Thursday, April 28, 2005

cerita pendek

fiuh....
akhirnya, after this really long time -let me see, mulai januari!- aku balik posting di blog lagi...
yah,setelah menuai kritik dari mbak oca. Dan, setelah dapet saran dari the guru -mbak dian-.. Tapi, masih bingung nih mau nge-post apaan...

Jadi, cerpen ini dulu aja kali ya..
Abis cuma punya ini. Silahkan di-comment.. Tengkyu!

-------------------------------------------------

Bangku Taman

Re duduk di bangku taman komplek rumah. Menghadap ke arah sebuah ayunan yang bergoyang maju mundur ditiup angin sore. Beberapa anak kecil bermain kejar-kejaran, diikuti ibu mereka yang membawa mangkuk makanan kecil dan kain gendong. Di bawah pohon beringin, Mas Mi'un sedang sibuk menjual bakso pada beberapa anak yang baru pulang mengaji.

Entah sudah berapa kali Re menghabiskan sore di bangku itu.Sendiri.

Dulu, bangku taman itu selalu menjadi saksi pertemuan Re dengan Dino. Hampir tiap sore, mereka mengobrol. Bercerita tentang apa saja yang terjadi dengan mereka pagi tadi dan apa yang akan mereka kerjakan besok. Yang dibicarakan selalu sama. Tapi, mereka tak pernah bosan. Sampai adzan maghrib membawa mereka untuk saling mengucapkan, "Sampai ketemu besok, Sayang!"

Sekarang, Re harus menikmati sore-nya sendiri. Sambil memutar kembali ingatannya. Membayangkan saat mereka bertemu untuk yang terakhir kali. Saat Dino memutuskan pergi.

Saat semuanya berakhir.

*

"Udah lama nunggunya, Re?" Suara itu akhirnya datang.
"Belum kok. Baru aja," jawab Re sambil tersenyum senang. Dino mengambil duduk tepat di depan Re. Tentu saja, di bangku taman itu.
"Kalo gitu, aku belum telat kan, Sayang?"
Re menggeleng. Mukanya bersemu merah karena dipanggil 'sayang'. Padahal, panggilan ini tak jarang diucapkan Dino. Tapi, setiap kali itu pula pipi Re merona. Membuat Dino makin senang memakai panggilan itu.
"Gimana fisika-nya tadi pagi?" Lanjut Dino.
"Mmm. Susah, yang jaga nyebelin banget. Masak, aku aja yang diliatin terus. Padahal, di kelas kan ada tiga puluh sembilan anak lain yang juga pengen nyontek," Re mulai bercerita soal hari-nya. Seperti biasa. "Untung aja, aku udah belajar. Jadi, cuma dua soal yang nggak bisa aku kerjain."
"Emang, soal-nya ada berapa?"
"Tiga."
"Hahaha.."
"Emang kenapa?"
"Itu namanya bukan 'cuma'. Wong, kamu cuma bias ngerjain satu soal," jawab Dino sambil terus tertawa.
"Ya, kan mendingan daripada aku cuma nulis diketahui, ditanya, tapi nggak dijawab. Lisa aja, satu soal nggak selesai,"
"Terus gimana?"
"Nggak tahu lah. Moga-moga ada ulangan remidi. Kalo nggak, bisa jeblok nilaiku. Ulangan kemarin aja, aku cuma dapet lima dua,"
"Makanya, belajar! Kamu sih, diajakin belajar bareng nggak pernah mau. Maunya cuma duduk di taman terus."
"Bawel kamu! Udah kayak mamaku aja," sungut Re, "Lagian, masak mau belajar terus. Ntar abis pulang dari sini, aku juga belajar kok. Dasar soal ulangannya aja yang bikin males." Re membela diri. Dino membalas dengan menggeleng-gelengkan kepala.
"Besok ada ulangan lagi nggak?"
"Nggak ada, besok tes olah raga aja. Kamu gimana tadi? Kemarin kamu bilang ada ulangan Matematika kan?"
"Nggak jadi." Raut muka Dino tiba-tiba berubah.
"Kenapa?"
"Mulai hari ini, aku nggak masuk." Kini, Dino menundukkan wajahnya.
"Lho kenapa?" Re makin bingung dengan tingkah Dino.
"Ini yang aku mau ceritain." Mereka terdiam sejenak, hanya terdengar hembusan angin dan suara anak-anak kecil yang berlarian. Dino mengangkat wajahnya. "Besok, aku pindah."
Dunia Re seakan berhenti. Tak ada anak kecil berlarian. Tak ada Mas Mi'un yang menjual bakso. Yang ada hanya dia dan Dino yang duduk mematung di bangku taman. Mereka kembali terdiam. Kini, lebih lama..
"Kemana?"
"Batam. Ayah pindah tugas."
"Kenapa nggak pernah cerita?"
"Sory Re, aku nggak pengen liat kamu sedih."
"Tapi, kamu tetap liat aku sedih kan?"
"Iya, tapi besok aku kan udah pindah. Jadi, aku nggak lama-lama liat kamu sedih."
"Ha?!! EGOIS!!!" Suara Re meninggi. Tangannya nyaris menggebrak meja yang terletak di depan.
"Sory Re, aku nggak bisa cerita ke kamu. Aku sayang kamu, Re. Aku nggak akan bisa ninggalin kamu kalo harus ngeliat kamu sedih terus-terusan. Sementara Ayah harus pindah. Nggak mungkin nggak. Jadi, aku pilih nggak cerita. Sampai hari ini."
"Terus.. Kita?" Re terdengar melemah.
"Aku nggak berani janji sama kamu”
“....”
"Aku lebih milih kita berhenti sampai di sini."
"Putus?" Ada getaran di suara Re. Dino mengangguk. Re tak kuasa menahan air matanya. Kini, matanya terpejam. "Kenapa?" Lanjut Re, dengan suara yang masih bergetar, masih terpejam.
"Batam-Surabaya itu jauh, Re. Aku nggak tahu kapan bisa balik kesini lagi. Aku nggak mau kamu terus-terusan nunggu. Aku nggak mau." Kalimat Dino terputus. Air matanya mengalir.
"Kenapa nggak dicoba dulu?"
"Re, aku sayang kamu. Makanya, aku nggak mau bikin semuanya tambah susah. Ini yang terbaik, Sayang," Ujar Dino sambil mengelap pipinya.
"Terbaik? Buat siapa? Menurut siapa?!!" Suara Re kembali meninggi, "Kamu jangan egois!! Jangan cuma mikirin kamu. Aku nggak bisa, No."
"Aku juga susah, Re. Aku juga nggak pernah berharap yang kayak gini. Tapi, harus."
"Nggak ada jalan lain?" Re menghapus air matanya. Mencoba mencari solusi lain. Sayang, Dino menggeleng.

