Monday, November 05, 2012

Pengumuman: Pindah Rumah


Seperti halnya hidup (tsah), kadang kita perlu pindah rumah. Begitu juga untuk blog ini.


Saya sudah resmi pindah ke kontrakan baru di Wordpress.

Nama rumah baru saya itu adalah The Toilet Post (http://thetoiletpost.wordpress.com). Proses pindahan ini terinspirasi dari ide-ide yang suka keluar di toilet (dan kamar mandi). Sementara nama blog ini sengaja dimirip-miripkan dengan koran sebagai obat kangen seorang veteran jurnalis. :D

Dengan rumah yang baru, saya berharap bisa membuat post minimal satu kali setiap hari. Full dalam setahun. Aminnnn

Tapi, azizonblog belum akan saya off-kan sampai entah kapan (atau mungkin nggak akan pernah ditutup).

Nah, seperti layaknya orang yang punya rumah baru, saya mengundang teman-teman untuk housewarming di The Toilet Post. Kalau boleh, silakan juga mengklik tombol Flush di menu bagian kanan untuk mendapat notifikasi email setiap kali The Toilet Post terbit :p

Jangan lupa mampir yah!


@azizhasibuan




Wednesday, September 19, 2012

Tanya Jawab: Golput Itu Rugi

T: Bagaimana kabar Anda?
J: Agak kurang baik karena belum dengar kabar Foke kalah.

T: Anda tentu sudah mendengarkan hasil debat calon gubernur kan? Bagaimana pendapat Anda sekarang soal Foke?
J: Semakin mantap. Semakin mantap menyarankan supaya jangan memilih Foke. Kalau dia menganggap wakilnya si Nara saja lebih rendah dan orang boleh nggak sopan, bagaimana dia menganggap rakyat. Walaupun saya paham sih Nara memang layak dapat perilaku nggak sopan.

T: Memangnya kenapa Nara?
J: Nara itu diamgenic. Kalo diam dan senyum-senyum bego, kayak anak manis. Begitu ngomong.... selesai. Boneka boncu berubah jadi chucky.

T: Sekarang ini kan ada fenomena golput. Bagaimana menurut Anda?
J: Yah itu hak. Tapi, menurut saya sih rugi. Punya hak untuk membuat Foke nggak menang lagi, kok nggak dipakai. Saya sih terserah yah mau milih yang mana. Asal bukan gengnya Foke.

T: Tapi, kalau ikut memilih selain Foke, lalu si lawan menang, kemudian nggak becus, kan nggak bisa protes?
J: Siapa bilanggg... Kalau yang berikutnya nggak becus, ya protes aja. Maki-maki aja. Kalau dia nggak becus, kan salah yang kerja, bukan salah yang milih. Bisa sih, kesalahannya ada di si pemilih... kalau gubernurnya sudah punya track record buruk tapi dipilih lagi. Nah itu baru jangan protes.

T: Ah, nggak konsekuen...
J: Gini lho. Kita ini mau ikut milih atau nggak milih, Gubernur itu harus ada. Nggak mungkin provinsi ini tanpa bos kan? Jadi, ya pilih aja yang belum jelas bagus, daripada yang sudah jelas nggak bagus. Pilih selain Foke. Kalau masalah nanti kerjanya jelek, hak kita juga kok ngejelek-jelekin lagi.

T: Jawaban Anda subjektif sekali yah...
J: Yaiyalah. Kalah mau yang objektif, jangan cuma tanya saya. Bikin polling aja.

T: Kalau misalnya Foke menang lagi?
J: Hush. Jangan ngomong jorok.

Tanya jawab dengan diri sendiri part 2

Saturday, August 18, 2012

Tanya Jawab Kenapa Jangan Pilih Foke


T: Kenapa Anda terlihat cukup ngotot mengajak orang untuk jangan pilih Foke?
J: Karena saya ngeri membayangkan lima tahun ke depan masih dipimpin orang yang sama. Lima tahun lagi dan Jakarta tempat saya tinggal masih begitu-begitu saja. Atau malah lebih bikin males.

T: Ganti pemimpin kan belum tentu lebih baik?
J: Dalam kondisi ini, saya lebih memilih untuk mendukung yang belum tentu lebih baik, daripada memilih yang sudah pasti nggak baik.

T: Foke kan berpengalaman?
J: Saya setuju Foke berpengalaman memimpin Jakarta. Pengalaman lho ya… Experience itu kan ada bad experience, ada good experience. Nah, mungkin dia bisa share pengalamannya itu untuk gubernur selanjutnya, sebagai seorang mantan gubernur.

T: Anda kan bukan warga Jakarta, ngapain ikut campur masalah Pilkada DKI Jakarta?
J: Saya juga nggak tinggal di Amerika, tapi saya boleh dong nggak suka George W. Bush. Suka-suka saya dong.

