Friday, December 17, 2010

Wish Upon a Star…

Beberapa bulan yang lalu, ketika sedang berada di kawasan Kemang, saya secara tidak sengaja mampir ke rumah seorang teman. Namanya Ninda. Ibu muda, cantik, cerdas.

Saat saya dan teman-teman lain sedang duduk santai sambil melihat infotainment yang membahas Krisdayanti dan pacar barunya, Ninda menonton sambil sibuk menggunting-gunting kertas. Dia duduk di lantai, ditemani beberapa eksemplar majalah fashion.

Seorang teman saya yang lain penasaran dan bertanya, ”Ngapain sih?”

Ninda lalu menjelaskan bahwa dia sedang membuat vision board, yang kemudian saya ketahui sebagai sebuah papan dengan kolase potongan majalah. Kolase ini berisi berbagai item yang menjelaskan wish list seseorang.

Ibu dua anak ini kemudian menunjukkan Blackberry-nya ke kami, membuka salah satu foto yang tersimpan di dalamnya. ”Ini vision board gue dulu. Gue nggak inget pernah bikin ini. Terus, baru nemunya beberapa hari lalu. Lo liat deh, foto bayi di vision board itu mirip banget sama baby gue. Beda warna matanya doang, kan?” cerita Ninda.

Ninda kemudian juga bercerita bahwa selain bayinya yang mirip, sejak bikin vision board sampai menemukannya lagi, dia sudah punya tas, dan perhiasan yang mirip-mirip dengan kolase di vision board itu. Makanya, ketika itu dia bikin lagi, dengan harapan bisa kesampaian lagi.

”Percaya nggak percaya sih… Tapi di gue, ini kejadian…”

*

When you wish… Wish upon a star…

Kalau sekarang sedang rajin menonton Star World, banyak bumper-nya (atau apalah istilah selain bumper) yang memakai kalimat lagu itu.

Saya adalah tipe orang yang sangat-sangat menyukai surprise. Bahkan, untuk mengatur hidup saya sendiri pun, saya lebih suka yang surprise. Karena itu, salah satu masalah besar saya adalah planning (beberapa orang mungkin tersenyum membaca ini).

Cerita Ninda membuat saya menyadari, sebenarnya bukan apakah vision board itu secara mistis membuat impian kita kesampaian. Tapi, vision board membantu untuk nyentil-nyentil kita, ”Hey, kamu mau apa?” Lalu, tanpa disadari, kita mulai mengejar tujuan itu.

Ketika menulis post ini, saya berpikir, waktu SMP dan SMA, mimpi saya apa ya? Sepertinya nggak ada yang benar-benar melekat. Mimpi saya ketika itu yah cuma sampai tahap bisa lulus dengan nilai cukup, bisa masul SMA negeri dekat rumah, lalu bisa masuk perguruan tinggi negeri dengan bayar murah.

Akhir-akhir ini, saya kok merasa, mimpi saya waktu itu kurang tinggi (telat ya?). Saya kok merasa, kalau mau mimpi, mending yang rasanya nggak mungkin sekalian. Yang liar sekalian. Yang jauh sekalian. Jadi, kita akan menggapai-nggapai biar mencoba sampai ke titik itu. Kalau ternyata nggak sampai, tapi karena usaha untuk menggapai yang jauh di atas sana, tanpa disadari, kita sudah terbang cukup tinggi…

When you wish… Wish upon a star….

Rasanya, akhir tahun adalah momen yang pas untuk membahas hal semacam ini. Lalu, membuat resolusi. Lalu, memperbaiki diri :)

*

Ninda masih kelihatan asyik dengan majalah dan guntingnya. Saya iseng melirik apa yang mendominasi guntingannya…

Ada beberapa potongan iklan berlian, potongan iklan menggambarkan model yang berdiri di pinggir jalan dengan setumpuk tas Louis Vuitton, potongan gambar sepatu Louboutin, dan beberapa lagi hal serupa.

”Kok vision board gue sekarang isinya begini semua ya?” kata Ninda lalu tertawa.

When you wish… Wish upon a star…


@azizhasibuan

Tuesday, December 14, 2010

Casa di Giulietta (Re-Post)

Ini adalah Re-Post
Saya sempat agak stres ketika tahu salah satu cerpen buatan saya, Casa di Giulietta, hilang dari 4shared karena account yang expired. Sementara laptop yang dulu saya pakai, eror. Dan sepertinya nggak ada data yang bisa diselamatkan.

Lalu, datang ini: @gigihrc malaikat (kepaksa ngomong gini) yang ternyata masih menyimpan cerpen saya. Jadi saya copy paste di sini. Buat yang belum baca, silakan....

:)



Casa di Giulietta

Nama saya Romeo. Ibu yang memberi nama itu. Ketika ibu sedang hamil tua, ayah mendapatkan sebuah kesempatan yang pantang dia tolak: menjalani studi dengan beasiswa di Hochschule für Fernsehen und Film München, sebuah universitas pertelevisian dan perfilman di Munich.

Mimpi yang lama dia tunggu. Sejak sebelum ibu positif mengandung, sejak sebelum menikah, sejak sebelum mengenal ibu, sejak dia masih semester awal kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Gajahmada Jogjakarta.

Lalu, di hari-hari mendekati kelahiran saya, ayah memutuskan untuk pergi ke Italia, ke Verona. ”Ibumu yang minta. Kalau bisa, di hari kamu lahir, ayah ada di rumah Juliet, menuliskan nama ayah, ibu, dan namamu di sana.”

Ayah pergi dengan kereta api dari Munich. Ketika saya lahir, ayah masih berada di dalam kereta. Dia baru mendapat kabar kelahiran saya begitu tiba di Verona Porta Nuova.

”Anak kita Romeo.” Sebuah suara di ujung sambungan kabel menyiratkan kebahagiaan.

Ayah menangis. Karena bahagia mengetahui buah hati pertamanya lahir. Juga karena sedih mengetahui bahwa dia begitu jauh terpisahkan dengan suasana yang tak mungkin terulang itu. ”Nama belakangnya yang belum ada.” Ketika itu, belum menjadi tren menggunakan nama ayah di belakang nama anak.

”Aku mau ke balkon Juliet. Nanti kalau sudah ada ide, aku telpon kamu lagi. Ada yang mau kamu pesan?”

”Nggak ada. Yang penting ada nama kamu, namaku, Romeo. Itu saja. Nggak perlu yang lain.”

Ayah pun berangkat ke Casa di Giulietta, rumah Juliet dengan balkon yang terkenal itu. Membawa pisau lipat untuk menggrafir nama kami bertiga di dinding halaman depan.

Ayah harus bergegas. Dia harus tiba sebelum tempat tersebut tutup untuk turis pada pukul 07.30 malam. Kalau tidak, dia harus menggrafir nama kami keesokan harinya. Padahal, ibu berharap nama kami bisa digrafir di hari yang sama dengan kelahiran saya.

*

Nama saya Romeo. Dalam setiap kali perkenalan, nama saya itu hampir selalu berhasil memancing perhatian. Perkenalan ketika saya memasuki jenjang baru di bangku pendidikan, perkenalan ketika saya memasuki Pencinta Alam-ekstrakulikuler yang terkenal angker, bahkan perkenalan saya dengan tukang tambal ban.

Ketika berkenalan, saya selalu membuat orang lain terhenti dua-tiga detik sebelum bergantian menyebutkan namanya. Wajah mereka seolah aneh mendengar nama itu. Nama saya bagai memikul sebuah makna besar yang entah apa.

Tapi, berkenalan dengan kamu justru sebaliknya.

