorengan
Asap tipis yang menyembul di dapur
Aku terbangun
Roti kecokelatan dalam alat pemanggang
Selai-selai dalam toples kecil
Kau membalikkan badan
Wajah kita bertabrakan
Aku memang ingin mengejutkanmu
Demi senyum itu
Dan suapan tangan mungilmu


Pagiku dulu
Bukan kini
Maukah kau kembali?



@azizhasibuan

Lebaran

Masjid Besar
Takbir
Atuk
Tabuh Bedug
Pelita


Photos: @azizhasibuan