Saturday, August 18, 2007

Reaching Stars















Sudah lama nih nggak nulis. Jadi, saya iseng-iseng ngetik aja di lap top. Sambil nginget-nginget apa yang saya alami hari ini.

Yah, hari ini, 17 Agustus 2007, HUT Kemerdekaan RI ke-62. (Saya mengetik ini saat masih pukul 11.24 malam. Nggak tahu lagi kalau waktu posting sudah berubah jadi tanggal 18)

Tapi, buat saya, bukan HUT Kemerdekaan RI yang penting. Yang lebih penting, hari ini kakak saya yang nomor dua ulang tahun.

Makanya, begitu tadi pagi bangun dari tempat tidur kantor, saya langsung mengambil handphone dan mengetik SMS. Isinya, begini:

Selamat ulang tahun, semoga panjang umur, sehat selalu, dan rezeki makin lancar. He he he.

Memang agak basa-basi. Sebenarnya, yang paling penting adalah doa paling terakhir. Soalnya, kalau kakak saya lancar rezeki, besar kemungkinan saya juga kena imbasnya. Peace!

Nah, waktu saya tiba di stadion DBL (DetEksi Basketball League) buat mulai kerja, kakak saya nelepon. Dia minta dibelikan hadiah. Tapi, saya nggak bisa ngobrol lama-lama karena harus ngerjain sesuatu. Jadi, saya terpaksa memutuskan sambungan telepon. Kata kakak saya, ”Masak, 17 Agustus, yang lain libur, kamu kok malah masuk pagi pulang malem.”

Saya cuma ketawa.

Kebetulan, 17 Agustus ini barengan sama hari Jumat. Jadi, jam 10.30, pertandingan DBL break dulu, memberi waktu buat semua yang niat sholat Jumat buat mendengarkan khotbah di masjid.


Nah, di break itu, saya ngobrol sama seorang peserta jurnalis sekolah. Dia bertugas buat meliput DBL. Anak ini cukup aktif, sudah beberapa kali ikutan meliput acara DetEksi. Dia tanya ke saya, ”Lho, Mas Aziz nggak capek kerja di sini? Kan udah banyak tuh yang keluar. Kok, Mas betah dari dulu di sini?”

Saya senyum, sambil ngejawab, ”Yah, kerja di mana-mana juga berat.”

Dia cuma ngangguk-ngangguk. Kayaknya, dengan wajah agak curiga, mengira saya menutupi sesuatu.

Terus saya bilang lagi, ”Lha kamu, kenapa dari dulu mau jadi jurnalis sekolah. Emang enak ya?”

”Ya enak lah mas. Kalau nggak seneng, ngapain dari dulu aku capek-capek ikut ngeliput acaranya DetEksi?” kata si anak jurnalis SMA itu.

Saya ngejawab, ”Nah, sama. Aku juga masih suka kerja di sini. Makanya mau capek-capek kerja.” Dia terus senyum, nggak lagi melihat saya dengan pandangan curiga.

…..


Saya paham, kalau dilihat sama orang di luar sana, mungkin hidup saya (dan anak DetEksi lain) agak aneh. Apalagi, sama temen-temen having fun saya. Ada juga yang protes, karena sebulan terakhir, saya menghilang dari peredaran, dibilang nggak asik. Anak-anak kampus juga begitu. Beberapa temen yang cukup deket, selalu histeris melihat saya nongol di kantin. Bukan karena kangen, tapi karena pengin minta traktiran, setelah begitu sering membuat daftar hadir saya penuh dengan tanda tangan palsu.

Nggak salah kalau mereka bilang saya aneh. Soalnya, di saat liburan begini, kebanyakan anak-anak seumuran saya bakal pusing memikirkan mau pergi belanja ke Jakarta, menghitamkan kulit di Bali, shopping di Singapore, atau kayak mantan pacar temen saya (namanya Ratri) yang mau menjalani Euro trip.