”Sonata.” Saya tertegun hampir sepuluh detik. Dua puluh tahun saya hidup di dunia, saya baru tiga kali bersentuhan dengan nama itu. Satu, dari infotainment yang sedang membahas penyanyi Betharia Sonata. Dua, dari bibir mungilmu yang meringis dan membingkai gigi-gigi berkawat itu. Dan, tiga…

*

Sore itu, ayah berhasil sampai di rumah Juliet. Beberapa menit saja terlambat, dia pasti tak diperbolehkan masuk oleh penjaga bertubuh tambun di gerbang depan. Ayah sama sekali tak tertarik untuk masuk ke dalam rumah. Apalagi, untuk masuk ke rumah itu, dia harus mengeluarkan sejumlah ECU. Kala itu, belum ada mata uang Euro.

Dia bergegas ke halaman depan, lalu mencari-cari dinding yang masih kosong. Semua bagian sudah penuh. Mata ayah tertuju pada sebuah batu di sisi ujung halaman. Ayah mengecek ke sana. Hanya ada sedikit nama. Masih banyak tempat tersisa. Pikirnya, di sana pun tak apalah. Yang penting masih di area rumah Juliet.

Lalu, Ayah mulai menggrafir. Namanya “Willy”, Nama Ibu “Renata”, dan nama saya ”Romeo.” Dia kemudian mengeluarkan sebuah kamera saku, memotret dua kali, kemudian pergi meninggalkan Casa di Giulietta.

Hasil cetak foto dengan kamera film tersebut, kini terpajang dengan bingkai bertuliskan Italia di kamar saya. Saya sering bercanda ke ayah dan ibu, ”Mana kita tahu batu itu betulan ada di rumah Juliet atau cuma nemu di danau dekat rumah ayah. Terus difoto persis sebelum ayah pulang ketemu ibu. Iya kan, Bu?”

Kalau sudah begitu, ayah sering menjawab. ”Coba kamu lihat di sekitarnya. Nama-namanya kan bule semua. Mana mungkin batunya dari danau ndeso.” Lalu, kami tertawa.

Memang selain nama kami bertiga, ada beberapa nama lain yang secara tidak sengaja ikut terpotret. Anna, Paul, dan Sonata.

*

”Hey…. Woyyy…” Sonata melambaikan tangan kirinya di depan mata saya, mencoba mengembalikan saya dari lamunan. Menghempaskan drama yang hampir terbang tinggi untuk kembali menyentuh daratan. ”Lama bener megang tanganku. Sakit, Mas.”

”Hahaha. Sorry. Nama kamu…” Kalimat saya menggantung. Gadis mungil dengan ’baju monyet’ jins ketinggalan zaman itu terdiam. Matanya mengerjap-ngerjap seakan menunggu agar kalimat itu punya akhir. Entah ditutup dengan predikat dan objek, entah dengan kata sifat. ”… Bagus.”

Sebut saya aneh. Panggil saya tidak kreatif. Katai saya terlalu banyak menonton sinetron. Tapi, vocabulary saya sedang habis di detik itu.

Sonata tertawa. Genggaman tangan kami sudah terlepas. Dengan langkah ringan, Sonata mengantarkan saya ke perpustakaan kampusnya. ”Lewat sini,” katanya sambil menunjuk ke kanan.

”Delapan belas tahun saya hidup di dunia, kamu orang ketiga yang bilang nama saya bagus. Yang dua lagi, papa sama mama. Ha ha ha.”

Gadis kecil itu mulai bercerita. ”Padahal kan Betharia yang cantik aja pakai nama Sonata. Cuma, dia pakai itu buat nama belakang, sementara aku namanya ya cuma satu kata itu. Kalau kata anak-anak, aku lebih cocok disejajarkan sama Soneta Grup daripada Betharia Sonata,” ceritanya lalu tertawa. ”Biar gampang, anak-anak biasanya manggil aku Sonya.”

Sambil berjalan menuju perpustakaan, kami lalu berbicara tentang secuplik hal kecil. Tentang saya yang sedang butuh buku untuk skripsi. Juga, tentang dia yang mengambil jurusan Seni Lukis karena pernah menang lomba gambar 17 Agustusan.

”Nah, kita telah tiba, wahai Romeo. Silakan engkau mencari buku di perpustakaan bercat ungu mengganggu ini. Diriku harus menghadap dosen,” kata Sonya dengan nada drama yang kocak.

Saya kemudian meminta nomor ponselnya. Dia menyebutkan dua belas nomor dengan perlahan.

”Eh tuan Romeo, selain bisa ngasih tahu di mana perpustakaan, aku juga bisa nunjukin di mana letak kantin. Apalagi, kalau ditraktir. Maklum, anak kos. Setengah jam lagi aku udah beres sama dosen,” katanya sebelum kami berpisah.

Saya hanya membalas dengan mengangkat ibu jari.

***

Casa di Giulietta adalah bangunan yang disebut oleh pemerintah Verona sebagai Rumah Juliet. Banyak pasangan yang datang ke sana hanya untuk membubuhkan nama mereka di dinding rumah itu. Padahal, bangunan tersebut disebut Rumah Juliet hanya untuk menarik minat turis. Verona merasa perlu membuat klaim itu karena kisah Romeo and Juliet buatan Shakespeare memang mengambil setting di kota tersebut.

Aziz Hasibuan

12 April 2010

01.30

Saturday, December 11, 2010

Jangan Tonton Rumah Dara (Spoiler)




Judul Film: Rumah Dara (Macabre)
Tahun: 2009
Produser/Penulis/Sutradara: The Mo Brothers (Kimo Stamboel, Timo Tjahjanto)
Durasi: 95 menit
Genre: Slasher

Kenapa jangan menonton Rumah Dara?

Rumah Dara adalah film slasher pertama Indonesia yang pernah saya tonton dan dengan sukses membuat rasa ngilu selama 95 menit durasinya. The Mo Brothers memancing rasa ingin tahu saya sejak mereka memulai film ini dengan pemutaran video bergaya klasik, menampilkan tiga orang anak kecil sebagai cast-nya.

Film ini bercerita tentang satu keluarga beranggotakan Ibu Dara (Shareefa Danish), Maya (Imelda Therinne), Adam (Arifin Putra), dan Arman (Ruly Lubis). Berempat, mereka tinggal dalam sebuah rumah di kawasan Subang, di balik rerimbunan pohon cemara. Keluarga psycho ini hidup dengan mengincar kepala-kepala manusia.

Adalah ibu muda dengan kandungan delapan bulan bernama Astrid (Sigi Wimala) serta teman-temannya yang menjadi incaran Ibu Dara dan keluarga. Dengan jebakan, Maya sukses menggiring Astrid dkk main-main ke Rumah Dara.

Sisa film ini kemudian akan menunjukkan romantisme keluarga Rumah Dara dengan darah. Satu persatu para tamu mereka kenalkan pada malaikat maut; dengan perkenalan-perkenalan manis, seperti menusukkan gunting ke leher atau memenggal kepala dengan gergaji mesin diiringi musik syahdu dari radio bernuansa tempo dulu.

Film ini juga mengubah pandangan saya. Dulu, saya pernah merasa tidak impress dengan Julie Estelle. Saat dia tampil di Kuntilanak, saya membuat tulisan berjudul Kuntilanak; Video Klip Terbaru Rizal Mantovani. Tapi, saya sekarang harus bilang ke Julie, saya terlalu cepat menilai kemampuannya ketika itu.

Di Rumah Dara, Julie melepaskan kulitnya; dari seorang selebriti yang pengin tampil di jaringan 21, menjadi seorang aktris. Begitu juga dengan Arifin. Entah apa karena dia tidak perlu banyak bicara, acting-nya di Rumah Dara terbang ke level lain, meninggalkan acting sebagai cowok cupu di sinetron yang harus saya akui pernah saya tonton (Sumpah, nontonnya nggak sengaja).



