Wednesday, June 02, 2010

Sejati


Sejati

Jati memilih T-shirt putih ala kadarnya yang ada di posisi paling atas tumpukan baju. Mengenakannya bersama celana jins yang dipotong selutut dengan asal-asalan. Lalu, kembali sedikit mengusap-usap rambut yang basah karena baru selesai dicuci. Dia kemudian melangkah keluar rumah. Rambut gelombangnya yang hampir menyentuh pundak dibiarkan terurai setengah basah.

Langit malam di atas sana sedang bersahabat. Terang dengan sebuah bulan setengah lingkaran dan taburan bintang yang entah apa namanya.

Jati berjalan lurus melewati segerombolan anak kecil yang sedang berlarian mencari tempat sembunyi, main petak umpet. Dia kemudian melewati dua blok, menyusuri tujuh rumah, dan menggoyang-goyang pegangan pagar di rumah nomor 15 sehingga keluar bunyi “tang-tang.”

Mbok Iyem muncul dan langsung menyapa Jati dengan akrab, mempersilakan anak muda itu untuk naik ke atas, ke kamar Sinta.

*

”Ketebak banget kamu. Kalau lagi stres nggak mungkin diem di kamar. Pasti langsung manjat atap rumah. Naik ke genteng,” ujar Jati begitu melihat sosok gadis kecil yang sedang menyembulkan asap dari sebatang rokok mentol. Tidur berbaring di atas genteng rumah, memandang langit.

Jati pelan-pelan mengambil posisi di sebelah Sinta. Juga berbaring. Dia tahu panggilan telepon Sinta sore tadi pasti untuk ini: mencurahkan isi hati.

”Kita ini udah kenal sejak aku umur berapa sih, Jat?”

”Kita kenal pertama waktu kamu kecebur selokan depan itu. Belajar naik sepeda roda dua. Waktu mau ditolong, malah marah. Itu umur kamu berapa?”

Terdengar senyum tipis dari bibir Sinta. ”Hmmm… aku pertama kali dibeliin sepeda roda dua waktu naik kelas dua SD. Gila! Itu umurku masih tujuh tahunan. Berarti kita udah kenal hampir tiga belas tahun!”

Jati tertawa.

”Tiga belas tahun temenan, menurut kamu kekuranganku ini apa sih Jat?”

Jati tertawa lagi. Tidak menjawab pertanyaan Sinta. ”Jadi, siapa lagi yang sekarang bikin kamu ngerasa patah hati?”

Sinta membakar ujung batang rokok filternya yang kedua. Menghisapnya pelan, membiarkan nikotin-nikotin menyerap masuk hingga ke dalam paru-paru, lalu menghembuskan asapnya keluar.

”Si Diko. Aku belum pernah cerita tentang yang ini ke kamu. Aku kenal waktu kapan lalu ke Sempu *) sama anak-anak kampus. Kita nyebrang sama-sama biar lebih hemat. Sampai balik juga barengan.”

Sinta mulai melakukan apa yang dia perlukan. Mencurahkan isi hati. Jati mulai melakukan tugasnya. Menjadi tempat sampah.

”Dia itu tinggalnya di Semarang, Jat. Tapi, kita masih sering telpon-telponan sampai aku balik ke Surabaya. Gila Jat! Tatonya ada tujuh. Gimana aku nggak luluh. Kamu tahu sendiri aku paling suka cowok bertato. Tapi, dia bilang nggak mau nambah lagi. Katanya, Tuhan suka angka ganjil. Ha ha ha.

Aku paling suka tato yang dia bikin waktu backpacking ke Vietnam. Huruf s yang pakai alphabet Vietnam. Ditato di tengkuknya. S kan namaku. Dia bilang, dia pengen aja milih huruf S. Aku pikir itu berarti kan kita jodoh.”

Jati masih menyimak dengan baik. Kini tubuhnya miring menghadap Sinta yang terlihat bersemangat. Melihat mata gadis itu bersinar-sinar.

”Tapi yah begitu. Susah komitmen, Jat. Maunya senang-senang aja. Begitu ditanyain yang nyerempet pacaran, langsung ngalihin obrolan. Cowok sih semua kayak gitu. Nggak ada yang beres. Udah tinggalnya jauhan, mau nggak jelas-nggak jelasan. Udah dua minggu kayak gitu, jadi ya aku diemin aja sekarang.”

Jati tersenyum. Tiga minggu sebelumnya, gadis mungil itu juga menceritakan hal serupa. Baru saja memutuskan untuk tidak memperpanjang perjuangannya bersama seorang laki-laki. Dan, cerita seperti ini bukan hal baru. Seperti lagu yang di-replay dan Jati hapal betul liriknya.

”Yah, kamunya sendiri nggak ngasih waktu. Masak baru kenal dua minggu udah ngajak pacaran aja. Kalau dia nggak mau, terus ditinggalin. Kamu yang sabar dong,” Jati memberi saran ala kadarnya.

