Sunday, April 08, 2007

Intim dengan Kodok



Based on a True Story. Nggak Bohong!

Saya tinggal di daerah yang lumayan jarang penduduk. Yah, memang sih, belum separah daerah transmigrasi yang jarak tiap rumahnya satu kilo. Mmmhh.. buat gambaran, di gang saya yang panjangnya sekitar 200 meter, baru berdiri enam kavling rumah, satu kavling musholla, dan satu kavling pondasi rumah. Oh ya, ada lagi dua kavling yang dimanfaatkan bapak saya buat berkebun, sambil melewati masa pensiun.

Sisanya? Ada lahan kosong berumput. Akibatnya, setiap kali musim hujan datang. Tanah-tanah kosong plus kebun-kebun itu berubah jadi panggung. Panggung buat para kodok menyanyikan lagu-lagu kebangsaannya.

Karena sudah lebih dari sepuluh tahun hidup di rumah ini, saya sih ngerasa biasa-biasa aja. Sudah bisa beradaptasi dengan para kodok yang lagi nyari perhatian itu.
Bahkan, kadang, para kodok itu merasa daerah kosong tadi nggak cukup buat panggung bermain mereka. Karena itu, seringkali, ada beberapa kodok yang nyambangi saya di rumah. Mereka main-main di teras, garasi, dapur, bahkan ruang makan.

Tapi, saya masih biasa aja. Nggak emosi. Kalau ada mereka, ya tinggal saya lompati. Toh, nantinya mereka pasti bakal kembali ke rumah masing-masing. Jadi, buat apa dipikirin? Ya kan?

Nah, yang bikin sebel, ternyata kodok-kodok itu ngelunjak. Mungkin mereka merasa saya sudah terlalu berasahabat. Gara-gara itu, mereka mulai bertindak lebih berani.
Saat itu, sekitar jam 7 malam. Saya sedang membuka kulkas dengan maksud mengambil air minum. Lalu, saya menuangkan air minum dari botol ke gelas. Setelah itu, tentu saja saya minum.

Nah, ketika air-air itu mengalir masuk ke tenggorokan, saya merasakan ada sesuatu yang kenyal di lidah, kenyalnya seperti agar-agar. Tapi, ibu saya belum pernah iseng-iseng mencampurkan agar-agar dalam air putih. Jadi, saya nggak berani menelan agar-agar itu. Air minum pun saya muntahkan… Dan, ternyata saya salah besar. Yang saya lihat berikutnya dari muntahan tadi bukanlah agar-agar, melainkan seekor kodok hidup!
Terima kasih sudah menertawakan





-i will always try to love my day-