Lalu, ini: Danish. Dia adalah aset besar Rumah Dara. Sebagai model, Danish seharusnya tidak kesulitan menampilkan tatapan mata tajam kejam jahanam. Tapi, salah satu yang membuat saya kagum adalah stabilitas suaranya di sepanjang film. Gerakan-gerakan halus dan tenangnya juga membuat saya merasakan gemas, seperti rasa gemas saya kalau sedang ingin nepok nyamuk yang riwa-riwi di kamar. Pengin cepet bikin nyamuknya mati berdarah-darah, dan pengin ngelepasin sayapnya.

Rumah Dara juga menunjukkan bahwa orang-orang yang ada di balik film ini adalah orang yang into detail. Saat Ibu Dara kedatangan tamu sejumlah polisi, dia sempat berdiri dengan siluet tanduk pajangan di dinding. Siluet tanduk itu seolah tampil menjadi tanduk pada kepala Ibu Dara. Di mata saya, ini permainan cantik.

Begitu pula kejelian mereka untuk membumbukan drama yang pas. Saya merasakan pilu ketika mendengar Astrid membisikkan jenis kelamin bayinya kepada sang suami, Adji (Ario Bayu), di saat dia meregang nyawa.

Kalaupun ada sedikit yang kurang pas dari film ini, yaitu efek membakar orang yang kurang halus. Tapi, ini tidak akan mengganggu.

Lalu, mengapa saya membuat judul Jangan Menonton Rumah Dara untuk post ini? Iya. Jangan menonton Rumah Dara kalau Anda tidak suka menonton film kelas bintang!

*

Saya harus meminta maaf kepada siapapun yang terlibat di pembuatan film ini. Saya ketinggalan mau nonton Rumah Dara di bioskop karena di Surabaya hanya tayang sangat sebentar, dan saya sangat kesulitan menemukan video original-nya di manapun. Bahkan, yang bajakan pun susah. Lalu, saya download satu persatu 10 bagian film ini dari Youtube.

Kalau ada yang tahu dimana tempat jual versi original film ini, kasih tahu dong!


- Tulisan ini dibuat di atas kereta api Bima dari Solo ke Surabaya.

Wednesday, December 01, 2010

Do Re Mi


This shape without space,
This pattern without stuff,
This stream without dimension
Surrounds us, flows through us,
But leaves no mark.


This message without meaning,
These tears without eyes
This laughter without lips
Speaks to us but does not
Disclose its clue.


These waves without sea
Surge over us, smooth us.
These hands without fingers
Close-hold us, caress us.
These wings without birds
Strong-lift us, would carry us
If only the one thread broke


Music, a Poem by A. S. J. Tessimond
Photos by Aziz Hasibuan
Thank You Arizal for the camera :p


Tuesday, August 17, 2010

Menjadi Pengantar Bunga


Beberapa waktu lalu, saya dapat kesempatan langka: menjadi pengantar bunga.


Salah seorang kerabat (:p) saya punya toko bunga, that will be blooming soon. Meski tokonya masih belum sepenuhnya beroperasi, kegiatan menjual bunga sudah berjalan.


Suatu hari, ada pesanan sebuah bouquet bunga. Sayangnya, saya ingat-ingat lupa nama si pemesan. Kalau tidak salah, Mirza. Yah anggap saja saya nggak lupa namanya. Nah, si Mirza ini meminta untuk dibuatkan serangkai bunga tulip putih untuk dikirimkan ke pacarnya, Kania (yang ini saya ingat namanya).


Mirza meminta agar bunga itu dikirimkan ke tempat kerja Kania mendekati pukul 9 malam. Sayangnya, tidak ada kurir yang sedang bisa mengantarkan bunga di jam itu. Lalu, saya pun diminta bantuan untuk mengantarkan bunga. Saya dengan senang membantu.


Membawa rangkaian bunga tulip ke dalam mal ternyata cukup mencuri perhatian orang. Banyak yang melihat ke arah saya. Apalagi, saya membawa bouquet itu dengan sangat hati-hati seolah sedang menimang bayi. Sendirian.


Lalu, saya menaiki dua lantai sebelum tiba tepat di depan store Pull and Bear, tempat Kania kerja. Begitu masuk ke dalam store, saya mengarah ke Cashier. Di sana ada seorang pekerja yang sedang berdiri di belakang komputer. Cowok. Seorang pekerja lagi sedang menerima telepon. Cewek. Tinggi. Cantik.


Saya menyapa yang sedang menerima telepon. "Bisa ketemu dengan Kania?"


Si cewek itu menggerakkan tangannya ke saya dengan senyum tipis, meminta saya menunggu. Sekejap kemudian, dia menutup telepon dan berkata, "Ya? Saya Kania."


Saya kemudian memberikan bouquet itu. "Ada kiriman ini."

"Dari siapa?" Kania mulai lebih melebarkan senyumnya.

"Ada di kartunya." Kania mengambil kartu itu, membaca...


Honey,

Sorry I ruined your birthday


Kania mulai menorehkan tinta merah di pipinya. Bersemu. "Thank you."


Saya pergi meninggalkan Pull and Bear dengan mata masih memperhatikan Kania yang belum berhenti tersenyum. Dia kemudian melihat ke arah saya. Kami sama-sama tersenyum sampai wajah saya hilang ditelan eskalator.


*


Keesokan harinya, saya bertemu dengan beberapa teman yang semuanya berjualan bunga. Di dalam mobil, saya bercerita tentang serunya mengantarkan bunga ke Kania. Bagaimana uniknya perasaan saya ketika melihat Kania tersenyum mendapat bouquet itu.


Seorang teman, yang ibunya juga punya usaha bunga berkomentar, "Nah.. itu tuh yang Ibu bilang, nggak bisa dibayar. Perasaan senang kalo liat orang puas sama kiriman bunga kita."




Perspektif senang benar-benar macam-macam :p



gambar diunduh dari flickr

Sunday, August 01, 2010

Tick Tock

Masjid Baiturrahman (Banda Aceh, Aceh)

Memories (Malang, East Java)

Capitol Building (Singapore)

Hotel (Semarang, Central Java)

Raffles Hotel (Singapore)


Photographed by @azizhasibuan

Wednesday, July 14, 2010

Surat untuk Mantan Kekasih


Mahendra Tersayang,


Aku masih ingat betul ketika kamu melambaikan tangan di ujung pintu masuk bandara itu. Kamu mengenakan polo shirt yang aku pilihkan ketika kita jalan-jalan di sebuah Factory Outlet. Warnanya biru terang. Kamu bilang warna itu terlalu silau. Aku bilang, itu cocok untuk warna kulitmu yang gelap. Kamu memakainya, untuk membuatku senang. Walau aku yakin, ketika di depan loket check in, kamu langsung menutup rapat polo shirt itu dengan jaket kulit hitam.


Aku masih ingat bahwa kamu menggenggam satu kantung kertas kue manis untuk bekal selama di perjalanan menuju ke Manado. Kamu membeli tiga buah kue. Dua untuk kamu bawa, satu untuk kita makan berdua sebelum kamu memutuskan untuk check in.


Aku masih ingat bagaimana senyummu yang penuh semangat karena untuk pertama kalinya kamu dikirim oleh perusahaan untuk menjadi pimpinan proyek. Dan, itu nun jauh di Manado.


Aku masih ingat betul...

Saat-saat terakhir kita saling bertatap mata. Saat-saat sebelum kamu terbang. Saat-saat dimana aku tidak sadar bahwa merelakanmu menjadi pimpinan proyek di Manado adalah merelakanmu pergi untuk selamanya...


