Friday, April 23, 2010

Braga, Bandung (Jalan-Jalan)

Kalau ada kota lain selain Surabaya yang cukup memberikan warna di kehidupan saya dua tahun terakhir, mungkin jawabannya adalah Bandung. Di kota tersebut, dua tahun terakhir, saya pernah tinggal selama masing-masing sekitar sebulan. Sekali di 2009, sekali lagi pada 2010. Untuk pekerjaan.

Di hati saya, Surabaya tetap nomor satu, tapi kadang Bandung memang membuat rindu. :)

Ketika ke Bandung, sekitar Februari lalu, setelah meeting dengan seorang teman di radionya, saya sempat mampir makan siang di jalanan Braga. Kebetulan kantornya di Asia Afrika, sangat dekat dengan kawasan kota tua Bandung itu. Lalu, dengan kamera pocket, saya mulai sok-sokan motret. Hasilnya ada di sini...


Menurut saya, bangunan ini adalah salah satu bagian terbaik jalanan Braga. Saya suka dengan pintu tua besar itu dan dinding di sekitarnya yang berjamur. Tenda mini (saya nggak tahu apa istilahnya) berwarna hijau menjadi ornamen sampingan yang pas. Bahkan bukan hanya saya, seorang tunawisma juga memilih spot itu untuk duduk. :)


Berikutnya, ini adalah tujuan utama saya melintasi Braga: Makan siang. Saya memilih The Kiosk, sebuah pujasera dengan beberapa menu makanan menggoda. Waktu itu, saya memilih Bebek Bakar PVJ. Hello, asam urat! :))


Ketika hendak kembali ke kantor, mata saya sempat terhenti melihat toko ini. Namanya, The First Shop. Tagline-nya, Modern Fashion. Tapi, coba lihat pilihan baju di etalase depannya. Sangat dekat dengan image Braga sebagai kawasan kota tua. Yang membuat saya heran, toko ini bisa tetap eksis sampai 2010! He he he.

Sebenarnya ingin juga mampir ke dalam. Siapa tahu, saya bisa dapat jawaban bagaimana toko ini bisa tetap ada. Tapi, ketika itu, sebuah taksi kosong lewat. Dan, mendapatkan taksi kosong yang bukan abal-abal termasuk hal langka di jalanan Bandung. :)


Silakan klik masing-masing foto untuk melihatnya dalam ukuran lebih besar.

Wednesday, April 21, 2010

Melayarkan Kapal

“A ship in harbor is safe, but that is not what ships are built for”

Kata-kata yang mengawali posting-an ini sudah ada sejak 1928. Tercatat dalam sebuah buku berjudul Salt from My Attic yang dicetak hanya 500 eksemplar. Penulisnya adalah John Augustus Shedd, seorang penulis dan profesor Amerika.

Kalau ingin membahas kalimat cantik itu dalam sebuah paragraf, sekiranya begini: Kalau memang mau yang aman-aman aja, taruh kapal-kapal yang kamu bikin itu di dermaga. Diem di sana, anteng, nunggu sampe karatan. Tapi, kalau mau lebih berguna, layarkan ke lautan. Lepas ke samudera. Risikonya kena ombak, tenggelam. Tapi, dia punya PELUANG berguna.

Shedd seperti ingin mengingatkan kepada pembaca Salt from Attic untuk tidak takut mengambil PELUANG.

Saya belajar hal yang sama dari kantor tempat saya bekerja. Selagi ada peluang, hajar dulu. Masalah nanti sukses atau nggak, dipikirkan belakangan.

Pada tahun 2008, bos saya membuat sebuah keputusan: Menyelenggarakan kompetisi basket bernama DBL di 11 kota di Indonesia. Awalnya, kami hanya menyelenggarakan itu di Surabaya.

Dari satu kota (yang sangat kami pahami karakteristiknya) menjadi 11 kota (yang mayoritas belum pernah kami kunjungi). Keputusan itu dibuat sekitar November. Padahal, tim kami harus mulai mengadakan kompetisi pada Januari.

Senior-senior saya yang hebat-hebat itu hanya punya waktu dua bulanan untuk menyusun jadwal satu musim penyelenggaraan, membuat peraturan-peraturan, mencari lokasi acara, menyiapkan tim lokal, menyusun rencana pemberitaan, memikirkan bujet, MEMBUAT SISTEM (saya kapital karena ini sulit sekali), dan berbagai PR lain

Semua dikerjakan dengan jumlah tim yang sangat minim. (Ketika itu hanya ada sekitar 10-an orang, sekarang hampir 50 orang). Senior-senior hebat saya itu (kadang saya bantu sedikit-sedikit) harus kerja siang-malam-siang lagi-malam lagi untuk menyiapkan semuanya. Kami sering bercanda, proyek ini bagai proyek membangun Seribu Candi ala Cerita Candi Prambanan.

Beberapa waktu yang lalu, setelah conference call dengan NBA untuk membicarakan sebuah event, kami bernostalgia membayangkan masa perjuangan itu. Lalu, keluar kalimat ini: Kalau kita sekarang mengingat masa itu, kayaknya aneh juga ya kita bisa melewatinya.

Lalu, apakah selalu mengambil peluang berarti akan selalu berakhir baik?

