Thursday, December 22, 2005

Cerpen Keren yang Dicekal

Heran deh.. kenapa sih banyak kreativitas yang dicekal. Dan semua gara-gara kekhawatiran yang berlebihan. Takut masyarakat begini lah, takut masyarakat begitu lah. Padahal, semua orang tahu, cerita fiktif itu artinya cuma bohongan.. Jadi, kenapa harus dicekal? Kayak cerpen bikinan Fajar Nugross ini. Awalnya, Mati Bujang Tengah Malam mau diterbitkan di sebuah tabloid mingguan di Jogja. Tapi, gara-gara ceritanya yang menyinggung soal bom Bali, cerpen ini nggak boleh naik cetak.

Pengin tahu cerpennya? klik langsung link di bawah ini. Kelar itu, pilih open, and just enjoy it!

  • cerpen mati bujang tengah malam



  • -i will always try to love my day-

    Friday, December 02, 2005

    Hobi Kok Nulis?


    Dulu... dulu banget... aku pernah ditanyain soal hobiku
    soal apa yang aku suka... tapi, aku lupa siapa orang yang tanya
    yang aku inget, dia cowok, mas-mas, tapi lupa correctly who he is

    ...and the story goes...

    aku yang masih kecil tapi udah ganteng, bakal disingkat jadi -->aymktug
    mas-mas kurang jelas namanya sapa, bakal disingkat jadi --> mmkjns

    kami ngobrol ngalor-ngidul yang aku sendiri lupa apaan..sampe kita ke topik itu..
    ........
    mmkjns: jis, hobimu apa?

    aymktug: nulis sama baca

    mmkjns: ha? nulis sama baca?

    aymktug: iya.nulis macem-macem... nulis cerpen,puisi,surat gak jelas,kecuali nulis yang pelajaran-pelajaran gitu... suka baca juga macem-macem.. baca novel,komik,majalah, koran,juga kecuali baca buku-buku pelajarab. aku baru baca buku pelajaran kalo lagi susah tidur...sering sukses lho... begtu bac...

    mmkjns: bentar,bentar,kita kan lagi ngomongin soal hobi,bukan cara cepat tidur

    aymktug: *smile

    mmkjns: hobi kok nulis?

    aymktug: emang kenapa?

    mmkjns: ya, kan masih ada panjat tebing, sepak bola,main basket,kenapa milih hobi nulis

    aymktug: "....." (dalam hati: emang apa salahnya suka nulis?)

    mmkjns: ah..kamu nggak keren

    aymktug: "....."

    mmkjns: cari hobi lain dong

    aymktug: pas SD, aku pernah juara satu lomba mengarang peringatan 17 agustus lho

    mmkjns: masih tetep nggak keren

    aymktug: "....."

    mmkjns: ya udah deh...


    >>>> yahhh... secara waktu itu aku masih masuk golongan anak kecil. jadi ya nrimo saja waktu dibilang nggak keren

    tapi, skarang aku jadi bener2 pengen ketemu sama tuh orang.
    berdiri di depannya dan bilang
    "tahu nggak, hobi yang dulu kamu bilang nggak keren,sekarang bisa bikin aku nyicil motor sendiri,beli dvd player buat ditonton orang rumah,beli jajan sendiri,dan nggak kelewat nyusahin ortu lagi,dan aku masih 18thn waktu mendapatkan itu semua..."

    bukan,ini bukan buat sombong2an.. cuma pengen aja orang2 mulai menghargai kesukaan orang lain.berhenti menyepelekan.berhenti bilang kalo ada orang yang punya kesukaan beda, itu berarti mereka termasuk alien..hehehe..

    how's it sound? terlalu berat yah...
    nggak maksud kok.