T: (Terdiam)
J: Jangan ngambek lah. Gini lho, Jakarta ini kan ibu kota. Besar peluangnya kalo jadi contoh provinsi lain. Kalau Jakarta bisa memenangkan calon karena yang dipilih adalah tokoh bukan partai, nanti partai-partai itu mulai bisa mikir, supaya mencalonkan tokoh-tokoh yang memang bisa bawa perubahan. Ini pendapat pribadi yah… Di daerah sudah banyak lho yang sukses begini. Bu Risma di Surabaya, Jokowi di Solo.

T: Tapi, Foke kan dapat dukungan banyak partai di sini.
J: Nah, apalagi setelah dia dapat dukungan banyak partai. Makin saya pengen supaya orang nggak milih dia. Kalau Foke kalah di Pilkada Jakarta, berarti partai yang seabrek-abrek itu bisa sadar, bukan mereka yang ngatur negara ini. Tapi, suara rakyat. Kalau kita manut terus sama mereka, ya suara mereka yang ngatur negara ini. Kepentingan mereka.

T: Hm…. Tapi, cagub lain yang sudah kalah, juga banyak yang dukung Foke lho…
J: Nah, itu yang saya heran. Coba deh cek di youtube. Ini saya kasih link-nya. Ada wawancara dengan Bang Dayat (klik di sini) tentang monorail. Dia bilang, tiang-tiang monorail itu seperti monumen kegagalan. Lalu, coba cek iklan Alex Noordin (klik di sini). Jelas banget kan di iklannya itu, dia memojokkan siapa. Eh, yang sudah jelas gagal begitu, sekarang didukung. Lucu.

T: Anda sok idealis yah?
J: Bukan, saya ini nggak suka orang kumisan. Ini sifatnya lebih ke perasaan emosi kok.

T:  Kalau Foke menang lagi, gimana?
J: Yo wes. Mau gimana lagi. Tetap di Jakarta lah. Dapat duitnya di sini.

T: Terus, kapan Anda menikah?
J: Maaf, saya rasa lebih baik kalau kita berbincang sesuai dengan topik.

T: Ada pesan lagi?
J: Jangan pilih Foke.


Tanya jawab dengan diri sendiri.
Bagansiapiapi, 18 Augustus 2012

Monday, July 23, 2012

Hentikan “Industri Kasihan” di Jalanan



Peserta Jambore Sahabat Anak menuliskan mimpinya di selembar kain putih. Ada yang bermimpi bisa nonton di bioskop, ada yang bermimpi ingin jadi Pemadam Kebakaran

