Wednesday, July 14, 2010

Surat untuk Mantan Kekasih


Mahendra Tersayang,


Aku masih ingat betul ketika kamu melambaikan tangan di ujung pintu masuk bandara itu. Kamu mengenakan polo shirt yang aku pilihkan ketika kita jalan-jalan di sebuah Factory Outlet. Warnanya biru terang. Kamu bilang warna itu terlalu silau. Aku bilang, itu cocok untuk warna kulitmu yang gelap. Kamu memakainya, untuk membuatku senang. Walau aku yakin, ketika di depan loket check in, kamu langsung menutup rapat polo shirt itu dengan jaket kulit hitam.


Aku masih ingat bahwa kamu menggenggam satu kantung kertas kue manis untuk bekal selama di perjalanan menuju ke Manado. Kamu membeli tiga buah kue. Dua untuk kamu bawa, satu untuk kita makan berdua sebelum kamu memutuskan untuk check in.


Aku masih ingat bagaimana senyummu yang penuh semangat karena untuk pertama kalinya kamu dikirim oleh perusahaan untuk menjadi pimpinan proyek. Dan, itu nun jauh di Manado.


Aku masih ingat betul...

Saat-saat terakhir kita saling bertatap mata. Saat-saat sebelum kamu terbang. Saat-saat dimana aku tidak sadar bahwa merelakanmu menjadi pimpinan proyek di Manado adalah merelakanmu pergi untuk selamanya...


*


Mahendra,


Ketika itu aku sedang bersiap-siap akan pergi mengajar. Ketika adikku yang paling kecil, Rosi, menggedor-nggedor pintu kamar. Begitu aku membuka pintu, dia menarikku turun ke ruang keluarga dengan wajah sangat panik. Dia memintaku melihat TV. Ayah, ibu, dan dua adikku yang lain sudah ada di ruang keluarga, duduk terdiam melihat kotak yang bergambar dan bersuara.


Pembawa berita di TV menjelaskan ada sebuah pesawat yang dikabarkan hilang. Tak ada yang tahu kemana. Namun, diduga pesawat tersebut mengalami kecelakaan hebat dan besar kemungkinan semua penumpangnya tewas. Pesawat itu menuju Manado. Berangkat dari Jakarta, pukul 13.45 siang kemarin. Kode penerbangannya DZ 483.


Pesawat yang kamu tumpangi.


*


Mahendra,


Dalam hitungan detik, duniaku direnggut paksa. Aku melemah. Tubuhku kehilangan keseimbangan. Ambruk. Darahku mengalir kelewat kencang. Yang kuingat hanyalah adik tertuaku Dika berteriak meminta diambilkan minyak kayu putih. Otakku seolah tak bisa diajak berpikir.


Sejak hari itu aku bolos mengajar. Aku mohon mengundurkan diri dari sekolah, namun mereka berharap agar aku hanya mengambil libur. Mereka tidak memberi batasan kapan aku siap kembali mengajar.


Tapi, aku sama sekali tak bisa mengajar lagi. Mengajak otak sendiri berpikir saja aku kesulitan, apalagi harus mengajak otak orang lain berpikir.


Setiap terbangun dari tidur, tak ada hal lain yang bisa aku tanyakan selain kabarmu. Adakah keajaiban yang membuatku mendengar kabar bahwa kamu masih hidup. Bahwa kamu sedang terdampar di sebuah pulau antah berantah seperti di film Cast Away.


Atau aku terbangun dan menyadari bahwa semua itu mimpi buruk. Bahwa ternyata itu hanya firasatku yang tak ingin kamu pergi jauh ke Manado.


Ini memang mimpi buruk. Mimpi buruk yang terlalu panjang. Mimpi buruk yang tak pernah berhenti karena matahari masih belum menunjukkan diri.


*


Mahendra,


Aku masih ingat betul ketika kita duduk di bangku taman kompleks perumahanku. Ketika kita melihat anak-anak kecil, lalu berkhayal seperti apa anak yang kita mau, dan seperti apa anak yang tidak kita mau, andai kita menikah nanti.


Kamu menunjuk satu anak laki-laki kecil yang sedang duduk dan terlihat flirting kepada anak perempuan kecil yang bermain ayunan. Kamu bilang ingin anak kita seperti itu. Bandel asal pintar. Kamu bilang, kamu ingin mengajari dia main gitar agar semakin banyak anak perempuan yang naksir padanya. Seperti bagaimana dulu aku pertama kali jatuh cinta kepadamu.


Aku masih ingat betul bagaimana aku tertawa-tawa dan kamu mencium keningku dengan sangat lembut. Lalu menautkan tangan kita erat-erat.


Aku kemudian berbisik bahwa tak akan meninggalkanmu, tak akan pernah memalingkan diri kepada lelaki lain. Kamu sekali lagi mencium keningku, yang kuanggap sebagai.. "Aku pun begitu."


*


Sayang,


Aku juga masih sangat ingat waktu-waktu kita tak sepikiran. Beradu argumen tentang kemana kita akan pergi menghabiskan akhir pekan. Ketika kamu sedang ingin pergi dengan teman-temanmu, menonton pertandingan sepak bola bersama. Padahal aku sedang ingin ditemani menonton film drama terbaru.


Lalu, kamu tetap memilih pergi dengan teman-temanmu sementara aku diam di rumah dan mengupdate status friendster dengan kalimat-kalimat yang menunjukkan kekesalan. Sepulang dari menonton sepak bola, kamu kemudian mampir ke rumah, membawa sekotak martabak Pak Duriat kesukaanku. Kita bertemu dalam dingin, lalu menghangat ketika ayahku menjelaskan bahwa sepak bola bagi laki-laki, beda tipis dengan agama.


*


Mahendra,


Menahun aku terpuruk dalam kesendirian. Merasa seperti tebu yang sudah dihisap habis oleh anak-anak petani. Menjadi ampas dan dibuang di pinggir semak-semak. Menanti kering lalu hilang disapu angin dan hujan.


Sudah tak terhitung berapa banyak teman yang mengatakan bahwa hidup harus terus dijalani. Bahwa kematian adalah sebuah siklus. Bahwa aku harus bangkit lalu menenun cerita-cerita hidup baru. Bahwa kalau kamu tahu keadaanku, kamu pun pasti akan sedih.


Namun, sakitku sudah terlalu meradang. Ucapan dan saran mereka hanya menjadi pil pahit yang kutelan, lalu menyublim di dalam tubuh tanpa guna. Tak bisa menyatu dengan darah, tak bisa menyehatkan.


Sampai kemudian datang Surya. Kamu masih ingat dengan dia, kan sayang? Teman kita ketika masih SMA dulu. Dia datang dalam sebuah kejutan tak terkira. Kami bertemu saat aku ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Surya sedang mengantarkan anak didiknya. Dia kini mengajar di sebuah yayasan untuk membina anak jalanan.


Dari obrolan singkat kami, Surya kemudian mengajakku untuk mengajar. Sebagai seorang volunteer. Ajakan ini begitu menggoda, Sayang. Aku sudah lama rindu berurusan dengan keributan anak-anak kecil di kelas. Ajakan Surya bagai secercah cahaya yang melalui tirai-tirai kelam, yang menelungkupi hari-hariku.


Kami pun sering bertemu. Surya sering menunjukkan secara tak langsung, betapa banyak kehidupan lain yang lebih merana daripada yang aku alami, dengan kehilanganmu.


Surya mengenalkan aku pada Farid, salah seorang bocah jalanan 15 tahun yang bahkan tak pernah tahu bagaimana rupa orang tuanya, sejak dia ditakdirkan bertarung di dunia.