    -i will always try to love my day-

    Tuesday, October 04, 2005

    Amelie yang beranjak dewasa


    Judul Film : Amelie

    Pemain : Audrey Tautou, Mathieu Kassovitz, Rufus, Yolande Moreau

    Sutradara : Jean-Pierre Jeunet

    Penulis : Jean-Pierre Jeunet, Guillaume Laurant

    Genre : Drama

    Format : DVD/ VCD

    Durasi : 120 menit

    Dari pertama kali film ini dimulai, kamu bakal ngerasa kalau pembuat Amelie kreatif abis. Caranya ngenalin tiap tokoh, so unique! Lucu dan fresh. Sama sekali nggak bikin bosan dan membuat penontonnya pengin tahu, who’s the next figure? Apalagi waktu si sutradara ngenalin tokoh utamanya, Amelie Poulain (Audrey Tautou). Kalau kamu nggak ketawa, it means there’s a problem sama kejiwaan kamu. He-he-he
    Di film ini, Amelie diceritakan berlatar belakang dramatis. Ayahnya seorang dokter, ibunya berprofesi jadi guru. Namanya juga manusia, bisa khilaf juga. Ayah Amelie bikin diagnosis yang salah atas anaknya sendiri. Setelah memeriksa degup jantung Amelie, sang ayah menduga ada masalah dengan jantung anaknya.

    Sebagai akibat dari salah diagnosa ini, Amelie kecil kudu rela diam di rumah. Boro-boro mau main sama teman, sekolah saja Amelie dilarang. Buat pelajaran, sang ibu jadi pengganti guru Amelie. Dia belajar di rumah.

    Ketidakberuntungan nggak berhenti di situ. Pas jalan-jalan bareng, sang ibu mendadak meninggal. Penyebabnya pun super mengenaskan: kejatuhan orang yang bunuh diri. Waktu itu, Amelie kecil dan ibunya baru aja keluar dari sebuah gedung. Dan tiba-tiba saja, dari arah atas ada wanita yang terjun bebas Keduanya (ibu Amelie dan wanita yang ”belajar terbang”) mati mengenaskan.

    Sejak kematian ibunya, ayah Amelie makin aneh. Makin pendiam. Waktunya dihabiskan buat ngebikin altar mini buat sang ibu. Amelie yang kurang kasih sayang pun berkembang jadi cewek pendiam. Hebatnya, ini nggak membuat Amelie jadi cewek yang lemah.

    Hari berganti hari, tahun berganti tahun, Amelie berubah jadi cewek cantik. Dan, ia memutuskan keluar dari rumah. Alasannya, Amelie udah nggak tahan. (Ya iya lah!). Berbekal kerjaan sebagai pramusaji di sebuah kafe, Amelie menyewa sebuah kamar apartemen.

    Awalnya, cerita Amelie nggak jauh beda sama kehidupan hariannya. Selalu sendiri. Sampai suatu ketika dia menemukan ”harta karun” di kamarnya. Milik seseorang yang puluhan tahun lalu pernah tinggal di kamar apartemen yang sama. Di situ, Amelie membuat keputusan kecil yang merubah hidupnya dalam skala gede.

    Dalam journey-nya mengembalikan harta karun itu, Amelie yang dingin sama cowok, mulai menemukan cintanya. Seseorang yang nggak kalah misterius, Nino Quincampoix (Matthieu Kassovitz), membuatnya jatuh hati.

    Film berbahasa Perancis ini punya keunggulan di karakter tokohnya yang unik. Hm, agak aneh mungkin. Tapi, bukan nggak mungkin karakter ini hidup di sekitar kita. Seorang cowok dungu yang selalu kena damprat majikan, kakek tua yang desperate karena nggak punya teman, induk semang apartemen yang kecewa karena konon suaminya selingkuh dan meninggal, sampai karakter Amelie sendiri yang misterius.

