Sunday, May 16, 2010

Kemampuan Menunda Kesenangan


Saya following seorang teman dengan nama @citraernest di twitter. Citra biasa dipanggil Cece. Cantik. Pintar. Jagoan dandan. Salah satu mantan penulis terbaik yang pernah bekerja sama dengan saya. Diidami banyak laki-laki. (May I add sexy?)

Dari beberapa update statusnya di twitter pada 23 April, ada satu yang bikin saya berpikir. Begini kata Cece..

Salah satu ciri orang bakat kaya adalah kemampuannya untuk menunda kesenangan..”

Mari membuat highlight di bagian “kemampuan menunda kesenangan”

*

Orang yang pernah kenal saya dengan baik, mungkin sudah pernah tahu bagaimana saya biasa bekerja. Saya tidak bilang, saya workaholic, pekerja keras, atau sejenisnya. Karena memang saya sama sekali belum sampai tahap itu. Tapi, gaya bekerja di kantor saya memang tidak biasa dibanding kebanyakan kantor.

Saat kalender diwarnai oleh kesepakatan publik dengan warna merah, yang berarti waktunya libur, belum tentu saya bisa ikut sepakat. Berbagai kebutuhan di kantor membuat saya harus masuk bekerja. Lalu, digantikan dengan libur di tanggal tidak merah.

Atau, ketika yang lain bekerja dengan istilah nine-to-five, saya kadang harus bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Lalu, digantikan dengan bisa masuk lebih siang di keesokan harinya.

Di kantor, saya merasa termasuk salah satu orang yang punya skill menunda kesenangan paling buruk. Kata seorang manager, saya ini image-nya have fun. Teman sekantor lain, bisa bekerja dengan jauh lebih gila. Saya tidak ada apa-apanya. Dengan kemampuan saya yang rendah itu, saya pernah curhat dengan seorang senior di kantor. Bahwa saya kadang ingin merasakan bekerja dengan jadwal normal. Yang selalu kenal istilah long weekend, yang sudah pasti bisa mengikuti jadwal undangan minum kopi dengan teman di jam 7 malam.

Lalu, senior saya itu bertanya balik, ”Memang apa sih arti kerja normal?”

Saya tidak menjawab.

Teman saya yang masih jadi dokter muda harus rela juga tengah malam menahan ngantuk di UGD, teman saya yang seorang manager store juga harus rela pulang jam 3 pagi karena mengawasi staff menata barang-barang baru, calon suami kakak saya yang kerja di off-shore juga harus rela tidak pulang ke rumah selama dua minggu setiap bulan. Lalu, apa itu juga kerja tidak normal?

Sepertinya, ini hanya masalah pemahaman tentang sebuah pekerjaan yang tidak biasa, bukan pekerjaan tidak normal. Dan pekerjaan yang tidak biasa itu normal-normal saja.

*

Hey, saya kemudian melihat ada satu kata yang punya arti cukup positif di update twitter Cece. Yaitu, kata MENUNDA. Jadi, ini bukan berarti kita tidak akan bersenang-senang. Tapi, sedang ditunda saja. Suatu saat, ketika waktunya datang, saya yakin kesenangan itu bisa hadir dengan lebih indah. Semoga.

Saya sekarang pun sedang belajar menahan diri mengenai satu hal. Sulit, butuh usaha superkeras. Tapi, semoga usaha saya ini juga bagian dari MENUNDA kesenangan. Everything will be okay in the end. If It is not okay, it is not the end.


Gambar di posting kali ini diambil dari greenvilledailyphoto

4 comments:

Budhi Sanjaya Djunaid said...

cool !

sidecil said...

Tapi disaat kesenangan nya dateng, jangan ditunda-tunda lagi utk segera dirayakan dan di share sama orang2 terdekat. Do what you love and love what you do. :)

Its always nice to read ur writings anyway! Keep up the good work, mr!

aziz said...

Decil

Mellow bener commentmu cil :)) Diketawain Voltus!

Kurniawan Jatmika said...

we were working for our future, haha :D

*menulis komen sambil jaga ujian praktikum kampus mulai pagi sampe malam di hari yang kata orang banyak adalah long weekend...*