Friday, December 17, 2010

Wish Upon a Star…

Beberapa bulan yang lalu, ketika sedang berada di kawasan Kemang, saya secara tidak sengaja mampir ke rumah seorang teman. Namanya Ninda. Ibu muda, cantik, cerdas.

Saat saya dan teman-teman lain sedang duduk santai sambil melihat infotainment yang membahas Krisdayanti dan pacar barunya, Ninda menonton sambil sibuk menggunting-gunting kertas. Dia duduk di lantai, ditemani beberapa eksemplar majalah fashion.

Seorang teman saya yang lain penasaran dan bertanya, ”Ngapain sih?”

Ninda lalu menjelaskan bahwa dia sedang membuat vision board, yang kemudian saya ketahui sebagai sebuah papan dengan kolase potongan majalah. Kolase ini berisi berbagai item yang menjelaskan wish list seseorang.

Ibu dua anak ini kemudian menunjukkan Blackberry-nya ke kami, membuka salah satu foto yang tersimpan di dalamnya. ”Ini vision board gue dulu. Gue nggak inget pernah bikin ini. Terus, baru nemunya beberapa hari lalu. Lo liat deh, foto bayi di vision board itu mirip banget sama baby gue. Beda warna matanya doang, kan?” cerita Ninda.

Ninda kemudian juga bercerita bahwa selain bayinya yang mirip, sejak bikin vision board sampai menemukannya lagi, dia sudah punya tas, dan perhiasan yang mirip-mirip dengan kolase di vision board itu. Makanya, ketika itu dia bikin lagi, dengan harapan bisa kesampaian lagi.

”Percaya nggak percaya sih… Tapi di gue, ini kejadian…”

*

When you wish… Wish upon a star…

Kalau sekarang sedang rajin menonton Star World, banyak bumper-nya (atau apalah istilah selain bumper) yang memakai kalimat lagu itu.

Saya adalah tipe orang yang sangat-sangat menyukai surprise. Bahkan, untuk mengatur hidup saya sendiri pun, saya lebih suka yang surprise. Karena itu, salah satu masalah besar saya adalah planning (beberapa orang mungkin tersenyum membaca ini).

Cerita Ninda membuat saya menyadari, sebenarnya bukan apakah vision board itu secara mistis membuat impian kita kesampaian. Tapi, vision board membantu untuk nyentil-nyentil kita, ”Hey, kamu mau apa?” Lalu, tanpa disadari, kita mulai mengejar tujuan itu.

Ketika menulis post ini, saya berpikir, waktu SMP dan SMA, mimpi saya apa ya? Sepertinya nggak ada yang benar-benar melekat. Mimpi saya ketika itu yah cuma sampai tahap bisa lulus dengan nilai cukup, bisa masul SMA negeri dekat rumah, lalu bisa masuk perguruan tinggi negeri dengan bayar murah.

Akhir-akhir ini, saya kok merasa, mimpi saya waktu itu kurang tinggi (telat ya?). Saya kok merasa, kalau mau mimpi, mending yang rasanya nggak mungkin sekalian. Yang liar sekalian. Yang jauh sekalian. Jadi, kita akan menggapai-nggapai biar mencoba sampai ke titik itu. Kalau ternyata nggak sampai, tapi karena usaha untuk menggapai yang jauh di atas sana, tanpa disadari, kita sudah terbang cukup tinggi…

When you wish… Wish upon a star….

Rasanya, akhir tahun adalah momen yang pas untuk membahas hal semacam ini. Lalu, membuat resolusi. Lalu, memperbaiki diri :)

*

Ninda masih kelihatan asyik dengan majalah dan guntingnya. Saya iseng melirik apa yang mendominasi guntingannya…

Ada beberapa potongan iklan berlian, potongan iklan menggambarkan model yang berdiri di pinggir jalan dengan setumpuk tas Louis Vuitton, potongan gambar sepatu Louboutin, dan beberapa lagi hal serupa.

”Kok vision board gue sekarang isinya begini semua ya?” kata Ninda lalu tertawa.

When you wish… Wish upon a star…


@azizhasibuan

Tuesday, December 14, 2010

Casa di Giulietta (Re-Post)

Ini adalah Re-Post
Saya sempat agak stres ketika tahu salah satu cerpen buatan saya, Casa di Giulietta, hilang dari 4shared karena account yang expired. Sementara laptop yang dulu saya pakai, eror. Dan sepertinya nggak ada data yang bisa diselamatkan.

Lalu, datang ini: @gigihrc malaikat (kepaksa ngomong gini) yang ternyata masih menyimpan cerpen saya. Jadi saya copy paste di sini. Buat yang belum baca, silakan....

