Monday, February 18, 2008

Under Pressure


Dua kata yang menjadi judul postingan ini sering sekali saya baca di syarat-syarat untuk melamar pekerjaan. Siap untuk bekerja di bawah tekanan. Begitu arti harfiah yang diungkapkan dua kata tersebut.

Begitu pendek dua kata itu ketika menjadi sebuah frase. Under pressure. Jauh lebih panjang nama sahabat saya di SD dulu. Fauzan Widhara Eko Prasetyo Mangkusari. Saya masih ingat betul nama itu karena berulang kali pernah bertengkar dengan dia. He he he.


Namun, pendek frasenya, tidak begitu dengan kenyataannya. Menjadi orang yang siap untuk selalu di bawah tekanan ternyata sangat-sangat tidak mudah. Khususnya, dalam hal pekerjaan. Butuh pembelajaran yang panjang, dan lebih panjang daripada nama sahabat saya itu.

Ketika saya kali pertama diajak untuk bekerja di DetEksi Jawa Pos, maka yang ada di benak saya adalah bertemu dengan orang-orang seumuran, bisa belajar menulis, dan internetan gratis sepuasnya.

Setahun pertama, saya melaluinya dengan cara begitu. Walau seharusnya tidak ke kantor, setiap hari saya datang. Walau harusnya saya libur, tapi saya tidak mengambil libur. Ketika sebagian teman-teman saya pulang, saya memilih menginap. Semua saya lakukan dengan senang karena memang nggak punya beban. Waktu itu, umur saya 18 tahun.

Sekarang, voila!

Hidup memang nggak akan pernah jadi sama. Banyak hal ternyata lebih complicated dari pemikiran anak 18 tahun yang baru saja lulus SMA. Saya harus menemui masalah demi masalah. Menyelesaikannya satu demi satu, atau kadang secara bersamaan.

Bukan, hal ini tentu bukan hanya saya yang mengalami. Tapi, juga dialami oleh orang lain. Mungkin, juga kamu! Dengan pekerjaan apapun!

Beberapa teman saya juga mengalaminya. Sebagian akhirnya memilih untuk mencari jalan yang lebih ringan, sebagian lagi dengan kokohnya terus berdiri di tengah gerusan tekanan pekerjaan. Tidak ada yang lebih buruk daripada yang lain. Tapi, saya percaya, sangat percaya, mereka yang kokoh berdiri itu memang bukan orang biasa. Mereka yang benar-benar bisa memenuhi syarat lowongan”under pressure” itu adalah orang yang kuat.

Pernah saya berbincang dengan seorang teman yang bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi. Dia bercerita tentang bos barunya yang galak dan jahat. Pemikiran-pemikiran si bos yang aneh, hingga membuat lima orang karyawan mengundurkan diri pada bulan pertama si bos bekerja. Lalu, terus bertambah di minggu-minggu berikutnya. Hingga akhirnya, teman saya itu juga sedang mengalami keinginan yang sama. Namun, sampai sekarang masih bertahan. Bukan karena dia betah. Tapi, karena dia menunggu pekerjaan lain menghampiri.

DetEksi mengajarkan saya begitu banyak hal. Termasuk, mengenai tekanan pekerjaan tadi. Saya merasa sangat beruntung bisa merasakannya sekarang. Bukan setelah saya menuntaskan program S1. Karena mungkin di saat itu, sudah agak terlambat. Dan, saya juga beruntung karena tekanan pekerjaan yang saya dapat, ternyata adalah tekanan yang ”baik”. Bukannya tekanan licik, seperti cerita teman saya yang bekerja di bidang telekomunikasi itu.

Lalu, apa saya sudah termasuk orang yang memenuhi kategori under pressure? Belum tentu! Masih terlalu dini untuk menilai. Bahkan, orang paling kuat soal under pressure yang pernah saya tahu bilang, ”Mungkin orang lain mengira hidup saya senang. Saya memang bisa membeli hal-hal yang membuat saya senang. Tapi, apa itu berarti saya selalu senang? Belum tentu!”

Kalimat ini membuat saya sadar bahwa siap untuk under pressure bukan hanya syarat dalam lowongan pekerjaan. Pressure adalah warna dari hidup. Ke mana pun saya pergi, tekanan akan selalu datang. Jadi, jangan menghindar, tapi hadapi. Entah sampai kapan saya akan kuat menghadapi.

Kemudian untuk apa saya membuat postingan ini?

Jawabannya adalah kamu. Kamu juga menjadi bagian dari warna hidup saya. Pressure yang dibuat dari masalah-masalah pertemanan unik yang kita lalui membuat saya jadi belajar.

Lalu, apa yang saya pelajari?

Ikhlas. Bahwa ketika saya mengabarimu lewat SMS, bukan berarti saya akan mendapat jawaban secepatnya, atau bahkan tidak mendapat jawaban. Bahwa menyayangi kamu, bukan berarti saya harus dapat rasa yang serupa. Bahwa ketika saya mengatakan ”Mwah” maka saya harus rela mendengarkan jawaban ”Daahhh…” plus tawa renyah. Bahwa saya harus pintar-pintar menjaga harapan. Bahwa ketika kamu semakin sering minta ditelepon, belum tentu berarti kamu mempersilakan saya melangkah lebih maju. Bahwa bila suatu saat nanti, atau dalam waktu dekat ini, kamu memilih untuk benar-benar menjauh, saya sudah harus siap untuk tidak terlalu lama terbuai. Bahwa saya harus sadar, kamu adalah warna… yang tak akan pernah terhapus atau dihapus.

Mungkin, hal itu membuat saya terlihat desperate. Tapi, itu dulu. Saat saya belum belajar. Sekarang, saya sudah belajar. Dan, agak lebih siap untuk apa saja yang akan terjadi. Saya bisa menjaga diri jauh lebih baik dari sebelumnya. Terima kasih sudah menjadi warna dan guru yang baik. Eh, tapi saya masih tetap berharap lho! Walau tetap menjaganya agar tidak berlebih. Ha ha ha.



Ditulis menjelang pukul 2 dini hari , saat hujan turun rintik-rintik, yang membuat orang melankolis jadi lebih mellow, dan yang cuek langsung ingin tidur. (Tapi gagal langsung posting karena Speedy yang eror)

Setelah menuliskan ini semua, sekarang saya ingin tidur.



-I will always try to love my day-

2 comments:

Alief said...

Wah, seperti biasa ziz, tulisanmu masih tetap enak dibaca ya. (kan udah jarang muncul di DetEksi) Para penulis Det yang punya Blog rata-rata tulisannya bagus nyaman dibaca. Sebut saja awan dan putri. Sementara saya, yang baru belajar jadi penulis dan terus berhenti di tengah jalan, masih terus belajar agar tulisan saya lebih enak dibaca :D

Ok, back to the topic. I hereby agree with your post. Life means problem. And problem means pressure. In other word, if you are still a living being called human, pressure will always come to you.

And DetEksi is indeed a great teacher who taught us how to overcome that pressure, especially from you-know-who. Believe me, that lesson is really usefull on this so-called-cruel-world.

By the way, i think this post has 2 targets. The first target is regular reader. But the second target is a special one, am i right? :D

Sorry for using English on your blog, but i'm currently still learning how to be a great English writer (for my Commercial Blog). And it's not easy ^-^" Can you give some lecture for free? Hehehe..

Ok, that's all. Goodluck with your job (and college). Hoping to see you and all the (Ex)Det Crew soon.

awan asmara said...

Sampe mampus juga gak bakal kita bisa lari dari pressure. Pokoknya antara pressure dan gaji kudu imbang aja....he he he