*


Mahendra,


Ketika itu aku sedang bersiap-siap akan pergi mengajar. Ketika adikku yang paling kecil, Rosi, menggedor-nggedor pintu kamar. Begitu aku membuka pintu, dia menarikku turun ke ruang keluarga dengan wajah sangat panik. Dia memintaku melihat TV. Ayah, ibu, dan dua adikku yang lain sudah ada di ruang keluarga, duduk terdiam melihat kotak yang bergambar dan bersuara.


Pembawa berita di TV menjelaskan ada sebuah pesawat yang dikabarkan hilang. Tak ada yang tahu kemana. Namun, diduga pesawat tersebut mengalami kecelakaan hebat dan besar kemungkinan semua penumpangnya tewas. Pesawat itu menuju Manado. Berangkat dari Jakarta, pukul 13.45 siang kemarin. Kode penerbangannya DZ 483.


Pesawat yang kamu tumpangi.


*


Mahendra,


Dalam hitungan detik, duniaku direnggut paksa. Aku melemah. Tubuhku kehilangan keseimbangan. Ambruk. Darahku mengalir kelewat kencang. Yang kuingat hanyalah adik tertuaku Dika berteriak meminta diambilkan minyak kayu putih. Otakku seolah tak bisa diajak berpikir.


Sejak hari itu aku bolos mengajar. Aku mohon mengundurkan diri dari sekolah, namun mereka berharap agar aku hanya mengambil libur. Mereka tidak memberi batasan kapan aku siap kembali mengajar.


Tapi, aku sama sekali tak bisa mengajar lagi. Mengajak otak sendiri berpikir saja aku kesulitan, apalagi harus mengajak otak orang lain berpikir.


Setiap terbangun dari tidur, tak ada hal lain yang bisa aku tanyakan selain kabarmu. Adakah keajaiban yang membuatku mendengar kabar bahwa kamu masih hidup. Bahwa kamu sedang terdampar di sebuah pulau antah berantah seperti di film Cast Away.


Atau aku terbangun dan menyadari bahwa semua itu mimpi buruk. Bahwa ternyata itu hanya firasatku yang tak ingin kamu pergi jauh ke Manado.


Ini memang mimpi buruk. Mimpi buruk yang terlalu panjang. Mimpi buruk yang tak pernah berhenti karena matahari masih belum menunjukkan diri.


*


Mahendra,


Aku masih ingat betul ketika kita duduk di bangku taman kompleks perumahanku. Ketika kita melihat anak-anak kecil, lalu berkhayal seperti apa anak yang kita mau, dan seperti apa anak yang tidak kita mau, andai kita menikah nanti.


Kamu menunjuk satu anak laki-laki kecil yang sedang duduk dan terlihat flirting kepada anak perempuan kecil yang bermain ayunan. Kamu bilang ingin anak kita seperti itu. Bandel asal pintar. Kamu bilang, kamu ingin mengajari dia main gitar agar semakin banyak anak perempuan yang naksir padanya. Seperti bagaimana dulu aku pertama kali jatuh cinta kepadamu.


Aku masih ingat betul bagaimana aku tertawa-tawa dan kamu mencium keningku dengan sangat lembut. Lalu menautkan tangan kita erat-erat.


Aku kemudian berbisik bahwa tak akan meninggalkanmu, tak akan pernah memalingkan diri kepada lelaki lain. Kamu sekali lagi mencium keningku, yang kuanggap sebagai.. "Aku pun begitu."


*


Sayang,


Aku juga masih sangat ingat waktu-waktu kita tak sepikiran. Beradu argumen tentang kemana kita akan pergi menghabiskan akhir pekan. Ketika kamu sedang ingin pergi dengan teman-temanmu, menonton pertandingan sepak bola bersama. Padahal aku sedang ingin ditemani menonton film drama terbaru.


Lalu, kamu tetap memilih pergi dengan teman-temanmu sementara aku diam di rumah dan mengupdate status friendster dengan kalimat-kalimat yang menunjukkan kekesalan. Sepulang dari menonton sepak bola, kamu kemudian mampir ke rumah, membawa sekotak martabak Pak Duriat kesukaanku. Kita bertemu dalam dingin, lalu menghangat ketika ayahku menjelaskan bahwa sepak bola bagi laki-laki, beda tipis dengan agama.


*


Mahendra,


Menahun aku terpuruk dalam kesendirian. Merasa seperti tebu yang sudah dihisap habis oleh anak-anak petani. Menjadi ampas dan dibuang di pinggir semak-semak. Menanti kering lalu hilang disapu angin dan hujan.


Sudah tak terhitung berapa banyak teman yang mengatakan bahwa hidup harus terus dijalani. Bahwa kematian adalah sebuah siklus. Bahwa aku harus bangkit lalu menenun cerita-cerita hidup baru. Bahwa kalau kamu tahu keadaanku, kamu pun pasti akan sedih.


Namun, sakitku sudah terlalu meradang. Ucapan dan saran mereka hanya menjadi pil pahit yang kutelan, lalu menyublim di dalam tubuh tanpa guna. Tak bisa menyatu dengan darah, tak bisa menyehatkan.


Sampai kemudian datang Surya. Kamu masih ingat dengan dia, kan sayang? Teman kita ketika masih SMA dulu. Dia datang dalam sebuah kejutan tak terkira. Kami bertemu saat aku ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Surya sedang mengantarkan anak didiknya. Dia kini mengajar di sebuah yayasan untuk membina anak jalanan.


Dari obrolan singkat kami, Surya kemudian mengajakku untuk mengajar. Sebagai seorang volunteer. Ajakan ini begitu menggoda, Sayang. Aku sudah lama rindu berurusan dengan keributan anak-anak kecil di kelas. Ajakan Surya bagai secercah cahaya yang melalui tirai-tirai kelam, yang menelungkupi hari-hariku.


Kami pun sering bertemu. Surya sering menunjukkan secara tak langsung, betapa banyak kehidupan lain yang lebih merana daripada yang aku alami, dengan kehilanganmu.


Surya mengenalkan aku pada Farid, salah seorang bocah jalanan 15 tahun yang bahkan tak pernah tahu bagaimana rupa orang tuanya, sejak dia ditakdirkan bertarung di dunia.


Farid pernah nyaris jadi korban perdagangan anak sebelum dia melarikan diri dari sebuah rumah penampungan dan berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer. Tapi, dia masih bisa tertawa-tawa setiap hari, menikmati hidup meski hanya bisa bermain layangan dan membaca buku cerita bekas hasil sumbangan.


Aku pernah bertanya pada Farid, apa yang membuat dia terus bertahan melalui masa sulit. Apa yang membuat dia nekad berjalan puluhan kilometer lari dari rumah penampungan, padahal siapa tahu ada cara yang lebih mudah untuk lari ketika mereka sudah dijual.


Jawaban Farid sungguh bukan seperti anak berusia 15 tahun. Dia mengambil layang-layang, lalu menarik paksa bambunya hingga layangan itu robek dan rusak. "Menurut kakak, kalau saya ingin layangan ini bisa terbang lagi, saya harus apa?" Aku terdiam.


"Harus dibetulkan lagi kak."


Farid kemudian mengambil kertas minyak dan benang, merangkainya. "Bambunya bisa sama, tapi kertasnya harus baru, benangnya harus baru. Baru bisa main layang-layang lagi."


Farid melihat wajahku kebingungan. "Ini penjelasan Bu Nyai yang dulu pernah mengajar saya mengaji, Kak. Kalau saya mau hidup senang. Saya harus menikmati semuanya. Menikmati proses menuju senang. Menerima ketika ada bagian hidup yang berantakan, lalu menikmati ketika saya memperbaiki apa yang berantakan, dan akhirnya menikmati hasilnya. Kakak lihat, sekarang saya bisa main layang-layang lagi." Farid kemudian berlari dengan wajah cerianya, menerbangkan layang-layang.