:)



Casa di Giulietta

Nama saya Romeo. Ibu yang memberi nama itu. Ketika ibu sedang hamil tua, ayah mendapatkan sebuah kesempatan yang pantang dia tolak: menjalani studi dengan beasiswa di Hochschule für Fernsehen und Film München, sebuah universitas pertelevisian dan perfilman di Munich.

Mimpi yang lama dia tunggu. Sejak sebelum ibu positif mengandung, sejak sebelum menikah, sejak sebelum mengenal ibu, sejak dia masih semester awal kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Gajahmada Jogjakarta.

Lalu, di hari-hari mendekati kelahiran saya, ayah memutuskan untuk pergi ke Italia, ke Verona. ”Ibumu yang minta. Kalau bisa, di hari kamu lahir, ayah ada di rumah Juliet, menuliskan nama ayah, ibu, dan namamu di sana.”

Ayah pergi dengan kereta api dari Munich. Ketika saya lahir, ayah masih berada di dalam kereta. Dia baru mendapat kabar kelahiran saya begitu tiba di Verona Porta Nuova.

”Anak kita Romeo.” Sebuah suara di ujung sambungan kabel menyiratkan kebahagiaan.

Ayah menangis. Karena bahagia mengetahui buah hati pertamanya lahir. Juga karena sedih mengetahui bahwa dia begitu jauh terpisahkan dengan suasana yang tak mungkin terulang itu. ”Nama belakangnya yang belum ada.” Ketika itu, belum menjadi tren menggunakan nama ayah di belakang nama anak.

”Aku mau ke balkon Juliet. Nanti kalau sudah ada ide, aku telpon kamu lagi. Ada yang mau kamu pesan?”

”Nggak ada. Yang penting ada nama kamu, namaku, Romeo. Itu saja. Nggak perlu yang lain.”

Ayah pun berangkat ke Casa di Giulietta, rumah Juliet dengan balkon yang terkenal itu. Membawa pisau lipat untuk menggrafir nama kami bertiga di dinding halaman depan.

Ayah harus bergegas. Dia harus tiba sebelum tempat tersebut tutup untuk turis pada pukul 07.30 malam. Kalau tidak, dia harus menggrafir nama kami keesokan harinya. Padahal, ibu berharap nama kami bisa digrafir di hari yang sama dengan kelahiran saya.

*

Nama saya Romeo. Dalam setiap kali perkenalan, nama saya itu hampir selalu berhasil memancing perhatian. Perkenalan ketika saya memasuki jenjang baru di bangku pendidikan, perkenalan ketika saya memasuki Pencinta Alam-ekstrakulikuler yang terkenal angker, bahkan perkenalan saya dengan tukang tambal ban.

Ketika berkenalan, saya selalu membuat orang lain terhenti dua-tiga detik sebelum bergantian menyebutkan namanya. Wajah mereka seolah aneh mendengar nama itu. Nama saya bagai memikul sebuah makna besar yang entah apa.

Tapi, berkenalan dengan kamu justru sebaliknya.

”Sonata.” Saya tertegun hampir sepuluh detik. Dua puluh tahun saya hidup di dunia, saya baru tiga kali bersentuhan dengan nama itu. Satu, dari infotainment yang sedang membahas penyanyi Betharia Sonata. Dua, dari bibir mungilmu yang meringis dan membingkai gigi-gigi berkawat itu. Dan, tiga…

*

Sore itu, ayah berhasil sampai di rumah Juliet. Beberapa menit saja terlambat, dia pasti tak diperbolehkan masuk oleh penjaga bertubuh tambun di gerbang depan. Ayah sama sekali tak tertarik untuk masuk ke dalam rumah. Apalagi, untuk masuk ke rumah itu, dia harus mengeluarkan sejumlah ECU. Kala itu, belum ada mata uang Euro.

Dia bergegas ke halaman depan, lalu mencari-cari dinding yang masih kosong. Semua bagian sudah penuh. Mata ayah tertuju pada sebuah batu di sisi ujung halaman. Ayah mengecek ke sana. Hanya ada sedikit nama. Masih banyak tempat tersisa. Pikirnya, di sana pun tak apalah. Yang penting masih di area rumah Juliet.

Lalu, Ayah mulai menggrafir. Namanya “Willy”, Nama Ibu “Renata”, dan nama saya ”Romeo.” Dia kemudian mengeluarkan sebuah kamera saku, memotret dua kali, kemudian pergi meninggalkan Casa di Giulietta.

