Tuesday, March 18, 2008

Jalan-Jalan ke Kantor Polisi



Saya baru saja balik dari kantor polisi siang ini. Di sana, saya mengurus beberapa berkas. Dan, ini adalah kali pertama saya punya urursan di kantor polisi, selain untuk mengurus SIM atau STNK.

Di sini, saya bukan mau cerita tentang tujuan saya ke kantor polisi. Tapi, tentang bapak-petugas-entah-siapa-namanya yang membantu saya.

Jadi, setelah saya mengumpulkan berbagai berkas mulai fotokopi KTP, KSK, dan lain-lain, si bapak menjelaskan bahwa semuanya sudah lengkap. Dia juga meminta saya untuk kembali keesokan harinya. Lalu, saat saya mau berpamit, si bapak bilang, ”Administrasinya diselesaikan sekarang saja, Mas!”

Saya paham, maksudnya adalah duit. Saya pun bertanya ke si bapak, berapa ongkos yang dipatok pihak kepolisian untuk semua urusan itu.

Dan, yang bikin kaget, si bapak-petugas-entah-siapa-namanya itu menjawab, ”Terserah!”

Wah… ndak beres ini. Tapi, saya malas kalau berlama-lama dengan masalah begini. Saya pun melihat dompet, memeriksa lembaran uang bernominal terkecil. ”Lima ribu nggak masalah Pak?” tanya saya setelah menemukan uang bergambar Tuanku Imam Bondjol itu.

Si bapak langsung mengangguk cepat.

Setelah itu, saya langsung pamit, sambil geleng-geleng kepala. Berdoa, semoga saya ndak pernah jadi yang seperti itu…. Hufff…

Saya langsung teringat pada seorang Polantas di kawasan Arief Rahman Hakim. Kala itu, saya melanggar traffic light yang menyala merah. Si polisi langsung menyemprit saya. Tanpa basa-basi, dia meminta SIM dan STNK saya, lalu menuliskan ini dan itu di selembar surat. Surat itu diberikan ke saya bersama STNK. Saya ditilang dan harus mengurusnya ke pengadilan. Dia nggak minta sogokan dan lainnya. Beda banget sama yang saya temui siang tadi.

Diam-diam, saya memuji bapak polisi yang menilang saya itu. Kalau lebih banyak lagi petugas seperti ini, pasti bakalan membawa banyak perubahan. Misalnya, perubahan yang saya alami. Bukan, bukan berarti saya lebih menaati aturan. Tapi, kalau mau melanggar, jadi lebih teliti. Melihat ke kanan dan kiri, memastikan tak ada polisi, sebelum akhirnya menerabas aturan. He he he.





-i will always try to love my day-

Saturday, March 01, 2008

Serendipity!

Foto ini diambil dari salah satu scene di film Serendipity (2001). One of my favorite movie.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu suka menerbangkan harapan terlalu tinggi. Memilih mengerjakan banyak hal dengan orientasi nothing to lose. Mungkin, bagi sebagian orang, saya dianggap sebagai ”golongan lemah.” Dianggap tidak punya semangat mencapai impian.

Yah… mungkin saja…

Tapi, saya tetap berusaha kok. Tetap juga menerbangkan layang-layang harapan saya. Hanya saja, saya biarkan dia terbang tidak tinggi-tinggi amat. Biar kalau jatuh, tidak sakit-sakit amat.

Begitulah saya menjalani kebanyakan hari-hari. Maka ketika saya gagal, hati saya menangis tak terlalu kencang. Saya pun masih bisa menahan diri, agar tangis di hati itu tak sampai menjalar ke mata. Ha ha ha.

Kalaupun suatu saat layang-layang angan itu putus, ada satu cara manjur mengatasi kesedihan tersebut. Saya akan berusaha keras mencari-cari keuntungan dari layang-layang putus itu. Akhirnya, saya bisa mendapati keuntungan bahwa saya memang sedang butuh beristirahat, agar kulit tak gosong karena sering main layang-layang. Bisa juga berarti saya harus mencari senar yang lebih kuat untuk bermain layang-layang lagi. Bisa juga berarti, saya akan mendapat layang-layang baru, yang siapa tahu lebih kokoh dan cantik ketika diterbangkan.

Iya, mendapatkan sebuah layang-layang baru. Sekarang ini, saya sedang mencoba menerbangkan layang-layang angan yang baru. Tapi, yang ini belum terlalu tinggi. Masih belum setinggi layang-layang sebelumnya. Eh, meski begitu, cukup membuat dada saya serasa diseruduk-seruduk banteng. Ha ha ha. Saya berharap, ini bisa jadi sebuah Serendipity. *senyum manis*


Terima kasih telah menelepon saya berjam-jam, dini hari tadi.

(Menulis sembari diiringi suara mas Buble dalam Quando, Quando. Tssaaahhhh!)




-I will always try to love my day-