    Nonton Amelie ngebikin kita ngerasa harus buru-buru berbuat baik. Tanpa perlu ngebikin si orang yang kita tolong tahu soal kebaikan itu. Sebuah ide simpel, yang diceritain sama Jean-Pierre Jeunet dengan cara ruarrrr biasa… Happy ending yang dikasih sama Amelie pun tergolong unusual. Sounds great? Ya… ini memang film lama yang keren abis. Nggak heran, Amelie berhasil menggondol Oscar di tahun 2002 sebagai the Best Foreign Film. Ditonton yah!

    Tuesday, August 30, 2005

    Katanya, Aku Nggak Fokus

    Akhir-akhir ini katanya aku nggak fokus.
    Siapakah "nya" yang bilang aku nggak fokus?
    BANYAK…
    1. Orang bijak a.k.a Darth Vader a.k.a Wonge a.k.a Areke a.k..a Doi
    2. Wonge cilik = Mas Puji :) Peace!
    3. Bojone wonge 2 = Mbak Sany
    4. Anak-anak DetEksi
    5. Aku sendiri

    Bukti-bukti autentik yang ditemukan oleh diri sendiri:

    -----Mas Puji’s story------
    (cerita bagian ini sebenarnya memakai bahasa Jawa, tapi biar gampang dibaca, saya alih bahasakan ke daily language)

    Mas Puji (MPJ): Jiz, kamu itu ada masalah apa tho? Kok nggak fokus?
    Adjiz Yang Ganteng Tapi Nggak Fokus (AYGTNF): Nggak tahu mas, aku juga bingung
    MPJ: ----diam… speechless… bingung…
    MPJ: Kalau kamu aja bingung, gimana caranya aku bisa bantu
    AYGTNF: ----diam… speechless… bingung….
    MPJ: Ya udah, sekarang siapin semuanya buat besok. Inget, besok itu pertandingan DBL pertama
    AYGTNF: Ya mas…(langsung menghadap ke komputer, ngelihat semua rundown acara dari A sampai Z. Siap2 kalau nanti ditanyain bos cilik)
    MPJ: Ntar kalau udah selesai, ngadep aku ya!
    AYGTNF: ----ngangguk
    -beberapa saat kemudian-
    MPJ: Udah Jiz? Sini, aku yakin ada yang belum kamu siapin
    AYGTNF: -tersenyum manis- Nggak kok mas, udah beres semua
    MPJ: Oh ya? Hm... udah nyiapin buat perputaran pemain di GOR Pacific, besok?
    AYGTNF: -----diam…. Speechless… bingung
    AYGTNF: menggeleng
    MPJ: Hehhhhhhhhh…….. -nafasnya panjang banget-
    --> BUKTI 1

    ---- Wonge’s story---------
    Aku di tengah pertandingan DBL. Di depan lap top. Bertugas sebagai operator musik sementara nggantiin Alip. Musik mengalir. Suaranya kencang. Wonge lagi bete.
    ……………………………………
    Wonge Yang Lagi Bete (WYLB): Jiz, liat itu!!!!! Kalau ada pelatih teriak kayak gitu nggak kedengaran, berarti musikmu kekencengan!!!! Kecilin
    AYGTNF: ----mengecilkan volume musik----
    Speaker: TIME OUT
    WYLB: heh! Itu time out! Musiknya kenecengin!!!! Kamu kok nggak bisa dapat feel-nya sih???!!!!!!
    AYGTNF: ----mengencengkan volume musik-----
    Wasit: Prrrrrrriiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttttttttttttttttttt
    WYLB: Aduh!!!!!! Kamu kenapa nggak fokus sih jiz?!!!! Liat tuh!!!! Pertandingannya udah dimulai lagi!!!!! Fokus jiz!!!! Fokus!!!!!!
    AYGTNF: ----mengecilkan volume musik, pasang muka kusut, ninggalin lap top-----
    -->BUKTI 2

