Thursday, May 14, 2009

Cara Senang-Senang


”Saya pernah menjadi sangat sedih karena tidak bisa membeli sepatu baru. Tapi, saya berhenti bersedih begitu melihat dia yang tidak punya kaki.” –unknown-

Saya yakin semua orang punya cara masing-masing buat menyenangkan diri. Ini penting. Soalnya, kalau sudah nggak nemu cara menyenangkan diri, bisa stres! Di salah satu artikel yang ditulis oleh koran tempat saya bekerja, seorang psikiater bilang, stres mendalam normalnya terjadi maksimal tiga hari. Lebih dari itu, udah bisa dibilang gangguan jiwa berkelas depresi.

Ini fungsi menyenangkan diri. Biar jangan sampai depresi. (Ngegetok meja kayu. Amit-amit!)

Di artikel di koran saya itu juga ditulis, pengalaman seorang mahasiswi di Jakarta. Si mahasiswi ini kuliah di kampus bonafid. Anak-anaknya elite. Teman-temannya punya tumpukan duit selangit. Teman-teman si mahasiswi ini punya cara sendiri untuk senang-senang: Beli tas yang harga per bijinya puluhan juta (dan sebulan minimal beli satu!), belanja ke luar negeri, pakai mobil BMW seri terbaru, dan lain-lain.

Si mahasiswi minder. Soalnya, dia nggak bisa ngikutin gaya senang-senang teman-temannya. Dia “Cuma” bisa berangkat ke kampus dengan mobil Daihatsu Taruna, dia “Cuma” bisa sesekali beli tas yang harganya jutaan, dan saat minta BMW seri 7, orang tuanya mengaku nggak sanggup.

Si mahasiswi jadi depresi. Ngurung diri di kamar. Nangis berhari-hari. Nggak mau kuliah.

Saya pernah beranggapan bahwa cerita macam begini hanya ada di sinetron. But, it happens. Ntah karena memang sudah ada dari dulu, atau adanya ya gara-gara sinetron. *winks*

Mahasiswi itu kena gangguan psikologis.

Saya juga punya teman yang rasanya punya gangguan psikologis. Satu strip di bawah gila, mungkin. Nama teman saya itu Mahesa. Dia termasuk tim artisitik di koran tempat saya bekerja. Punya kemampuan grafis dan imajinasi tingkat atas.

Mengapa saya sebut dia gila? Bayangin aja, dia pernah mengirimi saya chat lewat YM dengan kata “Woiks”. Lalu, saya yang mengira itu sapaan, menjawab dengan ”Opo?” (Bahasa Jawa: Apa?). Kemudian Mahesa kira-kira menjawab begini, ”Salah! Ini password. Kalo aku bilang woiks, kamu harus jawab swoik. Jadi, kalau YM kita lagi dibajak, kita nggak sampai ketipu.”

Edan. Anaknya memang edan. Tapi, juga sering mengajarkan banyak hal. Salah satunya, mengajarkan senang-senang dengan cara yang berbeda.

Mahesa pernah bercerita ke saya, bahwa kala itu dia sedang sangat senang. Dia menjelaskan dengan frase. “Nuikmmaaattt pokoke.” Karena pengen tahu, saya tanya kenapa.

Gara-gara bisa beli tas puluhan juta? Bisa ikut jumpa fans Miyabi? Dapat hadiah BMW Seri 7?

Bukan! Dia senang, karena paginya, setelah pulang dari kantor subuh-subuh (dia memang kalau kerja sampai pagi), Mahesa sempat makan nasi cumi di warteg pinggir sungai langganannya, lalu sesampai di kos-kosan yang mungil, dia bisa tidur, dan siangnya dia sempat makan kebab Turki di pinggir jalan sebelum berangkat ke kantor. Itulah yang dia sebut dengan ”Uripko dino iki nuuuuikmat pokoke.” (Hidupku hari ini, pokoknya Nikmat).

Saya agak kaget mendengar itu. Mudah sekali untuk bisa membuat seorang Mahesa senang.

Selain kaget, saya juga merasa seperti mendapat smash. Selama ini, saya seperti tidak pernah berhenti mengeluh karena merasa diri saya sangat jarang merasakan bersenang-senang. Dari ucapan Mahesa itu, saya jadi sadar, bahwa senang-senang itu tergantung mind set.

Kenapa tidak menganggap saja setiap aktivitas yang kita lalui adalah bagian dari senang-senang?

Semoga manjur menghilangkan stres.

