Saturday, May 30, 2009

Bekerja dengan Pleasure


Kakak saya yang tinggal di Kendari kemarin pagi menelepon. Dia mau minta tolong dibelikan beberapa hadiah ulang tahun. Kakak ipar saya -suaminya- ulang tahun 1 Juni nanti.


Saya kemudian cerita kalau memang belum sempat sama sekali buat jalan ke mal untuk membelikan apa saja yang dia minta. Saya bercerita tentang waktu saya yang sedang banyak-banyaknya habis di kantor.


Kakak saya kemudian mengingatkan tentang ini dan itu. Dari obrolan singkat itu, saya mendengar ada nada khawatir.


Beberapa tahun yang lalu, ketika saya mulai iseng bekerja di DetEksi Jawa Pos, seorang teman pernah bilang, "Buat apa kamu kerja di sana? Aku bisa dapat (duit) lebih banyak dari bikin event sendiri."


Ketika ditanya begitu, saya menjawab bahwa pengalaman yang saya dapat adalah yang saya kejar. Tapi, saya tahu, ada alasan lain yang tidak saya ucapkan, karena saya tidak tahu apa alasan lain itu.


-


Beberapa tahun kemudian saya bisa menjawabnya.

Salah satu yang bisa menjelaskan alasan itu adalah kejadian ini:


Beberapa waktu lalu, kami membuat sebuah technical meeting untuk peserta NBA Madness. TM ini kami buat untuk menjelaskan berbagai kompetisi baru bikinan NBA yang kemungkinan besar belum dikenal orang kita.


Acara TM itu baru dimulai sekitar pukul 12 siang di DBL Arena. Tapi, sejak masih pagi, ada satu anak yang sudah datang. Namanya, Calvin. Umurnya 12 tahun. Ketika ditanya, dia peserta kompetisi apa, Calvin menggeleng. Dia bilang, dia belum terdaftar jadi peserta. Dia datang hanya karena ingin tahu seperti apa event yang sedang kami kerjakan. 


Kami pun merencanakan untuk mengajak Calvin bermain Speed Challenge. Walau dia bukan peserta, kami ingin menyenangkan anak ini agar bisa minimal mencoba.


Calvin girang sekali. Setelah selesai simulasi di lapangan, dia langsung lari secepatnya ke ruang kantor kami di lantai bawah. Ke salah seorang staf, dia dengan antusias bilang. "Aku mau daftar speed challenge! Aku mau daftar speed challenge!"


Calvin tidak paham bahwa pendaftaran untuk kompetisi-kompetisi itu sudah kami tutup berhari-hari lalu karena peserta yang membludak. Yang Calvin tahu, dia hanya ingin ikut speed challenge. Kami pun mencatat namanya, agar dia merasa tenang, merasa bahwa dirinya sudah terdaftar. Nanti ketika acara sudah berlangsung, kami akan menelepon dia dan mengajaknya ikut games on-the-spot (spontan). Yang penting, dia bisa merasakan kompetisinya.


Orang seperti Calvin inilah yang kadang membuat lelah kami dikompres. Antusiasmenya untuk bisa menikmati event yang kami garap membuat kami bisa mengumpulkan semangat yang lain. Mungkin dia tidak merasa sedang menghargai kami dengan sikap antusiasnya itu. Tapi, kami merasa sangat dihargai.


Inilah jawaban kenapa pekerjaan ini kadang begitu menyenangkan: Kami bekerja dengan pleasure.


-


Saya sendiri tidak pernah tahu, apakah bekerja dengan pleasure akan selamanya bisa dipertahankan. Saya hanya pernah dengar salah seorang bos (the biggest one, yang sangat kharismatik itu), bilang, "Kalau bekerja karena senang, nanti uang akan ikut di belakang."


Saya tidak bilang saya pasti akan selamanya di sini. Belum tentu juga.


Saya juga tidak bilang, saya punya rencana besar untuk meninggalkan tempat ini lalu bekerja di tempat lain yang menawarkan A dan B lebih tinggi. Belum tentu juga.


Yang saya tahu, saya sekarang sedang menikmati saja alur ini. Tidak tahu sampai kapan. Apakah alurnya akan berakhir atau akan terus berlanjut di rel yang ini.





Foto di atas adalah Calvin yang sedang mencoba Speed Challenge. Foto diambil oleh Boy Slamet, salah satu fotografer andalan Jawa Pos.