*


Mahendraku,


Surya telah menorehkan tinta-tinta warna dalam kanvasku yang selama ini abu-abu. Dia memberikan torehan-torehan abstrak yang tak pernah kudapat sejak kau pergi. Dia terus menorehkan berbagai warna hingga suatu hari dia menorehkan warna ungu.


Surya terbit di depanku membawa sebuah cincin. Melamarku.


Sayang,


Aku harus melanggar janjiku untuk mengabdikan sisa hidupku padamu. Di luar rumahku, sekarang sedang banyak orang mengaji. Siang nanti, Surya akan datang. Seorang penghulu akan mengikat kami dalam sebuah janji suci.


Aku berharap kau tak marah ketika membaca surat ini. Aku berharap kau pun rela bila aku memulai menghiasi kanvas abu-abu itu dengan warna-warna baru.


Mahendra, ini akan menjadi surat terakhir yang kukirimkan padamu. Maafkan karena beberapa bulan terakhir ini aku tak banyak menulis untukmu. Aku hanya bingung bagaimana harus memulai menceritakan semuanya. Semoga surat ini bisa selalu kau baca, entah saat kau ada di mana.


Semoga kau mau memahami langkahku....




Yang akan selalu mencintaimu,

Laura...


***


Laura terlihat cantik dengan riasan yang sudah terlukis di wajahnya. Kebaya putih dan kain batik yang dikenakannya membuat gadis itu tampak semakin berkilauan. Setetes air mata mengalir di pipinya, melunturkan sebagian kecil riasan. Dia melipat kertas yang baru ditulisnya. Surat untuk Mahendra.


Laura berjalan mendekati lemari dalam kamarnya. Kamar beraroma sangat harum yang sudah dihias dengan tirai-tirai, bunga melati, anggrek, dan mawar. Dibukanya salah satu laci di lemari dan tampaklah setumpuk surat yang dilipat dengan gaya sama. Sang mempelai wanita itu memindahkan semua surat dalam sebuah kantung plastik.


Laura kemudian memanggil Mang Qori, memberikan kantung plastik tersebut, dan membisikkan sesuatu.


Mang Qori mengangguk-angguk paham, lalu bergegas. Dari balik tirai kamarnya, Laura mengawasi gerak-gerik Mang Qori di halaman belakang. Pria paro baya yang sudah rapi mengenakan batik tersebut menyulut korek kayu, lalu membakar kantung plastik yang diberikan Laura. Kertas-kertas itu terbakar satu-satu, mengepulkan asap kecil hingga akhirnya tinggal debu.


Laura masih mengintip dari balik tirai... Kembali meneteskan air matanya...



Namun, layang-layang itu harus diterbangkan lagi.


*


Malang, 14 Juli - Ditulis oleh @azizhasibuan


Foto diunduh dari images.lightstalkers.org

Monday, July 05, 2010

Namanya Albert...

Denver Nuggets Dancers

Saya pertama kali bertemu dengan Albert dalam sebuah media interview dengan Denver Nuggets Dancers, pengisi acara even kantor. Saya bertugas mengalirkan media interview. Lokasi interview itu terbuka. Sehingga siapapun bisa berdiri di sekitar media. Albert berdiri persis di belakang wartawan-wartawan, memegang Blackberry-nya yang dalam video mode.

Saat konferensi pers itu, hanya ada dua orang wartawan yang terus bertanya, sementara yang lain hanya memegang kamera dan alat recorder lain. Lalu, ketika saya menawarkan yang lain untuk bertanya, Albert kemudian spontan mengucapkan. ”Do you like hip-hop?”, ”Do you like R n B?”, ”Do you like Jay Z.” Yang semuanya dijawab dengan ”Yeaaa…” oleh para dancers.

Saya menyadari, Albert bukan wartawan. Jadi, saya sudahi media interview tersebut, dan mempersilakan para dancers silam.

Itu terjadi sebulan yang lalu. Kemudian, dalam satu bulan, Albert hampir selalu datang ke even kami. Menyaksikan apapun yang bisa dia saksikan, mengajak siapa saja ngobrol dengan bahasa Inggris-nya yang lancar. Bahasa Inggris anak 15 tahun itu malah jauh lebih baik daripada fotografer di kantor kami yang pernah menulis kata “memasak” dengan ”cocking” alih-alih menulisnya sebagai “cooking.” Dan, itu dilakukan di twitter. He he he.

Kemarin, saya bertanya, bagaimana dia bisa berbahasa Inggris dengan begitu lancar. Apa dia les khusus. Albert menggeleng. ”I am not formally learn English from school. When I was 5, my mom put a TV Cable in my room. Like Indovision. Everyday, I watch movies, MTV, anything. From there, I learn English,” jawabnya dengan gaya bicaranya yang agak terbata-bata plus mimik wajah datar.

*

Kemarin sore, sambil menunggu petugas vallet, Albert mengobrol dengan saya. Dia bilang, dia ingin jadi dokter dan ingin jadi cool. Albert mendifinisikan cool sebagai, ”Pakai sepatu yang ada warna merah-merahnya, celana jins, kaus kedodoran, kalung emas dengan logo Yankees, dan salah satu gigi yang diganti gigi emas.”

Saya tanya lagi, kenapa dia menganggap itu cool?

Lalu, Albert memutarkan video yang dia rekam ketika menanyai Denver Nuggets Dancers.

”Do you like hip-hop?”

”Yeaa….”

”Do you like R n B?”

”Yeaa….”

”Do you like Jay Z”

”Yeaa….”

Setelah video itu usai, Albert mengambil kembali Blackberry-nya dan berbisik kepada saya, ”See! Dancer-dancer itu suka hip-hop, R n B, dan Jay-Z! Kalau aku jadi cool seperti itu, mereka pasti naksir.”

Smart boy!

Namanya Albert…. Saya lupa menanyakan apa nama belakangnya. Saya khawatir, nama belakangnya Einstein.

*

Tulisan ini mungkin biasa-biasa saja. Tapi saya sangat ingin mem-post-nya karena Albert seolah mengingatkan saya untuk tidak sembarang menilai sebuah kado dari pembungkusnya.

Friday, June 18, 2010

Sepanjang Jalan (Potongan Realita)

Saya sedang berjalan dari gedung A ke gedung B di kawasan kantor saya. Melintasi jajaran mobil yang tengah parkir. Salah satu di antara mobil-mobil itu sedang menyalakan mesin. Di dalamnya, seorang bapak duduk di balik kemudi melirik ke kursi disampingnya: ada seorang anak laki-laki tengah lunglai terlelap dihembus mimpi. Tidurnya tampak nikmat.

Si bapak kemudian pelan-pelan menurunkan sandaran kursi mobil bocah kecil itu. Sangat pelan. Dia ingin tidur si jagoan lebih nyaman dengan sandaran kursi merendah. Hati-hati sekali dia bergerak. Khawatir hembusan mimpi nan indah itu berhenti, lalu membangunkan buah hati.

*

Seorang teman saya bercerita, dia pernah patah hati. Nilai ujiannya hancur berantakan. Kuliahnya yang sangat mahal harus diulang, tertinggal oleh kawan-kawan seangkatan. Lalu, untuk pertama kali dalam hidupnya, dia meminta maaf kepada sang ibu.

Sang ibu tak marah, tak menyalahkan. Dia hanya meminta si anak segera lulus kuliah. Tak peduli nilainya berapa. Yang penting lulus. Teman saya dan ibunya menangis berpelukan.

Teman saya berjuang sangat keras. Setiap musim ujian, melahap buku-buku yang tebalnya membuat saya bersyukur tidak mengambil kuliah yang sama dengan dia. Ketika musim ujian selesai, nilai teman saya jauh membaik. Kini, dia di ambang kelulusan.

