Tuesday, December 14, 2010

Casa di Giulietta (Re-Post)

Ini adalah Re-Post
Saya sempat agak stres ketika tahu salah satu cerpen buatan saya, Casa di Giulietta, hilang dari 4shared karena account yang expired. Sementara laptop yang dulu saya pakai, eror. Dan sepertinya nggak ada data yang bisa diselamatkan.

Lalu, datang ini: @gigihrc malaikat (kepaksa ngomong gini) yang ternyata masih menyimpan cerpen saya. Jadi saya copy paste di sini. Buat yang belum baca, silakan....

:)



Casa di Giulietta

Nama saya Romeo. Ibu yang memberi nama itu. Ketika ibu sedang hamil tua, ayah mendapatkan sebuah kesempatan yang pantang dia tolak: menjalani studi dengan beasiswa di Hochschule für Fernsehen und Film München, sebuah universitas pertelevisian dan perfilman di Munich.

Mimpi yang lama dia tunggu. Sejak sebelum ibu positif mengandung, sejak sebelum menikah, sejak sebelum mengenal ibu, sejak dia masih semester awal kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Gajahmada Jogjakarta.

Lalu, di hari-hari mendekati kelahiran saya, ayah memutuskan untuk pergi ke Italia, ke Verona. ”Ibumu yang minta. Kalau bisa, di hari kamu lahir, ayah ada di rumah Juliet, menuliskan nama ayah, ibu, dan namamu di sana.”

Ayah pergi dengan kereta api dari Munich. Ketika saya lahir, ayah masih berada di dalam kereta. Dia baru mendapat kabar kelahiran saya begitu tiba di Verona Porta Nuova.

”Anak kita Romeo.” Sebuah suara di ujung sambungan kabel menyiratkan kebahagiaan.

Ayah menangis. Karena bahagia mengetahui buah hati pertamanya lahir. Juga karena sedih mengetahui bahwa dia begitu jauh terpisahkan dengan suasana yang tak mungkin terulang itu. ”Nama belakangnya yang belum ada.” Ketika itu, belum menjadi tren menggunakan nama ayah di belakang nama anak.

”Aku mau ke balkon Juliet. Nanti kalau sudah ada ide, aku telpon kamu lagi. Ada yang mau kamu pesan?”

”Nggak ada. Yang penting ada nama kamu, namaku, Romeo. Itu saja. Nggak perlu yang lain.”

Ayah pun berangkat ke Casa di Giulietta, rumah Juliet dengan balkon yang terkenal itu. Membawa pisau lipat untuk menggrafir nama kami bertiga di dinding halaman depan.

Ayah harus bergegas. Dia harus tiba sebelum tempat tersebut tutup untuk turis pada pukul 07.30 malam. Kalau tidak, dia harus menggrafir nama kami keesokan harinya. Padahal, ibu berharap nama kami bisa digrafir di hari yang sama dengan kelahiran saya.

*

Nama saya Romeo. Dalam setiap kali perkenalan, nama saya itu hampir selalu berhasil memancing perhatian. Perkenalan ketika saya memasuki jenjang baru di bangku pendidikan, perkenalan ketika saya memasuki Pencinta Alam-ekstrakulikuler yang terkenal angker, bahkan perkenalan saya dengan tukang tambal ban.

Ketika berkenalan, saya selalu membuat orang lain terhenti dua-tiga detik sebelum bergantian menyebutkan namanya. Wajah mereka seolah aneh mendengar nama itu. Nama saya bagai memikul sebuah makna besar yang entah apa.

Tapi, berkenalan dengan kamu justru sebaliknya.

”Sonata.” Saya tertegun hampir sepuluh detik. Dua puluh tahun saya hidup di dunia, saya baru tiga kali bersentuhan dengan nama itu. Satu, dari infotainment yang sedang membahas penyanyi Betharia Sonata. Dua, dari bibir mungilmu yang meringis dan membingkai gigi-gigi berkawat itu. Dan, tiga…

*

Sore itu, ayah berhasil sampai di rumah Juliet. Beberapa menit saja terlambat, dia pasti tak diperbolehkan masuk oleh penjaga bertubuh tambun di gerbang depan. Ayah sama sekali tak tertarik untuk masuk ke dalam rumah. Apalagi, untuk masuk ke rumah itu, dia harus mengeluarkan sejumlah ECU. Kala itu, belum ada mata uang Euro.