    Dan Tadi sore ada dua kejadian yang ngasih bukti sama memalukannya

    Pulang dari ngejemput kakak, mandi dong. Kan mau ke kantor
    AYGTNF: Nananana... ----- dalam hati: senangnya bisa mandi sore, biasanya jam segini nggak pernah mandi-----
    AYGTNF: Nananana.... -----shampoo-an----
    AYGTNF: Nananana..... -----sabunan…. Ambil shower puff…. Tuangkan sabun…. gosokkan ke badan…---- dalam hati: Kok baunya lain ya?----- Ngambil botol sabun cair yang barusan dipake dan ngabaca merk nya…. Pantene----
    AYGTNF: Ya Ampun!!!!
    Kakakku: Kenapa jiz?
    AYGTNF: ----diam
    -->BUKTI 3

    Kejadian kedua sore ini

    Setelah selesai mandi, berangkat ke kantor

    AYGTNF: Nananana.... –nyetir motor dengan riang gembira-
    AYGTNF: dalam hati: Ah, beli bensin dulu...
    Sesampainya di Pom Bensin punya POLDA Jatim.
    Mas-Mas Tukang Jual Bensin Di Pom (MMTJBDP): Berapa mas?
    AYGTNF: --ngeluarin duit- Lima Ribu mas!
    Tangki motor pun diisi bensin... 4896..4989...5000.
    MMTJBDP: Udah selesai mas
    AYGTNF: Makasih
    AYGTNF: ---Nutup tangki bensin, nutup jok, pasang kunci, ngennnngggg....----
    MMTJBDP: MAS.... MAS.... MAS......(teriak kenceng banget)
    AYGTNF: ---- Putar balik, bingung, dalam hati: kan udah bayar----
    AYGTNF: Kenapa mas?
    MMTJBDP: Kembaliannya mas.
    AYGTNF: Oh iya
    MMTJBDP: -ngasih selembar lima ribu, dua lembar sepuluh ribu, selembar dua puluh ribu-
    AYGTNF: Makasih mas
    MMTJBDP: Ya
    AYGTNF: dalam hati: Pasti mas itu bilang... "fokus dong!!! "
    -->BUKTI 4


    Dear readers,
    Ada yang tahu obat biar orang bisa fokus?
    Hubungi saya sekarang juga!!!
    I really need it now.

    Hiks




    -i will always try to love my day-

    Friday, July 15, 2005

    Back with review

    hey...hey...hey....
    berhubung udah lama banget nggak menodai blog ini.
    aku ngersa udah waktunya buat balik lagi...
    tapi, karena aku masih blom bisa ngatur waktu dengan baik dan benar. SO, review bukuny Raditya dika ini dulu aja ya yang aku masukin....
    Selamat ngebaca! :)
    Judul : Kambing Jantan
    Pengarang : Raditya Dika
    Halaman : 237 Halaman
    Penerbit : GagasMedia
    Terbit : April 2005

    Diary Kocak Yang Dibukukan

    Buat kamu yang lagi stres karena abis ngelewatin UNAS atau Ujian Semester, buku ini cocok buat jadi obat mujarab. Soalnya, pembaca Kambing Jantan bakal dibikin tertawa terkekeh di tiap lembar buku ini. This book will cheer you up!
    Alkisah, buku ini diawali sama sebuah blog buatan Raditya Dika, si pengarang Kambing Jantan. Blog sendiri adalah sebuah jurnal harian yang ditulis di internet. Isinya bisa macam-macam. Dika memilih untuk mengisi blog-nya sama cerita-cerita pribadi. Little bit like diary.
    Tapi, jangan kira diary cowok satu ini tergolong biasa. Karena sifatnya yang abnormal, banyak kejadian lucu yang ngewarnain kehidupan Dika. Nah, setelah blog-nya memenangkan Best Indonesian Blog Award tahun 2003, si pengarang berniat membuat blog yang punya alamat www.kambingjantan.com ini jadi sebuah buku. Gayung bersambut, GagasMedia setuju buat bekerja bareng Dika. Lalu, terbitlah buku ini.
    Cara penulisan Kambing Jantan yang unusual bikin buku ini beda banget. Dika nggak peduli sama aturan penulisan yang benar. Contohnya aja kata ”gue” di buku ini ditulis dengan ”gw”. Persis kayak kalau kamu lagi sms-an. Lagian, emang ada ya yang nulis diary pakai Ejaan Yang Disempurnakan? Nah, ketidaksempurnaan bahasa yang dipakai sama Dika justru ngebikin buku ini jadi lebih enak dibaca. Ringan banget, that’s the point.
    Kejadian nyata sehari-hari penulis yang diceritain dengan gaya humor yang ngocok perut. Bahkan, waktu Dika bercerita gimana sedihnya pas Sabrina (salah satu sohibnya di Adelaide, Australia) harus pindah ke Melbourne, dia masih sempat ngebumbuin cerita itu sama kekonyolan Sabrina yang ngedengkur pas mereka tidur ramai-ramai.
    Pokoknya, kalau kamu ngelihat orang yang lagi baca buku ini ketawa-ketiwi, itu justru wajar. Tapi, kalau ada yang baca buku ini dan nggak menyunggingkan senyum sedikit pun, ajak dia ke psikolog terdekat. Hehehe…