*

Usai jadwal les ketika SMA, saya menumpang bus kota untuk pulang. Di sebelah saya, duduk ibu-ibu tua berpakaian lusuh. Di tangannya, menempel sejumlah tonjolan mirip bisul. Sambil menutup tangannya dengan kain lebar, si ibu bilang ke saya tak perlu khawatir melihat tonjolan di tangannya. Penyakit kulit itu tak menular.

Si ibu kemudian bercerita, dia sering kena cipratan darah ayam karena punya usaha ayam goreng di rumah. Itu usahanya satu-satunya setelah dia menjual segala macam harta benda yang dia punya. Kos-kosan, emas, tanah. Semua dia lakukan untuk membuat anaknya bisa berangkat ke Australia.

Kini anaknya bekerja mengurus ladang anggur di negeri Kangguru. Si anak bisa bekerja sambil belajar. Sudah tak bergantung kepadanya soal uang, dan malah kadang bisa mengirimkan dollar. Dia yakin, suatu saat nanti, entah kapan, anaknya akan sukses. Dan, jadi orang.

*

Saya tengah makan siang di sebuah mal, duduk di bagian pinggir rumah makan, sehingga bisa melihat sejumlah orang berlalu-lalang. Seorang gadis kecil berjalan penuh semangat, meninggalkan seorang bapak yang berjalan lebih pelan di belakang. Gadis itu tampak menikmati nuansa mal yang ceria. Seolah dirinya adalah Dora yang tengah berpertualang bersama tas ransel dan peta.

Si bapak lalu bersembunyi di balik board promosi yang ada di tengah-tengah mal. Si gadis kecil menengok ke belakang. Hap. Bapak menghilang! Lalu, dia melihat siluet sosok mirip si bapak di balik board promosi. Aha! Gadis kecil itu berlari menuju balik board. Ditemukannya si bapak tengah bersembunyi. Gadis kecil itu melemparkan tubuh ke si bapak yang merendahkan badan, dia memeluk si bapak kencang, lalu mereka tertawa-tawa.

*

Sepasang kekasih yang mengendarai sepeda motor berhenti di tepi sebuah ruko. Salah seorang dari mereka mendekati seorang ibu peminta-minta yang tampak sedang melepas lelah di emperan ruko. Memberikan kantungan plastik yang kemudian diketahui berisi nasi bungkus. Si ibu bersalaman dengan pasangan kekasih itu.

Ibu paro baya itu kemudian berdiri, melambai-lambaikan tangan. Tiga orang anak kecil yang sedang mengamen di lampu merah berlarian mendekat. Si ibu membuka bungkusan nasi, lalu menyuruh tiga anak kecil itu makan. Dia cukup memandang untuk bisa tersenyum sangat senang.

*

Indah ya?



foto diunduh dari hasil googling.

Wednesday, June 02, 2010

Sejati


Sejati

Jati memilih T-shirt putih ala kadarnya yang ada di posisi paling atas tumpukan baju. Mengenakannya bersama celana jins yang dipotong selutut dengan asal-asalan. Lalu, kembali sedikit mengusap-usap rambut yang basah karena baru selesai dicuci. Dia kemudian melangkah keluar rumah. Rambut gelombangnya yang hampir menyentuh pundak dibiarkan terurai setengah basah.

Langit malam di atas sana sedang bersahabat. Terang dengan sebuah bulan setengah lingkaran dan taburan bintang yang entah apa namanya.

Jati berjalan lurus melewati segerombolan anak kecil yang sedang berlarian mencari tempat sembunyi, main petak umpet. Dia kemudian melewati dua blok, menyusuri tujuh rumah, dan menggoyang-goyang pegangan pagar di rumah nomor 15 sehingga keluar bunyi “tang-tang.”

Mbok Iyem muncul dan langsung menyapa Jati dengan akrab, mempersilakan anak muda itu untuk naik ke atas, ke kamar Sinta.

*

”Ketebak banget kamu. Kalau lagi stres nggak mungkin diem di kamar. Pasti langsung manjat atap rumah. Naik ke genteng,” ujar Jati begitu melihat sosok gadis kecil yang sedang menyembulkan asap dari sebatang rokok mentol. Tidur berbaring di atas genteng rumah, memandang langit.

Jati pelan-pelan mengambil posisi di sebelah Sinta. Juga berbaring. Dia tahu panggilan telepon Sinta sore tadi pasti untuk ini: mencurahkan isi hati.

”Kita ini udah kenal sejak aku umur berapa sih, Jat?”

”Kita kenal pertama waktu kamu kecebur selokan depan itu. Belajar naik sepeda roda dua. Waktu mau ditolong, malah marah. Itu umur kamu berapa?”

Terdengar senyum tipis dari bibir Sinta. ”Hmmm… aku pertama kali dibeliin sepeda roda dua waktu naik kelas dua SD. Gila! Itu umurku masih tujuh tahunan. Berarti kita udah kenal hampir tiga belas tahun!”

Jati tertawa.

”Tiga belas tahun temenan, menurut kamu kekuranganku ini apa sih Jat?”

Jati tertawa lagi. Tidak menjawab pertanyaan Sinta. ”Jadi, siapa lagi yang sekarang bikin kamu ngerasa patah hati?”

Sinta membakar ujung batang rokok filternya yang kedua. Menghisapnya pelan, membiarkan nikotin-nikotin menyerap masuk hingga ke dalam paru-paru, lalu menghembuskan asapnya keluar.

”Si Diko. Aku belum pernah cerita tentang yang ini ke kamu. Aku kenal waktu kapan lalu ke Sempu *) sama anak-anak kampus. Kita nyebrang sama-sama biar lebih hemat. Sampai balik juga barengan.”

Sinta mulai melakukan apa yang dia perlukan. Mencurahkan isi hati. Jati mulai melakukan tugasnya. Menjadi tempat sampah.

”Dia itu tinggalnya di Semarang, Jat. Tapi, kita masih sering telpon-telponan sampai aku balik ke Surabaya. Gila Jat! Tatonya ada tujuh. Gimana aku nggak luluh. Kamu tahu sendiri aku paling suka cowok bertato. Tapi, dia bilang nggak mau nambah lagi. Katanya, Tuhan suka angka ganjil. Ha ha ha.

Aku paling suka tato yang dia bikin waktu backpacking ke Vietnam. Huruf s yang pakai alphabet Vietnam. Ditato di tengkuknya. S kan namaku. Dia bilang, dia pengen aja milih huruf S. Aku pikir itu berarti kan kita jodoh.”

Jati masih menyimak dengan baik. Kini tubuhnya miring menghadap Sinta yang terlihat bersemangat. Melihat mata gadis itu bersinar-sinar.

”Tapi yah begitu. Susah komitmen, Jat. Maunya senang-senang aja. Begitu ditanyain yang nyerempet pacaran, langsung ngalihin obrolan. Cowok sih semua kayak gitu. Nggak ada yang beres. Udah tinggalnya jauhan, mau nggak jelas-nggak jelasan. Udah dua minggu kayak gitu, jadi ya aku diemin aja sekarang.”

Jati tersenyum. Tiga minggu sebelumnya, gadis mungil itu juga menceritakan hal serupa. Baru saja memutuskan untuk tidak memperpanjang perjuangannya bersama seorang laki-laki. Dan, cerita seperti ini bukan hal baru. Seperti lagu yang di-replay dan Jati hapal betul liriknya.

”Yah, kamunya sendiri nggak ngasih waktu. Masak baru kenal dua minggu udah ngajak pacaran aja. Kalau dia nggak mau, terus ditinggalin. Kamu yang sabar dong,” Jati memberi saran ala kadarnya.