Dia bergegas ke halaman depan, lalu mencari-cari dinding yang masih kosong. Semua bagian sudah penuh. Mata ayah tertuju pada sebuah batu di sisi ujung halaman. Ayah mengecek ke sana. Hanya ada sedikit nama. Masih banyak tempat tersisa. Pikirnya, di sana pun tak apalah. Yang penting masih di area rumah Juliet.

Lalu, Ayah mulai menggrafir. Namanya “Willy”, Nama Ibu “Renata”, dan nama saya ”Romeo.” Dia kemudian mengeluarkan sebuah kamera saku, memotret dua kali, kemudian pergi meninggalkan Casa di Giulietta.

Hasil cetak foto dengan kamera film tersebut, kini terpajang dengan bingkai bertuliskan Italia di kamar saya. Saya sering bercanda ke ayah dan ibu, ”Mana kita tahu batu itu betulan ada di rumah Juliet atau cuma nemu di danau dekat rumah ayah. Terus difoto persis sebelum ayah pulang ketemu ibu. Iya kan, Bu?”

Kalau sudah begitu, ayah sering menjawab. ”Coba kamu lihat di sekitarnya. Nama-namanya kan bule semua. Mana mungkin batunya dari danau ndeso.” Lalu, kami tertawa.

Memang selain nama kami bertiga, ada beberapa nama lain yang secara tidak sengaja ikut terpotret. Anna, Paul, dan Sonata.

*

”Hey…. Woyyy…” Sonata melambaikan tangan kirinya di depan mata saya, mencoba mengembalikan saya dari lamunan. Menghempaskan drama yang hampir terbang tinggi untuk kembali menyentuh daratan. ”Lama bener megang tanganku. Sakit, Mas.”

”Hahaha. Sorry. Nama kamu…” Kalimat saya menggantung. Gadis mungil dengan ’baju monyet’ jins ketinggalan zaman itu terdiam. Matanya mengerjap-ngerjap seakan menunggu agar kalimat itu punya akhir. Entah ditutup dengan predikat dan objek, entah dengan kata sifat. ”… Bagus.”

Sebut saya aneh. Panggil saya tidak kreatif. Katai saya terlalu banyak menonton sinetron. Tapi, vocabulary saya sedang habis di detik itu.

Sonata tertawa. Genggaman tangan kami sudah terlepas. Dengan langkah ringan, Sonata mengantarkan saya ke perpustakaan kampusnya. ”Lewat sini,” katanya sambil menunjuk ke kanan.

”Delapan belas tahun saya hidup di dunia, kamu orang ketiga yang bilang nama saya bagus. Yang dua lagi, papa sama mama. Ha ha ha.”

Gadis kecil itu mulai bercerita. ”Padahal kan Betharia yang cantik aja pakai nama Sonata. Cuma, dia pakai itu buat nama belakang, sementara aku namanya ya cuma satu kata itu. Kalau kata anak-anak, aku lebih cocok disejajarkan sama Soneta Grup daripada Betharia Sonata,” ceritanya lalu tertawa. ”Biar gampang, anak-anak biasanya manggil aku Sonya.”

Sambil berjalan menuju perpustakaan, kami lalu berbicara tentang secuplik hal kecil. Tentang saya yang sedang butuh buku untuk skripsi. Juga, tentang dia yang mengambil jurusan Seni Lukis karena pernah menang lomba gambar 17 Agustusan.

”Nah, kita telah tiba, wahai Romeo. Silakan engkau mencari buku di perpustakaan bercat ungu mengganggu ini. Diriku harus menghadap dosen,” kata Sonya dengan nada drama yang kocak.

Saya kemudian meminta nomor ponselnya. Dia menyebutkan dua belas nomor dengan perlahan.

”Eh tuan Romeo, selain bisa ngasih tahu di mana perpustakaan, aku juga bisa nunjukin di mana letak kantin. Apalagi, kalau ditraktir. Maklum, anak kos. Setengah jam lagi aku udah beres sama dosen,” katanya sebelum kami berpisah.

Saya hanya membalas dengan mengangkat ibu jari.

***

Casa di Giulietta adalah bangunan yang disebut oleh pemerintah Verona sebagai Rumah Juliet. Banyak pasangan yang datang ke sana hanya untuk membubuhkan nama mereka di dinding rumah itu. Padahal, bangunan tersebut disebut Rumah Juliet hanya untuk menarik minat turis. Verona merasa perlu membuat klaim itu karena kisah Romeo and Juliet buatan Shakespeare memang mengambil setting di kota tersebut.

Aziz Hasibuan

12 April 2010

01.30

2 comments:

vany said...

cerpennya keren, mas....
gak ada lanjutannya ya? ;)

aziz said...

Thanks Vany

:)

Belum ada lanjutannya