    Monday, May 23, 2005

    Phone Story in 100 Words

    Halo.

    Halo.

    -------Basa-basi------
    Pernah nggak kamu jadian tapi ngerasa nggak jadian?

    Nggak
    ---------------I get your point
    Aku ngerasa gitu

    Oh.
    ---------------Eureca!
    Terus?
    Yang sekarang beda banget, nggak kayak kamu dulu

    Oh.
    ---------------Makanya balik sama aku.Aku nggak tahu harus gimana

    Diobrolin dulu aja, mungkin butuh penjelasan
    ---------------Putus aja.. Hekekeke.....
    Aku masih sayang sama kamu

    Makasih
    ---------------Yes!Kamu udah bisa ngelupain aku ya?

    Aku nggak pernah niat ngelupain kamu
    ---------------Aku nggak akan bisa ngelupain kamu
    Kadang aku pengen balik

    Kamu lagi emosi, belum mikir jernih.
    ---------------Yihaaa... I can’t wait for itYa deh aku obrolin dulu

    Nah gitu dong!
    ---------------Sialan…

    Thursday, April 28, 2005

    cerita pendek

    fiuh....
    akhirnya, after this really long time -let me see, mulai januari!- aku balik posting di blog lagi...
    yah,setelah menuai kritik dari mbak oca. Dan, setelah dapet saran dari the guru -mbak dian-.. Tapi, masih bingung nih mau nge-post apaan...

    Jadi, cerpen ini dulu aja kali ya..
    Abis cuma punya ini. Silahkan di-comment.. Tengkyu!

    -------------------------------------------------

    Bangku Taman

    Re duduk di bangku taman komplek rumah. Menghadap ke arah sebuah ayunan yang bergoyang maju mundur ditiup angin sore. Beberapa anak kecil bermain kejar-kejaran, diikuti ibu mereka yang membawa mangkuk makanan kecil dan kain gendong. Di bawah pohon beringin, Mas Mi'un sedang sibuk menjual bakso pada beberapa anak yang baru pulang mengaji.

    Entah sudah berapa kali Re menghabiskan sore di bangku itu.Sendiri.

    Dulu, bangku taman itu selalu menjadi saksi pertemuan Re dengan Dino. Hampir tiap sore, mereka mengobrol. Bercerita tentang apa saja yang terjadi dengan mereka pagi tadi dan apa yang akan mereka kerjakan besok. Yang dibicarakan selalu sama. Tapi, mereka tak pernah bosan. Sampai adzan maghrib membawa mereka untuk saling mengucapkan, "Sampai ketemu besok, Sayang!"

    Sekarang, Re harus menikmati sore-nya sendiri. Sambil memutar kembali ingatannya. Membayangkan saat mereka bertemu untuk yang terakhir kali. Saat Dino memutuskan pergi.