”Kamu aja deh Jat jadi pacarku,” jawab Sinta asal, matanya melirik Jati.

Jati tertawa. Tawa dengan secercah perih menggelitik hatinya. ”Bukannya kamu yang nggak mau?”

Giliran Sinta tersenyum. Teringat saat Jati yang mengungkapkan perasaan cinta kepadanya, ketika mereka masih sama-sama memakai baju putih abu-abu. Ketika itu, Sinta menjawab pernyataan Jati dengan gelak kencang. Tidak ada kata tidak atau ya. Hanya tawa. Jati menganggapnya sebagai ”Kita berteman saja yah.”

”Coba kamu punya tato, terus ngerokok. Mungkin aku bisa naksir. Ha ha ha. Cowok bertato yang lagi ngerokok itu seksi Jat! Kamu rambut aja gondrong, hobi aja naik gunung, wall climnbing. Tapi ngerokok sama tatoan nggak berani. Kayak banci.”

”Ha ha ha. Kalau kamu nganggap cowok nggak ngerokok itu banci, coba kamu maen ke jalan Irian Barat, tempat mangkalnya banci. Berani taruhan, mereka pada ngerokok semua,” elak Jati yang langsung disambung tawa Sinta.

”Kalau pakai tato?” tanya Sinta

”Ha ha ha. Kalau aku pakai yang temporary, gimana?” canda Jati lalu tertawa. ”Itu memang art. Tapi menurutku, menggambar sesuatu yang permanen di kulit itu sama kayak bikin ukiran nama di batuan di gunung atau di gua. Ngerusak alam. Lagian, aku nggak akan mengubah diri untuk bikin orang naksir sama aku. Aku mau, orang yang suka sama aku ya karena suka sama aku. Bukan karena aku mau jadi kayak apa yang dia mau.”

Jati kembali telentang menatap langit yang dilukis dengan cercahan bintang dan bulan. Mereka terdiam cukup lama, membuat suara dialog FTV yang ditonton mbok Iyem di lantai bawah terdengar lebih jelas.

”Kamu kenapa sih Jat, mau tetap dengerin ceritaku, padahal kita cuma bisa dekat?”

”Memangnya salah?”

”Nggak. Tapi, kebanyakan yang lain, begitu aku bilang nggak bisa lanjut, paling usaha cuma beberapa minggu, terus hilang. Kamu sampai sekarang masih di sini. Tiga belas tahun.”

Jati merangkulkan tangannya ke belakang pundak Sinta, membiarkan gadis kecil yang sedang rapuh itu merapat ke tubuhnya.

”Kenapa Jat?”

Jati diam sejenak sebelum menjawab, ”Karena dekat saja sudah cukup.”

Sinta lebih merapatkan tubuhnya ke Jati. Lelaki itu membuat pelukan yang lebih erat. Lebih hangat. Mereka kembali terdiam lama. Dan seperti ini lebih dari cukup.

”Aku bulan depan ke Rinjani. Kamu jadi mau ikut?”

Sinta mengangguk.

*

Lagu Superman Is Dead, Jika Kami Bersama, terdengar dari handphone Jati.

Di layar, tertulis siapa si penelpon: Anak Kecil

Sinta.

”Halo, Jati? Kamu bener, Jat. Diko cuma butuh waktu. Ha ha ha. Dia barusan nelpon aku. Katanya minggu depan mau ke Surabaya. Terus ngajakin skalian lanjut ke Rinjani. Ha ha ha. Pas banget yah? Kayaknya aku ke Rinjani-nya minggu depan sama dia. Aku mau bolos kuliah aja. Kamu nggak apa-apa kan Jat? Ha ha ha.”

”Ha ha ha. Oh ya? Bagus lah. Aku nanti pergi sama anak-anak kok. Kamu duluan aja.”

”Makasih Jati… Doain yang ini sukses yah!”

Sambungan tanpa kabel itu ditutup.

Karena dekat saja sudah cukup.



ditulis oleh @azizhasibuan


*) Sempu adalah nama pulau kawasan cagar alam di selatan Malang. Untuk mencapainya harus dengan menggunakan perahu nelayan dari Pantai Sendang Biru. Sempu menyimpan Danau Segara Anakan yang luar biasa cantik.

Gambar dalam posting-an ini adalah Gunung Rinjani, diunduh dari walkaboutindonesia.com

Friday, May 28, 2010

Harga yang Tidak Bisa Dibayar…

Hari ini, saya baru tiba kembali di Surabaya. Setelah sejak hari Minggu lalu ke Jakarta dan lanjut ke Medan untuk bussines trip. Di Jakarta, saya sempat bertemu dengan seorang teman. Makan dim sum di Pecenongan sambil ngobrol banyak sekali.

Teman saya itu pernah kerja di sebuah tempat yang membolehkan karyawannya datang ke kantor dengan celana jins dan sepatu keds. Sebuah tempat kerja yang isinya teman-teman seumuran, sehingga bisa ketawa-ketawa kanan kiri semau-maunya.

Once, teman saya itu merasa ingin kembali ke hakikatnya sebagai pekerja rapi. Datang ke kantor dengan seragam.

Lalu, dia memutuskan, ”Oke saya resign.”

Waktu resign, dia membuat sebuah farewell. Biasalah, biar kelihatan dramatis. Hehehe. Di situ, dia sempat speech sebentar. ”Kalau ada hal yang bakal saya kangenin dari kantor ini adalah saat berangkat ke kantor tapi nggak kayak ngantor.”

Dua minggu setelah teman saya mulai kerja di kantor barunya, dia mengajukan surat resign. Satu minggu kemudian, dia resmi keluar. Satu minggu berikutnya lagi, dia kembali ke kantor yang lama. Dianggap kantor lama sebagai Leave without Payment.

Ada harga yang tidak bisa dibayar dari sebuah kenyamanan...


Fotografer senior Jawa Pos Yuyung Abdi sedang mengarahkan gaya pemain Muba Hangtuah Max Yanto untuk proses pembuatan iklan cetak NBL Indonesia


Ketika di Jakarta lalu, ada dua acara yang sedang diadakan kantor saya. Salah satunya adalah launching liga basket profesional, National Basketball League (NBL) Indonesia. Di kantor, persiapan launching ini seperti persiapan hajatan orang mau nikah. Semua repot seperti hendak menyatukan dua keluarga.

Salah satu tugas kecil saya di launching itu adalah memikirkan kata-kata. Iya. Memikirkan kata-kata. Awalnya, saya diminta membuat kata-kata untuk ditaruh di invitation. Lalu, selain membuat kata-kata yang intinya mengundang tamu untuk datang, di bagian luar undangan saya iseng-iseng mengidekan untuk ditambahi kata-kata ini:

”New Season, New Hope, for Indonesia”

For Indonesia adalah tagline NBL Indonesia yang dibuat bos saya.

Lalu, dari undangan itu, kata-kata tadi akhirnya kami jadikan tema untuk launching. Marteri promosi backdrop dan lainnya menggunakan kata-kata itu. Materi video yang diputar saat launching, menunjukkan New Season, New Hope, for Indonesia. Tim video production kami kemudian mengemas sebuah paket tontonan yang luar biasa. Saya sedikit membantu membuat beberapa kata-kata untuk script di video, juga menemani ketika proses produksinya. Lalu, voila, jadilah video yang bisa Anda lihat di sini.

Ketika video itu kami putar di acara launching, banyak yang senang. Semoga semua senang. WNBA Legend Sue Wicks, dalam speech-nya di depan semua undangan, mengaku merinding melihat video tadi. NBA Legend Sam Perkins menyebut kualitas video itu sudah mirip dengan yang biasa ada di NBA.

Ketika acara selesai dan hendak pulang, banyak yang membicarakan tentang harapan-harapan barunya tentang basket di Indonesia. New hope.