Hasil cetak foto dengan kamera film tersebut, kini terpajang dengan bingkai bertuliskan Italia di kamar saya. Saya sering bercanda ke ayah dan ibu, ”Mana kita tahu batu itu betulan ada di rumah Juliet atau cuma nemu di danau dekat rumah ayah. Terus difoto persis sebelum ayah pulang ketemu ibu. Iya kan, Bu?”

Kalau sudah begitu, ayah sering menjawab. ”Coba kamu lihat di sekitarnya. Nama-namanya kan bule semua. Mana mungkin batunya dari danau ndeso.” Lalu, kami tertawa.

Memang selain nama kami bertiga, ada beberapa nama lain yang secara tidak sengaja ikut terpotret. Anna, Paul, dan Sonata.

*

”Hey…. Woyyy…” Sonata melambaikan tangan kirinya di depan mata saya, mencoba mengembalikan saya dari lamunan. Menghempaskan drama yang hampir terbang tinggi untuk kembali menyentuh daratan. ”Lama bener megang tanganku. Sakit, Mas.”

”Hahaha. Sorry. Nama kamu…” Kalimat saya menggantung. Gadis mungil dengan ’baju monyet’ jins ketinggalan zaman itu terdiam. Matanya mengerjap-ngerjap seakan menunggu agar kalimat itu punya akhir. Entah ditutup dengan predikat dan objek, entah dengan kata sifat. ”… Bagus.”

Sebut saya aneh. Panggil saya tidak kreatif. Katai saya terlalu banyak menonton sinetron. Tapi, vocabulary saya sedang habis di detik itu.

Sonata tertawa. Genggaman tangan kami sudah terlepas. Dengan langkah ringan, Sonata mengantarkan saya ke perpustakaan kampusnya. ”Lewat sini,” katanya sambil menunjuk ke kanan.

”Delapan belas tahun saya hidup di dunia, kamu orang ketiga yang bilang nama saya bagus. Yang dua lagi, papa sama mama. Ha ha ha.”

Gadis kecil itu mulai bercerita. ”Padahal kan Betharia yang cantik aja pakai nama Sonata. Cuma, dia pakai itu buat nama belakang, sementara aku namanya ya cuma satu kata itu. Kalau kata anak-anak, aku lebih cocok disejajarkan sama Soneta Grup daripada Betharia Sonata,” ceritanya lalu tertawa. ”Biar gampang, anak-anak biasanya manggil aku Sonya.”

Sambil berjalan menuju perpustakaan, kami lalu berbicara tentang secuplik hal kecil. Tentang saya yang sedang butuh buku untuk skripsi. Juga, tentang dia yang mengambil jurusan Seni Lukis karena pernah menang lomba gambar 17 Agustusan.

”Nah, kita telah tiba, wahai Romeo. Silakan engkau mencari buku di perpustakaan bercat ungu mengganggu ini. Diriku harus menghadap dosen,” kata Sonya dengan nada drama yang kocak.

Saya kemudian meminta nomor ponselnya. Dia menyebutkan dua belas nomor dengan perlahan.

”Eh tuan Romeo, selain bisa ngasih tahu di mana perpustakaan, aku juga bisa nunjukin di mana letak kantin. Apalagi, kalau ditraktir. Maklum, anak kos. Setengah jam lagi aku udah beres sama dosen,” katanya sebelum kami berpisah.

Saya hanya membalas dengan mengangkat ibu jari.

***

Casa di Giulietta adalah bangunan yang disebut oleh pemerintah Verona sebagai Rumah Juliet. Banyak pasangan yang datang ke sana hanya untuk membubuhkan nama mereka di dinding rumah itu. Padahal, bangunan tersebut disebut Rumah Juliet hanya untuk menarik minat turis. Verona merasa perlu membuat klaim itu karena kisah Romeo and Juliet buatan Shakespeare memang mengambil setting di kota tersebut.

Aziz Hasibuan

12 April 2010

01.30

Saturday, December 11, 2010

Jangan Tonton Rumah Dara (Spoiler)




Judul Film: Rumah Dara (Macabre)
Tahun: 2009
Produser/Penulis/Sutradara: The Mo Brothers (Kimo Stamboel, Timo Tjahjanto)
Durasi: 95 menit
Genre: Slasher

Kenapa jangan menonton Rumah Dara?

Rumah Dara adalah film slasher pertama Indonesia yang pernah saya tonton dan dengan sukses membuat rasa ngilu selama 95 menit durasinya. The Mo Brothers memancing rasa ingin tahu saya sejak mereka memulai film ini dengan pemutaran video bergaya klasik, menampilkan tiga orang anak kecil sebagai cast-nya.