7 comments:

untoarab said...

Agak susah juga ya kayanya kalo kita ingin membuat smua aktivitas kita ni adalah bagian bersenang2...kalo kalo kegiatannya berbau sesuatu yang menarik sih oke, tp kalo sebaliknya? Susah juga yah!!! Tapi bener juga tiap orang punya takaran tersendiri utk yang namanya nyenengin dirinya..dan ga sedikit juga yang seperti mahesa...sementara yang laen bisanya cuma mengeluh krn ga bs senang2(seperti penulis bilang)-dan kalau boleh dianalisa,itu kayanya akibat kita kurang bersyukur atas apa yg telah kita peroleh (saya juga salah satu contoh makhluk yang kurang mensyukuri nikmat pemberianNYA)...PR kita smua adalah mencari tau,apa yg bisa membuat kita merasa bersenang2 versi kita masing2....

PS : iki koment opo koment...mbulet ae rek

Budhi Sanjaya said...

kenikmatan orang2 memang berbeda.

saya juga pernah merasa tertampar, waktu itu sore hari, saya baru selesai meeting dan kepala penuh dengan segala kemumetan dan kekesalan dari hasil meeting tersebut.

tapi di jalan begitu saya keluar dari tempat meeting, ada seorang bapak sedang duduk di pinggir jalan, dan bercanda dengan anak perempuan nya yang sepertinya sekitar 4 - 5 tahun. Anak perempuan tersebut duduk dalam gerobak. Sepertinya bapak itu seperti pemulung. Anak itu sedang minum coca cola dari plastik dan tampak begitu senang dengan minuman itu, sementara sang bapak melihat dengan wajah yang puas dan bahagia. begitu simple nya kebahagiaan mereka. bapak dan anak perempuannya, mereka ada dalam dunia mereka sendiri.

saya menjadi malu, karena saat itu saya duduk nyaman dalam mobil ber ac, duduk di belakang supir, ditemani musik dan .... masih juga berkeluh hati karena segala macam masalah dalam hidup ....

pada akhirnya, senang atau tidak ada masalah cara pandang kita, mau lihat dari atas, bawah? kanan, kiri? depan, belakang? indah, buruk? mudah, sulit?

tika said...

Two thumbs up for happy by mind set.. Now on, I'm totally happy by meet my notebook and phone to have a skype, messenger, and facebook. Have a chit chat with my beloved friends and family such a bunch of happiness to me. I was never realize that meet my family and friends was a great moment, but I do miss them so...
Sometimes when everything that we have now is feel so crappy but we still gonna miss those bad if we are not in touch with it anymore..

aziz said...

@ untoarab: hakakakakaka. jawabanmu seriuse pak... Efek tinggal di pedalaman yah? Mengabdi untuk kesehatan masyarakat. Aku punya ide! Gimana kalo kamu belajar berburu dan meramu sama hidup di dalam gua. siapa tau itu bisa jadi bagian activity yang bikin kamu senang. :))

@ bang budhi

ayo nulis lebih panjang dan banyak! Hahahaha

@ My dearest Tika

Glad to know that you are happy there. It was three months ago when you left Surabaya for Melb. Wish everything will always be okay with you, ka. Can't hardly wait for October dear...

And keep do the :) treatmant. it works so far, does't it.

tika said...

Can't wait for Oct too.. for seeing the 2nd ipho's junior and enjoying the day in Giant hihi..

the :) works! at least to start lookin for a topic with you dear.. :)

Anonymous said...

wah..bagus banget mas aziz, aku di kasih tau blog ini sama aul..

hem, kapan hari aku disuruh analisi film : Pursuit of happiness..

tiap orang punya cara masing-masing untuk bersenang-senang..

tapi harus ada kesenangan lain yang kudu dikejar..hapiness, kebahagiaan..

selamanya kita nggak akan memiliki happines yang mapan..

begitu mendapatkannya, dia bakal pergi lagi...dan kita kudu selalu dan selalu mengejarnya (pursuit)

karena saat ga ada yang di kejar lagi..yang aku yakini, kita bakal stress juga..

hampa

hehehe..bener ga seh..
(puz)

aziz said...

@ Tika: Yes, I can't hardly wait for October either. I just wanna say to anyone to wake me up when September end.

& Puz: absolutely! Dan jadikan aja pursuit of happiness itu sebagai bagian dari senang-senang. Kita kan butuh sesuatu yang harus dikejar. Kalau nggak, like what you say: empty.