Saya memang hanya bagian kecil dari jalannya acara kemarin, tapi… ada nilai yang tidak bisa dihitung ketika hasil kerja kita dihargai dengan cara menyenangkan.


Ditulis untuk orang-orang yang menganggap bekerja adalah dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore dan tanggal merah berarti libur. Serta orang-orang yang menanyai saya, ”Sampai kapan kamu mau kerja begitu?” seolah saya sedang melacur atau seolah saya digaji di bawah UMR. :p

Kalian nggak sepenuhnya salah, tapi kadang ada harga yang tidak bisa dibayar…

Thursday, May 20, 2010

Generation

Hi, I'm Neil (Pulau Rondo Ferry)

Ice Man (Simpang Lima)

With My Daddy (Tiananmen Park)

No One Can Stop Me (Ulle Lheue Harbor)

How Cool is Mr. Spoon? (Marche, Plaza Senayan)

Holding Hands (Tiananmen Park)


Click picture to enlarge size

Sunday, May 16, 2010

Kemampuan Menunda Kesenangan


Saya following seorang teman dengan nama @citraernest di twitter. Citra biasa dipanggil Cece. Cantik. Pintar. Jagoan dandan. Salah satu mantan penulis terbaik yang pernah bekerja sama dengan saya. Diidami banyak laki-laki. (May I add sexy?)

Dari beberapa update statusnya di twitter pada 23 April, ada satu yang bikin saya berpikir. Begini kata Cece..

Salah satu ciri orang bakat kaya adalah kemampuannya untuk menunda kesenangan..”

Mari membuat highlight di bagian “kemampuan menunda kesenangan”

*

Orang yang pernah kenal saya dengan baik, mungkin sudah pernah tahu bagaimana saya biasa bekerja. Saya tidak bilang, saya workaholic, pekerja keras, atau sejenisnya. Karena memang saya sama sekali belum sampai tahap itu. Tapi, gaya bekerja di kantor saya memang tidak biasa dibanding kebanyakan kantor.

Saat kalender diwarnai oleh kesepakatan publik dengan warna merah, yang berarti waktunya libur, belum tentu saya bisa ikut sepakat. Berbagai kebutuhan di kantor membuat saya harus masuk bekerja. Lalu, digantikan dengan libur di tanggal tidak merah.

Atau, ketika yang lain bekerja dengan istilah nine-to-five, saya kadang harus bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Lalu, digantikan dengan bisa masuk lebih siang di keesokan harinya.

Di kantor, saya merasa termasuk salah satu orang yang punya skill menunda kesenangan paling buruk. Kata seorang manager, saya ini image-nya have fun. Teman sekantor lain, bisa bekerja dengan jauh lebih gila. Saya tidak ada apa-apanya. Dengan kemampuan saya yang rendah itu, saya pernah curhat dengan seorang senior di kantor. Bahwa saya kadang ingin merasakan bekerja dengan jadwal normal. Yang selalu kenal istilah long weekend, yang sudah pasti bisa mengikuti jadwal undangan minum kopi dengan teman di jam 7 malam.

Lalu, senior saya itu bertanya balik, ”Memang apa sih arti kerja normal?”

Saya tidak menjawab.

Teman saya yang masih jadi dokter muda harus rela juga tengah malam menahan ngantuk di UGD, teman saya yang seorang manager store juga harus rela pulang jam 3 pagi karena mengawasi staff menata barang-barang baru, calon suami kakak saya yang kerja di off-shore juga harus rela tidak pulang ke rumah selama dua minggu setiap bulan. Lalu, apa itu juga kerja tidak normal?

Sepertinya, ini hanya masalah pemahaman tentang sebuah pekerjaan yang tidak biasa, bukan pekerjaan tidak normal. Dan pekerjaan yang tidak biasa itu normal-normal saja.

*

Hey, saya kemudian melihat ada satu kata yang punya arti cukup positif di update twitter Cece. Yaitu, kata MENUNDA. Jadi, ini bukan berarti kita tidak akan bersenang-senang. Tapi, sedang ditunda saja. Suatu saat, ketika waktunya datang, saya yakin kesenangan itu bisa hadir dengan lebih indah. Semoga.

Saya sekarang pun sedang belajar menahan diri mengenai satu hal. Sulit, butuh usaha superkeras. Tapi, semoga usaha saya ini juga bagian dari MENUNDA kesenangan. Everything will be okay in the end. If It is not okay, it is not the end.


Gambar di posting kali ini diambil dari greenvilledailyphoto

Saturday, May 15, 2010

Church

Gereja Mblenduk the Dome (GPIB Immanuel)

Two Towers (GPIB Immanuel)

Hiding Steeple (St Andrew's Cathedral)

The Nave (St Andrew's Cathedral)



(klik gambar untuk melihatnya dalam size yang lebih besar)

Thursday, May 13, 2010

China Town (Jalan-Jalan)

a prayer

vairocana

living legend

mixing

smiling buddha

afternoon beer


(klik gambar untuk melihatnya dalam size yang lebih besar)

Wednesday, May 05, 2010

Apa Kita Punya Limit? (Percikan)


Saya adalah orang yang jatuh cinta mati-matian pada surprise. Saya sangat senang mendapat kejutan menyenangkan. Juga senang sekali memberi surprise ke diri sendiri. Tahu-tahu saya merayakan ulang tahun (tahun lalu sih) di Bali, tahu-tahu saya pesan tiket untuk pergi ke sebuah kota keesokan hari. Yang sederhana-sederhana seperti itu, tapi spontan saja.

Saya punya saudara yang tinggal di Jakarta. Dia pernah request, kalau sewaktu-waktu saya punya ide nyeleneh untuk pergi ke tempat antah berantah, saya diminta untuk menghubungi dia.

Tadi siang, saya punya ide ini: Menghabiskan weekend di Meru Betiri. Tapi, kayaknya sulit terwujud karena berbagai macam alasan yang nggak perlu saya sebutkan di sini.

Waktu saya ajak kesana lewat jendela Yahoo Messenger!, saudara saya cuma menjawab begini. ”Aku meeting dulu.”

Lalu tadi, sekitar jam 21.30, dia menyapa saya kembali. Dia bilang, sedang tidak mungkin meninggalkan Jakarta sampai Agustus nanti. Saudara saya itu sedang harus menyiapkan sebuah peluncuran properti baru dari grup kantornya. Katanya, ”Udah kayak orang gila, sampe sleeping disorder.”

Saudara saya ini adalah seorang Residence Manager dari sebuah grup perusahaan properti. Perusahaan ini akan meluncurkan sebuah apartemen dan hotel baru di Jakarta. Saudara saya itu diminta menjadi Pre-Opening Champion (Begitu istilah di perusahaannya untuk orang yang menyiapkan SEMUA hal sebelum properti diluncurkan. Mulai menyiapkan pekerja, berbagai sistemnya, dan SEMUA yang lain. Istilah jabatannya keren. Dan biasanya kerjaan dengan istilah-istilah keren, punya tanggung jawab yang amit-amit. Ha ha ha.)

Lalu, dia curcol, bilang bahwa belum pernah mendapatkan beban seberat ini sepanjang hidupnya. Seolah dia sedang berada di ujung sebuah garis batas yang tidak akan bisa dilalui.

Saya jawab curhatnya dengan ini: Masak mau lulus S3 dikasih ujian anak SMA?




Gimana yah rasanya jadi Sri Mulyani?




Foto dalam posting-an ini adalah foto penyu-penyu di penangkaran yang ada di Taman Nasional Meru Betiri (sekitaran Jember-Banyuwangi). Salah satu alasan kenapa saya ingin ke sana. :) Foto diunduh setelah googling.