Film ini bercerita tentang satu keluarga beranggotakan Ibu Dara (Shareefa Danish), Maya (Imelda Therinne), Adam (Arifin Putra), dan Arman (Ruly Lubis). Berempat, mereka tinggal dalam sebuah rumah di kawasan Subang, di balik rerimbunan pohon cemara. Keluarga psycho ini hidup dengan mengincar kepala-kepala manusia.

Adalah ibu muda dengan kandungan delapan bulan bernama Astrid (Sigi Wimala) serta teman-temannya yang menjadi incaran Ibu Dara dan keluarga. Dengan jebakan, Maya sukses menggiring Astrid dkk main-main ke Rumah Dara.

Sisa film ini kemudian akan menunjukkan romantisme keluarga Rumah Dara dengan darah. Satu persatu para tamu mereka kenalkan pada malaikat maut; dengan perkenalan-perkenalan manis, seperti menusukkan gunting ke leher atau memenggal kepala dengan gergaji mesin diiringi musik syahdu dari radio bernuansa tempo dulu.

Film ini juga mengubah pandangan saya. Dulu, saya pernah merasa tidak impress dengan Julie Estelle. Saat dia tampil di Kuntilanak, saya membuat tulisan berjudul Kuntilanak; Video Klip Terbaru Rizal Mantovani. Tapi, saya sekarang harus bilang ke Julie, saya terlalu cepat menilai kemampuannya ketika itu.

Di Rumah Dara, Julie melepaskan kulitnya; dari seorang selebriti yang pengin tampil di jaringan 21, menjadi seorang aktris. Begitu juga dengan Arifin. Entah apa karena dia tidak perlu banyak bicara, acting-nya di Rumah Dara terbang ke level lain, meninggalkan acting sebagai cowok cupu di sinetron yang harus saya akui pernah saya tonton (Sumpah, nontonnya nggak sengaja).



Lalu, ini: Danish. Dia adalah aset besar Rumah Dara. Sebagai model, Danish seharusnya tidak kesulitan menampilkan tatapan mata tajam kejam jahanam. Tapi, salah satu yang membuat saya kagum adalah stabilitas suaranya di sepanjang film. Gerakan-gerakan halus dan tenangnya juga membuat saya merasakan gemas, seperti rasa gemas saya kalau sedang ingin nepok nyamuk yang riwa-riwi di kamar. Pengin cepet bikin nyamuknya mati berdarah-darah, dan pengin ngelepasin sayapnya.

Rumah Dara juga menunjukkan bahwa orang-orang yang ada di balik film ini adalah orang yang into detail. Saat Ibu Dara kedatangan tamu sejumlah polisi, dia sempat berdiri dengan siluet tanduk pajangan di dinding. Siluet tanduk itu seolah tampil menjadi tanduk pada kepala Ibu Dara. Di mata saya, ini permainan cantik.

Begitu pula kejelian mereka untuk membumbukan drama yang pas. Saya merasakan pilu ketika mendengar Astrid membisikkan jenis kelamin bayinya kepada sang suami, Adji (Ario Bayu), di saat dia meregang nyawa.

Kalaupun ada sedikit yang kurang pas dari film ini, yaitu efek membakar orang yang kurang halus. Tapi, ini tidak akan mengganggu.

Lalu, mengapa saya membuat judul Jangan Menonton Rumah Dara untuk post ini? Iya. Jangan menonton Rumah Dara kalau Anda tidak suka menonton film kelas bintang!

*

Saya harus meminta maaf kepada siapapun yang terlibat di pembuatan film ini. Saya ketinggalan mau nonton Rumah Dara di bioskop karena di Surabaya hanya tayang sangat sebentar, dan saya sangat kesulitan menemukan video original-nya di manapun. Bahkan, yang bajakan pun susah. Lalu, saya download satu persatu 10 bagian film ini dari Youtube.

Kalau ada yang tahu dimana tempat jual versi original film ini, kasih tahu dong!


- Tulisan ini dibuat di atas kereta api Bima dari Solo ke Surabaya.

Wednesday, December 01, 2010

Do Re Mi


This shape without space,
This pattern without stuff,
This stream without dimension
Surrounds us, flows through us,
But leaves no mark.


This message without meaning,
These tears without eyes
This laughter without lips
Speaks to us but does not
Disclose its clue.


These waves without sea
Surge over us, smooth us.
These hands without fingers
Close-hold us, caress us.
These wings without birds
Strong-lift us, would carry us
If only the one thread broke


Music, a Poem by A. S. J. Tessimond
Photos by Aziz Hasibuan
Thank You Arizal for the camera :p