”Kamu aja deh Jat jadi pacarku,” jawab Sinta asal, matanya melirik Jati.

Jati tertawa. Tawa dengan secercah perih menggelitik hatinya. ”Bukannya kamu yang nggak mau?”

Giliran Sinta tersenyum. Teringat saat Jati yang mengungkapkan perasaan cinta kepadanya, ketika mereka masih sama-sama memakai baju putih abu-abu. Ketika itu, Sinta menjawab pernyataan Jati dengan gelak kencang. Tidak ada kata tidak atau ya. Hanya tawa. Jati menganggapnya sebagai ”Kita berteman saja yah.”

”Coba kamu punya tato, terus ngerokok. Mungkin aku bisa naksir. Ha ha ha. Cowok bertato yang lagi ngerokok itu seksi Jat! Kamu rambut aja gondrong, hobi aja naik gunung, wall climnbing. Tapi ngerokok sama tatoan nggak berani. Kayak banci.”

”Ha ha ha. Kalau kamu nganggap cowok nggak ngerokok itu banci, coba kamu maen ke jalan Irian Barat, tempat mangkalnya banci. Berani taruhan, mereka pada ngerokok semua,” elak Jati yang langsung disambung tawa Sinta.

”Kalau pakai tato?” tanya Sinta

”Ha ha ha. Kalau aku pakai yang temporary, gimana?” canda Jati lalu tertawa. ”Itu memang art. Tapi menurutku, menggambar sesuatu yang permanen di kulit itu sama kayak bikin ukiran nama di batuan di gunung atau di gua. Ngerusak alam. Lagian, aku nggak akan mengubah diri untuk bikin orang naksir sama aku. Aku mau, orang yang suka sama aku ya karena suka sama aku. Bukan karena aku mau jadi kayak apa yang dia mau.”

Jati kembali telentang menatap langit yang dilukis dengan cercahan bintang dan bulan. Mereka terdiam cukup lama, membuat suara dialog FTV yang ditonton mbok Iyem di lantai bawah terdengar lebih jelas.

”Kamu kenapa sih Jat, mau tetap dengerin ceritaku, padahal kita cuma bisa dekat?”

”Memangnya salah?”

”Nggak. Tapi, kebanyakan yang lain, begitu aku bilang nggak bisa lanjut, paling usaha cuma beberapa minggu, terus hilang. Kamu sampai sekarang masih di sini. Tiga belas tahun.”

Jati merangkulkan tangannya ke belakang pundak Sinta, membiarkan gadis kecil yang sedang rapuh itu merapat ke tubuhnya.

”Kenapa Jat?”

Jati diam sejenak sebelum menjawab, ”Karena dekat saja sudah cukup.”

Sinta lebih merapatkan tubuhnya ke Jati. Lelaki itu membuat pelukan yang lebih erat. Lebih hangat. Mereka kembali terdiam lama. Dan seperti ini lebih dari cukup.

”Aku bulan depan ke Rinjani. Kamu jadi mau ikut?”

Sinta mengangguk.

*

Lagu Superman Is Dead, Jika Kami Bersama, terdengar dari handphone Jati.

Di layar, tertulis siapa si penelpon: Anak Kecil

Sinta.

”Halo, Jati? Kamu bener, Jat. Diko cuma butuh waktu. Ha ha ha. Dia barusan nelpon aku. Katanya minggu depan mau ke Surabaya. Terus ngajakin skalian lanjut ke Rinjani. Ha ha ha. Pas banget yah? Kayaknya aku ke Rinjani-nya minggu depan sama dia. Aku mau bolos kuliah aja. Kamu nggak apa-apa kan Jat? Ha ha ha.”

”Ha ha ha. Oh ya? Bagus lah. Aku nanti pergi sama anak-anak kok. Kamu duluan aja.”

”Makasih Jati… Doain yang ini sukses yah!”

Sambungan tanpa kabel itu ditutup.

Karena dekat saja sudah cukup.



ditulis oleh @azizhasibuan


*) Sempu adalah nama pulau kawasan cagar alam di selatan Malang. Untuk mencapainya harus dengan menggunakan perahu nelayan dari Pantai Sendang Biru. Sempu menyimpan Danau Segara Anakan yang luar biasa cantik.

Gambar dalam posting-an ini adalah Gunung Rinjani, diunduh dari walkaboutindonesia.com

3 comments:

decil said...

Ceritanya nyesek! Harus dibaca sambil dengerin lagunya Kahitna -Insomnia.. "Yang kau lihaatt, senyumkuu.. Tak kau sadari, pedihku" cociiikks!

But anyway, harus ya yang nonton FTV pembantu?

aziz said...

Decil,

Jangan curhat di sinidong! :))

Iya. Kan emang kebanyakan penonton FTV itu pembantu. Emang di rumah kamu siapa yang nonton FTV?

Hahahahahaaa

Zainurridha said...

jadi jati gk menang toh....?