Thursday, May 14, 2009

Cara Senang-Senang


”Saya pernah menjadi sangat sedih karena tidak bisa membeli sepatu baru. Tapi, saya berhenti bersedih begitu melihat dia yang tidak punya kaki.” –unknown-

Saya yakin semua orang punya cara masing-masing buat menyenangkan diri. Ini penting. Soalnya, kalau sudah nggak nemu cara menyenangkan diri, bisa stres! Di salah satu artikel yang ditulis oleh koran tempat saya bekerja, seorang psikiater bilang, stres mendalam normalnya terjadi maksimal tiga hari. Lebih dari itu, udah bisa dibilang gangguan jiwa berkelas depresi.

Ini fungsi menyenangkan diri. Biar jangan sampai depresi. (Ngegetok meja kayu. Amit-amit!)

Di artikel di koran saya itu juga ditulis, pengalaman seorang mahasiswi di Jakarta. Si mahasiswi ini kuliah di kampus bonafid. Anak-anaknya elite. Teman-temannya punya tumpukan duit selangit. Teman-teman si mahasiswi ini punya cara sendiri untuk senang-senang: Beli tas yang harga per bijinya puluhan juta (dan sebulan minimal beli satu!), belanja ke luar negeri, pakai mobil BMW seri terbaru, dan lain-lain.

Si mahasiswi minder. Soalnya, dia nggak bisa ngikutin gaya senang-senang teman-temannya. Dia “Cuma” bisa berangkat ke kampus dengan mobil Daihatsu Taruna, dia “Cuma” bisa sesekali beli tas yang harganya jutaan, dan saat minta BMW seri 7, orang tuanya mengaku nggak sanggup.

Si mahasiswi jadi depresi. Ngurung diri di kamar. Nangis berhari-hari. Nggak mau kuliah.

Saya pernah beranggapan bahwa cerita macam begini hanya ada di sinetron. But, it happens. Ntah karena memang sudah ada dari dulu, atau adanya ya gara-gara sinetron. *winks*

Mahasiswi itu kena gangguan psikologis.

Saya juga punya teman yang rasanya punya gangguan psikologis. Satu strip di bawah gila, mungkin. Nama teman saya itu Mahesa. Dia termasuk tim artisitik di koran tempat saya bekerja. Punya kemampuan grafis dan imajinasi tingkat atas.

Mengapa saya sebut dia gila? Bayangin aja, dia pernah mengirimi saya chat lewat YM dengan kata “Woiks”. Lalu, saya yang mengira itu sapaan, menjawab dengan ”Opo?” (Bahasa Jawa: Apa?). Kemudian Mahesa kira-kira menjawab begini, ”Salah! Ini password. Kalo aku bilang woiks, kamu harus jawab swoik. Jadi, kalau YM kita lagi dibajak, kita nggak sampai ketipu.”

Edan. Anaknya memang edan. Tapi, juga sering mengajarkan banyak hal. Salah satunya, mengajarkan senang-senang dengan cara yang berbeda.

Mahesa pernah bercerita ke saya, bahwa kala itu dia sedang sangat senang. Dia menjelaskan dengan frase. “Nuikmmaaattt pokoke.” Karena pengen tahu, saya tanya kenapa.

Gara-gara bisa beli tas puluhan juta? Bisa ikut jumpa fans Miyabi? Dapat hadiah BMW Seri 7?

Bukan! Dia senang, karena paginya, setelah pulang dari kantor subuh-subuh (dia memang kalau kerja sampai pagi), Mahesa sempat makan nasi cumi di warteg pinggir sungai langganannya, lalu sesampai di kos-kosan yang mungil, dia bisa tidur, dan siangnya dia sempat makan kebab Turki di pinggir jalan sebelum berangkat ke kantor. Itulah yang dia sebut dengan ”Uripko dino iki nuuuuikmat pokoke.” (Hidupku hari ini, pokoknya Nikmat).

Saya agak kaget mendengar itu. Mudah sekali untuk bisa membuat seorang Mahesa senang.

Selain kaget, saya juga merasa seperti mendapat smash. Selama ini, saya seperti tidak pernah berhenti mengeluh karena merasa diri saya sangat jarang merasakan bersenang-senang. Dari ucapan Mahesa itu, saya jadi sadar, bahwa senang-senang itu tergantung mind set.

Kenapa tidak menganggap saja setiap aktivitas yang kita lalui adalah bagian dari senang-senang?

Semoga manjur menghilangkan stres.