    Saat semuanya berakhir.

    *

    "Udah lama nunggunya, Re?" Suara itu akhirnya datang.
    "Belum kok. Baru aja," jawab Re sambil tersenyum senang. Dino mengambil duduk tepat di depan Re. Tentu saja, di bangku taman itu.
    "Kalo gitu, aku belum telat kan, Sayang?"
    Re menggeleng. Mukanya bersemu merah karena dipanggil 'sayang'. Padahal, panggilan ini tak jarang diucapkan Dino. Tapi, setiap kali itu pula pipi Re merona. Membuat Dino makin senang memakai panggilan itu.
    "Gimana fisika-nya tadi pagi?" Lanjut Dino.
    "Mmm. Susah, yang jaga nyebelin banget. Masak, aku aja yang diliatin terus. Padahal, di kelas kan ada tiga puluh sembilan anak lain yang juga pengen nyontek," Re mulai bercerita soal hari-nya. Seperti biasa. "Untung aja, aku udah belajar. Jadi, cuma dua soal yang nggak bisa aku kerjain."
    "Emang, soal-nya ada berapa?"
    "Tiga."
    "Hahaha.."
    "Emang kenapa?"
    "Itu namanya bukan 'cuma'. Wong, kamu cuma bias ngerjain satu soal," jawab Dino sambil terus tertawa.
    "Ya, kan mendingan daripada aku cuma nulis diketahui, ditanya, tapi nggak dijawab. Lisa aja, satu soal nggak selesai,"
    "Terus gimana?"
    "Nggak tahu lah. Moga-moga ada ulangan remidi. Kalo nggak, bisa jeblok nilaiku. Ulangan kemarin aja, aku cuma dapet lima dua,"
    "Makanya, belajar! Kamu sih, diajakin belajar bareng nggak pernah mau. Maunya cuma duduk di taman terus."
    "Bawel kamu! Udah kayak mamaku aja," sungut Re, "Lagian, masak mau belajar terus. Ntar abis pulang dari sini, aku juga belajar kok. Dasar soal ulangannya aja yang bikin males." Re membela diri. Dino membalas dengan menggeleng-gelengkan kepala.
    "Besok ada ulangan lagi nggak?"
    "Nggak ada, besok tes olah raga aja. Kamu gimana tadi? Kemarin kamu bilang ada ulangan Matematika kan?"
    "Nggak jadi." Raut muka Dino tiba-tiba berubah.
    "Kenapa?"
    "Mulai hari ini, aku nggak masuk." Kini, Dino menundukkan wajahnya.
    "Lho kenapa?" Re makin bingung dengan tingkah Dino.
    "Ini yang aku mau ceritain." Mereka terdiam sejenak, hanya terdengar hembusan angin dan suara anak-anak kecil yang berlarian. Dino mengangkat wajahnya. "Besok, aku pindah."
    Dunia Re seakan berhenti. Tak ada anak kecil berlarian. Tak ada Mas Mi'un yang menjual bakso. Yang ada hanya dia dan Dino yang duduk mematung di bangku taman. Mereka kembali terdiam. Kini, lebih lama..
    "Kemana?"
    "Batam. Ayah pindah tugas."
    "Kenapa nggak pernah cerita?"
    "Sory Re, aku nggak pengen liat kamu sedih."
    "Tapi, kamu tetap liat aku sedih kan?"
    "Iya, tapi besok aku kan udah pindah. Jadi, aku nggak lama-lama liat kamu sedih."
    "Ha?!! EGOIS!!!" Suara Re meninggi. Tangannya nyaris menggebrak meja yang terletak di depan.
    "Sory Re, aku nggak bisa cerita ke kamu. Aku sayang kamu, Re. Aku nggak akan bisa ninggalin kamu kalo harus ngeliat kamu sedih terus-terusan. Sementara Ayah harus pindah. Nggak mungkin nggak. Jadi, aku pilih nggak cerita. Sampai hari ini."
    "Terus.. Kita?" Re terdengar melemah.
    "Aku nggak berani janji sama kamu”
    “....”
    "Aku lebih milih kita berhenti sampai di sini."
    "Putus?" Ada getaran di suara Re. Dino mengangguk. Re tak kuasa menahan air matanya. Kini, matanya terpejam. "Kenapa?" Lanjut Re, dengan suara yang masih bergetar, masih terpejam.
    "Batam-Surabaya itu jauh, Re. Aku nggak tahu kapan bisa balik kesini lagi. Aku nggak mau kamu terus-terusan nunggu. Aku nggak mau." Kalimat Dino terputus. Air matanya mengalir.
    "Kenapa nggak dicoba dulu?"
    "Re, aku sayang kamu. Makanya, aku nggak mau bikin semuanya tambah susah. Ini yang terbaik, Sayang," Ujar Dino sambil mengelap pipinya.
    "Terbaik? Buat siapa? Menurut siapa?!!" Suara Re kembali meninggi, "Kamu jangan egois!! Jangan cuma mikirin kamu. Aku nggak bisa, No."
    "Aku juga susah, Re. Aku juga nggak pernah berharap yang kayak gini. Tapi, harus."
    "Nggak ada jalan lain?" Re menghapus air matanya. Mencoba mencari solusi lain. Sayang, Dino menggeleng.

