Tuesday, August 17, 2010

Menjadi Pengantar Bunga


Beberapa waktu lalu, saya dapat kesempatan langka: menjadi pengantar bunga.


Salah seorang kerabat (:p) saya punya toko bunga, that will be blooming soon. Meski tokonya masih belum sepenuhnya beroperasi, kegiatan menjual bunga sudah berjalan.


Suatu hari, ada pesanan sebuah bouquet bunga. Sayangnya, saya ingat-ingat lupa nama si pemesan. Kalau tidak salah, Mirza. Yah anggap saja saya nggak lupa namanya. Nah, si Mirza ini meminta untuk dibuatkan serangkai bunga tulip putih untuk dikirimkan ke pacarnya, Kania (yang ini saya ingat namanya).


Mirza meminta agar bunga itu dikirimkan ke tempat kerja Kania mendekati pukul 9 malam. Sayangnya, tidak ada kurir yang sedang bisa mengantarkan bunga di jam itu. Lalu, saya pun diminta bantuan untuk mengantarkan bunga. Saya dengan senang membantu.


Membawa rangkaian bunga tulip ke dalam mal ternyata cukup mencuri perhatian orang. Banyak yang melihat ke arah saya. Apalagi, saya membawa bouquet itu dengan sangat hati-hati seolah sedang menimang bayi. Sendirian.


Lalu, saya menaiki dua lantai sebelum tiba tepat di depan store Pull and Bear, tempat Kania kerja. Begitu masuk ke dalam store, saya mengarah ke Cashier. Di sana ada seorang pekerja yang sedang berdiri di belakang komputer. Cowok. Seorang pekerja lagi sedang menerima telepon. Cewek. Tinggi. Cantik.


Saya menyapa yang sedang menerima telepon. "Bisa ketemu dengan Kania?"


Si cewek itu menggerakkan tangannya ke saya dengan senyum tipis, meminta saya menunggu. Sekejap kemudian, dia menutup telepon dan berkata, "Ya? Saya Kania."


Saya kemudian memberikan bouquet itu. "Ada kiriman ini."

"Dari siapa?" Kania mulai lebih melebarkan senyumnya.

"Ada di kartunya." Kania mengambil kartu itu, membaca...


Honey,

Sorry I ruined your birthday


Kania mulai menorehkan tinta merah di pipinya. Bersemu. "Thank you."


Saya pergi meninggalkan Pull and Bear dengan mata masih memperhatikan Kania yang belum berhenti tersenyum. Dia kemudian melihat ke arah saya. Kami sama-sama tersenyum sampai wajah saya hilang ditelan eskalator.


*


Keesokan harinya, saya bertemu dengan beberapa teman yang semuanya berjualan bunga. Di dalam mobil, saya bercerita tentang serunya mengantarkan bunga ke Kania. Bagaimana uniknya perasaan saya ketika melihat Kania tersenyum mendapat bouquet itu.


Seorang teman, yang ibunya juga punya usaha bunga berkomentar, "Nah.. itu tuh yang Ibu bilang, nggak bisa dibayar. Perasaan senang kalo liat orang puas sama kiriman bunga kita."




Perspektif senang benar-benar macam-macam :p



gambar diunduh dari flickr

No comments: