Friday, June 18, 2010

Sepanjang Jalan (Potongan Realita)

Saya sedang berjalan dari gedung A ke gedung B di kawasan kantor saya. Melintasi jajaran mobil yang tengah parkir. Salah satu di antara mobil-mobil itu sedang menyalakan mesin. Di dalamnya, seorang bapak duduk di balik kemudi melirik ke kursi disampingnya: ada seorang anak laki-laki tengah lunglai terlelap dihembus mimpi. Tidurnya tampak nikmat.

Si bapak kemudian pelan-pelan menurunkan sandaran kursi mobil bocah kecil itu. Sangat pelan. Dia ingin tidur si jagoan lebih nyaman dengan sandaran kursi merendah. Hati-hati sekali dia bergerak. Khawatir hembusan mimpi nan indah itu berhenti, lalu membangunkan buah hati.

*

Seorang teman saya bercerita, dia pernah patah hati. Nilai ujiannya hancur berantakan. Kuliahnya yang sangat mahal harus diulang, tertinggal oleh kawan-kawan seangkatan. Lalu, untuk pertama kali dalam hidupnya, dia meminta maaf kepada sang ibu.

Sang ibu tak marah, tak menyalahkan. Dia hanya meminta si anak segera lulus kuliah. Tak peduli nilainya berapa. Yang penting lulus. Teman saya dan ibunya menangis berpelukan.

Teman saya berjuang sangat keras. Setiap musim ujian, melahap buku-buku yang tebalnya membuat saya bersyukur tidak mengambil kuliah yang sama dengan dia. Ketika musim ujian selesai, nilai teman saya jauh membaik. Kini, dia di ambang kelulusan.

*

Usai jadwal les ketika SMA, saya menumpang bus kota untuk pulang. Di sebelah saya, duduk ibu-ibu tua berpakaian lusuh. Di tangannya, menempel sejumlah tonjolan mirip bisul. Sambil menutup tangannya dengan kain lebar, si ibu bilang ke saya tak perlu khawatir melihat tonjolan di tangannya. Penyakit kulit itu tak menular.

Si ibu kemudian bercerita, dia sering kena cipratan darah ayam karena punya usaha ayam goreng di rumah. Itu usahanya satu-satunya setelah dia menjual segala macam harta benda yang dia punya. Kos-kosan, emas, tanah. Semua dia lakukan untuk membuat anaknya bisa berangkat ke Australia.

Kini anaknya bekerja mengurus ladang anggur di negeri Kangguru. Si anak bisa bekerja sambil belajar. Sudah tak bergantung kepadanya soal uang, dan malah kadang bisa mengirimkan dollar. Dia yakin, suatu saat nanti, entah kapan, anaknya akan sukses. Dan, jadi orang.

*

Saya tengah makan siang di sebuah mal, duduk di bagian pinggir rumah makan, sehingga bisa melihat sejumlah orang berlalu-lalang. Seorang gadis kecil berjalan penuh semangat, meninggalkan seorang bapak yang berjalan lebih pelan di belakang. Gadis itu tampak menikmati nuansa mal yang ceria. Seolah dirinya adalah Dora yang tengah berpertualang bersama tas ransel dan peta.

Si bapak lalu bersembunyi di balik board promosi yang ada di tengah-tengah mal. Si gadis kecil menengok ke belakang. Hap. Bapak menghilang! Lalu, dia melihat siluet sosok mirip si bapak di balik board promosi. Aha! Gadis kecil itu berlari menuju balik board. Ditemukannya si bapak tengah bersembunyi. Gadis kecil itu melemparkan tubuh ke si bapak yang merendahkan badan, dia memeluk si bapak kencang, lalu mereka tertawa-tawa.

*

Sepasang kekasih yang mengendarai sepeda motor berhenti di tepi sebuah ruko. Salah seorang dari mereka mendekati seorang ibu peminta-minta yang tampak sedang melepas lelah di emperan ruko. Memberikan kantungan plastik yang kemudian diketahui berisi nasi bungkus. Si ibu bersalaman dengan pasangan kekasih itu.

Ibu paro baya itu kemudian berdiri, melambai-lambaikan tangan. Tiga orang anak kecil yang sedang mengamen di lampu merah berlarian mendekat. Si ibu membuka bungkusan nasi, lalu menyuruh tiga anak kecil itu makan. Dia cukup memandang untuk bisa tersenyum sangat senang.

*

Indah ya?



foto diunduh dari hasil googling.

6 comments:

agek kaliyuga nagirat said...

Beberapa cerita yang cukup singkat tetapi dengan penyampaian pesan yang sangat tepat. Hidup itu indah.. :)

vany said...

meski sepotong2, tp ceritanya keren, mas...
menyadarkan kita ttg arti penting sebuah keluarga...
nice share... :)

aziz said...

Thank you Agek and Vany :)

ratu fitri said...

dr akun FB sodara saya sendiri :
Ratu Agh****: mama, papa, coba dengarkan, mungkin aku bukan anak yg bisa tumbuh seperti yg kalian harapkan. aku memilih jalanku sendiri, namun juga memepertimbangkan nasihat kalian. keputusan apapun yg aku ambil, semoga kalian dapat memahami dan mendukungku. aku hanya ingin menciptakan takdirku sendiri bersama Tuhan.

dibales sama papanya:
Faris Da**** : oh siip itu..usia 17 memang udah harus punya kemandirian, Papa n Mama hanya bisa mengantarkan sambil memandang dari kejauhan, jika terjatuh pasti papa akan berlari untuk membantu berdiri dan melepas lagi..ok..suksess (sampai saat ini kamu tumbuh lebih dari yang papa harapkan, kamu salah satu karunia Tuhan yang indah nak..)

mewek aku jiz..

yahoya said...

blog walking ..

lak koq nemu blogmu ziz...

terharu hiks ( lebay cak !!)

Aryanti Atmodjo Hasibuan said...

Bagus... agak terharu :) Orang tua adalah segalanya. Walaupun kita sdh bisa mandiri orang tua jgn diabaikan. kita tidak berarti apa2 tanpa mereka. Dengan doa yg tulus dari mereka kita berhasil. Jgn pernah berkata kasar kpd mereka. Semoga sukses terus ya om.