    Air mata Re menetes lagi.
    Langit memerah. Matahari hendak tenggelam di balik atap-atap rumah.

    "Sebentar lagi maghrib, Re. Udah waktunya."
    "Kamu bohong kan, No? Ini Cuma main-main kan?" Re terisak.
    "Nggak, Re. Besok aku berangkat." Suara Dino masih bergetar.
    Re menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak percaya hubungan mereka harus berakhir sperti ini. Begitu tiba-tiba.

    Dino berdiri dari kursi yang ia duduki, berpindah ke sebelah Re. Hati-hati, Dino melingkarkan tangan ke pundak Re.
    "Maafin aku, Re." Dino mengecup kening Re, halus.
    "Selamat tinggal sayang," ujar Dino sambil berdiri dari bangku taman.

    Re juga berdiri, membalikkan badan, dan berlari ke rumahnya. Re begitu ingin cepat sampai rumah, menumpahkan tangisnya sampai tertidur. Berharap ketika ia bangun, semua ini hanya mimpi buruk
    ...

    *

    "Hai! Boleh duduk di sini?"
    Sebuah suara membuyarkan lamunan Re. Gadis itu tersenyum mengijinkan. Lalu, kembali melihat ayunan yang kini sudah diduduki anak kecil. Tak menghiraukan orang yang baru mengajaknya bicara.
    "Makasih ya. Aku baru pindah di sini. Aku liat, kamu sering duduk sendirian di taman ini," ujar cowok itu sambil duduk dan meletakkan semangkuk bakso panas di
    meja taman. Re tetap acuh. "Aku tinggal di blok AD 37," lanjut cowok itu.
    Re berubah sikap. "AD 37? Rumah Dino." pikirnya dalam hati.
    Mereka saling bertatapan.
    "Aldi."
    "Renata." Mereka berjabatan.
    "Mau bakso?"
    "Mmm. Boleh."
    "Mas.. Satu lagi baksonya," teriak Aldi ke arah mas Mi'un yang segera mengacungkan ibu jari.
    "Sendirian, lagi ngelamun apa?" tanya Aldi.
    "Nilai fisika-ku jelek banget, Dari tiga soal, aku cuma bisa ngerjain satu. Dan udah bolak-balik kayak gini."
    "Hahaha. Masih mending! Aku, kalo ulangan fisika, nggak pernah bisa ngerjain sendiri."
    Re ikut tertawa. Larut. Di bangku taman.

    Semuanya belum berakhir. Justru, baru dimulai...

    ***