Sekitar dua minggu lalu, saya mendapat sebuah kesempatan langka untuk bisa bergabung di acara Jambore Sahabat Anak di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta. Sahabat Anak adalah organisasi nirlaba yang fokus untuk mengajak anak-anak marjinal (Anda mengenalnya dengan sebutan anak jalanan) bermain dan belajar.
Di Jambore Sahabat Anak, sekitar 1,000 orang anak jalanan plus 700-an volunteer berkumpul. Kami menginap di tenda sederhana, mengikuti berbagai permainan selama dua hari. Acara tersebut diadakan untuk memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh hari ini.
Dalam acara ini, saya menjadi salah satu kakak pendamping. Bertugas menemani adik-adik dampingan. Dengan kesempatan ini, saya jadi punya kesempatan untuk lebih dekat dengan adik-adik peserta. Ada satu adik favorit saya. Badannya kecil, tapi yang paling pede untuk memimpin. Kita sebut saja namanya Agus.
Pada suatu waktu, kelompok kami sedang berada di sebuah pos yang mengajak adik-adik untuk berpendapat dan bercerita. Salah satu pertanyaan di pos itu, “Siapa yang uang jajannya sehari Rp 50 ribu?”
Saya waktu itu merasa panitia agak gila, menanyakan uang jajan Rp 50 ribu kepada anak marjinal. Tapi yang mengagetkan, ada beberapa anak yang maju. Agus, salah satunya. Penasaran, di waktu yang tepat, saya tanyakan hal ini ke si kecil tersebut, “Kamu dapat uang Rp 50 ribu tiap hari dari mana? Bohong ya bilang jajannya segitu”
“Enak ajaaa… Beneran tau, Kak! Dapat duit itu ya dari nyapu kereta.”
“Lho, dibayar sama masinis keretanya?”
“Bukan, dibayar penumpang.”
Dia menganggap menyapu kereta adalah kerja dengan gaji dari penumpang. Dari Anda.
Salah seorang peserta menuliskan keinginanya untuk kembali sekolah.
 Lalu, apa hubungannya dengan "Industri Kasihan"?
Sekarang Anda bayangkan, kalau sehari saja Agus bisa mendapatkan uang Rp 50 ribu, maka dia bisa mendapatkan Rp 1,5 juta sebulan. Nilai yang setara dengan UMR di Jakarta! Lalu, di pikiran anak kecil yang sederhana, buat apa dia sekolah tinggi-tinggi kalau dengan hidup di jalanan bisa mendapat uang yang sama?
Belas kasihan Anda telah membangun Industri Kasihan. Karena Anda kasihan, kini mereka tetap bertahan di jalanan. Mencari uang. Maka, kalau Anda nggak mau mereka ada di jalanan, berhentilah kasihan. Jangan beri mereka uang.
Mungkin Anda bertanya dalam hati, “Yah nilai Rp 50 ribu kan belum tentu mereka dapat tiap hari.” Benar kalau mereka nggak selalu mendapatkan uang 50 ribu. Tapi ada juga yang mendapatkan lebih dari 100 ribu setiap hari.
Jadi, stop belas kasihan Anda di jalanan. Berhentilah memberi mereka uang.
Tapi, saya ingin membantu…
Dengan berhenti memberi anak jalanan uang, maka Anda sudah selangkah membantu untuk membuat mereka meninggalkan jalanan.
Sekarang coba bayangkan. Satu anak jalanan mendapat sekitar Rp 50 ribu sehari. Menurut data dari Dinas Sosial Jakarta yang saya dapat dari googling (semoga ini angka yang sesuai kenyataan), ada lebih dari 7,000 anak jalanan yang hidup di Jakarta. Mari hitung secara Matematika. Dengan Rp 50 ribu sehari untuk satu anak, setiap harinya ada sekitar Rp 350 juta uang yang beredar di jalanan Jakarta. Dalam sebulan, ada Rp 10,5 Milyar uang beredar di jalanan, berkat Industri Kasihan yang Anda bangun. Belum termasuk yang diberikan ke orang-orang yang nggak terhitung sebagai “anak”.
Dengan uang sebanyak itu, setiap bulan kita sudah bisa membangun sekolah-sekolah sederhana untuk anak jalanan. Membelikan buku, mainan, dan lain-lain. Maka, kalau Anda ingin membantu, sekarang kumpulkan recehan Anda setiap bulan, cari lembaga yang tepat, donasikan ke sana, bukan ke jalan. Lembaganya apa, tinggal Googling saja. Ada banyak pilihannya
Kalau Anda ingin membantu tapi nggak mau dalam bentuk uang, bisa juga lewat mengajar. Ajari mereka baca tulis, menghitung, berperilaku sopan, bermain, bermimpi. Ada banyak tempat yang bisa Anda datangi. Nggak harus komitmen datang setiap akhir pekan. Tinggal googling saja.
Salah seorang peserta yang cita-citanya jadi penyanyi
Jalanan Itu Keras, Jendral!
Saya sudah sering membayangkan bahwa hidup di jalan pastilah keras. Tapi, saya masih tetap kaget melihat betapa tempaan jalanan mempengaruhi pribadi mereka. Nggak gampang untuk mendekati mereka dan mengajak bercerita. Harus perlahan dan sabatr.
Dengan membiarkan anak-anak itu hidup di jalanan, maka mereka juga akan hidup dengan risiko-risiko kekerasan. Mulai dipukuli, bahkan diperkosa. Seorang teman saya yang juga pendamping bahkan menyebutkan, ada salah seorang adik dampingannya yang mengaku sering sembunyi di selokan hingga tertidur karena nggak berani masuk rumah. “Kalau nggak dapat duit banyak, bisa dimarahin bokap-nyokap.”
Jadi, simpan recehan Anda dan berhentilah mengembangkan Industri Kasihan
Selamat Hari Anak Nasional! :)

Saturday, July 21, 2012

Buku Pertama Saya: Perkenalan




Sudah lama saya ingin bisa punya buku hasil tulisan sendiri. Tapi, nggak pernah kesampaian karena nggak tahu mau nulis buku apa. Karena nggak tahu mau dikirim kemana. Karena bingung cover-nya gimana. Karena nggak percaya diri.

Lalu, suatu hari saya sedang browsing dan menemukan aplikasi seru ini: iBooks Author. Dengan aplikasi ini, kita bisa bikin e-book sendiri plus mendesainnya dengan cara supergampang. Bahkan, di buku itu bisa juga ditambahi statistik, ilustrasi 3D, video, slideshow, dan lain-lain.