Farid pernah nyaris jadi korban perdagangan anak sebelum dia melarikan diri dari sebuah rumah penampungan dan berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer. Tapi, dia masih bisa tertawa-tawa setiap hari, menikmati hidup meski hanya bisa bermain layangan dan membaca buku cerita bekas hasil sumbangan.


Aku pernah bertanya pada Farid, apa yang membuat dia terus bertahan melalui masa sulit. Apa yang membuat dia nekad berjalan puluhan kilometer lari dari rumah penampungan, padahal siapa tahu ada cara yang lebih mudah untuk lari ketika mereka sudah dijual.


Jawaban Farid sungguh bukan seperti anak berusia 15 tahun. Dia mengambil layang-layang, lalu menarik paksa bambunya hingga layangan itu robek dan rusak. "Menurut kakak, kalau saya ingin layangan ini bisa terbang lagi, saya harus apa?" Aku terdiam.


"Harus dibetulkan lagi kak."


Farid kemudian mengambil kertas minyak dan benang, merangkainya. "Bambunya bisa sama, tapi kertasnya harus baru, benangnya harus baru. Baru bisa main layang-layang lagi."


Farid melihat wajahku kebingungan. "Ini penjelasan Bu Nyai yang dulu pernah mengajar saya mengaji, Kak. Kalau saya mau hidup senang. Saya harus menikmati semuanya. Menikmati proses menuju senang. Menerima ketika ada bagian hidup yang berantakan, lalu menikmati ketika saya memperbaiki apa yang berantakan, dan akhirnya menikmati hasilnya. Kakak lihat, sekarang saya bisa main layang-layang lagi." Farid kemudian berlari dengan wajah cerianya, menerbangkan layang-layang.


*


Mahendraku,


Surya telah menorehkan tinta-tinta warna dalam kanvasku yang selama ini abu-abu. Dia memberikan torehan-torehan abstrak yang tak pernah kudapat sejak kau pergi. Dia terus menorehkan berbagai warna hingga suatu hari dia menorehkan warna ungu.


Surya terbit di depanku membawa sebuah cincin. Melamarku.


Sayang,


Aku harus melanggar janjiku untuk mengabdikan sisa hidupku padamu. Di luar rumahku, sekarang sedang banyak orang mengaji. Siang nanti, Surya akan datang. Seorang penghulu akan mengikat kami dalam sebuah janji suci.


Aku berharap kau tak marah ketika membaca surat ini. Aku berharap kau pun rela bila aku memulai menghiasi kanvas abu-abu itu dengan warna-warna baru.


Mahendra, ini akan menjadi surat terakhir yang kukirimkan padamu. Maafkan karena beberapa bulan terakhir ini aku tak banyak menulis untukmu. Aku hanya bingung bagaimana harus memulai menceritakan semuanya. Semoga surat ini bisa selalu kau baca, entah saat kau ada di mana.


Semoga kau mau memahami langkahku....




Yang akan selalu mencintaimu,

Laura...


***


Laura terlihat cantik dengan riasan yang sudah terlukis di wajahnya. Kebaya putih dan kain batik yang dikenakannya membuat gadis itu tampak semakin berkilauan. Setetes air mata mengalir di pipinya, melunturkan sebagian kecil riasan. Dia melipat kertas yang baru ditulisnya. Surat untuk Mahendra.


Laura berjalan mendekati lemari dalam kamarnya. Kamar beraroma sangat harum yang sudah dihias dengan tirai-tirai, bunga melati, anggrek, dan mawar. Dibukanya salah satu laci di lemari dan tampaklah setumpuk surat yang dilipat dengan gaya sama. Sang mempelai wanita itu memindahkan semua surat dalam sebuah kantung plastik.


Laura kemudian memanggil Mang Qori, memberikan kantung plastik tersebut, dan membisikkan sesuatu.


