Thursday, November 02, 2006

Kuntilanak; Video Klip Terbaru Rizal Mantovani

Weekend mungkin jadi saat paling menyenangkan bagi sebagian besar pekerja. Tidak buat saya. Weekend adalah saat yang paling bikin saya eneg. Soalnya, di saat orang-orang lain bisa bersenang-senang dengan keluarga (atau pasangan mereka), saya harus ada di depan komputer, menggarap halaman De-Style dan BookClub.

Sebaliknya, ketika setiap orang mulai benci dengan Senin karena mereka harus memulai kembali bekerja, saya justru merasakan ini sebagai (weekly) independent day. Soalnya, Senin adalah saat di mana saya off dari pekerjaan kuli keyboard (bye-bye tinta!).

Nah, di saat Senin itulah saya bisa bersenang-senang. Bertemu dan bepergian dengan handai taulan. Seperti yang saya lakukan Senin dalam minggu ini. Dikarenakan Senin adalah saat 21 (baca: twenty one) menjadi dermawan dan membuat paket hemat nonton bioskop, saya pun pergilah bersama teman untuk menonton. Kami pergi berlima, saya, teman saya, adik teman saya, dan dua orang teman adik teman saya. Tiga orang yang saya sebutkan terakhir masih duduk di bangku SMA.

Film yang kami tonton: Kuntilanak

Terima kasih Anda sudah menertawakan saya yang bersedia menonton film ini. Saya mau nonton karena tiga biji ABG (yang tidak mau dibilang ABG) itu memilih film ini. Sementara saya dan teman saya, jelas kalah suara. Singkat kata, tiket pun dibeli.

Ketika saya dkk memasuki gedung bioskop, Jullie Estelle sedang dihantui oleh mimpi buruk dan terbangun dengan tetesan keringat yang menggairahkan. Ehm, sebentar, saya betulkan celana dulu. Lalu, layar itu berlanjut ke kisah ke-minggat-an Jullie dari rumah karena ayah tirinya ngajakin ML melulu. Jullie kemudian memilih sebuah kos-kosan. Di sinilah saya melihat kemunculan ciri khas Rizal Mantovani: berlebihan!

Jullie menarik kopernya sepeti Nina AFI yang kena eliminasi. Bedanya kalau Nina menarik travel bag di atas panggung, Jullie menarik kopor di atas dedaunan yang gugur di sebuah sudut Jakarta. Daunnya banyaaaaaaaak banget. Warnanya cokelat-cekolat. Saya jadi ingat video klip. Di situ saya sadar, Oh... si Rizal pengen ngelihatin kalau tempat ini seram, nggak terawat. Terima kasih untuk penjelasan yang gamblang ini.

Selain setting daun-daun gugur itu, masih banyak setting lain yang annoying. Kos-kosan tempat tinggal Jullie pun aneh minta ampun. Saya, sebagai manusia normal, nggak akan pernah mau tinggal di tempat seperti itu. Saya akan lebih memilih jadi Remaja Masjid biar bisa nginep gratis di masjid, daripada tinggal di kos-kosan Jullie. Kecuali, kalau di dalamnya benar-benar tinggal Ratu Felisha.

Masalahnya di setting saja? Oh... tentu tidak. Kalau Anda rela menonton, coba perhatikan skenarionya. Saya seriiing sekali merasakan ada dialog yang anjlok. Niatnya pengen main misteri-misterian gitu deh. Tapi, hasilnya, menyedihkan.

Shoot yang dipilih juga seruuu banget. Contohnya nih, waktu Jullie berantem sama Evan di tengah jalan. Rizal memilih angle berputar-putar mengelilingi dua tokoh ini. Saya nggak tahu apa istilah pengambilan gambar dengan model begini. Tapi, yang pasti, kalau si Evan diganti Shah Rukh Khan dan Jullie ditukar posisi dengan Rani Mukerji, mereka pasti bakal langsung berjoget dan menyanyikan Kuch Kuch Hota Hai.

Deep down inside, saya benar-benar kaget begitu melihat berita di Koran keesokan harinya (hari ini) bahwa film ini laris manis. Banyak yang antre di bioskop pengin nonton film ini. Sementara ketika saya menonton Berbagi Suami, gedung bioskop sepi-sepi saja. Saya nggak ngerasa lebih baik dari yang lain dengan menganggap Berbagi Suami adalah film bagus. Tapi, Kuntilanak memang parah.

Satu pesan saya untuk Rizal Mantovani. Rasanya, nama baik Anda akan lebih terjaga dengan membuat video klip, bukan film. Salam manis!





-i will always try to love my day-

1 comment:

awan asmara said...

Mantap penjelasannya....I agree with you...Mungkin sudah saatnya penonton Indonesia dicerdaskan untuk urusan per-filman.

Memilih film bukan sekedar dari artisnya yang bisa bikin si "Otong" naik turun. Tapi lebih kepada kualitas cerita dan akting pemainnya.

Nggak heran kalau banyak film laris justru nggak dapet penghargaan. Tapi malah film yang nggak laris justru dapet penghargaan. Ya seperti Rindu Kami Pada Mu-nya Garin Nugroho gitu lah....

Mari bersama-sama kita cerdaskan remaja Indonesia yang mulai sok keren tapi otaknya dodol semua....He he he