Maka iseng-isenglah saya memasukkan cerpen-cerpen yang pernah saya bikin ke dalam aplikasi tersebut. Kemudian, saya tambahkan hasil foto yang pernah saya jepret sendiri ditambah editan sederhana supaya terlihat sebagai ilustrasi, dan lama-kelamaan jadilah sebuah e-book.

Senang juga akhirnya mimpi saya untuk menulis buku kesampaian. Walau dengan cara ala kadarnya dan dibikin sendiri tanpa bantuan desainer grafis yang jago layout.

Perkenalan berisi sembilan bab cerita fiksi pendek. Tujuh adalah cerita pendek dengan berbagai tema, lalu dua bab berisikan cerita lebih pendek lagi dengan setting di pantry kantor.

Nama "Perkenalan" diambil dari judul salah satu cerpen itu

E-book sederhana ini sekarang sudah bisa di-download secara GRATIS melalui BrutalUpload (tanpa perlu log in), 4shared (dengan log in), atau melalui iBook Store. Sayangnya, buku ini belum bisa tersedia di iBook Store dengan account Asia. Tapi, baru di US, serta sejumlah negara Eropa dan Australia.

Bentuk filenya adalah PDF sehingga dapat dibaca di berbagai device, PC, atau diprint.



Happy reading!

1 Ramadhan 1433 H
Aziz Hasibuan
(@azizhasibuan)







Saturday, May 26, 2012

Larang Bayi Nonton Film di Bioskop



Sekitar seminggu yang lalu, saya menonton The Avengers untuk kedua kalinya. Selain karena film ini keren, saya menonton untuk kali kedua karena sempat ketiduran sewaktu menonton di kesempatan pertama. Supaya tidak mahal-mahal banget, saya nonton untuk kali kedua di Planet Hollywood XXI Jakarta.
Tapi, bukan The Avengers yang ingin saya bahas di post kali ini. Melainkan, kebijakan 21 Cineplex dalam pemutaran film-filmnya.
Saat menonton The Avengers di Planet Hollywood XXI, saya sudah mencium aroma bahwa pemutaran film ini akan terganggu. Sebab, saat masuk, saya melihat ada orang tua yang membawa bayi menonton film ini
Betul saja, tidak berapa lama film dimulai, sudah ada tangisan bayi. Lalu, karena si bayi tidak mau berhenti menangis dan banyak penonton yang sudah memberi kode terganggu dengan ber-“sssttt.. stttt…”, maka si ibu keluar bioskop dengan langkah kaki tergesa-gesa, sambil menggumam kesal. Lalu, tidak lama kemudian, keluar ibu yang kedua.
Saya juga sering mendengar bahwa banyak orang tua yang mengajak anak-anaknya ke bioskop untuk menonton film-film yang tidak sesuai.


Tujuan dari blog post ini adalah supaya 21Cineplex atau Blitz Megaplex mulai berani menolak penonton film. Tempatkan penjaga di pintu masuk studio atau audi. Kalau ada yang bawa bayi untuk menonton film apapun, larang mereka. Kalau marah, kembalikan uangnya. Kalau ada yang membawa anak di bawah umur nonton film seperti The Raid, larang juga. Jangan sampai setelah nonton, lalu pembuat filmnya yang disalahkan. Padahal, rating film sudah jelas Restricted.
Lalu, kenapa 21Cineplex atau Blitz Megaplex perlu mengakomodir permintaan seperti ini?
Pertama, saya yakin kebanyakan bayi tidak bisa diam anteng dan merasa terhibur menonton film di ruang gelap. Yang seneng kan, cuma bapak-ibunya. Kedua, seorang bayi saja di dalam bioskop sudah bisa mengganggu seluruh penonton. Jadi, lebih baik menolak mereka membawa bayi daripada mengganggu penonton lain. Ketiga, setelah berpikir lama, rasanya saya belum menemukan alasan kenapa permintaan seperti ini (yang sudah dikeluhkan banyak orang) harus tidak dipenuhi.
Saya tidak tahu apakah aturan ini sebenarnya sudah ada atau tidak. Tapi yang saya tahu pasti, peraturan ini sering tidak diterapkan.
Mari terus menonton film di bioskop!

Ditulis oleh @azizhasibuan

Wednesday, May 09, 2012

Meniadakan atau Mentiadakan?

Ayuta, salah seorang teman saya di kantor, baru saja melempar satu pertanyaan.

"Meniadakan atau mentiadakan?" katanya sambil serius menerjemahkan sebuah dokumen.

Jawaban yang benar adalah meniadakan. Hal ini karena kata berimbuhan tersebut berasal dari kata tiada yang diimbuhi me-kan. Kata yang di awali huruf "t" akan luluh bila bertemu dengan imbuhan.

Karena itu pula, kata yang benar adalah menerjemahkan, bukan menterjemahkan. :)


@azizhasibuan