Air mata Re menetes lagi.
Langit memerah. Matahari hendak tenggelam di balik atap-atap rumah.

"Sebentar lagi maghrib, Re. Udah waktunya."
"Kamu bohong kan, No? Ini Cuma main-main kan?" Re terisak.
"Nggak, Re. Besok aku berangkat." Suara Dino masih bergetar.
Re menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak percaya hubungan mereka harus berakhir sperti ini. Begitu tiba-tiba.

Dino berdiri dari kursi yang ia duduki, berpindah ke sebelah Re. Hati-hati, Dino melingkarkan tangan ke pundak Re.
"Maafin aku, Re." Dino mengecup kening Re, halus.
"Selamat tinggal sayang," ujar Dino sambil berdiri dari bangku taman.

Re juga berdiri, membalikkan badan, dan berlari ke rumahnya. Re begitu ingin cepat sampai rumah, menumpahkan tangisnya sampai tertidur. Berharap ketika ia bangun, semua ini hanya mimpi buruk
...

*

"Hai! Boleh duduk di sini?"
Sebuah suara membuyarkan lamunan Re. Gadis itu tersenyum mengijinkan. Lalu, kembali melihat ayunan yang kini sudah diduduki anak kecil. Tak menghiraukan orang yang baru mengajaknya bicara.
"Makasih ya. Aku baru pindah di sini. Aku liat, kamu sering duduk sendirian di taman ini," ujar cowok itu sambil duduk dan meletakkan semangkuk bakso panas di
meja taman. Re tetap acuh. "Aku tinggal di blok AD 37," lanjut cowok itu.
Re berubah sikap. "AD 37? Rumah Dino." pikirnya dalam hati.
Mereka saling bertatapan.
"Aldi."
"Renata." Mereka berjabatan.
"Mau bakso?"
"Mmm. Boleh."
"Mas.. Satu lagi baksonya," teriak Aldi ke arah mas Mi'un yang segera mengacungkan ibu jari.
"Sendirian, lagi ngelamun apa?" tanya Aldi.
"Nilai fisika-ku jelek banget, Dari tiga soal, aku cuma bisa ngerjain satu. Dan udah bolak-balik kayak gini."
"Hahaha. Masih mending! Aku, kalo ulangan fisika, nggak pernah bisa ngerjain sendiri."
Re ikut tertawa. Larut. Di bangku taman.

Semuanya belum berakhir. Justru, baru dimulai...

***