Alih-alih mikir soal liburan, saya malah harus bangun jam 8 pagi, ngambil Unair trip buat DBL, dan balik ke kantor sorenya buat layout berita yang di-deadline dengan ketat. Selesai baru sekitar jam 11 malem. Pulang dan tidur. Besoknya, begitu lagi. Besoknya lagi, begitu lagi.

Capek? Ya iyalah. Tapi, ya itu tadi. Saya masih seneng kerja begini. Walau dibilang aneh. Walau ada yang bilang, saya kayak sapi perah (Ini berlebihan, wong saya dibayar).

Kalau sudah begini, saya jadi inget omongan pak Bio. Guru olahraga saya waktu SMA dulu. Orangnya sangat nggak karismatik. (Sumpah!) Tapi, ada omongannya yang masih terus muter di otak saya.

Begini katanya, ”Kalian (saya dan temen-temen sekelas yang lain) itu bukan pangeran Charles. Dia begitu lahir, langsung jadi pangeran Inggris. Kalaupun dia nggak bisa satu tambah satu, tetap aja hidupnya enak. Lha kamu? Lahir, jadi pangerna opo? Mana bisa nasibnya sama. Kalau mau dapat bintang, ya harus usaha keras.”

Dan, sekarang saya tahu, kalau saya lagi nyoba buat dapat bintang itu, yang harus saya dapat pake usaha keras. Memang, nggak semua orang bisa dapat apa yang dia mau. Mungkin, saya juga bakal begitu. Tapi minimal, saya udah usaha kan?



Nulis sambil diketawain anak-anak karena dibilang sok serius…

-i will always try to love my day-

Sunday, April 08, 2007

Intim dengan Kodok



Based on a True Story. Nggak Bohong!

Saya tinggal di daerah yang lumayan jarang penduduk. Yah, memang sih, belum separah daerah transmigrasi yang jarak tiap rumahnya satu kilo. Mmmhh.. buat gambaran, di gang saya yang panjangnya sekitar 200 meter, baru berdiri enam kavling rumah, satu kavling musholla, dan satu kavling pondasi rumah. Oh ya, ada lagi dua kavling yang dimanfaatkan bapak saya buat berkebun, sambil melewati masa pensiun.

Sisanya? Ada lahan kosong berumput. Akibatnya, setiap kali musim hujan datang. Tanah-tanah kosong plus kebun-kebun itu berubah jadi panggung. Panggung buat para kodok menyanyikan lagu-lagu kebangsaannya.

Karena sudah lebih dari sepuluh tahun hidup di rumah ini, saya sih ngerasa biasa-biasa aja. Sudah bisa beradaptasi dengan para kodok yang lagi nyari perhatian itu.
Bahkan, kadang, para kodok itu merasa daerah kosong tadi nggak cukup buat panggung bermain mereka. Karena itu, seringkali, ada beberapa kodok yang nyambangi saya di rumah. Mereka main-main di teras, garasi, dapur, bahkan ruang makan.

Tapi, saya masih biasa aja. Nggak emosi. Kalau ada mereka, ya tinggal saya lompati. Toh, nantinya mereka pasti bakal kembali ke rumah masing-masing. Jadi, buat apa dipikirin? Ya kan?

Nah, yang bikin sebel, ternyata kodok-kodok itu ngelunjak. Mungkin mereka merasa saya sudah terlalu berasahabat. Gara-gara itu, mereka mulai bertindak lebih berani.
Saat itu, sekitar jam 7 malam. Saya sedang membuka kulkas dengan maksud mengambil air minum. Lalu, saya menuangkan air minum dari botol ke gelas. Setelah itu, tentu saja saya minum.

Nah, ketika air-air itu mengalir masuk ke tenggorokan, saya merasakan ada sesuatu yang kenyal di lidah, kenyalnya seperti agar-agar. Tapi, ibu saya belum pernah iseng-iseng mencampurkan agar-agar dalam air putih. Jadi, saya nggak berani menelan agar-agar itu. Air minum pun saya muntahkan… Dan, ternyata saya salah besar. Yang saya lihat berikutnya dari muntahan tadi bukanlah agar-agar, melainkan seekor kodok hidup!
Terima kasih sudah menertawakan





-i will always try to love my day-