Belum tentu juga. Siapa yang bisa menjamin. Hanya Tuhan yang tahu dan kita bukan Rasul yang bisa menerima wahyu.

Tapi, saya kemudian melihat satu hal lagi yang harus dilakukan setelah mengambil peluang. Yaitu, TOTAL. Lakukan yang terbaik, berikan usaha maksimal. Maka, nantinya result yang akan kita terima pun pasti yang terbaik.

Peluang tidak hanya masalah pekerjaan, masalah yang lain pun bisa.

Kalau versi Inggrisnya bisa diungkap lewat quote di atas, versi Indonesia yang agak dangdut ada juga.

Ini…

”Percuma saja berlayar, kalau kau takut gelombang. Percuma saja bercinta, kalau kau takut sengsara.” (Jatuh Bangun-Meggy Z.)


Gimana? Mau mencoba berlayar dengan saya atau biarkan saja kapal itu berlabuh di dermaga? *winking*

Saya tunggu jawabannya!

---

Foto ala kadarnya di atas adalah hasil jepretan saya sendiri, diambil dari kapal Pulo Rondo yang tengah bersandar di Dermaga Ulee Lheue Banda Aceh. Kapal yang saya tumpangi untuk mencapai Sabang.

Wednesday, April 14, 2010

Baca Buku Bagus (Blog Tetangga)


Saya punya seorang teman yang luar biasa cinta dengan buku fiksi. Dia punya perpustakaan kecil di rumah yang dipenuhi dengan berbagai buku. Buku-buku yang jarang sekali diketahui orang pun kadang ada di perpustakaan kecilnya itu.

Nama teman saya tadi Gigih Rahmatika

Baru-baru ini, dia membuat sebuah blog yang menurut saya sangat menarik untuk orang yang gila buku. Isinya tentang berbagai review buku fiksi yang sudah selesai dia baca. Ditulis dengan gaya yang sangat manis (yang sangat jauh sekali dengan kehidupan si pemilik blog). Tulisannya pendek-pendek sehingga terasa "cukup".

Yang lebih seru, dia bukan hanya membagikan penilaiannya tentang buku di sana. Kamu juga bisa mendapatkan link download e-book dari sejumlah buku yang sedang dia review. Dan, link itu GRATIS!

Karena itulah saya berani menyarankan siapa saja untuk mencoba mengunjungi http://bacabukubagus.wordpress.com/


Enjoy dan Selamat Baca Buku Bagus!

Monday, April 12, 2010

Bangku Taman dan Phone (Re-post)


Saya tadi iseng-iseng membuka tulisan zaman dulu yang pernah ada di blog ini. Malu sekali rasanya melihat betapa kacau pemilihan kata yang saya ambil dalam banyak tulisan. Tulisannya sangat emosional dengan banyak tanda seru, tanda tanya, titik, dan pengulangan huruf. Bahasa Inggris pun menulisnya sangat amburadul. Walau sekarang juga banyak yang belum benar, tapi dulu parah sekali. Ha ha ha.

Tapi, tidak masalah. Meminjam kalimat bos saya, pergerakan seperti ini namanya Sustainable Growth. Semoga memang ada gerakan yang sustainable membaik dalam grafik cara saya menulis. Amin

Dari hasil lihat-lihat blog lama itu, saya menemukan dua cerita yang pernah saya buat. Bangku Taman (cerpen) dan Phone (cerita 100 kata). Sebenarnya ada beberapa lagi, tapi sayangnya link untuk men-download cerpen-cerpen itu tidak bisa diakses karena situs geocities yang sudah wafat.

Kalau tidak salah, saya sebenarnya pernah menyimpan file cerpen-cerpen itu. Tapi, entah dimana. Once saya menemukannya lagi, akan saya share kembali di blog ini.


Sementara, ini dulu...

1. Bangku Taman

Ini adalah sebuah cerita pendek yang saya tulis saat saya masih SMA! Tulisannya masih sangat asal dengan begitu banyak dialog. :) Bercerita tentang seorang anak perempuan yang senang duduk di bangku taman sejak ditinggal pacarnya pindah ke luar pulau.

Baca Bangku Taman di Sini


2. Phone

Kalau yang ini lebih pendek daripada cerpen. Saya membuat cerita hanya dalam 100 kata. Isinya dialog tentang dua orang mantan kekasih yang sedang bertelepon, plus suara hati salah satu di antara mereka. Mungkin membacanya akan sedikit membingungkan karena keterbatasan jumlah kata. Tapi, tidak ada salahnya untuk Anda coba baca.

Baca Phone di Sini

Semoga file tersebut mudah didownload dan Anda bisa memberikan comment dengan penuh suka cita.


Enjoy!

Casa di Giulietta (Sebuah Cerpen)


30 Mei 2009.

Begitu tertulis penanda waktu kapan terakhir kali saya menulis untuk Blog ini. Hampir satu tahun!

Sudah lama saya rindu menulis sesuatu yang tidak penting, tapi menyenangkan.

Lalu, saya membuat ini: Sebuah Cerpen.

Semoga bisa menjadi air yang menyegarkan untuk sebuah blog yang hampir setahun mengering.

Enjoy!

Baca Cerpennya di Sini