Mang Qori mengangguk-angguk paham, lalu bergegas. Dari balik tirai kamarnya, Laura mengawasi gerak-gerik Mang Qori di halaman belakang. Pria paro baya yang sudah rapi mengenakan batik tersebut menyulut korek kayu, lalu membakar kantung plastik yang diberikan Laura. Kertas-kertas itu terbakar satu-satu, mengepulkan asap kecil hingga akhirnya tinggal debu.


Laura masih mengintip dari balik tirai... Kembali meneteskan air matanya...



Namun, layang-layang itu harus diterbangkan lagi.


*


Malang, 14 Juli - Ditulis oleh @azizhasibuan


Foto diunduh dari images.lightstalkers.org

Monday, July 05, 2010

Namanya Albert...

Denver Nuggets Dancers

Saya pertama kali bertemu dengan Albert dalam sebuah media interview dengan Denver Nuggets Dancers, pengisi acara even kantor. Saya bertugas mengalirkan media interview. Lokasi interview itu terbuka. Sehingga siapapun bisa berdiri di sekitar media. Albert berdiri persis di belakang wartawan-wartawan, memegang Blackberry-nya yang dalam video mode.

Saat konferensi pers itu, hanya ada dua orang wartawan yang terus bertanya, sementara yang lain hanya memegang kamera dan alat recorder lain. Lalu, ketika saya menawarkan yang lain untuk bertanya, Albert kemudian spontan mengucapkan. ”Do you like hip-hop?”, ”Do you like R n B?”, ”Do you like Jay Z.” Yang semuanya dijawab dengan ”Yeaaa…” oleh para dancers.

Saya menyadari, Albert bukan wartawan. Jadi, saya sudahi media interview tersebut, dan mempersilakan para dancers silam.

Itu terjadi sebulan yang lalu. Kemudian, dalam satu bulan, Albert hampir selalu datang ke even kami. Menyaksikan apapun yang bisa dia saksikan, mengajak siapa saja ngobrol dengan bahasa Inggris-nya yang lancar. Bahasa Inggris anak 15 tahun itu malah jauh lebih baik daripada fotografer di kantor kami yang pernah menulis kata “memasak” dengan ”cocking” alih-alih menulisnya sebagai “cooking.” Dan, itu dilakukan di twitter. He he he.

Kemarin, saya bertanya, bagaimana dia bisa berbahasa Inggris dengan begitu lancar. Apa dia les khusus. Albert menggeleng. ”I am not formally learn English from school. When I was 5, my mom put a TV Cable in my room. Like Indovision. Everyday, I watch movies, MTV, anything. From there, I learn English,” jawabnya dengan gaya bicaranya yang agak terbata-bata plus mimik wajah datar.

*

Kemarin sore, sambil menunggu petugas vallet, Albert mengobrol dengan saya. Dia bilang, dia ingin jadi dokter dan ingin jadi cool. Albert mendifinisikan cool sebagai, ”Pakai sepatu yang ada warna merah-merahnya, celana jins, kaus kedodoran, kalung emas dengan logo Yankees, dan salah satu gigi yang diganti gigi emas.”

Saya tanya lagi, kenapa dia menganggap itu cool?

Lalu, Albert memutarkan video yang dia rekam ketika menanyai Denver Nuggets Dancers.

”Do you like hip-hop?”

”Yeaa….”

”Do you like R n B?”

”Yeaa….”

”Do you like Jay Z”

”Yeaa….”

Setelah video itu usai, Albert mengambil kembali Blackberry-nya dan berbisik kepada saya, ”See! Dancer-dancer itu suka hip-hop, R n B, dan Jay-Z! Kalau aku jadi cool seperti itu, mereka pasti naksir.”

Smart boy!

Namanya Albert…. Saya lupa menanyakan apa nama belakangnya. Saya khawatir, nama belakangnya Einstein.

*

Tulisan ini mungkin biasa-biasa saja. Tapi saya sangat ingin mem-post-nya karena Albert seolah mengingatkan saya untuk tidak sembarang menilai sebuah kado dari pembungkusnya.